Bab 10

1005 Words
Rani mempercepat langkah kakinya memutari lantai atas menuju tangga eskalator. Lelaki yang ia lihat di lantai bawah berjalan sangat cepat sekali menuju ke arah pintu keluar pusat perbelanjaan tempatnya berada. "Ran, tunggu!" teriak Bagas berusaha untuk mengejar calon istrinya. Namun langkah wanita bertubuh ramping itu begitu cepat, mungkin karena kaki kakinya yang panjang. "Ah, sial!" cebik Rani kesal saat ia tiba di depan pintu keluar pusat perbelanjaan. Ia tidak menemukan lelaki yang baru saja ia lihat dari lantai atas tadi. "Kemana perginya?" gerutu Rani kesal. "Ran, sudah Ran! Kamu hampir saja membuat jantungku copot," keluh Bagas menahan nafasnya yang hampir saja putus karena berlari mengejar Rani. Tubuhnya yang padat kesulitan membuatnya untuk mengejar Rani yang lebih dulu meninggalkannya. Rani kesal. Kekecewaan terlukis jelas pada wajahnya. Netranya menyapu ke sekeliling, berharap ia masih bisa menemukan lelaki yang mirip sekali dengan kakak iparnya. "Kamu sebenarnya mencari siapa sih, Ran?" cetus Bagas penasaran. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang membuat kekasihnya terlihat penasaran hingga berlari cepat dari lantai atas. "Kamu tadi tidak lihat, lelaki yang mengenakan jas hitam dan beberapa petugas berseragam safari perkebunan yang berada di lantai bawah?" tanya Rani. Ia berharap jika Bagas juga melihat apa yang ia lihat. Sejenak wajah lelaki bertubuh sedikit padat itu nampak berpikir. "Lihat? Memangnya Kenapa?" ucap Bagas. "Itu kan hal yang biasa," imbuhnya. "Kamu lihat kan tadi ada Bang Wisnu di sana?" cetus Rani. "Lelaki yang pakai jas hitam dan berjalan di bagaian paling depan?" jelas Rani mengatakan apa yang ia lihat. Bagas kembali berpikir. "Tidak, aku tidak melihat lelaki yang kamu maksud. Tapi, bagaimana mungkin Bang Wisnu ada di antara mereka. Itu adalah hal yang sangat mustahil sekali Rani," cetus Bagas, lelaki itu menahan tawa sinis di akhir kalimatnya. Kini giliran Rani yang terdiam dengan wajah berpikir. Padahal gadis itu sangat yakin sekali jika lelaki yang mengenakan jas hitam dan berjalan di bagian depan itu adalah Wisnu. Tapi apa yang dikatakan Bagas memang ada benarnya. Tidak mungkin Wisnu ada di tempat seperti ini. Di mata Rani kakak iparnya hanyalah seorang lelaki miskin yang terlalu bersabar hidup dalam kemiskinan. "Mungkin apa yang kamu katakan benar Mas. Tidak mungkin Bang Wisnu ada disini. Lagi pula dia kan orang miskin," tutur Rani menarik paksa senyuman pada kedua sudut bibirnya. Meksipun dirinya pun sebenernya masih ragu dengan kalimat yang keluar dari bibirnya. "Iyalah Ran, meskipun aku tidak pernah bertemu dengan Abang kamu di perkebunan. Tapi itu hal yang sangat mustahil sekali dia berada di sini. Gaji pemetik teh saja belum tentu bisa mencukupi kehidupan mereka," ucap Bagas dengan nada sinis di ujung kalimatnya. "Beda dengan gaji mandor," imbuhnya dengan nada bangga. Ia ingin terlihat baik di depan Rani. ______ Beberapa menu masakan telah tersaji di atas meja makan. Ayam goreng kesukaan Abah, dan cumi balado. Belum sayur nangka yang dibumbui dengan santan kental. Siapa pun yang mencium aromanya pasti akan tergoda. "Umi, kenapa masaknya banyak sekali? Memangnya kita akan kedatangan tamu ya?" seloroh Rani menarik bangku meja makan. Sekilas ia menatap makanan yang berada di atas meja lalu pada wanita bergamis besar yang sedang sibuk mencari sesuatu pada rak dapur. "Iya, Umi memang sengaja masak yang banyak, Ran," balas Umi tanpa menoleh kepada gadis ramping yang sudah duduk pada bangku meja makan. Gadis itu terus mengikuti gerakan tubuh Umi. Wajah Rani berubah, netranya menatap pada gerakan tubuh Umi yang berjalan menuju keluar dapur. "Nah, akhirnya ketemu juga!" seru suara Umi terdengar senang. Rani mengalihkan tatapannya pada Umi yang berjalan kembali ke dapur membawa rantang di tangannya. "Untuk apa Mi rantang itu?" celetuk Rani memperhatikan Umi yang sedang sibuk mengisi panci rantang dengan sayur nangka yang masih hangat. Kepulan asapnya mengudara mengundang aroma yang khas. "Sayur nangka ini adalah sayur kesukaan Mbak kamu, Asma. Jadi rancannya Umi mau mengantarkannya ke rumahnya," jawab Umi. Wanita itu juga mengisi panci rantang dengan beberapa potong ayam goreng untuk Akbar dan Wisnu. Rani berdecak kesal. Netranya menatap sinis pada Umi yang sejak dulu lebih perhatian pada Asma. Begitulah pikir Rani. Seketika Rani teringat dengan lelaki yang ia temui di mall yang hampir mirip sekali dengan Wisnu. "Bu, biar aku saja yang mengantarkannya ke rumah Mbak Asma. Sekalian aku berangkat kerja," celetuk Rani, ia ingin membuktikan apa yang ia lihat di pusat perbelanjaan tadi. Gerakan tangan Umi yang sedang menyusun rantang terhenti. Wanita itu menoleh pada Rani dengan tatapan aneh. "Kamu yakin?" celetuk Umi dengan tatapan ragu, mengingat selama ini hubungan Rani dan Asma yang kurang baik. "Iya Umi, yakin?" balas Rani seraya mengangguk lembut. "Memangnya ada yang salah?" cetusnya lagi. Rani bangkit dari bangku meja makan berjalan menuju ke arah rak piring. Ia mengeluarkan kotak bekal dari dalam lemari rak piring. Lalu mengisinya dengan makanan dan lauk pauk yang berada di atas meja. "Rani bawa bekal saja Umi," ucap gadis yang tidak melakukan sarapan paginya. Setelah menyiapkan bekal Rani berjalan menghampiri Umi. Wanita yang sedari terdiam dengan wajah penuh tanya menatap ke arahnya. "Ini sudah kan, Mi?" celetuk Rani meraih rantang yang sudah disiapkan di atas meja oleh Umi. "Iya, sudah!" balas Umi terbata. "Ya sudah, Rani berangkat dulu ya Umi!" Gadis itu meraih punggung tangan Umi dan menciumnya. Kemudian bergegas pergi membawa rantang yang akan ia berikan kepada Asma. ____ "Assalamualaikum!" ucap Rani seraya mengetuk daun pintu rumah Asma. Beberapa kali ia sudah melakukan hal itu namun tidak ada satupun orang yang menjawab salamnya ataupun membukakan pintu untuknya. "As ....!" "Rani!" Seorang lelaki yang mengenakan kaus berwarna putih yang sudah memudar muncul dari balik pintu yang terbuka. Lelaki yang berbeda sekali dengan lelaki yang ia temui di pusat perbelanjaan tadi. Rani tidak bergeming, memperhatikan dengan seksama lelaki yang berdiri di dalam pintu, yang berjarak kurang lebih setengah meter dengannya. Tatatan rambut lelaki itu jauh beda sekali dengan lelaki yang ia lihat di pusat perbelanjaan. Apalagi dengan cara berpakaian Abang iparnya yang bisa dikatakan jarang sekali berganti baju. Sudah dipastikan jika Abangnya itu tidak mungkin memiliki pakaian seperti orang yang ia lihat di pusat perbelanjaan itu. "Rani, ada apa?" seloroh Asma yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Senyuman hangat tersungging dari bibir wanita itu. ____ Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD