3. Teman Hidup

1430 Words
Malam itu aku mendengar sesekali suara rengekan Susi, dan sesekali Susi juga mendesah, antara menahan rasa sakitnya, atau justru menikmati permainan Papaku. Namun tentu saja itu semua hanya berlangsung beberapa saat saja, karena setelah itu aku tidak lagi bisa mendengar apapun dari arah kamarku. Entahlah... Mungkin Susi pingsan karena tidak bisa mengimbangi tubuh besar papaku, dan aku hanya bisa menghela nafas membayangkan apa yang baru saja papaku dan istri mudanya lakukan. Bukan aku ingin menyalahkan apa yang saat ini papaku sedang lakukan dengan istri mudanya. Pikir aku hal itu wajar papa lakukan mengingat lebih dari lima tahun papa tidak bisa mendapatkan semua itu dari mamaku, dan saat papa mendapat kan lawan yang seimbang atau cenderung menguasai, mungkin papa merasa sangat luar biasa saat ini dan iya, lagi-lagi aku akan berusaha memaklumi semua itu. Sama seperti apa yang dikatakan saudara laki-lakiku, Dicky, bagaimanapun papa butuh pendamping hidup, karena cepat atau lambat aku akan menikah dan memiliki kehidupan sendiri, sama seperti kakakku dan saat itulah papa justru akan merasakan kesendirian, dan iya, pada akhirnya beberapa waktu yang lalu aku akhirnya setuju dengan usul kakakku yang meminta papa kami untuk menikah, meskipun saat itu papa masih terlihat kekeuh tidak ingin menikah. Namun apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar prediksi. Papaku menikah, bahkan dengan wanita yang usianya jauh terpaut dari usianya, bahkan sepertinya wanita itu, Susi seumuran denganku. Iya, menikah bukan karena mengikuti hawa nafsu , dan bukan semata-mata untuk menuntaskan hasrat biologisnya, akan tetapi ini lebih ke sisi teman hidup. Karena pada hakikatnya pasangan suami istri itu tidak hanya saling membutuhkan dalam kebutuhan biologis dan nafkah saja, akan tetapi lebih ke TEMAN HIDUP. Orang yang akan membersamai kita melewati pahit manisnya dunia di usia yang sudah tidak lagi muda... karena bagaimanapun, aku tetap tidak akan bisa sepenuhnya mengurus papa nantinya. Aku menjauhkan diri dari dinding di mana aku menguping kegiatan malam pengantin papaku dan istri mudanya, kemudian menjatuhkan tubuhku di atas ranjang besar dan empuk milikku saat tiba-tiba sekelebat bayangan tentang apa yang dilakukan papaku dengan Susi di kamar sebelah bergelantungan di atas kepalaku, seperti kaset yang berputar-putar tapi tidak jelas terlihat gambarnya. Suara lembut nan manja Susi seperti rengekan manis anak-anak, akan tetapi membayangkan tubuh besar papaku menaungi tubuh rampingnya lagi-lagi menjadi bagian yang paling lucu dan sulit untuk aku bayangkan, dan tiba-tiba rasa dahaga dan kering di tenggorokanku mendadak lebih mendominasi. Aku lantas bangkit dari rebahku, menghela nafas dalam diam kemudian menghembuskannya dengan sangat kasar sebelum akhirnya langkah kakiku menuju ke pintu kamarku kemudian menekan pintu itu. Namun baru saja aku keluar selangkah dari daun pintu itu saat tiba-tiba pintu di sebelah kamarku terdengar terbuka dan beberapa detik berikutnya Susi terlihat berjalan melewati depan kamarku. Wanita itu benar-benar sangat cantik. Kulit mulusnya terlihat bening ketika menggunakan gaun tidur yang tipis dan terlihat sedikit transparan itu. Susi hanya menoleh padaku beberapa detik saja, kemudian tersenyum seraya menganggukkan kepalanya ke arahku. Terlihat sangat manis juga sopan, dan detik berikutnya Susi juga bergerak menuruni anak tangga rumah itu dan aku tentu saja hanya terpaku di sisi pagar pembatas tangga lantai dua. Aku melihat langkah kakinya yang semakin turun dan semakin menjauh dari pandanganku, saat tiba-tiba aku justru kesulitan untuk sekedar menelan ludahku sendiri dan mendadak rasa panas di tubuhku semakin terasa bergemuruh. Aku mempercepat langkah, menuruni anak tangga itu untuk segera sampai ke dapur, lalu mengambil air atau apapun yang bisa aku makan untuk meredam rasa dahaga di tenggorokan ku, juga rasa berdesir di tubuhku. Namun saat aku berbelok di sudut meja pantry, ternyata Susi pun ada di sana. Sedang berjongkok mengambil sesuatu di lemari pendingin. Aku kembali tertegun ke arahnya, darahku semakin terasa berdesir tidak karuan ketika kulit mulus di bagian pahanya sedikit terekspos karena gerakan menunduknya yang mengakibatkan b****g dan pinggulnya lebih tinggi dibanding pinggang atau bahunya dan secara otomatis ujung gaun tidur itu pun ikut menukik , naik sedikit lebih tinggi dari ukuran sebelumnya hingga kulit paha bagian dalamnya pun ikut terekspos. Berkali-kali aku berusaha menelan ludahku sendiri, akan tetapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di pangkal tenggorokanku, terlebih lagi sekarang darah di otakku seakan berkumpul dan membeku di sana. Susi masih berjongkok, dan seperti kesulitan memilih sesuatu di dalam kulkas empat pintu itu, sementara aku tetap hanya berdiri di belakangnya, berusaha menahan nafas, juga berusaha meredam gejolak aneh dalam tubuh, juga daging di balik celanaku, sampai akhir papaku tiba-tiba sudah berdiri di belakangku, dan mengagetkanku seperti maling yang baru kedapatan mencuri sesuatu di rumah sepi. "Roni... Apa yang kau lakukan di sini?!" sapanya. Aku langsung menoleh , dengan degup jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya dan seketika rasa gugup itu mendera lidah dan sorot mataku, terlebih lagi setelah itu Susi juga langsung bangkit kemudian menoleh ke arah ku, dan kali ini wanita itu justru menatapku dengan tatapan heran seraya menahan sisi kedua kerah gaun yang dia gunakan, seolah-olah takut jika dadanya terlihat olehku padahal aku sudah melihatnya dari tadi. "Aah itu... Aku... Eehm aku...!" aku mendadak kesulitan untuk merangkai kata, padahal jelas tadi aku hanya ingin mengambil air minum, akan tetapi tatapan Susi dan papaku seolah sedang mengunci ku dan menuntut ku atas pertanyaan sederhana, tapi teramat terasa berat. "Papa lihat dari tadi kamu hanya diam di situ...! Apa yang kau inginkan?" tanya papaku lagi, dan aku berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugup, meskipun rasa dahaga dan kering di tenggorokanku masih belum reda. "Aah itu... Aku mau ambil air minum di lemari pendingin, Papa. Namun saat aku berbelok ke dapur, Aku justru melihat Susi sedang mengambil sesuatu di lemari pendingin, dan tentu saja aku harus menunggunya selesai dan mendapatkan apa yang dia inginkan, karena aku tidak ingin Susi merasa tidak nyaman jika aku justru gegabah dan tidak sabaran." Jawab ku jujur, dan setelahnya aku meraih gelas di atas meja pantry , menuang air di teko yang juga ada di atas meja itu dan dengan santainya aku menekuk beberapa tekuk air itu hanya untuk menormalisasikan ekspresi wajahku yang mungkin sebelumnya terlihat tegang dan gugup di hadapan papaku. Papaku tersenyum, seraya menarik pinggang Susi untuk menempel di tubuhnya, seakan-akan takut jika aku akan membawa kabur istri mudanya. "Oh maaf. Aku benar-benar tidak tahu jika kau sudah menungguku untuk mengambil sesuatu juga di lemari pendingin!" ucap Susi setelahnya, tapi lagi-lagi aku hanya membalas dengan tersenyum. "Tidak apa-apa. Kau kan baru di rumah ini, dan aku sebagai penghuni lama harus memaklumi jika kau hanya sedang beradaptasi dengan lingkungan di rumah ini, ya aku merasa tidak apa-apa jika pun harus menunggumu satu atau dua menit!" jawabku, masih berusaha setenang mungkin meskipun hati dan otakku sedang tidak bisa bekerja sama dengan baik karena saat hatiku berucap tidak apa-apa, otaku justru berfikir sebaliknya. Papa kembali tersenyum sangat manis ke arah Susi, dan kini senyum itu tertuju ke arahku. "Susi... Putraku yang satu ini memang sangat pengertian. Dia hanya ingin membuat kamu merasa nyaman di rumah ini, karena dia tahu kenyamanan mu adalah salah satu kebahagiaan Papanya!" ucap papaku menambahkan, dan tentu saja aku tersenyum menanggapi ucapan papa karena memang itulah yang aku rasakan dan sebenarnya tadi itu pula yang ingin aku katakan. Namun karena papa sudah lebih dulu mengatakan itu, maka ya sudahlah. Susi juga tersenyum, lalu mengangguk ke arah aku, senyum yang begitu manis. Namun aku merasa ada yang aneh dari senyum wanita itu, Susi, karena Susi tersenyum sambil menggigit belah bibir bawahnya sendiri dan aku justru merasakan sesuatu yang aneh tiba-tiba berdesir lebih kuat dalam setiap urat darah di tubuhku, dan setelahnya Susi memeluk beberapa buah juga satu botol tinggi air yang baru saja dia ambil dalam lemari pendingin itu, dan Papaku semakin menatap sendu ke arah Susi. Tatapan penuh cinta. "Kalo gitu, Papa kembali ke kamar ya!" ucap papa setelah itu, dan aku tentu saja menangguk. Aku memandang punggung keduanya saat meninggalkan area dapur. Sebelah tangan papa masih berada di pinggang Susi dan entah untuk apa Susi justru berbalik dan menoleh ke arahku yang masih membeku di tempat ku, dan aku tetap terlihat santai seraya mengangkat gelas air minum ku ke arah dia seolah ingin bersulang dengannya, dan lagi-lagi Susi tersenyum ke arahku dan senyum itu lagi-lagi terasa seperti ujung anak panah yang langsung menancap di hatiku, indah debaran aneh itu hingga debaran aneh itu semakin kuat bergemuru. Oooh .. sungguh, ini adalah resiko punya ibu tiri muda dan cantik, dan sekarang sesuatu dibalik celanaku justru meronta-ronta dengan rasa yang tidak bisa aku jelaskan, dan semakin ke sini aku semakin kesulitan mengendalikan milikku sendiri. "Oooh come on friend... Kamu jangan bertingkah seperti ini. Ini tidak benar!" Aku berbisik pada adik kecil di dalam celanaku seraya meremasnya untuk memintanya tenang, tapi hasrat itu justru semakin menggelora hingga akhirnya aku pun terpaksa......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD