18. RANIA LAGI

1060 Words
Sesampainya di dalam apartemen Prisil segera merendam dirinya di dalam bathub, melepas penat dan pikiran kacau yang membuatnya sangat kelelahan. Sampai Prisil tidak menyadari, sekarang bukan hanya Albrian saja yang mengetahui tempat tinggalnya. Tempat yang dulu selalu dirahasiakan, beruntungnya Prisil tidak pernah membiarkan tamu tak diundang masuk ke dalam tempatnya. Termasuk Rania, Prisil takkan membiarkan siapa pun yang memaksa masuk ke dalam apartemennya. Biarkan ia merahasiakan semua tentangnya dari orang-orang, jangan mencampuri kehidupannya! Nyatanya Prisil terpaksa menjadi seseorang yang peduli, apalagi kepada Albrian yang mulai mengupasi bilik kehidupan penuh rahasianya. Mengapa Albrian tertarik padanya? Apakah Prisil harus menjelaskan, mengungkit masa lalunya agar lelaki itu menjauh darinya? Prisil menggeleng lemah. Biarkanlah, toh, dia juga yang mencoba menarik rahasia Prisil yang tertutup rapat dengan wajah datarnya agar tidak banyak dikenal orang. "Gua gak pernah minta, tapi mereka yang maksa nyari tau tentang gua," gumam Prisil. Jika rahasianya terbongkar, Prisil akan tetap diam. Walaupun orang yang menyebarkan rahasianya sendiri adalah lelaki yang membuatnya berubah total! Dari sosok Prisil yang selalu ceria, memiliki banyak teman untuk diajaknya belajar bersama. Namun, sekarang berubah, ia menjadi sosok Prisil yang banyak diam, memendam luka dan rahasia. Namanya kembali harum, kala suara pembawa acara mengumumkan bahwa ia menang dalam pemilihan ketua OSIS. Prisil yang sama sekali tak banyak dikenal orang, tiba-tiba kehidupannya berubah, dipaksa untuk bersosialisasi, menyapa orang-orang yang ia temui dan mengenal banyak lelaki yang ia hindari dari dulu. Drit! Drit! Getar ponsel Prisil yang ia simpan di samping wastafel, memaksanya bangkit menarik handuk lalu melilit tubuh rampingnya cepat. Nama Om Aldo yang memanggil segera Prisil angkat, suara seseorang yang menyapanya nampak tergesa-gesa. Suara lelaki di seberang sana, tidak jauh berbeda dengan suara ayahnya yang telah meninggal. Prisil segera tersadar, bukan waktunya menangisi orang yang telah meninggal. Karena kabar tak diharapkan mulai Om Aldo laporkan sekarang. "Om, dapat kabar bahwa Rania menjadi pengguna baru-baru ini, kamu harus hati-hati!" "Terus apa urusannya sama aku?" tanya Prisil. "Kamu gak mungkin banget bisa terjerumus karena jebakan Rania, tapi om takut kamu malah jadi korban orang suruhan Rania, Prisil. Kamu ngerti, kan?" Suruhan? Maksudnya Rania sudah mendapatkan benda terlarang yang disalahgunakan, lalu ia akan menyuruh si pengedar meminta uangnya kepada Prisil? Di saat ia sedang fokus belajar di sekolah? Atau berada di luar sana yang Prisil sendiri tak mampu membedakan, mana manusia pengguna barang haram dan bukan. "Kalo om tau dan yakin dia jadi pengguna, kenapa gak om laporin? Gampang, kan? Dia dipenjara, kehidupan aku aman, begitu juga kehidupan om sama keluarga!" Di seberang sana Aldo menarik napas panjang. "Prisil, kamu jangan menganggap gampang kasus ini! Ingat, Rania bisa saja dekat dengan si pengedar yang sudah terbiasa masuk keluar penjara. Mungkin, nasib kita selanjutnya akan semakin parah karena kena teror!" Kenapa harus berpikir sisi negatifnya? Prisil mencengkeram sisi wastafel dengan keras, lalu berkata, "Intinya, om percuma ngasih tau info yang gak ada niatan buat memutuskan masalah yang sudah jelas ada jalan keluarnya!" Sambungan telepon segera Prisil matikan sepihak, ia terlalu pusing dengan hari ini. Kejadian Albrian yang jatuh, dipastikan hubungannya dengan senior akan berlangsung tetap menatapnya tak suka dan pasti mengajak yang lain untuk memusuhinya! Prisil lelah, ia ingin semuanya baik-baik saja, seperti dulu sebelum ia dikenal banyak orang. "Gara-gara Si Diana! Harusnya gua gak jadi KETOS," gerutu Prisil, lalu mulai membersihkan tubuhnya. Di luar, langit mulai menghitam bintang pula mulai menghiasai langit malam tanpa tetesan air hujan. Kumandang azan magrib dari siaran televisi bergema, mengajak semua muslim segera melaksanakan ibadah wajibnya. Prisil keluar dari kamar mandi, dengan sehelai handuk menutupi tubuhnya, lalu mencari pakaian tidurnya. Perut yang terakhir kali diisi hanya dengan cemilan, segera berontak ingin diisi makanan lain. Mengingat bulan Ramadan yang dijalani Prisil berbeda dari bulan Ramadan yang lalu, ia terpaksa memasak nasi dan lauknya mendadak saat perutnya sudah berteriak ingin cepat diisi. Seperti biasa, dapurnya sama sekali tidak meninggalkan jejak noda masakan. Alat masak tertata rapi, Prisil banyak belajar dari ibunya. Dari memasak, mencuci piring kotor dengan benar, sampai mencuci baju. Tidak dengan Rania yang kebanyakan diam di kamar, menghabiskna waktu memainkan ponselnya. Sekalinya keluar, hanya untuk makan dan bermain dengan teman pastinya pulang ke rumah dini hari. Prisil masih mengingat masa lalu tersuram baginya, di saat Rania membanting pintu karena ibunya lama membuka kunci untuknya dan masih banyak lagi kenangan pahit lainnya. Beruntung, Prisil bisa hidup damai setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia tidak lagi bisa mendengar teriakan Rania saat tidurnya pulas, Prisil memilih membeli sebuah apartemen yang Aldo pilihkan. "Harus jauh dari jangkauan Rania, ya, Om," pinta Prisil waktu lalu. "Tenang, om akan carikan apartemen buat kamu," balas Aldo meyakinkan. Di sinilah Prisil tinggal. jauh dari apartemen yang Rania pilih. Namun, tak lama kakaknya itu tiba-tiba mempermasahkan soal harta yang Prisil terima, baginya sangat tidak adil! Ia ingin sebagian harta milik Prisil dibagi kembali untuknya. "Inget, ya, lo gak bakal tenang sampai kapan pun!" Ancaman Rania dapat Prisil rasakan sampai sekarang. Setelah merasa dirinya kurang karena harta warisan yang diterima, lalu mengapa sekarang malah terjerumus dalam lingkaran setan menjadi pengguna n*****a? Bukankah barang itu sangat mahal untuk dikonsumsi? Apa keuntungannya? "Gak mungkin banget, kan, kalo gua nyuruh orang buat ngebunuh dia!" Selesai menghabiskan makan malamnya yang tentunya sendiri, Prisil langsung mengeluarkan dua buku catatan dari ranselnya yang tadi Afrizal berikan. Isi di dalam ranselnya masih aman, tak ada satupun benda yang hilang. Seperti biasa ia akan membaca ulang apa yang ditulis tadi, lalu membawa buku lain sesuai jadwal besok. Tak diharapkan lagi, sebuah pesan datang muncul di layar ponselnya. "Ngapain lagi, sih, tu anak?" Prisil membuka pesan dari Albrian yang berisi, ia akan menjemput Prisil besok! Untuk apa? Toh, Prisil terbiasa pergi dengan mobilnya, sedangkan Albrian akan menjemputnya dengan motor? Albrian Kalo gak mau, gua bakal nebeng, gimana?" Prisil Gak usah sok peduli, deh! Gua bisa sendiri Albrian Udah berubah jadi Prisil super cuek bin pemarah, ya? Gak takut apa senyum manisnya luntur? Prisil paling tidak suka mendengar gombalan receh, apa pun bentuknya! Tanpa menunggu lama, ia segera mematikan ponselnya. Ia juga malas membalas pesan terakhir Albrian yang menjijikan. Tepat pukul delapan malam, membaca novel adalah kebiasaan Prisil setiap malamnya. Menjadi obat, sebelum ia bisa tidur terlelap. Benar saja, baru membaca empat halaman novel Prisil langsung menguap lebar. Dimatikannya lampu kamar, menarik selimut sampai d**a, lalu mulai memanjatkan doa semoga hari esok kehidupannya lebih baik lagi dari hari ini. Kedua matanya terpejam, sedangkan di seberang sana jauh dari jangkauan Albrian masih berharap Prisil menjawab pesannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD