12. Jellyfish

1054 Words
Oh, Tuhan! Maxime ingin menyemburkan tawa saat itu juga. Sebisa mungkin ia menahan tawanya di tengah situasi tegang itu. Namun jika dirasakan lagi, suasana tidak begitu tegang lantaran lelucon Allura. Allura—si gadis pendiam rupanya memiliki selera humor yang bagus. Sejak awal memasuki game, Allura tak banyak bicara seperti gamer lain. Ia fokus dengan game di depannya tanpa ada keinginan untuk berbuat curang seperti Nori. Gadis itu melirik pada Maxime dan Mahavir, tak mengerti mengapa wajah mereka menjadi merah. Ya, wajah mereka merah lantaran menahan tawa sedari tadi. “Allura bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau lebih kejam dariku,” ujar Maxime. “Aku? Memang apa yang salah dengan pertanyaanku barusan? Dia memang terdengar seperti terbawa oleh perasaan.” “Kalian diamlah!” seru Nori Merekon. Ia adalah orang yang tak menganggap pertanyaan Allura Altezza sebagai lelucon. Malah fokus melihat pada sistem berlayar transparan di depan mereka. Apakah sang sistem menjadi marah? Mengapa hanya diam setelah pertanyaan itu terlontar? Sontak saja mereka tak lagi berbicara dan melihat pada Nori yang netranya fokus ke depan. Mengikuti Nori lalu menatap ke depan. Tak ada apa-apa dalam layar besar di depan mereka. Mulai khawatir karena sistem mungkin marah atas candaan mereka barusan, Mahavir sigap dengan pedang es di tangannya. Ia tak tahu, apa yang bisa sistem lakukan pada mereka nanti. Lebih baik menjadi siaga jika sistem menyerang mereka. “Mengapa dia hanya diam?” Mahavir tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Mengerutkan kening sembari memperhatikan sekitar. Netranya berhenti pada jam besar yang sejak tadi menjadi pengingat akan berjalannya game. Mahavir menghembuskan napas lega karena jam tersebut masih dalam keadaan mati. “Itu juga yang ingin aku tahu,” balas Nori Merekon. “Jangan biarkan penjagaan kalian melemah. Bisa saja dia marah dan ingin menyerang kita.” Maxime memberikan komando. Mahavir dan Allura mengerti dan mengikuti anjuran Maxime. Namun, Nori Merekon tak mengindahkan pendapat Maxime. Hanya Gamer dengan Rank 6 dan berada di bawahnya. Tidak memiliki hak untuk memberikan komando, menurut Nori. “Any, apa kau tahu sesuatu?” Beberapa detik, Any tidak menjawab. Bahkan Maxime tak melihat Any yang biasanya dengan sigap akan menjawab pertanyaannya tanpa penundaan. Akan tetapi, Any tak muncul lagi. “Any, kau di mana?” merasa hal tersebut janggal, Maxime memanggil Any sekali lagi. “Any!” “Ana.” “Joy.” “Sun.” Mereka adalah sistem yang membantu Nori, Allura dan Mahavir. Ketiga sistem juga tak muncul. Tampaknya ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya suara sistem. “Aneh,” gumam Maxime. Melirik pada pedang es di tangan. Masih pada tempatnya. “Sistem sedang mempermainkan kita rupanya. Dia pasti memiliki rencana lain,” ujar Nori Merekon. “Kau benar.” Suara sang sistem memasuki indra pendengaran mereka. Seketika itu menoleh ke atas. Satu kata berwarna merah tertera pada layar. ‘Warning!’ yang artinya peringatan bahaya. Sistem tak lagi berbasa-basi, robot berbentuk lengan ubur-ubur menyerang keempat Gamer. Reaksi mereka cukup cepat, sehingga tak ada yang terluka. Mereka harus menghadapi sistem bahkan sebelum gerbang keempat dimulai. “Kalian sadar tidak akan sesuatu?” Maxime bertanya, tetapi seperti menyuruh mereka untuk menebak. “Apa Maxime? Jangan suruh kami untuk menebak.” “Dalam game ini tidak HP (Hit Point) sejak awal game dikuasai oleh bug. Game ini tidak memiliki karakteristik sebuah karakter game. Jadi artinya, seluruh sistem sudah diubah. Ini merupakan kesengajaan yang ingin menjatuhkan Windtech.” Ketiga Gamer terkejut mendengarnya. Mereka hanya dipandu oleh sistem dan dari yang mereka ketahui HP ada pada sistem Game. Akan tetapi, mereka tak memiliki HP dalam game. Jadi, mereka sedang bertarung hidup dan mati sesungguhnya di dalam sebuah game. “Humph! Windtech adalah perusahaan besar. Tentu saja akan ada beberapa orang yang iri. Tapi tidak kusangka bahwa orang merupakan jenius. Mungkin setelah keluar dari sini, aku akan minta tanda tangannya.” Nori Merekon memperlihatkan wajah antusias, sedangkan para rekannya memiliki wajah datar. “Kau bisa meminta tangannya jika kau bisa menghadapi sistem di luar game ini. Lihat!” seru Mahavir. Bukan hanya lengan robot berbentuk ubur-ubur, tetapi robot ubur-ubur tengah mengambang di atas mereka. Tentakelnya mengeluarkan sengatan listrik, hingga membuat mata agak silau. “Apa maksudmu sistem?! Kau ingin kami melawan robot ubur-ubur di gerbang keempat?” tanya Maxime yang sudah terlihat emosi. Sejak awal mereka telah dipermainkan oleh sistem sialan ini. Siapa yang tidak akan merasa kesal dan dipermainkan dalam keadaan ini? “Bukan! Gerbang ke-empat belum dimulai. Kalian lakukan pemanasan saja lebih dulu,” sang sistem menjawab dengan nada datar. Tidak punya hati! Oh, ya! Sistem ini memang dirancang tidak memiliki hati! Meskipun orang di belakang ini adalah manusia, tetapi manusia itu tidak punya hati. “Benar-benar menantang,” ujar Nori Merekon. Melihat pada layar transparan di depannya. Gadis itu sedang memilih sebuah senjata. Tangan robot adalah pilihan Nori Merekon. Setelah menekan tombol gunakan, tangan Nori berubah menjadi tangan robot. “Dengan begini, aku bisa memukul wajah ubur-ubur itu.” Nori Merekon meluncurkan sebuah tinju ke perut ubur-ubur. Tubuhnya sangat besar, tetapi tidak sebesar raksasa pasir. Meski demikian, ubur-ubur ini merupakan robot dan mungkin sistemnya juga canggih. Jadi mereka harus berhati-hati. Tinju Nori Merekon memperburuk keadaan, menyebabkan ubur-ubur menjadi marah dan mengeluarkan sengatan listrik. Walaupun Nori Merekon dapat menghindari, tetapi tangannya terkena sedikit sengatan. Gadis itu kejang karena sengatan ubur-ubur. Ketiga gamer menghampiri gadis itu. Nori Merekon masih dapat bangkit sendiri. Netranya yang penuh amarah mendarat pada ubur-ubur itu. “Kau tidak bisa menghadapinya sendirian. Ubur-ubur itu tidak sama dengan raksasa pasir.” Tentakelnya tak lagi mengeluarkan sengatan listrik. Lantas lengan robotnya dengan gesit ingin menangkap keempat gamer. Maxime, dan dua orang lagi dapat menghindari, tetapi Nori Merekon yang terluka berhasil diamankan oleh lengan ubur-ubur. Gadis itu seolah-olah menjadi sandera sang ubur-ubur. Maxime segera terbang, berniat menyelamatkan Nori Merekon. Meskipun gadis itu memiliki perangai buruk, tetapi Maxime tidak bisa membiarkannya gugur. Mereka tidak boleh kehilangan Gamer lagi. Lengan-lengan dari robot itu lebih gesit daripada Gamer. Gerakan-gerakan lincah membuat ketiga Gamer kewalahan. Sebuah pistol dikeluarkan oleh Allura. Gadis itu melakukan tembakan beruntun ke arah badan robot ubur-ubur. Masih tak mempan untuk membuat badan ubur-ubur rusak. Kemudian Maxime menerjang dengan terbang lebih tinggi. Ia mencoba membuat gerakan seperti yang dilakukan ketika melawan raksasa. Naasnya Maxime dihempaskan oleh salah satu lengan ubur-ubur. Ia terlempar jauh. Melihat hal itu, Mahavir tak tinggal diam. Ia menyerang dengan kekuatan listrik di tangan. Satu hempasan bola listrik hampir mengenai Nori Merekon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD