Ayana Larasati melenguh pelan, matanya mengerjap menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Lalu ia mengernyit bingung saat merasa asing dengan kamar yang ditempatinya ini.
Tunggu!
Ayana bangun seketika, mengakibatkan kepalanya berdenyut nyeri. Hei, kenapa ia bisa ada di sini. Dan kenapa dengan pakaiannya, kemeja siapa yang ia pakai ini. Seingatnya semalam ia hanya mengikuti pesta ulang tahun salah satu teman kuliahnya yang sangat meriah, setelah itu ia minum-minuman yang terasa membakar tenggorokannya dan ia tidak ingat setelahnya. Tapi ia tahu pasti kalau ini bukan pakaiannya.
"Kamu sudah bangun?" Sebuah suara dari sampingnya membuat Ayana menoleh, matanya melotot kaget.
"Sam!" pekiknya spontan. Ayana mundur ke belakang, tidak sadar bahwa di belakangnya sudah tak ada jalan. Ia menoleh ketika merasa punggungnya membentur sesuatu.
Si-empunya nama mengangkat satu alisnya, menatap tanya ke arah Ayana.
"Ada apa?" tanya Samuel santai, menyenderkan tubuhnya pada pintu.
"Ada apa kamu bilang! Kamu gak kaget dengan keadaan kita saat ini?" Sungguh, bahkan saat ini Ayana ingin membenturkan kepala, berusaha mencari kewarasannya yang hilang. Bisa-bisanya ia berada di kamar bukan kamarnya sendiri, dan lebih parahnya lagi bersama Samuel, Samuel Aryeswara seseorang yang ia tahu merupakan kekasih Nadin, teman kuliahnya.
"Tenang Ayana. Mandilah lebih dulu, akan kujelaskan nanti."
"Tidak mau!" Enak saja, Ayana tengah kebingungan dan laki-laki ini malah santai saja. Apa dia tidak bisa melihat bagaimana paniknya dirinya.
"Jadi, kamu mau mengulang yang kemarin malam? Baiklah, ayo!" Samuel melangkah mendekat.
Ayana kembali melotot kaget, secepat kilat ia berdiri melangkah ke pintu yang ia yakin mengarah ke kamar mandi. Sial! Bahkan Ayana masih bisa mendengar tawa bahagia Samuel, sudah gila ternyata laki-laki itu.
¤¤¤¤¤
Ayana mengintip sedikit di sela pintu, matanya mengitari kamar. Saat tak melihat sosok Samuel di sana, ia segera keluar. Ia menatap sebuah dress yang kelihatannya masih baru teronggok di ranjang, jangan lupakan juga dalamannya.
"Bagaimana laki-laki itu bisa tahu ukuranku." Ayana mendesis kesal. Tapi memilih memakainya daripada tidak memakai apa pun.
Selesai berpakaian ia berdiri menghadap cermin, memastikan penampilannya. Harus ia akui, pilihan Samuel sangat pas untuk tubuhnya.
Ayana melangkah perlahan keluar dari kamar, pusat tubuhnya terasa sakit saat berjalan, Ayana bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Yah, meski sedikit berkurang setelah ia berendam air hangat tadi. Tetap saja, rasanya tidak nyaman.
Kini ia harus mencari sosok yang tidak ditemuinya di kamar tadi, entah ke mana perginya Samuel. Ia mendengar suara, secara perlahan langkahnya menuju ke arah sumber suara, merasa bahwa Samuel pasti ada di sana.
Ternyata benar dugaannya, laki-laki itu di sana, tengah sibuk dengan alat masak. Kelihatannya Samuel sudah mandi sebelum memasak, ia jadi bertanya-tanya seberapa lama ia mandi tadi.
"Kamu sudah selesai, duduklah, makanannya sebentar lagi matang." Samuel menunjuk meja makan yang ada di sampingnya dengan dagu.
Ayana menurut, ia duduk di sana mengamati Samuel yang nampak lihai dalam memasak. Selama ini ia tidak begitu mengenal sosok laki-laki ini, yang ia tahu Samuel sering mengantar jemput Nadin ke kampus, kadang bertukar senyum saat berpapasan. Meski beberapa kali Samuel menyapanya, mencoba akrab dengannya, tapi tak lantas Ayana menerima.
Ia tidak seterbuka itu dalam berteman. Tapi kini? Hah! Ayana menghela napas pasrah.
Ia masih belum menemukan jawaban kenapa ia bisa di sini, dan apa yang sudah ia lakukan dengan Samuel. Semoga saja yang ada di pikirannya tidak terjadi, semoga saja itu hanya asumsinya. Tapi_______
"Ini." Samuel meletakkan piring di hadapannya, sepiring nasi goreng tampak sangat enak di mata Ayana. Tanpa basa-basi Ayana langsung memakannya. Tidak ada yang salah, kan.
"Bagaimana? Enak?" tanya Samuel cemas. Dia tidak tahu selera Ayana, bisa saja masakannya tidak cocok dengan lidah gadis itu.
"Lumayan," jawab Ayana singkat. Sejujurnya masakan Samuel enak, terasa pas di lidahnya, meski bagi Ayana kurang pedas karena ia penyuka masakan pedas.
"Jadi, sekarang bisa kamu jelaskan, kenapa aku bisa di kamarmu?" tanya Ayana. Mamanya pernah bilang, tidak baik berbicara saat makan, tapi Ayana tidak bisa menahannya lebih lama lagi. untuk kali ini maafkan dirinya. Semoga Tuhan mengampuni dosanya.
"Kamu mabuk, lalu aku tidak sengaja melihatmu, jadi yah aku membawa ke mari, lalu kita kamu tahu sendiri." Samuel menunjukkan dua jarinya, memberi tanda kutip di akhir kalimat.
"Kenapa kamu tidak membawaku pulang?" Ayana memicingkan mata curiga, bisa saja laki-laki ini memang sengaja menjebaknya.
"Aku tidak tahu rumahmu."
Benar juga. Ayana lupa hal itu, pertanyaannya sekarang, kenapa ia bisa mabuk malam itu. Pasti gara-gara minuman yang asal ia minum. Ayana tidak akan meminum minuman itu lagi. Tapi kenapa bisa Samuel ada di sana? Apakah dia di undang?
Semakin Ayana pikir, semakin pusing kepalanya.
"Kamu baik-baik saja, Ay?"
"Ay?"
"Kenapa? Itu memang namamu, kan?"
Memang benar, tapi terasa aneh di pendengaran Ayana, selama ini kebanyakan orang memanggilnya Yana, tidak pernah ada yang memanggilnya seperti itu.
"Sam, apa semalam kita___" Ayana bingung melanjutkannya.
"Ya, kita melakukannya. Tapi kamu tenang saja, aku pakai pengaman. Atau masih terasa sakit, ya? Perlu aku belikan obat?"
Tenang saja bagaimana, Ayana baru saja kehilangan keperawanan. Dan Samuel memintanya tenang, memang laki-laki itu pikir mudah melupakannya. Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana jika Nadin tahu.
"Sam, Nadin. Dia … tidak tahu kan?" Mau diletakan mana mukanya jika sampai Nadin tahu, Ayana tidak mau dicap sebagai pelakor atau penggoda, ini murni kecelakaan. Ia bahkan tidak ingat sama sekali.
"Tenang saja, Nadin tidak tahu. Jadi, bagaimana?"
"Apanya?"
"Apa aku perlu belikan obat untuk itumu?"
"Tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri," jawab Ayana ketus. Entah bagaimana setelah ini, meski ia bisa tenang karena setidaknya hanya Samuel saja yang tahu hal ini. Tapi tetap saja, ia merasa bersalah. Apa bisa disebut ini sebuah perselingkuhan, tapi kan Ayana tidak sengaja. Ia juga tidak tahu secara jelas kronologinya.
"Sam, kumohon jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Terutama Nadin. Bisakan?"
"Baiklah, ini akan menjadi rahasia kita berdua. Kamu tenang saja." Samuel menjawab acuh.
"Terima kasih, kalau begitu aku akan pulang."
"Aku antar."
"Tidak usah," tolak Ayana. Ia tidak ingin merepotkan Samuel lagi. Sudah beruntung kemarin Samuel menolongnya. Jika tidak, bisa saja Ayana malah berakhir dengan orang asing. Ayana tidak bisa membayangkan seperti apa nasibnya kalau sungguhan terjadi.
"Aku tidak terima penolakan!" ucap Samuel mutlak.
"Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu," lanjutnya lalu beranjak pergi.
Ayana melangkah menuju pintu, dia tidak tahu bahwa dibalik tubuhnya, Samuel menyeringai puas. Menatap arah perginya Ayana dengan senyum kemenangan. Siapa pun pasti bisa menduga apa arti senyum itu.
"Selangkah lagi, Ayana." Samuel menggumam penuh keyakinan. Matanya berkilat tajam dengan tekad kuat.