6

1511 Words
Vina masih menangis dan Rio memapahnya untuk duduk di sofa berwarna cream itu. "Mas, gimana caranya aku membalas kebaikanmu ini? kamu benar-benar membuatku bahagia mas" Vina memeluk tubuh suaminya. "Ini sudah kewajiban seorang suami membahagiakan istrinya sayang, nggak perlu memikirkan hal itu" Rio mendekap tubuh istrinya yang mungil itu sambil mengelus rambutnya yang tergerai lurus. "Sekali lagi makasih ya Mas," Vina sangat bahagia sekali. "Nggak perlu berterimakasih sayang, aku yang berterimakasih karena selama ini kamu sudah mau tinggal bersama orangtuaku, itu tandanya kamu wanita yang benar-benar tulus, menghormati dan menyayangi orangtuaku, karena sering aku dengar diluar sana banyak sekali menantu yang selalu bertengkar dengan mertuanya, tapi kamu tidak." Puji Rio untuk istrinya penuh kekaguman. "Bapak sama Ibu sangat baik sama aku mas, bagaimana bisa aku jahat kepada mereka mas, ya aku hanya membalas kebaikan mereka, aku memilihmu berarti aku juga harus menerima dan menyayangi orangtuamu." "Iya sayang, pokoknya kamu The best deh, kamu adalah istri dan menantu idaman," Rio mencium hidung istrinya yang merah karena menangis. ** Setelah Vina tenang, Rio mengajak Vina melihat-lihat seluruh ruangan rumah itu, ukurannya tidak terlalu luas, namun Vina dan Rio bangga dan sangat bersyukur karna itu hasil keringat sendiri. Terdapat 2 kamar, yaitu kamar utama dan kamar tamu, Rio membuat kamar tamu kalau nanti Orang tua mereka menginap, karena perjalanan dari rumahnya ke rumah orangtua mereka lumayan jauh. Didalam kamar itu juga terdapat lemari. Ada 2 kamar mandi, yang 1 berada di dalam kamar utama,terdapat shower, bathtub dan walking room yang satunya lagi kamar mandi untuk umum yang berada di dekat dapur. Ada juga dapur yang lumayan luas yang sudah ada kitchen set,kulkas 2 pintu,kompor dan meja makan dengan warna putih yang mendominasi, Di samping dapur juga terdapat mesin cuci 1 tabung, dan diatasnya terdapat jemuran yang menempel di dinding jadi lebih riingkes dan tidak memakan tempat. Ruang tamu bersebelahan dengan ruang Tv. Ruang tamu dengan sofa berwarna cream yang senada dengan horden dan Sedangkan ruang Tv terdaapt sofa kecil dan didepannya juga ada karpet bulu kalau-kalau untuk rebahan atau bersantai, Tv nya lumayan besar dan sudah canggih, jadi tidak perlu memakai set top box. Terdapat taman kecil di depan rumah, dengan 2 kursi dan meja rotan, cocok sekali untuk ngopi di sore hari. Juga terdapat garasi mobil yang muat untuk 2 mobil, siapa tau suatu saat bisa membeli mobil sendiri kan. Sungguh semua detail rumah itu membuat Vina seperti mimpi, benar-benar rumah impian. Vinw sangat menyukai semua yang ada di rumah itu, dan ingin segera pindah ke rumah itu, tapii. "Mas, nanti kalau kita pindah ke rumah ini gimana dengan bapak dan ibu, mereka pasti kesepian dan nggak ada yang bantuan ibu masak?" Seketika wajah Vina berubah. "Tidak usah memikirkan hal itu sayang, Bapak dan Ibuku sudah tau tentang ini, malah mereka sangat mendukung agar aku membuat rumah untuk kita berdua, lagipula nggak jauh kan kita bisa mengunjungan orangtua kita seminggu sekali. Atau jika mereka ingin menginap kan sudah kita sediain kamar" Rio mencoba menjelaskan kepada istrinya. "Serius mas ibu sudah tau hal ini? Tapi kok ibu nggak bilang sama aku? padahal kita selalu ngobrol tentang hal apapun!" Vina tak percaya "Iya sayang, aku sudah berpesan sama ibu untuk tidak ngomong tentang hal ini sama kamu, aku sudah mewanti-wanti sekali, kadang aja ibu hampir keceplosan tapi kamu tidak menyadari hehehe" Vina diam dan berfikir keras, mengingat kembali apakah dia menyadari keceplosan Ibu mertuanya itu. Yaudah lah yang penting kan sekarang sudah terjadi, Vina tersenyum "Iya ya mas, kalo dikasih tau dulu kan namanya bukan kejutan, dan nggak akan semengharukan ini. Sekali lagu makasih ya mas, aku sangat beruntung menjadi istrimu." Vina melayangkan kejutan di pipi suaminya. ** Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, Rio mengajak pulang istrinya. "Sayang udah malem nih? kita balik dulu yuk ke rumah kita" Ajak Rio sambil menggandeng pinggul istrinya. "Tapi aku betah disini mas, ini seperti dalam mimpi dan aku nggak ingin bangun lagi" jawab Vina sambil memeluk bantal Sofa. "Auu sakit mas" Rio mencubit hidung istrinya untuk menyadarkan bahwa itu bukan mimpi. "Ini bukan mimpi sayang, ini nyata. Minggu depan kita syukuran ya sekalian ajak bapak dan ibu. sekalian kita antar makanan kerumah tetangga dekat, tapi sekarang kita pulang dulu" Rio menjelaskan kepada istrinya. "Oke suamiku yang paling baik, paling tampan, paling setia dan paling segalanya" lagi-lagi Vina mencium seluruh wajah suaminya mulai dari kening,pipi kanan kiri,hidung dan bibir. Yahh mungkin begitulah wanita jika mendapatkan apa yang dia impikan..hehe Rumah baru dan kantorku memang sangat dekat,hanya perjalanan 5 menit dari rumah menggunakan mobil. "Sebelum pulang kita mampir ke toko perhiasan dulu ya sayang, aku mau belikan sesuatu untuk sesorang" celetuk Rio sambil menyetir. Vina melirik suaminya, "seseorang siapa Mas? jangan bilang Mas Rio punya selingkuhan?" Vina langsung menangis, mungkin masih baper jadi air matanya terlalu lebay, "Ya buat kamu lah sayang, mana mungkin aku selingkuh dari istriku yang sangat comel ini" Rino menggoda dan menangkap dagu istrinya dengan gemes. Lagi-lagi Vina kegirangan, matanya berkaca-kaca "Ta tapi mas, aku sudah punya kalung, anting, gelang dan cincin mas, mau beli apa lagi?" tanya Vina dengan hati yang tak dapat di lukiskan. "Itu kan sudah sangat lama sayang, model lama juga apa kamu tidak ingin ganti yang baru? " Rio menengok suaminya. "Yaudah deh mas, aku nurut kamu aja" Vina pasrah setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di toko perhiasan. Koleksi perhiasan di toko itu sangat bagus dan berkilauan, memang beda koleksi toko perhiasan di kampung dan di kota, di kita lebih banyak pilihan dan bagus-bagus. Vina menginjakkan kaki dengan insecure, bukan apa-apa cuma dia tidak pernah masuk ke toko yang seberkelas ini. Suaminya menggandeng tangannya. Para penjaga toko melayangkan senyum kepada sepasang suami istri ini, "Selama Malam Kak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap salah satu penjaga toko. "Malam kak" Vina mencoba untuk mengontrol dirinya untuk tidak gugup. Rio masih memegang tangan istrinya, dan mengajaknya menuju ke etalase kalung. "Saya cari perhiasan yang model terbaru dan yang cocok untuk istri saya ini mbak" Rio melihat-lihat kalung yang berjejer rapi disana. Sungguh pelayanan yang berbeda jauh dengan toko perhiasan yang pernah Vina datangi waktu masih di kampung, Vina melihat ke seluruh sudut etalase, semua kalung yang terpajang sangat bagus dan berkilauan. Namun ada 1 yang menurutnya sangat cantik dan Vina ingin memilihnya, Vina mengatakan pada suaminya bahwa dia ingin kalung tersebut, Tiba-tiba wanita di sebelahnya menunjuk kalung yang ingin dipilihnya itu, lalu wanita tersebut meminta untuk diambilkan dan menempelkannya dileher sambil melihat kaca, terlihat sangat manis sekali. Tiba-tiba wanita tadi memberikan kepada penjaga toko untuk dibayarnya menggunakan kartu ATM no limit. Vina langsung cemberut. "Ada yang seperti itu lagi nggak Mbak? tanya Rio kepada penjaga toko. "Maaf kalung yang itu limited edition Pak, cuma ada 1 di toko ini" jawab penjaga toko, dengan nada merasa bersalah, karena dia tau kalau Vina yang menunjuk itu dulu,penjaga toko itu merasa nggak enak. "Yaudah mas, aku nggak jadi beli, kita pulang aja yukk" ajak Vina dengan wajah bersedih. "Kita pindah ke toko lain mau? siapa tau ada yang kamu suka" Rio membujuk istrinya. "Iya" jawab istrinya dengan nada rendah "Yaudah ya Kak, kita tidak jadi beli. Maaf ya" "Iya Pak makasih sudah mampir, kita minta maaf juga, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena Kakaknya tadi adalah pelanggan Vip kami, dan sudah mengenal dekat dengan bos kami, jadi kami takut" Penjaga toko menjelaskan. "Iya Mbak, nggakpapa" Rio menjawab dengan senyuman, namun istrinya masih cemberut. Mereka meninggalkan toko dan masuk ke mobil, didalam mobil Vina diam tanpa kata, membuat Rio ikut kecewa. "Sayang kita makan dulu ya, kamu pasti lapar kan dari tadi belum makan siang" rayu Rio kepada istrinya. "Iya Mas" Jawab Vina dengan wajah masih bersedih. "Udah dong sayang, jangan bersedih terus, tau gitu tadi aku nggak ngajak kamu ke toko perhiasan, aku kan jadi merasa bersalah kalo kayak gini. Udah ya sedihnya katanya tadi bahagia punya rumah baru" Rio menghibur istrinya. Vina menarik nafas sangat panjang untuk mengontrol emosinya, "Iya mas, maaf ya. Habisnya aku kesel sama wanita tadi, sombong banget sih mentang-mentang orang kaya, sok-sokan banget" gerutu Vina. "Mas janji, Mas akan carikan kalung yang seperti itu, lagipula Mas tadi udah ambil foto kalung itu, jadi bisa untuk contoh " Rio meyakinkan istrinya. "Serius Mas? tapi kan mahal kalo Indent" "Nggak terasa mahal selama itu akan membuat istriku bahagia" hibur Rio. "Sekali lagi makasih ya Mas, kamu selalu membuatku bahagia" Vina memeluk dan mencium suaminya dari samping. "Nah gitu dong senyum, istriku sangat manis jika sedang senyum" Rio tersenyum dan kembali fokus menyetir. Rio mengajak istrinya makan di restoran, sekali-sekali makan di restoran kan nggakpapa. Namun Vina menolak, dengan alasan nggak suka makanannya, dan lebih memilih makan di warung penyet di pinggir jalan. Rio memang pribadi yang hemat, tapi 5 bulan lalu Rio sudah naik pangkat dan gajinya naik 2x lipat, namun Vina belum memberitahu ke istrinya, dia ingin memberi kejutan istrinya lagi. Akhirnya mereka makan di Warung penyet, Vina makan sangat lahap sekali, Vina sangat suka sambel dan lalapan pete, melihat istrinya bahagia Rio juga ikut bahagia. Setelah selesai makan Vina diajak Rio ke toko perhiasan lagi, barangkali ada yang suka, dan dia ingin membeli kalung untuk Ibu dan Ibu mertuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD