21. SUSAH MOVE ON

1389 Words
Siang ini Prisil tidak langsung pulang untuk segera beristirahat, menenangkan diri dari aktivitas dan tekanan batin yang membuatnya lelah. Sampai di sebuah toko tempat belanja, ia segera masuk ke dalam membawa keranjang mengingat ia akan belanja stok bulanan yang jumlahnya tidak sedikit. Kedatangan Prisil disambut oleh kekacauan dari arah rak popok bayi di belakang. Prisil menghindari kericuhan itu, ia mengambil barang yang setiap hari ia butuhkan. Dari aneka bumbu masak, roti dan selainya, sampai pembersih rumah juga beberapa alat mandi untuk membersihkan dirinya. Sekitar dua puluh menit akhirnya Prisil berhasil mengumpulkan barang yang ia butuhkan. Tak jauh darinya, seorang ibu yang mencekal bocah berumur lima tahun masih marah-marah. "Ibu bilang diam! Jangan mengambil macam-macam! Jadinya seperti ini!" Anak bocah yang kebingungan itu terus mendapat makian. Lihat saja, hampir semua popok bayi berjatuhan dari rak paling atas karena tarikan asal anak itu. Dari luar seorang satpam membantu menyusun kembali popok bayi itu. Prisil tidak peduli, ia langsung mengantre untuk segera membayar belanjaannya. Beruntung toko itu sedikit pengunjung jadi Prisil akan cepat pula keluar dari toko. "Terima kasih sudah berbelanja, ini kembaliannya, Kak." Prisil menerima uang kembalian, lalu segera melanglahkan kakinya lebar-lebar keluar. Belum sampai menggapai pintu mobilnya, tiba-tiba sebuah motor dengan suara super bising berhenti mendadak di sampingnya. Sontak Prisil juga menghentikan langkah kakinya. Bukan hanya karena risi dengan bisingnya, tetapi Prisil super kaget akan kehadiran Rania dengan penampilan barunya. "GUA MINTA UANG, CEPET!" "Maksud lo apa, sih!" sentak Prisil tak kalah tinggi intonasi suaranya. "Uang! Lu tau uang, gak, cepet!" "Apaan, sih!" Prisil mencoba menghindar. Orang yang membonceng Rania tetap diam di tempat. sebagian wajahnya ditutupi masker hitam dan baju yang dipakainya serba hitam, sedangkan Rania bak anak punk. Rambut merah menyala, baju hitam lengan panjang yang sudah kumal dan yang membuat Prisil bingung, wajah Rania super pucat. Bibir yang biasanya tak pernah absen bergincu sekarang nampak putih kering. Ada apa dengan Rania? Apakah dia sedang sakit? Prisil mulai ketakutan dengan sekelilingnya, semua orang pasti akan cepat mengenalinya selain dari wajah, mungkin orang terdekatnya akan kenal dengan mobilnya? Sebelum melempar penolakan lagi, dengan paksa tangan yang terasa hanya tulang saja sudah menarik ransel Prisil. Beruntung Prisil langsung mengelak. "Lo gak berhak, ya, minta-minta sama gua!" "Gua minta cuma cepek, anjing! Cepet gak!" Prisil takkan memberikan sepeser pun uang kepada Rania. Apalagi setelah mendengar dari Om Aldo bahwa ia menjadi pengguna? Apa jangan-jangan Rania memang sedang butuh sekali uang sekarang? Apa wajah seperti itulah yang bersiap merakan sakit atau sakau? Sakau, atau sakaw, alias putus obat, adalah gejala tubuh yang terjadi akibat pemberhentian pemakaian obat secara mendadak, atau akibat penurunan dosis obat secara drastis sekaligus. "RAN, BANYAK MATA-MATA, BOS!" Tatapan Prisil beralih, menatap lelaki yang meminta Rania agar cepat pergi dari sana. Tangan bebas Rania segera mencari-cari di saku rok milik Prisil. "LEPAS!" pekik Prisil, ia berharap ada satpam yang menyelamatkan. Namun, ia juga enggan berurusan dengan Rania jika nanti kakaknya malah banyak ditonton orang dan ia mengaku sebagai kakak Prisil! "Ok, bentar! Gua bakal kasih!" Rania berhenti mengancam Prisil. Terpaksa Prisil mengeluarkan uang seratus ribu, dengan cepat Rania merebutnya lalu tanpa sepatah kata ia segera pergi meninggalkan bising yang memekakkan telinga. Prisil segera mengedarkan pandangannya, mencari tahu takut ada orang yang dikenal melihatnya. Benar saja, ada seorang gadis yang melaporkan kejadian tarik-menarik ransel Prisil di depan toko. Satpam yang tadi sedang menyusun kembali popok yang berjatuhan datang tergesa-gesa menghampiri Prisil yang sudah tenang. "Neng, gak papa? Tadi katanya mau dijambret?" Prisil menggeleng lemah. "Siapa yang bilang, Pak?" Satpam di depannya berbalik, menunjuk seorang gadis yang diam di luar toko dengan sekeresek kecil belanjaan. Bola mata Prisil membelalak bulat, ia takkan bisa melupakan dengan gampang kejadian tadi pagi. Tadi di saat ia menabrak tak sengaja gadis yang satu SMP dengannya dulu. "Kak Prisil gak papa?" Kalo dia nganggep kejadian tadi penjambretan, berarti dia gak liat waktu Prisil ngasih uang kepada Rania? Tapi, bisa saja ia lihat dan masalahnya memang Prisil terpaksa memberikan uangnya cuma-cuma karena takut diancam. "Ah, gak papa!" seru Prisil, mencoba menenangkan diri agar tak terlihat menyembunyikan sesuatu. Gadis yang sekarang sama belajar di SMK Hanum Perwita itu berlari kecil, menghampiri Prisil dan satpam yang masih menunggu konfirmasi Prisil. "Tadi aku liat, ransel kakak ditarik-tarik, lebih seremnya lagi cowok yang duduk di motor tua itu! Takutnya mereka jahatin kakak, aku lapor deh sama satpam! Pas udah ke depan, kakak tinggal sendirian," jelas gadis yang dilupakan namanya oleh Prisil. Berarti, Prisil sekarang aman. Namun, ia harus bertanya, "Kamu ngeliat jelas cewek yang narik tas?" Gadis itu mengerutkan keningnya dalam. "Samar-samar, Kak, dia jambret kan? Kita liat CCTV aja, gimana? Kakak kehilangan apa?" "Iya, Dek, kalo mau mari saya antar. Maaf, banget, tadi saya gak dengar apa-apa, beruntung Adek ini kasih tau, tapi udah terlambat," lanjut satpam. Prisil menggelang lemah. "Gak usah, Pak, dia sepupu jauh saya," balasnya berbohong. "Ya ampun, maaf Kak ... aku kira tadi penjambret, Kak, maaf, ya," pinta gadis itu. "Iya, gak papa, dia emang suka gitu orangnya, pemaksa." Selanjutnya, Prisil sekarang merasa aman. Rania adalah sepupu jauh di mata orang yang tak sengaja melihatnya. Gadis di sampingnya, akhirnya mengenalkan diri namanya Intan. Benar tebakan Prisil ia memang satu SMP waktu lalu. Intan sangat senang bisa bertemu dengan Prisil yang dulu terkenal oleh anak-anak pintar saja. "Nama Kakak itu suka ditakutin tau! Katanya pinter di semua materi, jadi waktu tau Kakak KETOS aku gak terkejut," jelas Intan panjang lebar dan Prisil tak menyukai orang yang berbasa-basi terlalu panjang. "Biasa aja, kok, eh maaf, ya, kakak harus pulang. Kamu pulang naik apa?" "Naik angkot, dong! Rumah Kakak di mana sekarang?" Sial! Pertanyaan yang sangat Prisil hindari. "Masih jauh dari sini, sekarang mau mampir ke tempat sodara dulu, sorry, ya, duluan!" Prisil segera memasuki mobilnya, Intan melambaikan tangannya. Sama sekali ia tidak berpikir bahwa Prisil sedang menyembunyikan sesuatu, ia tahu dari teman-temannya bahwa Prisil memang sangat irit ngomong. Paling tidak suka berbaur dengan orang-orang yang menghabiskan waktu dengan kegiatan tak ada manfaatnya. "Kirain sodaranya anak pintar, pasti pada pinter juga, sopan semua. Ehh ... ternyata enggak juga," gumam Intan, lalu berjalan lurus menghampiri halte sepi siap meenunggu angkot yang selalu lama datang. "Hem, kirain mau ngajak bareng gitu, ya, kalo diajak gak bakal ditolak!" harapnya. Selesai membersihkan diri, Prisil segera menyusun hasil belanjanya tadi ke dalam lemari. Suara bel bergema nyaring, Prisil mengembuskan napas kasar. Siapa lagi, sih, tamu gak diundang datang? "Om Aldo! Kok, gak bilang mau ke sini?" "Kebetulan ada klien yang mau ketemu, eh ternyata lewat apart kamu. Mau nanya kabar aja, gak ada gangguan, kan?" Prisil membuka sedikit lebar pintunya. "Masuk, Om." "Gak lama, kok, cuma mau tanya itu doang." Prisil menyandarkan tubuhnya "Barusan dia kayak jambret yang maksa minta uang!" "Terus kamu kasih?" "Daripada mancing orang-orang, terus dia bakal bilang kalo aku adiknya, gimana?" Aldo berkacak pinggang, sudah kurang ajar Rania sekarang. "Kurang ajar! Berapa yang kamu kasih?" "Seratus," jawabnya. Ditepuknya bahu Prisil. "Om, bakal cari tahu apa kebiasaan Rania sekarang. Kalo dia pengguna, nyari duit buat belinya dari mana?" "Percuma, Om, jeblosin aja ke penjara," gerutu Prisil karena kesal. "Kamu ini, ya, udah om pergi dulu. Jaga diri kamu, ya." Diciumnya puncak kepala Prisil. "Jaga diri kamu." Aldo adalah sosok yang menggantikan ayah Prisil. Bedanya, dia sangat setia kepada istrinya, tidak seperti ayahnya yang selalu bermain dengan wanita malam di belakang ibunya yang setia. Prisil pun masuk ke dalam, mendengar derit ponselnya yang bergetar di atas meja belajar. Nama Albrian terpampang jelas, menelponnya. "Katanya mau dijeda, kok, sekarang diputer lagi!" Prisil mengatur napasnya, lalu terdengar suara Albrian di seberang sana. "Gila! Gagal move on, gua! Susah banget, sih, lupain wajah cuek lo!" "Bukan urusan gua," balas Prisil dingin. "Urusan lo juga, dong! Kan, entar gua perhatian lagi sama lo!" Ah, percakapan macam apa ini? Sangat tidak penting! Tanpa berpikir ulang, Prisil mematikan sambungan telepon, lalu melempar ponselnya ke atas ranjang. "Jangan mempertahankan pengganggu yang nyata mau ngehancurin masa depan gua! Kalo hancur, dia gak bakal tanggungjawab!" Jam dua siang dihabiskan Prisil menonton film yang ia sukai. Mendengarkan musik penenenag hati, sampai ketiduran yang membangunkannya tepat pukul lima sore. Memaksanya merendam tubuhnya, membersihkan diri lalu mulai memasak nasi bersiap makan malam sendiri. "Gak usah dipikirin semua masalah, sekarang lo aman karena gak ada Diana yang cerewet ngomebtarin hidup lo! Satu pengganggu akhirnya mati dan Kevin ... pengganggu kedua yang terpaksa tumbang!" Prisil menaburkan daun bawang sebagai topping omeletnya. "Albrian? Pengganggu yang lama nyerahnya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD