Bab 13

1001 Words
Wanita yang duduk di bibir ranjang semakin kuat meremas ujung kerudung besar yang ia kenakan. Akhirnya pertanyaan yang selama ini bergelut di dalam dadanya telah terjawab. Alasan mengapa lelaki bertubuh kurus itu bersikukuh untuk memisahkan Asma dari Wisnu. "Kapan kita bisa segera melaksanakan pernikahan itu?" ucap suara dari ruang tamu rumah terdengar hingga ke dalam indra pendengaran wanita yang duduk pada bibir ranjang. "Terserah juragan jali saja. Kapanpun saya siap untuk menikahkan Asma dengan Juragan," sahut Abah diikuti gelak tawa renyah diantara keduanya. Hal itu semakin membuat hati Umi terasa diremas-remas. Bagaimana tidak, jika sampai pernikahan itu terjadi, itu berarti Asma harus siap untuk menjadi istri ketiga dari juragan jali. Seorang lelaki pemilik peternakan sapi yang terkenal kaya raya di kampung itu. "Bagaimana kalau minggu depan." Suara juragan Jali terjeda untuk sesaat. "Jika Abah ingin pesta yang mewah saya harus mempersiapkannya dulu. Tapi jika Abah ingin pesta yang sederhana, sekarang saya juga sudah siap," lanjut suara Juragan Jali penuh percaya diri. Jemari lentik Umi menyapu air mata yang membanjiri pipi, dadanya semakin sesak mendengar pembicaraan antara dua lelaki itu. Umi yakin pasti saat ini Asma juga sedang mendengarkan pembicaraan antara Abah dengan juragan Jali dari kamarnya. Lelaki yang dulu sempat akan dijadikan mertua Asma, namun kini justru akan dijadikan suami Asma oleh Abah. "Baiklah!" suara Abah terdengar senang. Tapi terasa begitu perih untuk Umi. Satu tangannya semakin meremas kuat ujung kerudung yang ia kenakan. "Saya ingin pesta yang mewah untuk anak sulung saya. Saya tidak mau orang-orang menghina saya nantinya," ucap Abah dengan suara lantang. Suara lelaki itu terdengar tergelak, diikuti dengan tawa juragan Jali. "Lalu bagaimana dengan perceraian antara Asma dan suaminya? Saya tidak mau berurusan dengan mantan suami Asma," tegas Juragan Jali setelah menghentikannya tawanya. "Juragan tenang saja secepatnya saya akan mengurus surat perceraian Asma. Lagipula untuk apa sih memelihara lelaki miskin seperti Wisnu. Lelaki yang sama sekali tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk putriku," ucap Abah dengan suara lesu. Mungkin saat ini lelaki bertubuh kurus itu sedang memasang wajah memelas di depan juragan Jali. Agar lelaki pemilik peternakan sapi itu semakin mengiba kepadanya. "Bagus, Abah sudah melakukan hal yang terbaik untuk Asma. Percayalah saya pasti akan membuat Asma bahagia jika dia hidup bersama saya," balas Juragan Jali diikuti gelak tawa Abah. Sementara Umi yang berada di dalam kamar semakin menangis tergugu. ____ "Kenapa Abah setega itu sama Asma?" Suara menahan tangis itu menyambut kedatangan Abah yang masuk ke dalam kamar. Lelaki bertubuh kurus itu menoleh ke arah wanita dengan netra sembab yang terduduk di bibir ranjang. Menatap penuh kebencian pada lelaki yang terlalu tega kepada darah dagingnya sendiri itu. Bagi Umi, Abah sama halnya menjual Asma pada lelaki beristri banyak itu. Wajah Abah yang sempat terkejut kembali terlihat santai. Lelaki itu melepaskan kemeja yang ia kenakan dan hanya menyisakan kaos dalam yang masih membalut tubuhnya. "Jawab, Abah!" Umi dengan berani menaikkan nada suaranya. Seketika lelaki itupun menoleh pada Umi yang terisak. Butiran bening berjatuhan pada pipi wanita yang dipenuhi guratan itu. "Tentunya semua ini Abah lakukan demi kebaikan Asma, Umi. Biar anak kita hidup terjamin, tidak kekurangan makan, tidak kekurangan pakaian, apakah keinginan Abah itu salah?" cetus Abah memutar tubuhnya sempurna ke arah Umi. "Tidak salah Abah, tapi cara Abah yang salah," tegas Umi jengkel. "Asma itu adalah istri Wisnu, Abah. Ini bukan anak gadis kita lagi. Dia sudah punya suami, dia sudah punya keluarga, dan dia juga sudah punya ....!" "Suami yang tidak bisa bertanggung jawab itu?" cebik Abah sinis. Ia membuang wajahnya sekilas dari tatapan Umi. "Sebenarnya hati Umi itu terbuat dari apa? Bagaimana Umi bisa merelakan anak Umi hidup bersama lelaki miskin seperti Wisnu. Untuk makan saja mereka kadang tak mampu?" cebik Abah dengan nada mengejek. Umi menghela nafas panjang. Mengisi kerongkongannya yang terasa begitu sesak sejak tadi. "Memangnya Abah tahu apa tentang kebahagiaan Asma?" Umi membalas dengan nada yang tidak kalah sinisnya. "Memangnya dengan Abah menikahkan Asma dengan lelaki tua itu, Abah yakin Asma akan bahagia?" balas Umi penuh penekanan. "Oh tentu saja!" Abah menaikkan nada suaranya dengan bangga. Amarah di dalam d**a lelaki itu tersulut oleh ucapan Umi yang terdengar mengejek. "Tentu saja Asma akan bahagia, dia akan hidup kecukupan bergelimpangan harta. Siapa di kampung ini yang tidak tahu juragan Jali. Juragan peternak sapi terbesar di kampung kita. Sapinya saja puluhan bahkan ratusan," jawab Juragan Jali dengan nada bangga. "Sudah pasti Asma tidak akan kekurangan apapun!" Umi menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis. "Mana ada Abah, wanita yang bahagia jika menjadi istri ketiga itu," balas Umi. "Harusnya sebelum Abah menjodohkan Asma, Abah lihat dulu siapa yang mau mengantikan Wisnu," cebik Umi. Abah semakin kesal, sejak tadi ucapan Umi selalu saja menyulut amarahnya. Lelaki itu melangkahkan kakinya cepat mendekati Umi yang duduk di tepi ranjang. "Coba kamu pikir memangnya laki-laki mana yang mau sama janda anak satu? Sudah syukur juragan Jali mau menerima anak kamu itu!" sentak Abah menaikkan ada suaranya. Umi bergidik, oleh suara Abah yang menggelegar. Netranya sampai terpejam karena takut. "Lebih baik, kamu bujuk anak kamu itu agar mau menerima Juragan Jali untuk jadi suaminya." Abah memutar tubuhnya meninggalkan Umi. "Memangnya kamu mau seumur hidup kamu dibebani oleh Asma!" cetus Abah sebelum memutar gagang pintu kamar dan meninggalkan Umi di dalam kamar. _____ Asma semakin terisak, ia mendengar jelas apa yang Abah katakan pada Juragan Jali juga tentang perdebatan yang terjadi antara Umi dan lelaki bertubuh kurus itu. Ingin sekali wanita itu berontak dan melarikan diri, tapi itu seperti suatu hal yang sangat mustahil sekali. Karena Abah sudah mengurungkannya. Hati Asma semakin nyeri saat teringat dengan Akbar putra semata wayangnya dan juga Wisnu, lelaki yang selama ini sangat ia cintai. Bayangan kebahagiaan di masa lalu kembali terputar dalam benaknya. Meskipun lelaki yang bernama Wisnu itu tidak mampu memberikan harta untuk Asma. Tapi Asma sudah sangat bahagia, karena lelaki itu mampu memberikan apa yang selama ini Asma inginkan. "Abang, Akbar, aku kangen sama kalian!" lirih Asma terisak. Tubuhnya terkulai lemas di atas pembaringan sejak kemarin. "Tolonglah aku, Bang! Aku sama sekali tidak ingin menikah dengan lelaki tua itu," batin Asma. _____ Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD