Ayana memandang lalu-lalang kendaraan dari balkon kamarnya, tidak ia hiraukan hawa dingin yang menusuk kulit. Bahkan meski sekarang tangannya terasa membeku.
Ayana tengah gundah, pikirannya tak tenang. Ia merasa menjadi perempuan jahat sekarang. Siapa yang harus disalahkan di sini?
Bukankah ia juga korban. Tapi mengapa ia ikut menikmatinya. Mengakui atau tidak, Ayana juga menginginkannya.
Lagi dan lagi, air mata mengalir melewati pipi mulusnya, matanya bahkan sudah sembab karena terlalu banyak menangis. Kantung matanya bahkan menghitam sebab ia tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.
Sebuah selimut tersampir di pundak Ayana, ia menoleh ke belakang, sejak kapan Samuel ada di sini. Dan bagaimana bisa laki-laki ini masuk ke apartemennya.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke apartemenku?"
Samuel tidak menjawab, ia malah melangkah mendekati Ayana lalu memerangkapnya dalam pelukan hangat. Mendekap tubuh gadis itu di depan tubuhnya.
"Bukan hal susah untukku. Aku yang harusnya bertanya, sedang apa kamu di balkon? Apa kamu tidak merasakan kedinginan?"
Samuel menjatuhkan kepalanya pada pundak Ayana, ia sedikit khawatir tadi saat tak menemukan gadis ini di kamarnya, lalu saat melihat pintu balkon terbuka ia segera ke sana dan ternyata benar, Ayana tengah berdiri melamun di sana. Di malam yang dingin, membuatnya kembali masuk dan mengambil selimut untuk Ayana. Bahkan tangan gadis itu sudah sedingin ini, berapa lama ia berdiam diri.
"Kamu tidak bisa seenaknya ke sini, Sam. Aku tidak suka. Lebih baik kamu pergi. Pergi dari rumahku, Sam. " Ayana berontak, ia mencoba lepas dari dekapan Samuel, tapi yang ada laki-laki itu malah mengeratkan dekapannya.
Sekarang Ayana baru mengerti kenapa Samuel bisa masuk ke rumahnya dengan mudah. Pasti dia mencuri kunci apartemennya, pantas ia tak menemukannya waktu akan membuka pintu, membuatnya harus menggunakan kunci cadangan.
Samuel memutar tubuh Ayana, memandang wajah Ayana yang tak secerah biasanya.
"Aku tidak mau. Sudah cukup dua hari ini aku membiarkanmu berpikir. Bahkan hingga matamu menjadi seperti ini." Samuel mengusap kedua mata Ayana pelan.
"Berapa lama kamu tidak tidur hmm? Lihat kantung matamu sampai menghitam." Dia mendekat, mengecup bergantian kelopak mata Ayana.
"Bukan urusanmu!" Ayana melengos. Entah terbuat dari apa hati laki-laki ini. Kenapa dia tidak merasa bersalah setelah dengan sengaja bermain di belakang kekasihnya.
"Apa pun yang terjadi denganmu adalah urusanku, Ay."
"Aku bukan pacarmu! Dan berhenti panggil aku Ay." Ayana menaikkan nada bicaranya. Ia mendorong Samuel ke belakang, hingga Samuel yang tidak siap terdorong beberapa langkah.
"Aku bukan pacarmu, urusi saja pacarmu sendiri. Dan stop menggangguku!" ulangnya sedikit menaikkan nada bicaranya di akhir kalimat.
Samuel terdiam, alisnya mengerut tak suka. Matanya menajam. Ia menarik tangan Ayana, membawanya masuk ke dalam dan membantingnya ke ranjang.
Samuel lalu naik ke ranjang, menindih tubuh Ayana di bawahnya. Tangannya mencengkram tangan Ayana yang mencoba berontak.
"Kamu milikku, Ay. Selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak peduli kamu menyukainya atau tidak! Bagiku kamu sudah menjadi milikku, sejak pertama kali aku menyentuhmu," ucapnya lalu mengecup bibir Ayana. Tak berapa lama kecupan itu berubah menjadi ciuman. Ayana masih diam, enggan membalas. Kepalanya ia gerakkan, mencoba memberontak.
Samuel yang merasakan pemberontakkan Ayana menggeram kesal, ia sudahi ciumannya, lalu membawa kedua tangan Ayana di atas kepala gadis itu, ia menahan tangan Ayana dengan satu tangannya.
Tangannya yang lain memegang dagu Ayana, menahan gadis itu agar tidak berontak. Samuel kembali menunduk melanjutkan apa yang tadi tertunda. Dan mereka melakukannya lagi. Akal sehat mereka kalah dengan nafsu.
¤¤¤¤¤
Aroma harum makanan tercium di indra penciuman Ayana, ia mengerjap. Menyesuaikan penglihatannya dengan sekitar. Matanya mengedar lalu menemukan Samuel yang tengah meletakkan makanan di nakas.
Merasa ada yang menatapnya Samuel menoleh. Tersenyum pada Ayana yang sudah bangun. Ia duduk di samping Ayana, gadis itu masih diam tak bergerak, tangannya mengusap surai Ayana pelan.
"Kamu sudah bangun, makanlah, setelah itu mandi. Aku sudah membuatkanmu sarapan."
Ayana masih diam tak menyahut, ia malah merapatkan selimut ke tubuhnya.
"Hei, kenapa diam? Aku yakin kamu pasti lapar. Apa lagi setelah pergulatan kita semalam."
Semburat merah menghiasai pipi Ayana, sial! Ia malu diingatkan apa yang sudah terjadi semalam.
"Apa perlu aku bantu?" tanya Samuel menggoda Ayana.
Ayana mundur. Ia berusaha menjaga jarak dari Samuel, "Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ayana bangun, lalu membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut hingga menyerupai kepompong.
"Untuk apa kamu tutupi, toh aku sudah melihat semuanya."
"Dasar m***m!" Ayana membanting pintu kamar mandi. Ia masih bisa mendengar tawa Samuel yang ia yakin mengejeknya.
Ayana melepas selimut yang membungkus tubuhnya, berjalan ke bawah shower dan mengatur volume airnya. Membasahi tubuhnya dengan air dingin.
Sepuluh menit kemudian Ayana menyudahi acara mandinya, ia mencari handuk yang biasa ia gantung. Matanya membulat saat ia tidak menemukan apa yang dicarinya.
Astaga!
Bagaimana bisa ia lupa membawa baju ganti dan handuk. Bagaimana sekarang? Selimut yang dibawanya tadi sudah basah, tidak mungkin Ayana memakainya lagi.
Tok tok
Ketukan di pintu terdengar, itu pasti Samuel. "Ay, kamu baik-baik saja, kenapa lama sekali?" seruan Samuel terdengar.
Ayana mondar-mandir tak jelas, Samuel sudah memanggilnya. Bagaiman ini? Apa dia meminta Samuel mengambilkan pakaian saja?
Tapi_______
"Ayana, kamu baik-baik saja kan?"
"Iya, sebentar lagi aku keluar."
"Oke." Ah sudahlah, daripada ia masuk angin kelamaan di sini. Lebih baik meminta tolong pada Samuel.
Ayana membuka pintu sedikit, kepalanya menyembul mengintip, menatap Samuel yang tiduran sambil bermain ponsel di ranjang.
"Sam," panggilnya pelan.
Samuel masih asik bermain ponsel, sepertinya tak mendengar panggilan Ayana.
"Sam." Ayana mencobanya lagi. Namun masih sama.
"Samuel," panggilnya sedikit kencang.
Samuel menoleh, dia bangkit dari tidurannya. Menghampiri Ayana yang hanya memperlihatkan kepala.
"Ada apa?"
"Bi-bisakah kamu ambilkan aku baju. Aku lupa tidak membawanya." Ayana malu. Benar-benar malu sekarang, apalagi melihat seringai Samuel.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku juga tidak keberatan." Samuel membuka lemari pakaian Ayana, ia berpikir sebentar apa yang harus dia pilih. Lalu pilihannya jatuh pada sebuah baju terusan berwana olive. Matanya terhenti pada tumpukan underwear, apa ia harus mengambilkannya juga? Sepertinya ia. Maka Samuel mengambil satu dari tumpukan itu.
Samuel menyerahkan baju itu pada Ayana, namun saat Ayana akan menutup pintu ia menahannya.
"Ada apa lagi? Cepat katakan, aku kedinginan."
"Mau kubantu?" Samuel menaik turunkan alisnya menggoda.
“Tidak sudi!"
Brakk!
Samuel tertawa pelan, ia berbalik lalu kembali tiduran di ranjang. Gadisnya kenapa menggemaskan sekali. Rasanya Samuel ingin menerkamnya lagi. Hei, kenapa panggilan gadisnya terdengar menyenangkan di telinga. Itu akan menjadi panggilan favoritnya sekarang. Ayana-nya, gadisnya dan miliknya.