5

1197 Words
Setelah selesai pertarungan cinta tadi mereka langsung masuk ke dalam kamar untuk rebahan, karena mereka takut tiba-tiba orangtua Rio pulang, dan melihat mereka berdua terkulai lemah tak berdaya tanpa sehelai benang di depan Tv, kan nggak lucu. Tak terasa waktu menunjukan pukul 3 sore, Rio terlebih dulu mandi, sedangkan istrinya masih tertidur pulas, dia kasian jika harus membangunkan istrinya untuk bangun, namun mendengar suaminya mandi Vina ikut terbangun, dan senyum-senyum sendiri diatas kasur, Vina masih teringat betul gimana rasanya bisa mencapai puncak, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sungguh kenikmatan yang hakiki. Setelah beberapa menit, suaminya keluar dari kamar mandi, dengan handuk melilit di pinggang, ketika seperti itu suaminya tampak mempesona, dadanya yang bidang dan dan berbulu menambah nilai ketampanan Rio, Vina senyum-senyum melihat Rio. "Eh My Honey sudah bangun." Ucap Rio sambil berjalan mendekati istrinya, Sedangkan Vina masih bermalas-malasan dengan setengah badannya yang ditutupi selimut tebal. Rio mencium kening istrinya dengan lembut lalu berpindah ke 2 gunungnya yang masih aktif, lagi-lagi Rio mencium dan menjilat gunung kembar itu lalu mendongak keatas dan mencium bibir istrinya. "Sayang makasih ya untuk servisnya tadi, sangat memuaskan. Aku seneng kamu bisa sampai puncak walaupun bukan karna aku, tapi karna alat itu" Rio berbicara dengan nada yang turun 1 oktaf dari biasanya. "Maafin aku Mas, aku nggak bermaksud, yaudah kalo kamu nggak suka aku pake alat itu nanti akan ku buang, yang penting aku nggak ngecewain Mas Rio," Vina tertunduk, dia sedih karena sudah membuat suaminya kecewa Rio mengangkat wajah istrinya yang bersedih. "Nggak sayang, Mas nggak kecewa, malah seneng karna bisa melihat kamu puas sampe teriak-teriak tadi, sampe merem melek gitu, ihh comell banget," ledek Rio untuk mengembalikan suasana. "Iiihh mas Rio, aku kan jadi malu, ngomong-ngomong ekspresiku pas klimaks tadi jelek ya mas? ish menjijikkan banget pasti ya?" tanya Vina dengan wajah menyelidik. "Kata siapa, ekspresimu saat klimaks tadi malah cantik banget tau, membuatku b*******h," Ucap Rio sambil mencubit pipi istrinya. "Ah mas Rio pasti bohong kan,pasti tidak sesuai isi hati Mas Rio" gerutu Vina sambil memonyongkam bibir, Rio langsung menangkap bibir monyong itu dengan bibirnya. "Beneran sayang, istriku selalu cantik di mataku, tak ada wanita yang secantik Istriku ini, mandi dulu gih, Mas mau kasih kamu surprize," "Surprize apa mas? yaudah aku mandi dulu yaa," Vina langsung kabur menuju kamar mandi dengan bersemangat dan hati gembira, tapi tiba-tiba dia balik lagi untuk mencium suaminya. Didalam kamar mandi Vina memikirkan kira-kira surprize apa yang akan suaminya berikan kepadanya, Vina mandi sambil menyanyi lagu yang muncul di otaknya. *** Tiba-tiba ada yang memberi salam dari luar, Orangtua Rio sudah pulang dari kondangan. Rio keluar dari kamar dan sudah memakai pakaian pergi. "Eh Kamu udah pulang yo,Vina kemana?" tanya ibu kepada Rio sambil meletakkan tentengan ke atas meja. "Vina lagi mandi Bu, rencananya hari ini aku mau ajak Vina kesana," Orangtua Rio memang sudah mengetahui hal ini, makanya sudah paham maksud Rio kesana. "Ini ibu bawa kue kesukaan Vina, nanti sekalian kamu anterin ke rumah mertua kamu ya, udah lama Ibu tidak kirim makanan kesana," ucap Ibu Dini kepada Rio. Setelah beberapa menit, akhirnya Vina keluar kamar dengan dandanan yang natural tapi terlihat manis. "Eh Ibu sama Bapak udah pulang, Vina buatin teh ya?" Sambil menuju ke dapur. "Eh nggak usah Vin, nanti Ibu sama Bapak buat teh sendiri, kamu kan mau pergi nanti Rio nunggu kelamaan, ini ada kue 1 kotak buat kamu dan 1 kotaknya lagi kamu anter ke rumah Orangtua kamu ya," ucap Bu Dini dengan lembut. "Terimakasih Bu, Malah ngerepotin," Vina sungkan, karna tiap kali bepergian mertuanya itu selalu bawa oleh-oleh untuknya dan Orangtuanya. * Rio dan Vina mampir kerumah Pak Tono dan Bu Tini untuk memberikan kue dari bu Dini. Kebetulan sore itu Pak Tono dan Bu Tini sedang bersantai didepan rumah, "Pak Buk," sapa Rio sambil mencium tangan Orangtua Vina. "Eh anak-anak datang, mari masuk" Bu Tini mempersilahkan. "Maaf bu, kita buru-buru mau ke kota, kapan-kapan kita kesini lagi" jawab Rio dengan ramah. "Iya Bu, Ini ada oleh-oleh dari Ibu mertua untuk Ibu dan Bapak," Vina memberikan plastik berisi kue itu kepada ibunya. "Haduhh selalu kirim-kirim makanan,padahal kita tidak pernah ngasih apa-apa, Sampaikan terimakasih kita ya Vin, jadi ngrepotin". "Nggak kok Bu, nggak ngrepotin, yaudah kita pamit dulu ya Bu," jawab Rio Rio dan Vina mencium tangan Bapak dan Ibu "Iya nak hati-hati dijalan ya," Mereka masuk mobil dan memberikan isyarat klakson mobil dan menundukkan kepala. Di dalam mobil, Vina terlihat gembira sekali, fikirannya penuh tanya. "Mas kita mau kemana sih? mau dinner? mau menginap di hotel? atau mau?" dia kehabisan akal untuk berfikir. "Nanti juga tau, kalo dikasih tau sekarang ya namanya bulan surprize dong sayang." "Iya deh,aku akan sabar menunggu," hati Vina berbunga-bunga. ** Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di tempat tujuan. Mereka berhenti di depan ruman dengan nuansa serba putih, minimalis namun mewah, mungkin karna efek cat putihnya jadi terlihat berkelas. "Ini rumah siapa mas? temen kamu?" tanya Vina dengan keponya. Kemudian Rio menggandeng Vina berjalan masuk. Rio membuka rumah dengan kunci yang dibawanya, Vina masih belum mengerti maksud dari semua ini. Bagitu sampai di dalam rumah, tidak ada satupun penghuninya, tak ada yang menyambutnya. Vina melihat ke segala arah, didalam rumah juga didominasi warna putih dan cream, cat dinding putih dengan furniture berwarna cream,membuat rumah terlihat megah, sungguh rumah impian Vina. "Mas ini rumah siapa? bagus sekali, tapi dimana orang-orangnya kok sepi?" Tanya Vina dengan polosnya. "Gimana, rumah ini bagus kan? kamu suka?" tanya Rio kepada istrinya yang masih belum sadar. "Iya Mas, Ini bagus banget seperti rumah impianku, warnanya seperti warna kesukaanku, siapa sih pemilik rumah ini mas, aku pengen ketemu, kok selera nya bisa sama persis seperti aku," ucap Vina penuh harap untuk bertemu pemilik rumah tersebut. * Sebelumnya Vina pernah bercerita kepada Rio bahwa jika suatu saat dia mempunyai rumah sendiri, dia ingin membuat rumahnya di cat warna putih dan perabotan yang berwarna cream, agar tidak terlalu rame dan terkesan mewah. Rio menyalami Istrinya dan mengatakan. "Bu Vina, selamat anda mendapatkan rumah impian anda," ucap Rio. "Maksudnya apa mas?" Tanya Vina masih belum mengerti. "Ini hadiah anniv kita yang ke 3 tahun sayang," Rio memeluk tubuh istrinya. "Bercandanya nggak lucu mas, aku nggak suka" ucap Vina sambil menahan air mata, dia masih belum mempercayai semuanya. "Katakan, Mas Rio berbohong kan?? kapan Mas Rio bangun rumah ini? dan berapa lama? masak aku bisa ngak tau, terus siapa yang milihin warna-warna ini kok bisa sesuai impianku," protes ria sambil menangis, karna dia tau suaminya tidak akan pernah berbohong dengan hal seperti ini. "Iya sayang, Rumah ini aku buat sudah setahun yang lalu, kamu ingat pernah bercerita padaku bahwa ingin memiliki rumah di kota agar dekat dengan kantorku dan kamu ingat pernah nunjukin aku gambar rumah nuansa putih cream, nah itu, aku simpan semua keinginanmu dan aku wujudkan disini sayang. "Ini rumah kita," Vina menangis tersendu-sendu di pelukan Rio, Rio merasakan bahagia yang istrinya rasakan. "Makasih ya mas udah menuruti dan mewujudkan impianku," ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca. "Iya sayang, ini sebagai ungkapan terimakasihku padamu karna selama 3 tahun ini, sudah jadi istri yang baik, menantu yang baik, aku beruntung memilikimu," Rio tak mampu menahan air matanya, dia mencium rambut istrinya. Vina pun menangis kembali, dia benar-benar tidak menyangka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD