13. The Culprit

1044 Words
“Kau sengaja ingin membunuhku?!” bentak Nori Merekon. Mendengar teriakkan itu membuat Mahavir tak fokus. Satu tampikan dari lengan ubur-ubur membuatnya terbang lalu mendarat di tanah. Darah keluar dari bibir pria itu. Sementara itu, Allura yang tinggal sendirian tak tinggal diam. Tangannya menekan tombol senjata yakni sebuah senapan. Allura berlari mengelilingi ubur-ubur sembari menembakkan peluru. Semua peluru terbenam di badan ubur-ubur. Namun, tak bisa menyakiti benda raksasa itu. Maxime dan Mahavir yang sudah bangkit akhirnya bergabung dengan Allura. Tidak mudah bagi mereka untuk menghindari lengan-lengan tersebut. Satu hempasan saja sudah membuat mereka terlempar jauh. Ubur-ubur tetap berada di tempatnya, hanya saja robot itu mengendalikan semua lengan untuk bertarung. Maxime menyerang kepala sang robot dari atas, sedangkan Mahavir masih berkutat dengan lengan ubur-ubur. Sementara itu, Allura tetap menembak dari bawah seraya berlari, menghindari lengan ubur-ubur berkali-kali. “Ah!” Nori Merekon berteriak kencang. Tampaknya lengan robot ubur-ubur melilit badannya dengan erat. Bulir keringat dingin basah pada dahinya. Namun gadis itu tak dapat melakukan apa pun lantaran tak bisa bergerak. “Jika aku bisa lepas, maka kau akan mati di tanganku,” ucap Nori; sengit. Ketiga Gamer tidak berhenti melakukan serangan demi serangan, meski mendengar teriakkan Nori Merekon. Sadar kalau mereka belum bisa mengalahkan robot ubur-ubur, Maxime turun dan berhenti menyerang. “Any, apa kau bisa mendengarku?” Tidak ada jawaban dari Any. Semua sistem masih tak dapat dijangkau. Sekarang mereka harus memikirkan cara sendiri untuk menghabisi robot ubur-ubur. “Teman-teman, kita selamatkan Nori lebih dulu.” Maxime memberikan komando pada kedua Gamer. Mereka tak ragu sama sekali untuk menganggukkan kepala. Kemudian Maxime terbang, melebarkan kedua tangannya. Tujuannya adalah mendekati Nori Merekon. Berhasil melewati lengan ubur-ubur, lalu dengan pedang es memotong lengan ubur-ubur yang melilit Nori. Sayangnya tidak terjadi apa pun pada lengan robot itu. “Mustahil,” gumam Maxime. Tidak disadarinya, dadi belakang—lengan robot itu menghantam punggung Maxime. Ia kembali terhempas, tetapi kali ini dapat menyesuaikan diri. Meskipun masih terkejut, Maxime tetap melancarkan aksinya dan kembali memotong lengan ubur-ubur. Sekali, dua kali, tiga kali, masih tidak dapat terpotong juga. “Ah!” Nori Merekon kembali berteriak nyaring. Tangannya tak dapat bergerak sama sekali. Jadi kekuasaan untuk menemukan senjata untuk dirinya. “Bersabarlah!” “Maxime, tampaknya robot ini tidak mudah untuk dihancurkan. Badannya sangat keras dan tidak lecet sekalipun. Kita tidak bisa begini terus,” ujar Mahavir yang masih bertarung dengan ubur-ubur. “Lalu, apa kau punya ide?” “Temukan kendalinya. Setiap robot pasti punya kendali. Kau cobalah pergi ke kepalanya, hancurkan semua sistem yang ada di sana. Lupakan penyelamatan Nori.” Mendengar hal itu, Nori Merekon mengerutkan kening. Ingin memaki Mahavir, tetapi tidak punya tenaga saat ini. “Baiklah.” “Hei! Kau tidak bisa pergi begitu saja.” Maxime yang sudah terbang lebih tinggi, melirik ke bawah, dengan datar ia berkata, “Kalau kau masih ingin terus bermain, maka diam di sana untuk sementara waktu.” “Kau .... ah!!!” kali ini Nori Merekon berteriak sangat kencang. Bukan dijerat oleh lengan itu, melainkan terkena sengatan ubur-ubur. Maxime ragu-ragu untuk menyerang kepala robot, tetapi setelah Nori berhenti berteriak dan memastikan kalau perempuan itu baik-baik saja, akhirnya Maxime mulai melancarkan serangan di kepala sang robot. Ia kerahkan seluruh kemampuan yang ada pada pedang tersebut. Mencoba membekukan kepala robot dengan pedang es nya. Membeku! Kepala robot itu membeku, dan menyebabkan serangan pada lengannya melamban. Beberapa detik kemudian, es tersebut dapat dipecahkan sendiri oleh sang robot. Melihat hal itu, Maxime kembali melancarkan serangan bertubi-tubi, hingga dapat membekukan kepala ubur-ubur. Kemudian, Maxime juga membekukan lengan yang menjerat Nori Merekon. Allura dengan cepat menembak lengan tersebut, bukan es yang mencair, melainkan lengan tersebut dapat terputus. Sementara itu, Mahavir menyelamatkan Nori yang hampir jatuh. Pada akhirnya gadis itu bisa lepas dari jeratan sang robot. Nori Merekon melakukan peregangan terlebih dahulu. Ia tidak akan membiarkan robot itu pergi begitu saja, setelah membuatnya menjadi sandera. Gadis itu mengeluarkan ‘L’ pedang berukuran besar berkekuatan listrik. Dari melihatnya saja sudah membuat bergidik. Listrik ada di seluruh pedang terkecuali pada bagian gagang. Pedang berwarna hitam itu siap menerjang robot ubur-ubur. Nori Merekon berlari seraya membawa L di tangan kanannya. Setelah dekat dengan lengan ubur-ubur, dikibaskan pedang tersebut. Listrik mulai menyambar lengan ubur-ubur. Salah satu dari lengan robot itu telah berhasil dipatahkan lagi. “Wow, kau punya kemampuan untuk melakukan itu.” Allura sedikit terkesan dengan penampilan Nori Merekon dan juga senjatanya. Sudut bibirnya melengkung ke atas. “Aku sudah bersumpah untuk menghancurkan robot bau ini.” Sementara itu di atas sana. Maxime masih berusaha mencari kendali pada robot. Sayangnya karena ditutupi oleh es yang ia buat. Jadi ia tak dapat menemukannya. Maxime turun ke bawah menghampiri teman-temannya. Sesampainya di bawah, ia menyadari kalau robot itu telah berhenti bergerak. “Dia tidak mungkin mati secepat itu, kan?” Maxime tak percaya kalau hanya dengan satu serang Nori bisa mengalahkan robot itu. *** Di suatu tempat yang sepertinya tak terurus. Kaleng bekas minuman berserakan di lantai, bukan hanya itu saja, styrofoam bekas minuman instan juga ada di mana-mana. Tampaknya sang pemilik rumah tidak pernah membersihkan bekas makanannya. Belum lagi, baju dan celana kotor masih ada di sofa. Entah apakah ada pakaian bersih di sana. Ditinjau lebih jauh lagi, botol-botol bir tergeletak tak beraturan. Di sebuah kursi duduklah seorang pria berkacamata. Tatapannya penuh emosi ke layar datar di depannya. Sebuah layar komputer menarik perhatiannya selama berjam-jam. Wajah itu menampakkan semangat menggebu. “Haha ... hahaha ... hahahaha!” Jari tangannya tak berhenti menari di atas keyboard. Sebuah Game yang ia mainkan sejak tadi membuatnya lupa menghabiskan makanan di sebelahnya. “Mereka cukup menarik,” katanya. Suaranya terdengar agak serak. Detik kemudian, pria itu berhenti menarikan jarinya. Ekspresinya berubah datar melihat pada layar. Apa kiranya yang membuatnya tertegun? Di layar tersebut, sebuah robot ubur-ubur yang ia kendalikan tak dapat ia gerakan. Termenung sejenak, lantas ia beralih ke komputer ke dua. Lagi-lagi membuat jarinya menari di atas keyboard. Layar hitam berisi kode-kode yang tak dapat dimengerti oleh orang awam. Dengan cepat jarinya bergerak sambil mengutuk dalam diam. Setelah beberapa saat, dilihatnya lagi, robot ubur-ubur peliharaannya kembali dapat bergerak. Lagi-lagi ia tertawa seperti orang gila. Ia berhasil melepaskan diri dari es yang memenjarakannya. Terlihat empat orang musuhnya terdiam sambil memandangi tubuh besarnya. “Tadi hanya awalnya saja. Kita akan bermain dengan benar kali ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD