Kepingan yang Hilang

1370 Words
“Gio baru aja pulang dijemput Mamanya.” “Gio dijemput Mamanya lagi.” “Gio udah pulang Kek.” “Baru aja Gio naik Bus sekolah.” “Kai gak tau hari ini Gio udah pulang atau belum. Soalnya pas Kai lihat ke mejanya Gio, Gio udah gak ada di sana.” Berhari-hari setelah pertemuan itu Jeremy tidak bisa bertemu dengan Gio. Setiap kali ia bertanya pada Kai selau saja Gio sudah pulang. Bahkan saat ia berusaha datang lebih cepat pun Gio tetap pulang lebih cepat. Apakah ini permintaan Jenara agar Gio menjauh darinya? Jeremy mendengus. Kepalanya mendidih, marah. Ia paling tak suka segala sesuatu yang paling ia sukai dirampas paksa begini. Padahal apa salahnya ia dekat dengan Gio? Toh ia tak merugikan anak itu. Ia justru menjaga anak itu dan mngantarnya dengan selamat sampai rumah. Ia tidak menyiksa, ia juga tidak menculik anak itu. Tapi kenapa perempuan itu penuh drama? Sampai menjauhkan mereka begini. “Bagaimana kalau kita ke rumahnya saja?” Tanya Gabriel setelah Kai keluar dari kendaraannya. Jeremy diam. “Anda yakin tak ingin menemuinya? Anda terlihat sangat merindukan anak itu.” “Aku hanya kepikiran.” Jeremy menghembuskan napas. “Aku masih tidak habis pikir. Kenapa dia lebih marah daripada aku? Padahal seharusnya aku yang lebih marah padanya.” “Dia yang datang, dia yang membutuhkanku, dia juga yang mengkhianatiku. Tapi kenapa dia bertingkah seperti dia adalah korbannya?” Gabriel menghembuskan napas panjang. “Saya tidak tahu. Saya pun masih terkejut kenapa dokumen sepenting itu ada di tangan Jena. Padahal selama kalian berhubungan aku merasa dia baik. Dia tidak terlihat memiliki motif apapun.” “Dia bahkan tidak menemuiku untuk mengatakan perpisahan.” “Anda yang menolaknya.” “Bukankah dia seharusnya lebih berusaha? Dia yang salah! Dia seharusnya berusaha lebih keras untuk meminta maaf sebelum menghilang.” “Setelah hari itu anda melakukan perjalanan bisnis dengan Viona ke Jepang Mr. Jeremy.” “Jaman sudah canggih, ada yang namanya telepon. Kenapa dia bahkan tidak berusaha menghubungiku?” “Anda memblokirnya.” “Tidak. Aku tidak memblokir. Dia yang memblokirku!” Gabriel diam, tidak memberikan tanggapan lagi. Ingatannya kembali menerawang pada kejadian enam tahun lalu dimana Jenara datang secara diam-dim menemuinya. “Maaf aku lancang sekali menghubungimu, aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi selain menghubungimu Gabriel. Selain Jeremy, hanya kamu yang bisa kupercaya.” “Kenapa tidak menghubungi Mr. Jeremy secara langsung?” “Tidak bisa, Jeremy memblokir semua akses.” Gabriel ingat betul, Jenara berkata begitu. Apakah dia lagi-lagi berbohong? Tapi rasanya tidak mungkin. Apalagi jika ia ingat ekspresi wajahnya yang tidak sedikitpun menyiratkan kebohongan. “Apa yang ingin kamu katakan?” “Tentang dokumen itu. Aku tidak mencurinya Gabriel.” Jenara menghembuskan napas panjang. “Sungguh Gabriel, aku tidak mencuri. Aku bahkan tidak tahu ada dokumen itu di kamar kosku. Aku baru tahu ada dokumen itu setelah Jeremy tiba-tiba datang denganmu dan menggeledah semuanya. Lagipula uang yang diberikan Jeremy lebih dari cukup Gabriel, uangnya bahkan cukup untukku membayar dua semester kuliahku, uang praktikum dan uang wisuda. Kosku saja diperpanjang dari uang itu dan itupun masih ada sisa.” “Kenapa aku harus mencuri? Untuk alasan apa aku melakukannya?” Hari itu Jenara menjelaskan dengan begitu frustasi. Dia menangis tersedu penuh rasa putus asa. “Aku juga tidak mengenal lelaki yang ada di foto itu. Kami tidak sengaja bertabrakan di cafe, dia menumpahkan kopi di bajuku. Setelah itu kami duduk bersama karena dia merasa bersalah. Mengobrol pun karena dia sedang menunggu asistennya membawa baju pengganti untukku sebagai ganti rugi.” “Aku sudah menolak, tapi dia memaksa dan mengatakan akan mencariku dan mendatangiku lagi kalau aku tidak menerima kebaikannya. Karena itulah aku terpaksa duduk bersama dengannya.” Gabriel tahu hari itu Jenara mengatakan kebenaran, tapi hatinya ragu. Tak mungkin dokumen yang merupakan benda mati bisa jalan sendiri ke kos-nya Jenara kan kalau tidak di bawa? Dan lagi dokumen itu ada di dalam tas yang selalu Jenara bawa kemana-mana. Mustahil perempuan itu tak tahu apa yang ada di dalam isi tasnya. “Aku tahu akan sulit bagi kalian untuk percaya. Aku tak akan memaksa, yang terpenting aku sudah mengatakan kejujurannya dan lagi… ini. Aku titipkan ini untuk Jeremy padamu. Berikan jika dia sudah mulai tenang.” “Terima kasih kamu sudah mau meluangkan waktu untukku. Ini sangat berharga. Aku pamit.” Hari itu Gabriel yakin perpisahannya dengan Jenara berakhir baik, meskipun ia tak memberikan respons yang berarti untuk Jenara. Tapi rasanya pertemuan hari itu tak perlu membuat Jenara semarah ini. Lalu karena alasan apa Jenara semarah itu padanya dan Jeremy? Gabriel pun tak mengerti. “Mr. Jeremy.” “Hm?” “Saya ingat, terakhir kali saya bertemu dengan Jena, dia menitipkan sesuatu pada saya.” “Apa?” “Saya tidak tahu, saya tidak sempat membukanya.” “Tapi saya meletakkannya di laci meja kerja anda.” Kening Jeremy mengerut. “Apa maksudmu? Aku tidak pernah menemukan apapun di laci meja kerjaku.” “Apa? Anda yakin?” “Untuk apa aku berbohong?” Gabriel mengerutkan kening. Heran. Kemana perginya hadiah itu? Padahal ia sangat yakin, ia meletakkannya di sana. *** Sementara itu suasana tegang menyelimuti Jenara. Sesekali ia menggigit bibir, dengan kedua tangan yang sudah berkeringat dingin saling bergenggaman erat. Jenara sadar, pada akhirnya ia harus jujur dan berada diposisi canggung ini. Namun bagaimana bisa harus secepat ini? Harus di saat dimana ia masih merasa bersalah pada lelaki itu. Baru beberapa hari lalu Jenara menolak lelaki itu, namun sekarang lelaki itu harus mendengar kenyataan lain. “Jadi ini alasan kamu nolak aku Ra?” Gama membuka suara ditengah keheningan. Jenara dapat melihat bagaimana tangan itu dengan eratnya meremat stir. Gama pasti kecewa. “Bukan Kak.” “Jujur aja. Gapapa.” Gama menjeda ucapannya. “Kamu nolak aku karena masih cinta sama Papa kandungnya Gio ya? Kamu masih mengharapkan dia kembali lagi?” “Tidak Kak, bukan begitu.” Jenara menatap Gama. “Aku tidak pernah memikirkan itu, aku bahkan baru bertemu dengannya beberapa hari lalu dan… aku tidak memikirkan apapun.” “Oh, kalian sudah bertemu?” Jenara mengangguk kecil. “Insiden. Tanpa sengaja.” Hembusan napas berat keluar dari hidung Gama. “Apakah sekarang aku tak ada kesempatan sama sekali Ra?” Jenara diam. Bimbang. Ia tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Ia tak ingin menyakiti lelaki dihadapannya lagi. Gama sudah sangat baik padanya, ia tak bisa membalas kebaikan lelaki itu dengan luka lagi. Jenara memutar otak, berusaha merangkai kata agar tak menyakiti lelaki di depannya. “Ra.” “Aku tidak bisa menjanjikan apapun Kak. Ada atau tidaknya Papa kandung Gio tidak mengubah apapun. Karena selama ini aku pun secara sadar tahu kalau Papanya Gio masih ada dan masih sering kali aku lihat. Tapi entah dulu atau sekarang, aku tidak kepikiran apapun tentang suatu hubungan.” Jenara menghembuskan napas panjang. “Aku lebih nyaman sendiri.” Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Hingga tanpa sadar kendaraan yang Gama tumpangi berhenti tepat di depan rumah Jenara. “Mampir dulu Kak.” “Kamu yakin?” “Kenapa kamu nanya gitu? Bukannya sudah biasa aku ajak kamu mampir kak? Kamu juga udah biasa main ke sini.” “Ya… sekarang kan ada Papanya Gio.” Jenara menoleh, menatap Gama. “Ada atau tidak adanya Papa kandung Gio, kamu tetap Papi-nya Gio kak. Tidak akan ada yang menggantikan posisimu. Kecuali…” “Kecuali?” “Kalau kamu sudah tidak ingin jadi Papinya Gio.” Jenara mengalihkan pandangan, kemudian beranjak keluar dari dalam kendaraan itu, di susul oleh Gama yang mengekor. “Gio kemana? Tumben gak langsung bukain pintu pas kita dateng.” Jenara menggeleng kecil. “Mungkin istirahat, akhir-akhir ini Gio bilang di sekolah sedang sangat lelah.” Clek. “Gio.” “Biar aku cek ke kamar dulu ya.” Gama mengangguk kecil. “Gio, Papi dateng. Katanya rindu Papi.” Ujar Jenara seraya memasuki kamar itu. Gama tersenyum kecil, ia tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa bahagia, ada juga khawatir dan takut. Entahlah… ia juga bingung. Namun sudut hatinya merasa lega, setidaknya Jenara tidak menolak keberadaannya. Di tengah ia terhanyut pikirannya sendiri, suara Jenara memekik terdengar begitu kencang. “GIO! Kamu kenapa sayang? KAK! KAK GAMA TOLONG!!! Ini Gio kenapa begini?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD