"Assalamualaikum Abah," sapa Wisnu seraya mencium tangan lelaki berwajah masam yang berdiri di hadapannya. Lelaki bertubuh kurus itu menarik kasar tangannya dari genggaman Wisnu, dengan wajah masam ia menatap pada Wisnu.
Asma menatap tidak suka pada sikap Abah yang terkesan tidak sopan kepada Wisnu. Namun sebisa mungkin Asma menahan gemuruh yang bergejolak di dalam dadanya. Karena bagaimanapun Abah adalah orang tua Asma.
"Ada apa Abah ke sini?" tanya Asma.
Abah menarik kasar pergelangan tangan asma hingga tubuh wanita itu bergeser ke arah Abah.
"Ada apa ini, Abah?" seru Wisnu yang terlihat panik melihat sikap bapak mertuanya yang mendadak kasar.
"Asma harus ikut denganku!" cetus Abah dengan nada memaksa.
"Ikut?" jawab Wisnu dan Asma bersamaan wajah mereka sama-sama terkejutnya.
"Ikut ke mana, Abah?" cetus Asma, ia tau jika sesuatu hal buruk sedang menghadang langkahnya. Dari wajah Abah yang meradang.
"Pulang ke rumah!" sentak Abah penuh penekanan. Lelaki bertubuh kurus itu menoleh ke arah Asma dengan wajah mengeras. Matanya membulat, membuat kesan garang pada Abah.
"Tidak!" cetus Asma cepat. Ia berusaha menarik pergelangan tangannya yang berada pada cengkraman Abah.
"Sebentar, sebentar, sebenarnya ini masalahnya ada apa, Abah? Kenapa Abah mendadak ingin membawa Asma dari sini?" tanya Wisnu dengan nada suara lembut. Ia berusaha untuk mencegah Abah membawa Asma.
Abah berdecak kesal. Sesaat membuang wajahnya dari tatapan Wisnu yang penuh tanya. "Asma adalah anakku, jadi aku yang berhak atas diri putriku," cetus Abah menaikkan nada suaranya. Menatap penuh kebencian pada Wisnu.
Lelaki yang sedang mengedong Akbar terdiam. Sejenak membalas tatapan lelaki tua bertubuh kurus yang berdiri di hadapannya. Sementara Asma sudah menangis mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayah kandungnya.
"Abah, Asma adalah istri saya. Jadi saya lebih berhak atas diri istri saya. Karena surga seorang istri berada pada suaminya," tegas Wisnu berusaha menghalangi.
"Wisnu, jangan sok menasehati Abah! Aku ini bukan anak kecil yang butuh nasehat kamu," sentak Abah menaikkan nada suaranya, ia menunjuk pada dirinya sendiri di ujung kalimatnya. "Suami tidak bisa bertanggung jawab seperti kamu, jangan sok menasehati," maki Abah dengan nada mengejek.
"Abah!" teriak Asma terisak. Ia tidak terima dengan ucapan Abah kepada Wisnu. Itu sangat menyakitkan Asma.
"Mohon maaf Abah jika maksud saya salah. Saya hanya ingin tahu sebenarnya ada apa, kenapa Abah ingin membawa istri saya? itu saja," tutur Wisnu dengan nada suara lembut. Bahkan tidak terdengar sedikitpun suara sentakan atau kemarahan dari lelaki itu. Ia terlihat begitu tenang menghadapi Abah yang sedang terbakar amarah.
Abah tersenyum sinis, berjalan mendekat ke arah Wisnu. Satu tangannya tetap siaga mencengkram pergelangan tangan Asma, menjauhkan wanita itu suaminya. Hingga tubuh Asma tertarik kebelakang.
"Yang pasti Abah ingin memberikan kebahagiaan untuk putri Abah!" tegas suara Abah terdengar serak. Kekecewaan terlukis jelas dari wajah lelaki tua itu.
Dahi Wisnu berkerut. "Maksud Abah bagaimana?" ucap lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu menjatuhkan tatapan heran.
"Abah akan mengurus surat perceraian kalian."
"Maksud Abah, Abah ingin memisahkan saya dengan Asma?" Kedua netra Wisnu membola. Sementara Asma semakin menangis histeris.
"Tidak Abah, tidak!" tangis ibu dari satu anak itu. Tubuhnya meronta, berusaha untuk melepaskan diri dari lelaki tua bertubuh kurus itu. "Aku tidak mau berpisah dengan Bang Wisnu, Bah!" isak Asma setengah berteriak.
"Diam kamu, Asma! Kamu tidak perlu menangisi lelaki miskin ini!" hardik Abah mengalihkan tatapannya pada Wisnu di ujung kalimatnya.
"Tapi selama ini Asma tidak pernah mempersalahkan tentang kemiskinan kami, Abah!" balas Wisnu berusaha untuk mencegah Abah yang hendak membawa pergi Asma. Balita yang berada di dalam gendongan Wisnu pun ikut menangis memilih perseteruan yang terjadi.
"Bahkan sampai Asma tidak makan pun dia tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu, Wisnu!" sentak Abah, kedua matanya membulat menatap tajam pada Wisnu yang berusaha menghalau. "Tapi apakah pernah kamu menanyakan kepada Asma yang membuatnya bahagia." Suara lelaki bertubuh kurus itu tercekat, seperti ada yang mencekik kerongkongannya. "Untuk makan saja dia sering mengambil dari rumah kami!" cetus Abah mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Wisnu. "Harusnya kamu sadar akan hal itu, Wisnu!" cetus Abah.
Wajah Wisnu mendadak pias. Sementara Asma hanya mampu terdiam, karena apa yang dikatakan Abah adalah benar adanya. Wisnu memang tidak pernah tau tentang hal itu, karena selama ini Asma lebih memilih diam dan tidak pernah menuntut apapun kepada Wisnu.
"Abang ...!" teriakan Asma yang di tarik kasar oleh Abah menyadarkan Wisnu yang mematung sesaat.
"Abah, jangan Abah!" teriak Wisnu berusaha untuk mengejar Asma. Tapi sayangnya, Wisnu harus menenangkan Akbar yang berada di dalam gendongannya. Balita berusia dua tahun itu menangis semakin kencang.
"Asma ....!" teriak Wisnu pada Asma yang dibawa pergi oleh Abah.
_____
Umi bergegas lari ke depan rumah setelah mendengar suara keramaian yang terjadi. Suara tangisan dan teriakan itu begitu akrab sekali dalam indra pendengaran Umi.
"Ya Allah, Abah, ada apa ini?"
Wanita berkerudung besar itu terkejut saat melihat suaminya menyeret Putri sulungnya masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini Abah? Apa yang terjadi?" tangis wanita itu pecah melihat air mata berderai-derai jatuh dari pelupuk mata Asma yang menangis.
Lelaki itu sama sekali tidak menjawab. Ia menyeret Asma dan memasukkan wanita itu ke dalam kamar. Lalu menguncinya dari luar kamar.
"Bah, ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa Abang mengurung Asma di kamar? Dimana cucu kita, Abah?" cerocos Umi memberondongi pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Wajahnya diliputi oleh tanya.
"Sudah diam!" sentak Abah. Rahangnya mengeras menatap tajam kepada Umi. Lelaki itu memasukkan kunci kamar ke dalam saku celananya.
"Abah ... Tolong buka pintunya! Jangan pisahkan aku dan Mas Wisnu seperti ini!" Tangisan Asma yang berasal dari dalam kamar terdengar menyayat hati. Wanita itu memukuli daun pintu kamar beberapa kali.
Umi terisak, satu tangannya membungkam mulutnya. Hatinya terasa begitu perih. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki yang selama ini menjadi imam.
"Abah, tunggu!" Umi mengejar Abah yang berjalan menuju dapur.
"Abah ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Abah mengurung Asma disini ini? Kesalahan apa yang sudah Asma lakukan, Bah?" cerca Umi dengan menangis menghampiri Abah yang menjatuhkan kasar tubuhnya duduk pada bangku.
"Diam, Umi!" bentak Abah, mengarahkan tatapannya pada Umi. "Lebih baik Umi diam dan turuti semua kemauan Abah!" balas Abah dengan wajah berpikir keras.
Umi menarik kasar bangku yang berada di samping Abah. "Menuruti apa, Abah? Kemauan apa?" cerca Umi.
"Diam, Abah melakukan semua ini demi kebaikan asma," tegas Abah.
_____
Bersambung ...