"Ayana." Teriakan itu membuat Ayana menoleh. Gugup melandanya seketika. Itu Nadin, kalian pasti tahu siapa dia.
Sudah satu minggu berlalu sejak peristiwa Ayana yang menginap di apartemen Samuel dalam tanda kutip 'tidur dengannya', dan sampai hari ini ia berhasil menghindar dari Nadin, tapi sepertinya kali ini tidak lagi. Ia merutuki kenapa harus ada kelas yang sama dengan Nadin hari ini.
"Hai, Nadin," sapa Ayana kikuk. Tangannya menggaruk belakang telinga yang tak gatal.
"Beberapa hari ini aku tidak melihatmu, kamu baik-baik saja?" Sungguh, melihat perhatian Nadin saat ini rasanya Ayana benar-benar menjadi seorang teman yang jahat. Teganya ia diam-diam pernah bermalam dengan pacar temannya ini. Ia berjanji tidak akan berhubungan dengan Samuel lagi, bahkan meski sekadar menyapa.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Beberapa hari ini aku memang sedikit sibuk." Ayana hanya berharap Nadin segera menyudahi pertanyaannya, ia ingin segera pergi dari sini.
"Kamu mau pulang? Bareng aku aja, yuk. Aku dijemput Samuel." Ini lebih tidak baik lagi, Ayana tidak mau suasana menjadi tidak baik karena adanya dirinya.
"Ah, tidak perlu Din, aku sudah memesan taksi," tolaknya halus. Gadis sebaik Nadin, bagaimana bisa mempunyai pacar seperti Samuel.
"Oh baiklah, kalau gitu kita bareng aja yuk ke depan, sekalian aku mau cerita." Tangannya sudah digandeng oleh Nadin sebelum ia sempat menolak.
Ayana hanya pasrah, dari jauh ia sudah bisa melihat seorang Samuel yang tengah bersandar di kap mobilnya. Laki-laki itu terlihat mempesona, apalagi dengan kemeja yang digulung sampai siku. Pesonanya seakan semakin memancar. Astaga, hentikan Ayana. Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu.
"Hai, Sayang," sapa Nadin bahagia. Baru dia akan mengecup pipi kekasihnya, namun seketika Samuel menghindar. Nadin terlihat kesal sekali.
Ayana yang melihatnya jadi tidak enak, rasanya suasana semakin canggung. Ia beralih menatap ke arah lain, berpura-pura tidak melihat. Padahal dulu biasa saja waktu melihat hal seperti ini.
"Din, aku duluan ya. Taksinya udah dateng."
"Eh iya Yan, hati-hati."
"Bye." Ayana melirik sekilas pada Samuel, ia langsung melangkah pergi tanpa memberi senyum pada laki-laki itu seperti biasanya.
Biar bagaimana pun kejadian itu masih membekas sampai sekarang. Dan andai waktu bisa diputar, maka Ayana tidak akan mau meminum minuman itu. Ia tangisi rasanya juga percuma, keperawanannya tidak akan kembali lagi.
¤¤¤¤¤
Pintu apartemen yang baru ia tutup kembali terbuka, Ayana mendelik kesal pada seseorang yang dengan seenaknya menerobos masuk ke apartemennya.
"Sam, kenapa kamu ke sini?" tanyanya heran. Ia bersidekap d**a, mengangkat dagu angkuh. Bukannya menjawab Samuel malah menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.
"Di mana kamarmu?"
"Apa?" Jangan bilang laki-laki ini berniat mengulang kejadian satu minggu lalu. Tidak akan Ayana biarkan.
"Ku tanya, di mana kamarmu?"
"Sam, tunggu! Aku tidak mau. Lebih baik kamu pergi dari apartemenku sekarang." Ayana berusaha menarik tangan Samuel, tapi dasarnya ia tidak ada apa-apanya dibanding Samuel. Bukan Samuel yang bergerak, tapi malah ia yang jatuh ke dalam pelukan laki-laki itu.
"Sepertinya kamu lupa yang aku katakan dulu. Baiklah akan kuingatkan kembali ... aku tidak terima penolakan, Ay." Samuel menarik lengan Ayana kuat, mengarah ke pintu yang dia yakin kamar.
Tubuh Ayana dihempaskan ke ranjang, ia berjengit merasa sakit pada punggungnya. Sial, Samuel tidak main-main kali ini.
"Sam, kumohon jangan!" Ayana merapatkan tangannya di depan d**a. Menghalangi jangkauan Samuel.
"Daripada kamu terus menoleh. Lebih baik kita buktikan saja, apa tubuhmu akan menolaknya atau tidak."
Samuel mendekat, menahan kepala Ayana yang terus bergerak dengan satu tangan, tangan satunya memegangi tangan Ayana. Menyatukan belah bibirnya dengan bibir gadis dibawahnya. Menyesapnya bagai tidak ada lagi hari esok. Tangan Samuel mengelus kepala Ayana, berusaha memfokuskan perhatian gadis itu hanya padanya. Saat akhirnya Ayana membalas cumbuan itu, Samuel menyeringai senang.
"Lihat, bahkan tubuhmu langsung mengenal siapa pemiliknya." Tangan Samuel bergerak turun, pun dengan kepalanya. Ia menurunkan ciuman ke leher Ayana, ingin sekali memberi tanda di leher jenjang itu. Sayangnya tidak sekarang. Samuel melepas satu kancing kemejanya, terus turun hingga terbuka semua.
Ayana menggeleng, namun percuma. Runtuh sudah pertahanannya, ia tidak akan bisa menang melawan Samuel apalagi dengan tubuhnya yang jelas-jelas menerima tanpa ada penolakan. Rasanya tubuhnya semakin tidak ada harga diri sekarang.
¤¤¤¤¤
Ayana meringkuk membelangkangi Samuel, air matanya turun mengingat kembali yang baru saja terjadi. Dirinya tidak lebih seperti pelakor sekarang, ia tega tidur dengan kekasih temannya sendiri. Sebuah pelukan dari belakang terasa di kulitnya yang tidak tertutup sehelai benang pun. Tangis tanpa suaranya semakin deras. Ayana membekap mulutnya menahan suara.
"Ssttt! jangan menangis, Ay. Maafkan aku."
Ke mana laki-laki ini saat ia sudah berteriak menolak tadi. Kenapa baru sekarang dia minta maaf. Apa maafnya bisa mengembalikan harga diri Ayana.
"Aku tidak bisa melupakanmu setelah malam itu, aku terus memikirkanmu. Rasanya aku sudah kecanduan denganmu, Ay." Samuel menelungkupkan kepalanya dalam lekuk leher Ayana, menghirup aroma yang menenangkannya. Ia candu aroma ini sekarang.
"Ini salah, Sam. Kiita tidak seharusnya melakukan ini. Bagaimana jika Nadin sampai tahu. Aku tidak mau dicap pelakor olehnya." Tangis Ayana berubah sesenggukan, ia membekap mulutnya menahan isakan.
"Kamu bukan pelakor, Ay. Percaya padaku, aku mencintaimu." Kebohongan apa lagi yang dikatakan laki-laki ini. Setelah seenaknya menidurinya sekarang dia malah mengatakan cinta. Mulut buaya jangan pernah dipercaya.
"Pergi dari sini, Sam!"
"Ay___"
"Kumohon pergi dari sini, Sam. Aku tidak ingin melihatmu lagi."
"Baiklah, aku akan pergi." Ranjang bergerak. Bisa Ayana rasakan ranjang di sisi sebelahnya terasa kosong sekarang. Ayana tidak berniat menoleh sedikit pun ke arah Samuel, ia muak dengan Samuel, ia benci laki-laki itu.
"Jangan pernah datang ke sini lagi, Sam. Atau aku akan memberi tahu Nadin tentang ini," ucapnya lirih. Semoga saja Samuel takut dengan ancamannya.
"Kamu pikir, aku peduli." Samuel mendengkus sinis. Dia melangkah mengitari ranjang, berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan wajah Ayana. Menahan tangan Ayana yang ingin menutupi wajah.
"Dengarkan baik-baik, Ay. Beri tahu saja Nadin. Tapi aku tidak akan pernah berhenti. Kamu harus tahu, tubuhmu itu bagai candu untukku. Dan sekuat apa pun kamu menolaknya, akan kubuat kamu juga menyukainya," ujar Samuel lalu menyematkan sebuah kecupan di dahi Ayana. Setelah itu dia pergi, meninggalkan Ayana dalam keheningan.
Ayana melempar bantal ke arah pintu, bagaimana bisa ia kenal dengan laki-laki seperti Samuel, seharusnya dulu ia tak mengiyakan ajakan Nadin untuk memperkenalkannya dengan Samuel.
Ayana menyesalinya sekarang, sangat-sangat menyesal. Sekarang bukan hanya harga dirinya yang terkoyak, tapi juga pertemanannya bisa dipastikan akan bubar kalau Nadin sampai tahu. Ayana tak bisa membayangkan sebenci apa ketika Nadin mengetahuinya.