Tepat pukul empat sore, Prisil yang masih menjaga Albrian di dalam kamar dikejutkan dengan kedatangan Afrizal bersama Diana dan Kevin. Mendapati Prisil yang menemani Albrian, membuat Kevin tak nyaman lama berada di sana. Sayangnya, Diana terlalu cerewet dan banyak pertanyaan untuk Albrian, ditambah info yang masih belum tentu benar mulai beredar di SMK Hanum Perwita tentang siapa gerangan tersangka, penyebab celakanya Albrian tadi siang. Jadi, Kevin harus menahan diri mengajak Diana cepat pergi.
Afrizal sendiri tak bisa berkomentar pedas, apalagi mengusir Prisil yang menemani Albrian dari tadi. Ia juga bertanya ke mana Aisyah? Dengan cepat Albrian menjawab, bahwa uminya kembali pulang. Mungkin tak lama lagi akan datang, tanpa menunggu lama Albrian juga menjelaskan Prisil yang diminta uminya untuk menemaninya sebelum datang. Albrian tahu, teman masa kecilnya itu tidak berubah juga! Tetap menganggap Prisil sama dengan Rania.
Semakin bertambah saja rasa tak suka Afrizal, akan fakta menarik yang belum Albrian ketahui. Afrizal akan tutup mulut, ia enggan bertengkar lagi hanya karena cewek! Ia ingin Albrian tahu sendiri, siapa sebenarnya Prisil.
"Bentar, ya, gua pinjem Prisil dulu!"
Diana menarik tangan Prisil keluar, langsung berhadapan dengan bola mata penuh selidik Diana.
"Gila! Kok, lo mau sih nemenin dia? Ini Prisil yang gua kenal, kan?" tanya Diana tak percaya.
Prisil mendelik sebal. "Gak usah lebay, deh! Bayangin aja, kalo lo jadi gua, dia jatoh dari tangga gara-gara bawa ransel gua! Jadi, ya, harus tanggungjawab juga," jelasnya panjang lebar.
Respon yang Diana berikan malah tertawa kecil. "Emm, gua yakin kalian pasti udah ada apa-apa, nih! Ngaku, loh, udah jadian kan?" tebaknya.
"Lo ngomong apa, sih! Orang lagi sakit dibilang jadian!" protes Prisil tak terima. "Udah, ah! Pulang sana, ganggu tau!"
"Ha? Maksud lo gua ama my pacar ganggu kalian pacaran, ha? Gitu?"
Prisil memberikan tatapan tajam. "Ngaco!" Langkah Prisil bersiap masuk kembali ke dalam kamar, dengan cepat Diana menghalangi jalannya. "Lo jangan ganggu gua, deh, aneh banget, sih! Lagian udah sore, kalian kan harus buka puasa!"
Diana berkacak pinggang. "Ok, Prisil ... lo juga hari ini aneh banget, sumpah! Tetiba jadi baikan ama tuh orang, kan gua curiga! Tapi gak papa sih kalo bener pacaran, akhirnya lu gak jomblo lagi, kan?"
Prisil membuang muka. "Gua mau masuk, minggir gak!"
Baiklah, Diana mengalah dan tak lama suara ponselnya berdering sebuah panggilan dari ibunya yang meminta Diana cepat pulang ke rumah. Meminta pacar barunya juga untuk ikut bersama. Kedatangan Prisil dan Diana dari luar, sontak membuat Kevin yang tak banyak bicara berbalik. Afrizal sendiri sudah duduk di samping Albrian, tatapannya kembali menatap Prisil tak suka.
Diana yang mendapat panggilan dari ibunya segera pamit pulang, meninggalkan Afrizal bersama Prisil dan Albrian. Albrian sudah bisa menebak, suasana yang akan berlanjut sampai uminya datang adalah kebisuan. Lihatlah, temannya sama sekali enggan mengeluarkan sepatah kata apalagi menyapa Prisil. Prisil sendiri memang tidak terlalu kenal akan sosok Afrizal. Ia mengira mungkin teman Albrian itu memang pendiam.
"Ehh, makanan tadi belum diabisin, Pril!"
Prisil mendongak kaku. "Em, lo aja yang abisin."
Albrian menyandarkan punggungnya. "Lah, tadi kita makan bareng juga!"
Afrizal menghentikan permainan di ponselnya. "Cewek lu lagi dapet?" tanyanya.
"Napa? Lu mau bolong juga?" tanya balik Albrian.
Afrizal tak menjawab. Tadi ia jelas-jelas melihat Prisil membawa al-quran untuk mengetes hafalan. Ah, ya, bukannya menstruasi itu selalu datang tanpa diundang? Kasusnya masih masuk akal, sampai Albrian dengan santay menghabiskan cemilan yang Prisil beli. Tak lama, tepat jarum jam dinding menunjuk pukul lima sore barulah Aisyah datang membawa nasi untuk buka puasa dan pakaian ganti Albrian.
"Maaf, Umi, tadi Afrizal gak sempet nemenin Albrian," ucap Afrizal seraya mempersilahan Aisyah duduk di samping Albrian.
"Gak papa, udah ada ketua OSIS yang jaga! Aduh, namanya siapa? Umi lupa!" ringisnya.
Prisil tersenyum kecil. "Prisil, Tante," jawabnya.
"Ohh iya! Prisil, ehh ... pangil umi aja, jangan tante, ya?"
Gawat, Afrizal harus memisahkan Prisil dari ibu Albrian untuk menjaga sebelum kecewa datang, menghapus harapan besar agar Albrian bersama Prisil selalu. Jadi, Afrizal mulai dengan drama pertama.
"Udah sore, nih, mau pulang bareng, Pril?" tanya Afrizal.
"Loh, kok, pulang! Umi udah bawa nasi banyak loh, kita buka puasa bareng di sini," terang Aisyah.
"Maaf, nih, Mi, bukannya nolak rezeki. Di rumah ada sodara dari luar kota dateng, gak mungkin kan dia makan sendiri sedangkan tuan rumahnya makan di luar?"
Aisyah menyayangkan jawaban Afrizal, ia pun berkata, "Ya udah, kalo begitu. Neng Prisil mau pulang juga?"
"Ehh, iya, Umi. Maaf banget gak bisa buka puasa bersama."
"Bawa mobil, kan?" tanya Albrian.
Prisil mengangguk. "Bawa, kok."
"Zal, ikutin di belakang, gua takut ada teror susulan," pesannya.
Afrizal mengangguk cepat. "Siap, ya udah, yuk."
Prisil tidak menolak, ia juga malu jika harus mempermasalahkan Afrizal yang diminta menemaninya pulang nanti. Sampai di parkiran, Prisil berdiri di samping Afrizal yang menghentikan langkahnya.
"Lu ama Si Al, udah resmi pacaran?"
Prisil menoleh. "Nemenin dia gara-gara kesalahan gua juga, bukan berarti pacaran!"
"Kenapa gara-gara elo?"
"Ceritanya panjang!" Tanpa menunggu lama, Prisil menghampiri pintu mobilnya. "Gua bisa pulang sendiri, kok, lo bisa balik langsung!"
Oh, tentu saja Afrizal takkan menuruti apa yang Prisil inginkan. Ia akan tetap mengikuti mobil cewek yang Albrian sukai sampai di depan rumahnya dan Afrizal akan mencari tahu lebih dalam lagi, setelah mengetahui kediaman Prisil.
"Kevin juga bilang, lo harus aman sampe rumah!"
Sontak Prisil membeku di tempat, Kevin? Afrizal menangkap ekspresi Prisil yang langsung berubah. Mengartikan ada sebuah rahasia yang disembunyikan pastinya. Sangat memancing! Afrizal akan mengikuti Prisil dari belakang, tak peduli dengan bahaya yang mengintai. Tujuannya hanya untuk mencari tahu lebih dalam, sosok Prisil sebenarnya. Bisa juga mantan cewek murahan yang menyerahkan tubuhnya? Lalu tiba-tiba berubah menjadi anak religius, pendiam dan sok pintar!
Mobil Prisil melaju dengan kecepatan normal, di belakangnya Afrizal tetap mengikuti. Prisil tidak bisa mencegah, asalkan Afrizal tidak bersikap macam-macam kepadanya. Sesampainya di depan bangunan tinggi apartemen, Prisil menghentikan laju mobilnya, lalu keluar menemui Afrizal yang masih duduk di jok motornya dengan helm menutupi seluruh wajahnya.
"Ini apartemen gua tinggal!" seru Prisil.
Afrizal mengedarkan pandangannya, sudah tidak asing baginya apartemen yang dicap semua penghuninya bukan orang biasa. Harga selangit adalah julukan apartemen yang Prisil katakan sebagai tempat ia tinggal. Bukan orang biasa, Prisil dipastikan termasuk orang berada. Namun, bagaimana ceritanya Rania menjadi cewek murahan? Sedangkan Prisil sebagai adiknya bisa tenang tinggal di apartemen mewah?
"Udah, lo balik sana!"
Afrizal tersadar, ia pun melempar lelucon agar tidak terlalu kaku. "Gila, serius tinggal di apartemen ini? Jangan bilang lu cuma numpang? Jadi babu, ya?"
"Bukan urusan lo!"
"Tuh, kan, kalo bener tinggal di sini, gak ada niatan ngajak gua masuk?"
Prisil mengembuskan napasnya kasar. "Tadi lo sendiri yang ngajak pulang cepet karena ada tamu dari luar kota, kok sekarang lu sendiri yang malah mau jadi tamu!"
"Hadeh, bilang aja lu emang jadi babu!"
Sudah cukup Afrizal berbasa-basi mencairkan suasana kaku, ia kembali menyalakan motornya. "Gua balik," pamitnya.
Prisil mengangguk. "Thanks!"
Motor pun melaju menjauhi Prisil yang mulai berjalan, masuk ke dalam mobilnya lalu melaju menuju basement apartemen. Lewat kaca spion, Afrizal bisa melihat jelas dan sangat yakin Prisil tinggal di sana.
"Gua harus selidiki lebih jauh lagi," gumamnya.