Bab 11

1000 Words
"Apa ini, Ran?" netra Asma tertuju pada rantang yang ada di tangan Rani. Sementara Rani terus memperhatikan lelaki yang berdiri di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menyelidik. "Oh, ini Mbak ada titipan dari ibu!" seru Rani tergeragap. Ia mengalihkan tatapan pada Asma. Lalu menyodorkan rantang yang berada di tangannya kepada Asma dengan senyuman paksa. "Terimakasih, Ran!" ucap Asma menyunggingkan senyuman hangat kepada Rani. "Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Asma. "Iya Mbak As, tidak apa-apa," ucap Rani terdengar ramah. Sesekali Rani masih melirik kepada Wisnu. Melihat penampilan kakak iparnya yang jelas terlihat beda sekali dengan lelaki yang ia temui di pusat berbelanja kemarin. "Kamu mau mampir dulu?" ajak Asma kembali mengalihkan tatapan Rani kepadanya. "Tidak Mbak, terima kasih, aku harus segera berangkat bekerja dulu," ucap Rani cepat. Ia bergegas meninggalkan rumah Asma yang terletak cukup jauh dari jalan besar. Setelah memastikan jika Wisnu adalah orang yang berbeda dari lelaki yang ia lihat. "Baiklah, hati-hati di jalan ya, Ran!" seru Asma pada gadis bertubuh ramping yang sudah melangkahkan kakinya cukup jauh dari rumahnya. _____ "Bang, kita jadi pergi, kan?" ucap Asma pada Wisnu yang muncul dari balik pintu kamar dengan handuk yang melilit pada bagaian perut ke bawah. "Jadi kemana?" lelaki itu melirik dengan wajah kebingungan. "Ke perkebunan," jawab Asma yang sudah bersiap-siap dengan gamis berwarna Milo yang sudah dikenakannya. Wanita itu terlihat lebih muda dan cantik ditambah dengan riasan natural pada wajahnya. "Oh, jadi," sahut Wisnu singkat. Lelaki itu membalikan tubuhnya pada lemari yang terbuka di hadapannya. Mencari pakaian ganti. "Baiklah, aku akan membantu Akbar bersiap-siap dulu, ya Bang!" ucap Rani di balas dengan anggukan lembut oleh Wisnu. Setelah mereka semua bersiap-siap, mereka segera pergi ke jalan besar untuk menunggu kendaraan umum yang akan membawa mereka ke perkebunan besar yang terletak di daerah pegunungan itu. "Bang, kenapa Abang pakai sandal jepit?" seru Asma tak kala melirik kaki Wisnu yang hanya mengenakan sandal jepit. Wisnu mengalihkan tatapannya pada sandal jepit yang terpakai di kakinya. "Memangnya kenapa, Neng?" Dahi Wisnu berkerut seketika. "Neng kan sudah ngebeliin Abang sandal yang baru, kenapa tidak pakai yang baru saja?" protes Asma dengan wajah masam. "Tidak Neng, sendal ini juga masih bagus kok," balas Wisnu menyunggingkan senyuman. Asma hanya mampu mendengus berat karena kendaraan umum yang mereka tunggu sudah tiba. Wisnu yang mengendong Asma segera masuk ke dalam kendaraan umum setelah Asma masuk lebih dulu. Kendaraan umum yang membawa mereka melewati jalan yang berliku-liku. Sejauh mata memandang hanya pemandangan perkebunan teh yang terhampar luas di sepanjang kiri dan kanan jalan. Udara segar yang terasa begitu sejuk menjadi hal biasa untuk Asma. Akhirnya kendaraan umum itu membawa Asma tiba di sebuah perkebunan teh yang sangat luas milik Perusahaan Sangir. Tempat Wisnu bekerja. "Ayo Neng, Abang bantu!" Wisnu membantu Asma turun dari dalam kendaraan umum. Lelaki itupun segera membayar upah kendaraan umum yang ia tumpangi. Asma berjalan di barisan paling depan. Netranya menyapu ke sekeliling perkebunan teh. Para pemetik sudah memenuhi ladang luas yang dipenuhi perkebunan teh. Membawa bakul-bakul di atas punggung mereka. "Mandor yang mana yang Neng Asma temui?" tanya Wisnu setia mengekori Asma yang berjalan lebih dulu. "Sebentar Bang, Neng kan masih mencari," sahut Asma mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sosok lelaki yang sempat ia temui saat Wisnu menghilang. "Nah itu dia Bang!" seru Asma mengacungkan jari telunjuknya ke arah lelaki yang berada di ujung perkebunan. Ia terlihat sibuk mengawasi para pemetik teh. Wisnu mengalihkan tatapannya ke arah jari telunjuk Asma. Seorang lelaki berseragam khas mandor perkebunan. "Ya sudah, ayuk!" seru Wisnu memburui. Tanpa menjawab Asma segera melangkahkan kakinya mendekati lelaki yang berada di ujung perkebunan. "Tuan!" sapa Asma dengan nada ramah. Lelaki berseragam khas mandor perkebunan itu menoleh pada Asma. "Ada apa, Bu?" sahut lelaki itu dengan tatapan datar. "Saya ingin menanyakan apakah suami saya yang bernama ....!" "Wisnu, kenapa hari ini kamu tidak bekrja?" celetuk mandor perkebunan teh itu saat melihat Wisnu muncul dari belakang punggung Asma. Wajah' Asma terkejut, seperti tidak percaya. "Maaf Tuan, hari ini saya masih ngambil libur karena kemarin saya baru pulang dari perkebunan yang berada di Sumatra," balas Wisnu. "Oh!" Mandor perkebunan teh itu membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ia mengangguk tanda mengerti. "Lalu untuk apa kamu ke sini?" ucap lelaki itu lagi. Asma tercekat untuk beberapa saat. Ia masih ingat betul pada lelaki yang mengatakan jika Wisnu bukanlah pemetik teh di perkebunan itu. "Tuan, bukankah beberapa waktu yang lalu Tuan mengatakan pada saya jika tidak ada pemetik teh yang bernama Wisnu?" celetuk Asma dengan tatapan heran. Lelaki yang berdiri tidak jauh di depan Asma terdiam sesaat. Wajahnya nampak berpikir. "Oh, ibu ini adalah ibu yang waktu itu ya?" Mandor itu mengacungkan jari telunjuknya kepada Asma. "Maaf Bu, mungkin saat itu adalah kesalahan saya yang kurang teliti untuk mengecek daftar nama pemetik di perkebunan ini," jelas lelaki itu. Asma bungkam, antara lega dan bingung. Bagaimana bisa lelaki yang berdiri di depannya memberikan informasi yang salah padanya. "Sekali lagi saya minta maaf Bu, jika sudah memberikan informasi yang salah. Pak Wisnu sudah bekerja di sini hampir 3 tahun yang lalu. Bahkan beliau adalah salah satu pemetik teh terbaik di perkebunan ini." Ekor mata lelaki itu melirik pada Asma dan Wisnu secara bergantian. Asma menghela nafas panjang. "Syukurlah!" tutur Asma tersenyum lega. _____ "Bang!" "Hem!" sahut Wisnu. "Maafin Neng ya, sudah berprasangka buruk sama Abang," tutur Asma melirik lelaki yang berjalan mensejajarinya. Lelaki yang sedang menggendong Akbar menoleh pada Asma, lalu menghentikan langkah kakinya. "Tidak apa-apa, Neng!" sahut Wisnu dengan suara lembut. "Bukankah Abang sudah bilang sama Neng Asma, Abang tidak marah. Itu adalah hal yang wajar." Wisnu menangkupkan kedua tangannya pada pipi Asma. Membingkai wajah wanita bertubuh mungil, dan mengarahkan tatapannya kepadanya. "Tanda jika Neng Asma sangat mencintai Abang!" celetuk Wisnu dengan nada bercanda. Wajah Asma ketika bersama merah. Perlahan ia menyingkirkan kedua tangan Wisnu yang membingkai wajahnya. Berganti dengan melingkarkan tangannya pada lengan kekar Wisnu. Mereka berjalan dengan penuh bahagia menuju rumah. "Abah!" Langkah mereka terhenti saat melihat lelaki bertubuh kurus yang sudah berdiri di depan rumahnya dengan wajah merah menyala menatap kepadanya. _____ Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD