"Kita itu peduli sama lo, gimana kalo kejadian Albrian nimpa lo juga?"
"Gua bisa jaga diri! Lagian dia juga udah kena skors," balas Prisil.
"Bukan berarti udah aman, dong! Sandra itu banyak pengikutnya, dari adkel sampe yang seangkatan juga ada."
Prisil menatap tajam Diana. "Mereka cuma jadi pengikut biasa, pansos aja gak lebih!"
"Lo keras kepala banget, sih, kita tuh peduli!" jerit Diana.
Kevin menarik lembut tangan Diana. "Udah, ke lapang, yuk, gak enak diliatan orang tuh."
Tanpa menunggu ajakan lagi Prisil langsung meninggalkan Kevin dan Diana. Pagi-pagi sudah ribut, sok peduli banget sih! Kalo mereka benar-benar peduli gak bakal tuh mereka pacaran. Diana pasti tau, ada hubungan yang pernah paling membahagiakan bagi Prisil dan Kevin.
Namun, sekarang berbeda orang yang bahagia bersama Kevin adalah teman sebangku Prisil, bukan dirinya lagi. Meskipun demikian, hati kecilnya menjerit karena terluka. Prisil menuruni anak tangga dengan hati-hati, sampai di dasar lantai bawah tatapannya bersirobok dengan lelaki yang tadi malam mengabari akan menjemputnya.
Ah, Prisil enggan harus berurusan lagi dengan Albrian, lalu membesarkan masalah kecil seperti Diana. Sebelum Prisil kembali melangkahkan kakinya, Albrian sudah berbalik menjauhinya. Ada apa dengan lelaki itu? Prisil sedikit kecewa dengan sikap Albrian. Apakah dia marah karena Prisil berangkat sekolah sangat pagi untuk menghindarinya?
"Al!"
Teriakan Afrizal menghentikan langkah Albrian yang masih bisa Prisil lihat dari kejauhan, Afrizal menepuk keras punggung Albrian.
"Gila, udah ngikutin saran gua ternyata?"
"Maksud lo?" tanya balik Albrian.
Afrizal mengembuskan napasnya kasar. "Lo gak nyapa, Prisil?"
Terpaksa banget, Zal, padahal gua sama dia udah deket, tapi gimana ya gua harus jaga jarak dari sekarang. Albrian tak mampu berkata, ia hanya tersenyum kecil lalu mengajak temannya itu pergi ke lapang. Karena ceramah dari seorang ustaz akan segera dimulai. Di belakangnya Prisil mencoba berpikir positif, mungkin Albrian enggan memperpanjang urusan dengannya lagi?
Baiklah, sangat lebih baik bukan jika satu pengganggu mulai hilang? Namun, saat Albrian menjauh Prisil merasa kehilangan. Bayangan Albrian memberikan dasi saat acara penting baginya berkeliaran, membuatnya tidak fokus berjalan dan menabrak seorang siswi.
"Maaf!" pekik Prisil, buku catatan perempuan yang ia tabrak jatuh tepat di samping sepatunya.
Prisil menyerahkan bukunya dan saling berpandangan dengan perempuan yang tak asing bagi Prisil.
"Iya, Kak, gak papa tadi aku juga jalannya gak liat-liat," jelas perempuan yang duduk di kelas sepuluh Akuntansi 1.
"Ehh, iya, ya udah ayo ke lapang acaranya mau dimulai," ajak Prisil.
"Iya, Kak."
Prisil tidak mengikuti langkah perempuan yang sangat ia kenal, saat duduk di bangku SMP. Hanya namanya saja yang dilupakan Prisil. Namun, kemungkinan ia pasti tahu siapa Prisil dan Rania.
"Sampai sekarang masih aman, gua gak tau kedepannya kayak gimana!" batin Prisil, lalu duduk di antara anak Akuntansi lainnya.
Acara dimulai dengan khidmat, sebelumnya seorang guru BK mengingatkan agar tidak ada lagi kekacauan seperti kemarin. Kehadiran Albrian yang masih diperban, juga pemberitahuan penting bahwa Sandra kena skors selama dua minggu.
"Kalian, sebagai kakak kelas harusnya memberikan contoh yang baik! Ini malah sok paling benar, padahal dia salah. Walaupun kalian merasa menjadi selebritis SMK ini, jaga sopan santun! Jadilah contoh yang baik!"
Selanjutnya, seorang guru agama siap melempar pertanyaan dari inti ceramah yang dibawakan tadi. "Berapa jumlah surah dalam al-quran?"
"Seratus empat belas!" sorak semua penghuni SMK yang tahu jawabannya.
"Berapa jumlah juz dalam al-quran?"
"Tiga puluh juz ...!"
"Berapa jumlah ayatnya?"
Semua siswa dibuat menebak-nebak, mereka paling bingung menentukan karena kebanyakan. Sampai Prisil yang bisa menjawab cepat, "Enam ribu dua ratus tiga puluh enam ayat."
Guru agama bernam Ibrahim itu bertepuk tangan. "Benar!"
Pasang mata mulai memandangi Prisil, dari tempat lain Diana mulai menyombongkan diri bahwa Prisil adalah teman sebangkunya.
"Pinter kan? KETOS plus teman sebangku gua, gitu loh ...!"
Kumandang azan duhur menjadi akhir pertemuan, semua siswa mulai berhamburan keluar dari gerbang. Dari yang menunggu jemputan, dijemput pacar yang sudah bekerja, sampai naik angkutan umum atau kendaraan pribadinya. Prisil sendiri langsung pergi menuju ruang OSIS, Kevin tahu ke mana Prisil akan pergi. Namun, sekarang ia tak bisa berkutik, Diana sudah memborgolnya kuat-kuat.
Albrian melihat kepergian Prisil, ia sudah berpikir beberapa kali. Seharusnya ia menjelaskan keseriusannya ditunda dulu, ia harus membiarkan Prisil fokus dengan tugasnya sebagai KETOS, fokus juga melahap semua materi Akuntansi yang bersiap menghadapi ujian nanti. Afrizal yang mendapat penolakan untuk pulang bersama, tidak habis pikir dengan keputusan Albrian.
"Heh, emang dia ngerasa kehilangan? Enggak, Al! Gak usah sotoy lu, tau rasa kalo dia gak peduli mau lu jelasin apa enggak!"
"Ya, seenggaknya gua gak ngegantungin perasaan dia," balas Albrian, lalu meninggalkan Afrizal yang mulai geleng-geleng kepala.
"Punya temen beloon banget kalo ngadepin cewek!"
Langkah kaki Albrian menggema di lorong sepi yang panjang, menuju ruang OSIS yang menjadi tujuannya menemui Prisil. Pintu ruangan terakhir itu terbuka lebar, punggung Prisil terlihat membungkuk kentara sedang menulis sesuatu. Albrian berjalan tanpa suara, lalu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.
"Ekhem!"
Sontak Prisil menoleh. "Kirain siapa!" ketusnya.
Albrian tersenyum kecil. "Kaget, gak?"
Prisil tak menjawab, catatan hari ini lebih penting baginya daripada meladeni manusia aneh di belakangnya.
"Gua mau jawab pertanyaan di kepala lo!"
"Kayak yang tau aja isi kepala gua!" balas Prisil super jutek.
Albrian menyandarkan tubuhnya ke daun pintu. "Dari tatapan penuh tanya, gak bisa bohong!"
Prisil menghentikan aktivitasnya yang sibuk menyalin catatan. "Gua gak butuh, gak peduli juga!"
Benar apa kata Afrizal, Prisil memang tidak peduli. Namun, itu bibirnya yang berucap! Kita tidak tahu hatinya mungkin berkata lain, seperti berharap Albrian menjelaskan? Jadi, Albrian tetap melanjutkan niatnya. Karena berharap kepada seseorang itu sangat tidak enak!
"Gua gak berhenti mengagumi, memperjuangkan rasa suka gua, tapi ... gua ngasih jeda, seharusnya bukan sekarang ngabisin waktu yang lo tau gak penting!"
Prisil menoleh, lalu bertanya, "Intinya aja bisa? Gua masih ada kerjaan, butuh waktu sendiri juga!"
Baiklah, Albrian mempersiapkan dirinya. "Gua, gak minta kita harus pecaran sekarang. Mungkin selesai ngelewatin ulangan di sekolah?"
Prisil tersenyum miring. "Gua ingetin, sampai kapan pun gua gak bakal mau pacaran!"
"KENAPA?"
"YA ITU BUKAN URUSAN, LO!"
Albrian menegakkan tubuhnya. "Ok, KETOS judes ... gua pulang duluan karena kalo ngajak lo bareng pasti dapet penolakan!" Albrian mundur selanglah. "Tapi, walaupun lo nolak perasaan gua, inget masih ada banyak waktu! Dan gua bisa berjuang dari nol lagi."
Basi! Prisil sama sekali tidak peduli, mau berjuang, kayang, loncat tinggi, sampai bunuh diri karena Prisil menolaknya ia tidak peduli!
"Bukan urusan gua," gerutunya, lalu melanjutkan menyalin catatannya.
Paling penting dalam hidupnya adalah mengejar cita bukan cinta! Prisil sudah berjanji kepada ibunya dulu, takkan berpaling dari pelajaran karena sibuk berpacaran. Ingat, ia sudah menulisnya dalam kamus kehidupan. Takkana da pacaran selama belajar, semua ada waktu yang tepat.
"Pulang, Pril ... masih di sini aja kamu!"
"Bentar, Pak, pinjem tempatnya, ya, lagi males di rumah," balas Prisil.
Pak Wili sudah biasa mendapati Prisil yang selalu menjadi siswi yang pulang terakhir, hanya untuk mengerjakan tugas.
"Jangan lama, entar kamu digoda setan, loh," goda Pak Wili, kebetulan ia guru satu-satunya yang belum menikah di SMK. Sempat ada gosip yang beredar juga, bawa ia mengincar Prisil sejak duduk di kelas sepuluh.
"Iya, Pak bentar." Prisil segera memasukkan bukunya ke dalam ransel, sejak kabar miring sampai ke telinganya Prisil juga harus dipaksa siap siaga, bukannya berprasangka buruk. Toh, kita tidak tahu setan akan menghasut manusia kapan.
"Mau saya anterin?" tawarnya.
"Gak usah, Pak, saya bawa mobil, kok," tolaknya.
"Kebiasaan, kapan, sih, mobil kamu masuk bengkel? Nanti, kan, bisa saya antar jemput!"
"Bapak bisa aja." Prisil masih menanggapi bahwa ucapan yang Pak Wili lontarkan hanya guyunan. Karena sampai saat ini, belum ada tuh ungkapan rasa seperti Albrian bahwa Pak Wili memang menyukainya.
Prisil saja yang tidak sadar, padahal Pak Wili sudah memberikan kode kepadanya. Namun, Prisil mengacuhkan. Ia tetap menganggap Pak Wili sebagai pembina OSIS yang harus ia hormati. Sesampainya di parkiran, Pak Wili mempersilakan pulang.
"Hati-hati, jangan ngelamunin wajah saya!"
Prisil tersenyum kecil. "Gak ada kerjaan banget!" balasnya diakhiri tawa.
Mobil pun mulai melaju, Prisil menekan klakson untuk mengakhiri pertemuan. "Dih, yang seumuran aja gua tolak! Apalagi yang umurnya jauh banget," batin Prisil kesal.