Kepingan Masa Lalu

1349 Words
Mengubur masa lalu tentulah bukan hal yang mudah, terlebih saat luka yang tercipta kala itu menganga begitu besar dan tertancap begitu dalam. Sakit. Sungguh. Bahkan hanya dengan melihat kembali sosok yang menyakitinya dulu, lukanya bagai disiram air garam. “Ini sisa bayaranmu yang belum bosku berikan.” “Jangan gengsi, ambil uang ini. Kamu pasti akan membutuhkannya. Pikirkan dirimu dan anak haram yang kamu kandung itu.“ “Sekarang pergilah. Jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi dihadapan kami. Terutama di depan Mr. Jeremy. Kau tak ada harganya lagi. Kau hanya sampah yang sudah sepatutnya dibuang.” Jenara ingat betul bagaimana ucapan Viona—yang saat itu adalah sekretaris Jeremy, ia juga ingat betul bagaimana tindakan perempuan itu dan tatapan penuh penghinaan yang perempuan itu layangkan padanya. Sangat ingat, bahkan rasanya ia tak akan pernah melupakannya. Sungguh, Jenara tidak pernah berpikir hubungannya dengan Jeremy akan berakhir dengan cara yang sangat buruk seperti itu. Sebab hubungan mereka selalu baik-baik saja. Meskipun Jeremy cenderung dingin, pria itu cukup pengertian, Jeremy memperlakukannya dengan begitu baik. Namun entah mengapa setelah enam bulan berlalu—saat hubungannya dengan Jeremy mulai meningkat kekacauan demi kekacauan mulai muncul. Dari mulai kehilangan tender besar sampai kegagalan proyek yang menyebabkan Jeremy mendapatkan kerugian yang amat besar. Padahal selama ini Jeremy dinilai sangat kompeten, sangat pandai dalam mendapatkan tender dan tak pernah salah mengambil langkah dalam rencana suatu proyek. Akan tetapi kala itu semuanya berantakkan dan orang-orang mulai menyudutkan Jenara, mulai menilai bahwa Jenara adalah dalang dibalik dari semua kelacauan itu. “Perempuan tidak berguna. Bisanya cuma mengacau. Padahal selama ini kinerja Mr. Jeremy tidak pernah seburuk ini. Tapi setelah ada perempuan itu semuanya kacau. Mr. Jeremy jadi tidak fokus dan hanya selalu mengutamakan perempuan itu. Dia benar-benar racun dunia.” Namun saat itu Jenara beruntung, Jeremy masih membelanya. Jeremy dengan santai mengatakan kalau itu bukan salahnya. Itu murni karena ketidak beruntungannya saja. Jeremy baik? Sangat! Jeremy pria kaya paling baik yang pernah Jenara temui. Bahkan Jenara sampai terlena dan jatuh cinta pada Jeremy. Jika dirunut lebih jauh, Jenara bahkan masih bisa merasakan kebaikan yang diberikan Jeremy. Pertemuan mereka bermula saat Jenara membutuhkan biaya tingkat akhir kuliahnya yang memang cukup besar. Saat itu Jenara dipecat dari pekerjaan paruh waktunya, sehingga ia tak memiliki uang lagi untuk membayar kuliah. “Dicari #freelance yang bisa dikerjakan secara online. Secepatnya.” Di waktu yang bersamaan Jenara tanpa sengaja melihat cuitan di sosial media tentang seseorang yang membutuhkan pacar sewaan, dan orang itu akan membayar dengan harga tinggi jika aktingnya memuaskan. “#zonauang ada yang buka jasa pacar sewaan? Saya membutuhkannya secepat mungkin. Kalau minat silahkan DM. Harga? Nego di dm.” “Kenapa kamu mau dan percaya begitu saja pada tawaranku?” Hari itu Jenara mulai berbicara dengan pemilik akun ‘kosongan’ yang membutuhkan jasa pacar sewaan itu. “Karena aku sedang membutuhkan uangnya.” “Untuk?” “Apakah aku harus menjelaskan semuanya? Bukankah hal itu privasi yang boleh tidak kujawab? Yang jelas kamu butuh jasa dan aku butuh uang. Kita saling menguntungkan satu sama lain.” “Ok.“ Jenara tak bodoh, ia tak mungkin melakukan pekerjaan tanpa kontrak yang jelas bukan? Tentu saja ia pun mengajukan beberapa syarat dan ketentuan untuk ditanda tangani di atas materai. Salah satu diantara syaratnya adalah tidak ada hubungan seksual diantara mereka, dan jika hal itu terjadi pihak yang dirugikan berhak mengajukan denda atau hukuman apapun. “Yakin tidak ada lagi yang ingin kamu tambahkan?” “Yakin.” “Ok. Deal?” “Deal.” Keduanya berjabat yangan. “Mulai besok kamu kekasihku dan pikirkan skenario terbaik tentang pertemuan pertama kita dan kapan kita menjalin hubungan, besok kamu harus memberikan laporannya padaku.” “Siap. Senang bekerja sama dengan anda Mr. Jeremy.” “Panggil aku Je. Dan aku memanggilmu?” “Jena.” “Ok. Baik Jena.” Sayangnya perjanjian itu ia langgar sendiri. Di suatu malam yang dingin, di tengah kekacauan pikiran Jeremy, dengan bodohnya ia menyerahkan dirinya sendiri pada Jeremy. Ia membiarkan Jeremy menguasai tubuhnya sepanjang malam. Mulanya Jenara pikir mungkin itu bukan masalah? Toh mereka suka sama suka, ia juga berpikir kalau kebersamaan mereka selama itu sudah cukup kuat dan lebih dari sekedar kesepakatan. Terlebih Jeremy memperlakukannya seperti ratu setelah malam itu, memeluknya sepanjang malam dan membisikkan kalimat paling lembut dan paling menenangkan hatinya. “Kamu pasti lelah, tidurlah. Aku mencintaimu.” Namun hal buruk justru terjadi. Jeremy tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling asing bagi Jenara. Jeremy tak pernah menghubunginya lagi, tak pernah mengajaknya makan malam lagi, lelaki itu bahkan tak pernah memintanya untuk datang lagi ke apartemen, entah untuk makan malam, meminumteh atau mengobrol. Jeremy menghilang bagai ditelan bumi. Kemana Jeremy? Apa yang terjadi pada pria itu? Apakah ia melakukan kesalahan sampai membuatnya marah? Pertanyaan itu tak pernah terjawab, sampai keanehan datang pada tubuhnya dan satu persatu alasan Jeremy menghilang mulai terjawab. “Jer sudah lama Mama tidak melihat kekasihmu. Kemana dia? Ajak makan malam, Mama merindukannya.” “Berhenti membicarakan perempuan gila harta itu, dia hanya menginginkan harta kekayaanku.” “Tunggu Jer, bukankah kalian saling mencintai? Kenapa tiba-tiba begini?” “Cinta?” Jeremy mendesis. “Tidak ada cinta yang aku rasakan Ma. Semuanya bohong, hanya sandiwara.” “Apa maksudmu Jeremy?” “Perempuan itu hanya kekasih bayaran, perempuan yang selama ini pura-pura menjadi kekasihku. Aku tak pernah memiliki perasaan padanya. Aku datang padanya menawarkan jasa dan dia datang padaku demi uangnya.” “A—apa? Jer tidak mungkin!” “Terserah kalau Mama tidak percaya, yang harus Mama tahu itu adalah kenyataan yang sebenarnya.” “Dia… hanya parasit yang memanfaatkan inangnya.” “Lihat saja. Sebentar lagi dia pasti datang dengan sandiwara-sandiwara lain.” “Kalau hubungan kalian hanya sandiwara, kenapa kamu seemosional ini Jer? Seharusnya biarkan saja. Kenapa kamu seperti terganggu?” “Aku terjebak, dia membuatku tanpa sadar tidur dengannya. Aku marah karena aku merasa bodoh telah berhasil perempuan itu bodohi!” “Aku yakin sebentar lagi dia pasti datang dan memohon-mohon pertanggungjawaban. Padahal bisa saja itu hanya sandiwara, bisa saja dia sedang dalam siasat untuk menjebakku, agar aku terikat dengannya dan dia bisa menikmati kekayaanku sepuasnya.” “Atas dasar apa kamu berkata begitu Jeremy?” “Bukti. Aku punya bukti Ma.“ “Dia tidak hanya berhubungan denganku Ma! Tapi lelaki lain juga!” Sakit. Sungguh sakit. Jenara berani bersumpah, ia tak pernah berhubungan dengan lelaki manapun kecuali Jeremy, hanya dengan Jeremy ia melewati batasnya. Hanya dengan lelaki itu! Apakah dia tak tahu? Apakah dia tak merasakannya? Ataukah pura-pura lupa? Entahlah. Jenara juga berpikir bahwa perkataan itu adalah perkataan paling menyakitkan yang Jenara dengar. Namun perkataan lain membuatnya merasa sangat terhina. Puk! Jenara terkesiap saat bahunya ditepuk. Ia segera menoleh ke kanan, ternyata Hilda di sana, berdiri di sampingnya. "Hilda, langsung pulang?" "Iya, aku sedang malas lembur, aku mau tidur lebih awal." "Ah begitu." Beberapa saat hening menyelimuti keduanya, hanya ada suara rintik gerimis yang menghantam atap halte. "Ara. Aku lihat akhir-akhir ini kamu banyak melamun." "Hah? Benarkah?" Hilda mengangguk. "Ada masalah ya? Kamu bisa cerita sama aku Ra, jangan dipendam sendiri." "Jangan canggung gitu dong. Kamu gak jadi sama Gama kok canggungnya malah sama aku?" "Bukan gitu, aku hanya sedang bingung dan... sedikit takut." "Kenapa? Ada apa? Apa ada yang mengganggumu Ra? Siapa? Dia mengganggumu bagaimana?" Jenara tersenyum haru, Hilda sejak dulu memang selalu jadi orang pertama yang mengkhawatirkannya. Perempuan itu begitu tulus dan sangat baik. Sejak dulu ia bahkan selalu menceritakan masalahnya pada Hilda, hampir tak ada rahasia diantara mereka berdua. Tapi tentang Jeremy... Haruskah ia juga cerita pada Hilda? Jeremy adalah satu-satunya rahasia yang tidak pernah ia ungkapkan pada siapapun. Jeremy adalah rahasia terbesarnya. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak siap cerita, lain kali saja." "Janji kamu jangan marah sama aku." "Kenapa aku harus marah? Aku justru senang kamu mau terbuka sama aku Ra." "Aku banyak melamun karena Papa kandung Gio. Dia tiba-tiba datang ke dalam hidup kami lagi." "T--tunggu. Apa? Bukankah kamu bilang Papanya Gio sudah meninggal?" Jenara memalingkan wajah, ia gigit bibirnya gugup. "Siapa dia?" Jenara kembali terperanjat saat mendengar suara bariton yang sangat ia kenal. Matanya seketika terbuka lebar. "Beritahu aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD