"Please, ya, Bu ... cuma robek dikit juga, gak usah dipanggil ortu saya," pinta Albrian merengek agar wali kelasnya tidak memanggil salah satu orang tuanya.
Bu Muti mengelus bahu Albrian. "Kamu ini udah jatoh parah, pihak sekolah juga turut bertanggungjawab! Jadi, harus dikasih tau ibu atau bapak kamu."
Albrian sudah membayangkan reaksi abinya yang mungkin, dipastikan akan menampar dan menghujatnya habis-habisan! Namun, Bu Muti dan guru lain tetap kukuh segera memberitahukan keadaan Albrian yang belum stabil. Empat jahitan di samping pelipis kanannya menjadi bukti kejadian di mana ia sangat terasa, sebuah tangan dari arah belakang mendorong punggungnya ke depan. Albrian yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya, seketika oleng jatuh dari tangga.
Tersangka masih terus dicari sekarang. Albrian tidak terlalu memikirkan, yang ia pikirkan adalah reaksi abinya nanti! Mampus, akan diapakan nantinya? Beruntung dokter yang menangani memintanya tetap berada di rumah sakit sampai besok pagi, semua biaya juga sudah ditanggung oleh pihak sekolah. Sialnya lagi, di hari bulan Ramadan Albrian terpaksa membatalkan puasanya.
Apa kata abinya nanti? Ah, Albrian pusing harus menjawab apa! Sampai pintu kamar ruangan ia terbaring lemas terbuka perlahan, Albrian berharap bukan kedua orang tuanya yang datang. Keberuntungan memihak padanya, Prisil datang dengan wajah tegang! Apakah dia khawatir? Albrian harap begitu! Karena akan membuktikan bahwa gadis yang ia kejar kemungkinan sudah memberikan lampu hijau untuknya.
"Syukur, lo udah sadar," ucap Prisil, seraya melangkahkan kakinya mendekati ranjang tidur Albrian.
"Emm, alhamdulillah. Lo dateng sama siapa?"
Prisil berdiri tak jauh dari tubuh Albrian. "Sendiri, sorry, ya, lo kayak gini gara-gara gua," sesalnya.
Albrian protes, "Jangan ngaco, deh, ini murni kesalahan gua!"
"Tapi kan, elo yang bawa ransel gua! Harusnya lo diem aja, terus gak bakal terjadi kek gin—"
"Prisil," potong Albrian. "Udah takdirnya gua jatoh, lagian gak sampe koma juga kali. Udahlah! Besok juga gua pulang, eh, duduk dong!"
Prisil bingung harus memilih diam menemani Albrian atau memilih pamit pulang. Namun, sebelum Prisil berkata pintu di belakangnya terbuka seorang wanita paruh baya dengan kerudung panjang dan lelaki bersorban, masuk ke dalam ruangan diikuti seorang suster yang menjawab pertanyaan di kepada Prisil. Bahwa mereka adalah kedua orang tua Albrian yang baru pertama kali Prisil temui.
"Astagfirullah!" pekik Aisyah, lalu berlari menghampiri Albrian yang terbaring lemah dengan jarum infus di tangan dan pelipis kanannya diperban.
Alfaruk yang mendapati Prisil sudah mundur ke belakang yang tadinya berdiri di samping Albrian, membuatnya bertanya-tanya. Siapa gerangan gadis berkerudung itu?
"Kamu ini kenapa, Al? Kok, bisa kayak gini? Jangan bilang kamu berantem?" desak Aisyah.
Albrian menggeleng lemah. "Albrian jatuh dari tangga, Umi, lagian udah baikan, kok, gak parah banget."
"Gak parah gimana! Itu pelipis kamu diperban kenapa, ha?"
Ternyata wali kelas Albrian ataupun guru lain belum memberitahukan kejadian sebenarnya, membiarkan Albrian sendiri yang menjelaskan, sedangkan Alfaruk yang tadi sedang mengajar di salah satu masjid desa sebelah terpaksa pergi ke rumah sakit dengan menggerutu kesal. Mendengar kabar tak diharapkan dari anak kurang ajarnya itu, Albrian memang selalu menjadi anak yang tak diharapkan baginya!
Selalu saja ada masalah, padahal ini di bulan Ramadan! Apakah anaknya itu tidak lelah membut masalah? Dan bisakah sekali saja mendengar nasihatnya agar menurut? Alfaruk bersiap melontarkan makiannya, tetapi karena ada Prisil yang entah gerangan siapanya Albrian di sana ia hanya mampu menahan. Mengepalkan kedua tangannya, lalu berdiri di samping Albrian dengan bola mata tajam.
"Maaf, Abi, Umi. Kalian pasti terpaksa ninggalin tugas harian di masjid," lirihnya.
"Gak papa, Nak, kamu lebih penting! Umi khawatir waktu denger guru kamu telpon, katanya kamu masuk RS," tutur Aisyah, lalu mencium puncak kepala Albrian. "Kamu batal puasa, Nak?"
"Masih kau tanya, Aisyah?!"
Suara Alfaruk menggema, Prisil semakin tegang ada di antara mereka. Jadi, ia memberanikan diri bersiap pamit pergi.
"Abi, jangan kasar gitu, dong." Aisyah tersadar, ada orang lain selain keluarga kecilnya di ruang kamar Albrian dirawat. Ia berbalik, mendapati Prisil yang tersenyum malu. "Maaf, Nak, kamu temannya Albrian?"
Albrian juga baru sadar ada Prisil di sana, ia segera berkata, "Namanya Prisil, Umi, dia yang nemenin Albrian dari tadi."
Dari tadi? Mengapa Albrian berbohong? Padahal ia baru saja sampai! Pikir Prisil.
"Kalian berduaan dari tadi?" tanya Alfaruk.
Prisil segera menyela, "Maaf, Om, sebaiknya saya tunggu di luar, permisi."
Tak ada ucapan lain yang membuat Albrian menghentikan langkah Prisil keluar dari kamarnya. Bola mata abinya bak seorang singa yang mengintai mangsa, suasana di dalam kamar menjadi kaku Aisyah tahu suaminya sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Sebelum berangkat ke rumah sakit saja, sudah banyak makian yang Aisyah dengar.
"Apa yang membuat kamu seperti ini, Albrian!"
"Abi, Albrian masih lemas, jangan disentak seperti itu," bela Aisyah mencoba menenangkan.
Alfaruk menatap tak suka Aisyah. "Diam, aku hanya ingin mendengar jawaban anak tak tahu diri ini!" Kembali tatapannya menajam, meminta Albrian agar menjawab pertanyaannya.
"Albrian, jatuh dari tangga lantai dua," lirihnya.
"Kamu bukan anak perempuan yang lemah! Jawab dengan benar, apa yang abimu tanyakan, ALBRIAN!"
Albrian menatap balik tatapan tajam abinya. "Albrian menjawab dengan sejujurnya! Memangnya Abi berpikir apa? Ha?"
"Cukup, Albrian kamu istirahat saja. Umi akan bertanya kepada wali kelas kamu." Aisyah menarik lembut tangan suaminya. "Abi, ayo kita bicara di luar," ajaknya.
Alfaruk terpaksa menuruti ajakan istrinya itu. Ia harus sadar, dalam keadaan berpuasa yang mengharuskan menahan emosi. Di luar kamar, Prisil duduk sendiri di kursi tunggu. Saat pintu terbuka, ia berdiri melempar senyum kaku kepada Aisyah.
"Makasih, ya, kamu sudah nemenin Albrian," ucap Aisyah.
Prisil mengangguk. "Sama-sama, Tante."
Alfaruk menatap Prisil tak suka, sampai ia pun berkata, "Apa gara-gara kamu, Albrian sampai masuk rumah sakit?"
Aisyah mencengkeram tangan suaminya. "Abi ini ngomong apa? Jangan ngaco!" sentaknya.
"Sudahlah! Aku tidak peduli!" Alfaruk meninggalkan Aisyah begitu saja, menuju pintu keluar dan Prisil tak mampu berkata apa-apa.
"Astagfirullah, Abi! Abi, mau ke mana!"
Teriakan Aisyah tidak dihiraukan, sampai punggung lelaki dengan tubuh tegap itu hilang dari pandangan. Aisyah pun segera pamit untuk mengejar suaminya, sebelum pergi ia meminta agar Prisil menjaga Albrian sampai ia kembali.
"Umi percaya, kamu bisa jaga dia, kan, Nak?"
"Ah, iya, U—umi," gagap Prisil, tanpa menunggu lama Aisyah berlari keluar mengejar suaminya.
Tinggal Prisil yang harus memutuskan kembali masuk ke dalam. Apa yang harus dia perbuat? Ah, ya, Prisil baru sadar ia sama sekali tidak membawa makanan apa pun untuk Albrian. Karena terlanjur berada di rumah sakit yang jauh dari tempat belanja, ia memutuskan pergi ke kantin rumah sakit. Semoga saja Prisil mendapat cemilan, untuk mengganjal perut keroncongannya juga.
Sesampainya di kantin, Prisil tidak mendapati pengunjung yang duduk di salah satu bangku untuk menikmati pesanan. "Astaga, sekarang kan puasa!" gerutu Prisil, tangannya mengelus perut datar miliknya. "Hampir aja gua mau pesen mie seduh!"
Langkah Prisil mendekati penjaga kantin yang hanya membuka gerainya setengah, seorang perempuan berkerudung hitam diperkirakan sudah menginjak 45 tahun itu berbalik, menyapa Prisil dengan hangat. "Mau pesan apa, Neng?"
"Mau beli cemilan aja, Bu."
"Buat pasien?" tanyanya lagi.
Prisil mengangguk cepat. "Iya, teman saya tadi baru masuk RS karena buru-buru, saya lupa beli makanan buat dia," terangnya.
"Oalah, silakan pilih mau cemilan apa," ucapnya mempersilakan.
Selesai membeli cemilan seadanya, Prisil segera pergi ke kamar Albrian. Mendapati Prisil kembali, Albrian bernapas lega, tetapi ia sedikit malu karena Prisil menjadi saksi sikap abinya yang sangat kasar, sangat memalukan! Apa kata Prisil? Pasti dia semakin tidak suka kepada Albrian! Namun, dengan kedatangan Prisil yang kembali sedikit mengobati rasa khawatir Albrian.
"Sorry, ya, bokap gua emang gitu. Gak usah dipikirin!"
Prisil mengangguk cepat, Albrian tidak tahu pertanyaan Alfaruk yang menuduh Prisil tadi di luar dan ia tidak peduli. Ia takkan mengungkit masalah kecil, toh memang salah dia karena Albrian membawa ranselnya. Jika ide membawa ransel tak Prisil lontarkan, mungkin Albrian akan baik-baik saja. Pastinya juga, Prisil takkan seperhatian seperti detik ini.
"Nih, tadi udah dari kantin."
Cemilan yang dibeli Prisil dikeluarkan satu per satu. "Ya ampun, jadinya ngerepotin! Kenapa beli cemilan segala, sih?"
"Cuma cemilan, doang kali!"
"Tetep aja, gua gak enak makannya apalagi depan orang yang lagi pada puasa! Gak sopan, Prisil!"
Prisil tersenyum kecil. "Siapa bilang gua puasa?"
Albrian terbahak. "Hahah! Ok, kita makan bareng, nih?"
"Boleh," balas Prisil, menciptakan sesungging senyum di bibir Albrian.
"Lo berubah baik, ya, apa perlu gua sakit aja sampe lo mau jadi pacar gua, Pril?" batin Albrian.