19. JAWABAN YANG SAMA

1265 Words
Sayang, ditunggu sampai setengah jam tidak ada balasan juga. "Gak mungkin banget tuh cewek udah molor!" Aisyah yang sedang membaca salah satu surat dalam al-quran mendongak, mendengar gerutuan Albrian. "Kamu lagi nunggu balasan dari, Prisil?" tebaknya. Albrian menggaruk tengkuknya. "Enggak, Mi, barusan Al bales pesan dari Afrizal yang nanyain pacarnya lama bales pesan, gitu!" jawabnya cepat. "Ohh, kirain!" Aisyah pun menyimpan al-qurannya di atas meja. "Umi juga pernah muda, Al, umi tau tatapan kamu untuk Prisil. Kalian pacaran, kan?" "Dih, enggak! Gak, mungkin banget, masa KETOS mau sama Al!" Albrian terbahak untuk mencairkan rasa kaku karena tatapan uminya itu sangat mengintimidasi. "Jangan ngaco, deh, Mi. Lagian, Albrian lagi gak mau pacaran." "Kenapa gak mau?" Lagi, Albrian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya ... emang gak guna juga, kan? Terus gak lama kenaikan kelas! Bakal banyak ngabisin waktu belajar kelas dua belas!" "Itu, sih, pendapat anak pintar yang hobinya belajar!" Aisyah duduk di samping Albrian. "Berarti, kamu anak nakal yang maksa KETOS pacaran sama kamu, kan?" Wah, mengapa uminya bisa menebak dengan benar? Apa ini yang dikatakan veeling wanita selalu benar? Albrian menelan ludahnya kasar, digenggamnya kedua tangan uminya. "Maaf, Mi ... bosen ngejomlo soalnya, hehe," kekehnya. "Kamu ini! Ngomong, tuh, yang bener!" "Ya bener, Mi, nih ya, kalo Umi emang pernah jadi anak muda, emang enak liat semua temen pada punya pacar, eh Umi yang notabenennya cewek cantik tapi tetep jomblo, gimana? Gak ngiler apa?" "Eeeh .... Ngiler berbuat dosa maksudmu, ha?" sentak Aisyah, memelototi Albrian. Tuh, kan, salah ngomong! Seharusnya Albrian menjelaskan, bahwa ia dan Prisil hanya teman dekat! Tidak ada hubungan lainnya. Namun, tetap saja, pasti Aisyah akan berkata bukankah Albrian sudah punya Afrizal? Mengapa pula harus anak cewek sebagai teman dekatnya lagi? Berarti malam ini, adalah malam penuh khutbah dari Aisyah pastinya. "Kamu bener, Umi pernah muda dan pasti pernah berpikir kayak kamu tadi. Tapi, kamu juga harus tahu sisi negatifnya! Banyak, Al, apalagi kita muslim, kamu mau tetap melanggar aturan?" Albrian menggeleng lemah. "Cuma temen, kok, Mi," elaknya. "Temen? Kok, kamu gak bisa jaga dia dari fitnah orang di dekat kamu! Gak mikir apa, nanti orang-orang pada bilang, pakek kerudung nutup aurat, kok pacaran! Kamu bangga? Atau malu?" Tak ada jawaban dari Albrian, sentuhan lembut di bahu Albrian membuatnya berani menatap wajah sendu uminya. "Ajak dia ke jalan yang benar, tutup mulut semua orang, sebelum menggunjingkan temanmu itu," terangnya. Mulut sudah terbuka, bersiap untuk mengatakan sesuatu. Namun, ia urung, memejamkan matanya, lalu memeluk erat uminya. "Maafin, Albrian, Mi ...." Aisyah mengangguk. "Ajak dia menutup auratnya dengan sempurna, ingat akan panah setan!" Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut jenis pandangan, dengan panah-panah setan. Jika panah itu menancap di satu objek, maka objek ini akan menjadi area maksiat si pemilik pandangan. Dari sisi mana pun pandangan itu dilepaskan. Karena itulah, Al-Qur’an meminta orang beriman untuk menjaga pandangan. Satu pandangan insiden mungkin bisa dimaafkan. Tapi yang berikutnya menjadi terlarang. "Jagalah pandangan kita. Karena kita tidak tahu ke mana pengait itu akan tersangkut. Putuslah segera tambang yang tersangkut itu dengan istigfar dan zikrullah, agar setan gagal mendompleng syahwat kita," jelas Aisyah, menyadarkan Albrian yang hampir terjerumus masuk dalam jebakan setan yang mendekati zina. "Albrian, salah, Mi." Aisyah mengelus sayang puncak kepala Albrian. "Jadi, kamu mau mengajak temanmu itu ke jalan yang benar?" "Insya Allah, Mi." *** Pagi yang cerah, Prisil segera menyiapkan sarapan paginya, omelet hangat ditemani sambal tomat dan nasi yang masih mengepul siap untuk dinikmati. Prisil melirik jam tangannya, tepat pukul enam pagi. Masih ada banyak waktu baginya bersantai, tetapi ia segera tersadar akan pesan Albrian. Jika Prisil berangkat pagi, kemungkinan Albrian akan gagal berangkat ke sekolah bersamanya? "Ok, gua harus pergi pagi, nih, dia kan ke sekolah suka siang!" Selesai menghabiskan sarapan paginya, Prisil segera keluar dengan cepat berlari masuk ke dalam mobilnya. Lalu tanpa menunggu lama, melajukan mobilnya menuju sekolah, dipastikan masih sepi. Gerbang yang biasanya sesak dipenuhi lalu lalang penghuni SMK Hanum Perwita sekarang masih sepi, hanya ada dua tiga siswi yang berjalan masuk. Prisil memarkirkan mobilnya di samping deretan motor dan mobil milik guru, ia pun keluar menghirup udara pagi yang segar. Beruntungnya lagi, Prisil takkan berpapasan dengan senior yang kemarin adu mulut dengan Albrian! Parah, jika Prisil terjebak di lantai bawah dikerumuni senior bergincu dan merasa paling benar hidupnya! Langkah Prisil memasuki ruang OSIS yang pastinya sepi, tak ada manusia di dalamnya. Prisil duduk di salah satu kursi, mengeluarkan ponselnya yang menerima pesan dari nomor tak dikenal. +62 Nanti gua jemput, bareng Diana juga Ah, tidak salah lagi yang mengirim pesan itu adalah Kevin. Prisil segera menjawab, bahwa ia sudah sampai di sekolah. +62 Sekarang di ruang OSIS? Gua ke sana "Ngapain, sih, tuh orang! Padahal dia udah dicap pacaran sama Diana, terus kenapa sampe sekarang masih ngurusin idup gua? Sumpah, aneh banget!" Prisil kembali berjalan, keluar dari ruangan yang dipastikan Kevin akan datang menemuainya. Untuk apalagi Kevin menemuinya? Jika urusannya dengan kepengurusan OSIS, Prisil punya wakil dan Kevin bisa bertanya kepadanya! Ia segera berlari cepat menaiki anak tangga. Beruntung perpustakaan sudah terbuka lebar untuknya, ia segera masuk menyapa Bu Yesi. "Pril," sapa Bu Yesi. "Bu, numpang duduk doang, ya," ucap Prisil seraya duduk di salah satu kursi. "Silakan." Baru juga Prisil menghidupkan ponselnya, nama Diana sudah muncul menelpon. Paling malas Prisil mengangkat telpon di tempat umum, ia segera keluar mencari tempat untuk menghindari orang-orang yang mungkin terganggu karenanya. Di luar perpustakaan, sudah terlihat beberapa adik kelasnya sedang sibuk membersihkan ruang kelas, sebelum mereka semua pergi ke lapangan. "Iya?" "PRIL! LO DI MANA, SIH!" Prisil menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Diana terlalu cempreng! Ia mengatur napasnya lalu berkata, "Lapang." "Ha? Di mana? Yang, katanya dia di lapang coba kamu cari," terang Diana di seberang sana. "Ketemu, gak?" Prisil menyandarkan tubuhnya ke pojokan dinding. "Udah, ya," putusnya. Di lantai bawah, Diana mencari-cari keberadaan Prisil, sedangkan Kevin segera mencari di dekat ruang OSIS. Mungkin Prisil mencoba sembunyi? Menyadari pacarnya tidak ada di samping, Diana segera menelpon Kevin. "Bentar, aku lagi nyari Prisil ini," terang Kevin. "Ayang ...! Aku gak suka, ya, ditinggal gitu aja! Apalagi lagi sayang-sayangnya, balik gak?" Kevin menghentikan langkah kakinya, dia mulai menyesal menjadikan Diana sebagai pacarnya. Tidak ada juga manfaatnya, malah membuatnya semakin susah berduaan dengan Prisil, sialan! "Iya, nih, aku ke sana," balas Kevin terpaksa. "Cepet, Yang! Aku gak mau, ya, dianggap jomblo apalagi putus ama kamu!" Semenjak keduanya resmi berpacaran, Diana membuat aturan yang mengharuskan keduanya berkata aku-kamu bukan gua-elu. Biar romantis gitu, kesannya saling menyayangi gak terlalu kasar! "Ihh ... lain kali, tarik tangan aku ini! Jangan jalan sendiri, aku gak bakal diem tangan kamu ditarik cewek lain! Termasuk sama Prisil juga, huh!" "Kamu ngomong apa, sih, Prisil kan teman kamu," balas Kevin. "Iya ... tapi banyak kasus, temen makan temen! Aku gak mau kamu dimakan temen aku ...," rengeknya. "Ya enggaklah! Udah, yuk, katanya mau cari Prisil," ajaknya. "Oh iya! Hampir lupa, saking gak maunya aku kehilangan kamu, Yang." Diana pun merangkul manja tangan kiri Kevin. "Di mana, ya, Prisil? Padahal kita khawatir takut kenapa-napa!" Kevin mengembuskan napasnya kasar, Diana memang menganggapnya serius dengan hubungan yang semua orang juga tahu! Pasti Kevin hanya mempermainkannya saja, tetapi tidak dengan Diana. Ia terlalu bahagia bisa bersama Kevin, tidak banyak berpikir tentang siapa sosok Kevin dan hubungan mereka awalnya sama sekali tak pernah saling mengenal. Bodohnya, baru sekali diajak jalan Diana merasa paling berharga, paling beruntung di dunia menjadi pacar Kevin. "Kamu pernah suka, gak, sama Prisil?" Hampir saja langlah Kevin terhenti, apa maksud pertanyaan Diana? "Enggaklah, buktinya sekarang aku sama kamu bukan sama dia," jawab Kevin berbohong. Diana semakin merangkul erat pelukan di tangan Kevin. "Syukur, deh, akhirnya dapet juga jawaban yang sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD