“Keadilan adalah lelucon paling kejam yang pernah diciptakan manusia. Dan aku... adalah korban terakhirnya.”
Dunia lama itu berlumuran luka. Johan—seorang ayah, jurnalis investigatif yang gigih, dan mantan aktivis yang tak kenal takut terpaksa menyaksikan kematian putrinya di bangsal rumah sakit. Bukan karena penyakit, melainkan karena birokrasi yang lumpuh. Karena sebuah sistem yang menakar nyawa dengan angka di laporan keuangan dan logo perusahaan.
Ia difitnah, tubuhnya disiksa, kebenaran yang dipegangnya dilucuti, lalu dikubur hidup-hidup di sel isolasi yang dingin. Video-video penyelidikannya tentang korupsi para elite, perdagangan manusia yang menjijikkan, dan eksploitasi alam yang tak bertanggung jawab—semuanya disita, dibakar, dimusnahkan. Di dunia itu, kejujuran adalah hukuman mati.
Dan pada hari eksekusi, ketika peluru terakhir menembus tempurungnya, Johan hanya membisikkan satu doa:
"Kalau ada kehidupan lain... berikan aku kesempatan untuk membalas semuanya. Bukan lagi sebagai korban... tapi sebagai algojo."
Dunia berikutnya menjawab.
Ia terbangun dalam tubuh Johan de Alvarez, putra keempat dari Duke Alvarez, salah satu bangsawan paling berpengaruh di Kekaisaran Arvendale. Sebuah dunia baru yang diselimuti sihir, dihuni ras-ras agung, dihiasi kastil-kastil megah, dan diberkahi kekuatan yang konon bisa membelah langit.
Namun, di balik tirai kemegahan yang mempesona itu, Johan melihat pantulan neraka lamanya:
— Pajak rakyat dijarah untuk membiayai pesta pora kaum bangsawan.
— Ras minoritas disiksa dan diperbudak tanpa belas kasihan.
— Rumah-rumah jelata dihancurkan demi perluasan tambang sihir milik kaum aristokrat.
— Dan propaganda kekaisaran, dengan bendera megah serta pidato-pidato muluknya, menyembunyikan kekejaman tak terperi.
"Dunia ini bukan reinkarnasi. Ini adalah kelanjutan dari neraka."
Di balik wajah muda dan tubuh bangsawan yang gagah, Johan menyembunyikan api pembalasan yang tak pernah padam. Ia mengenakan dua topeng yang berbeda:
Sebagai Johan sang bangsawan buangan—pemuda berusia 18 tahun yang dianggap gagal oleh keluarganya, lebih dikenal dengan hobi bermain wanita dan gemar berpesta, sehingga tidak pernah diperhatikan oleh kepala keluarga karena dianggap tidak punya potensi apapun. Ini adalah persona yang sempurna untuk menutupi alter egonya.
Sebagai Topeng Senyum Kabut Putih—pemimpin misterius yang bangkit dari kegelapan, perlahan namun pasti menjatuhkan satu per satu pilar Kekaisaran Arvendale, seolah-olah mengakhiri permainan.
“Jika dunia ini memilih untuk jadi monster… maka aku akan menjadi iblis yang mereka sembah sebelum semuanya runtuh.”