14. Secret Room Of The Robot

1058 Words
Semua orang mengantisipasi kebangkitan dari robot ubur-ubur. Sang robot menerjang keempat orang yang baru saja memenjarakannya. Dengan kekejaman dari lengan-lengan besi itu, membuat Maxime dan kawan-kawan terlempar jauh. Sudut bibir mereka mengalami luka, hingga mengeluarkan darah. Seluruh pakaian terkena debu, hingga ke wajah mereka debu ikut menempel. Perlahan-lahan bangkit sampai menegakkan tubuh. Maxime membantu Allura agar dapat berdiri. Setelah semua orang berdiri, sang robot ubur-ubur kembali melancarkan serangan, bahkan sebelum keempat Gamer itu mendapatkan kesadaran mereka. “Ah!” Lagi-lagi mereka terlempar jauh. Kali, ini memerlukan waktu agar mereka dapat bangkit. Meskipun demikian, mereka tak jerah untuk berdiri dengan kaki kokoh. Dengan cepat Maxime mendapatkan kesadaran lalu maju ke depan menyerang sang villain. Tekanan yang ia bawa mampu membuat hujan es menghujam badan robot. Tak hanya dia sendiri, Mahavir datang memberi bantuan, begitu pun dengan Allura. Kakinya semakin cepat menembak ke atas. Ketiga orang itu bekerja sama meski tidak mudah melewati lengan-lengan robot itu. Sementara itu, Nori Merekon mengawasi dengan teliti. Ia bergumam, “Aku. Aku yang akan menghancurkan robot itu.” Kecepatan kakinya menerjang sembari melompat dengan lincah ke atas lengan-lengan robot. Satu per satu ia lewati, hingga sampai di atas kepala robot. Nori Merekon memegang pedang dengan kedua tangan, di letakkan di depan wajahnya, lalu menancapkan pedang berkekuatan listrik itu di kepala robot. “Hah!” Pedang berhasil menembus kepala robot. Listrik menyelubungi badan robot, sehingga ketiga Gamer harus menyingkir dan menjauhi robot. “Apakah dia akan baik-baik saja?” Maxime sedikit khawatir dengan Nori Merekon yang masih ada di atas kepala robot. Gadis itu tampak cemerlang berdiri tegak di atas sana dengan pedangnya. “Kita lihat saja,” ujar Mahavir. “Dia gadis yang penuh ambisi,” lanjutnya lagi. Sang robot menjadi tidak tenang karena listrik ada di sekujur tubuhnya. Satu lengannya naik ke atas lalu melilit Not Merekon. Lagi-lagi, ia menjadi sandera ubur-ubur karena kepercayaan dirinya. “Nori!” seru Allura. Segera menarik pelatuk pada senapannya. Klang! Kleng! Suara peluru Allura yang bersentuhan dengan lengan robot. Allura menyerah setelah mengetahui, ia tak dapat menyakiti robot dengan senjatanya. Apakah ia sudah salah memilih senjata? Tepukan pada bahu gadis itu, menyadarkannya. Menoleh pada Maxime yang berdiri di sampingnya. “Jangan menyerah. Kau Gamer profesional yang sudah diakui. Apalagi peringatkanmu tinggi. Kita pasti bisa mencari kelemahan robot itu.” Mata Allura bersinar. Sejenak tadi merasa rendah diri. Setelah mendengar ucapan Maxime, ia kembali bangkit. Mengembangkan senyum tipis sampai membuat Maxime sedikit canggung. Wajah pria itu sedikit memerah. Lantas dialihkannya pandangan. “Serang bersama,” ujar Maxime. Maju secara bersama tak peduli berapa kali harus terlempar dan kalah. Asalkan mereka tidak gugur dan masih bisa bertarung. Maxime menambahkan kekuatan pada pedangnya, memotong lengan robot yang melilit tubuh Nori. Lantas Allura menembak ke tempat yang diserang oleh Maxime. Lengan itu berhasil terputus lalu jatuh. Nori Merekon merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat dililit setelah. Dibantu oleh Allura melepaskan diri dari lilitan lengan tersebut. “Kau baik-baik saja?” “Bagaimana aku bisa baik-baik saja? Coba saja kau dililit oleh lengannya,” Nori Merekon menjawab dengan ketus. Padahal Allura bertanya baik-baik karena merasa khawatir padanya. Nori mengambil pedangnya. Dengan impulsif menyerang ke badan robot. Marah menguasainya, sehingga beberapa kabel terputus dari badan robot. “Kau sudah membuatku malu. Maxime yang berada pada peringkat bawah saja bisa menghindar darimu. Mengapa aku tidak?” Kemarahannya menggebu-gebu. Gerakannya semakin cepat, hingga beberapa kabel lagi putus oleh pedangnya. Setelah itu, listrik keluar dari badan robot. Pergerakan robot itu juga menjadi setelah beberapa kabel terputus. Menjadi semakin garang dan mengeluarkan listrik dari sekujur tubuhnya. Mahavir hampir saja terkena sengatan listrik kalau Maxime tidak dengan cepat menolongnya. Sementara itu, Nori Merekon masih berperang di bawah badan robot. Yang dapat mereka lihat hanya semburan-semburan listrik. Tak tahu apakah Nori Merekon masih bertahan di dalam sana. “Aku tak bisa melihat Nori,” ujar Allura. “Kita harus membantunya. Tidak bisa menunggu lagi.” Mata Maxime sudah berapi-api. Melirik pada kedua Gamer di sebelahnya. Lantas maju ke depan dan menyelipkan dirinya di sela-sela listrik yang keluar dari pertarungan Nori Merekon. Tak disangka Nori Merekon bertahan dan terus menyerang. Kegigihan gadis itu membuat Maxime cukup terkesima. “Apa yang kau lakukan? Cepat bantu aku!” pekik Nori Merekon. Keringat sudah membasuh wajahnya. Akan tetapi, dia tak lelah untuk terus menyerang. “Kau menemukan kelemahan?” tanya Maxime sembari menghindari serangan listrik yang keluar. “Entah. Yang jelas kita harus putuskan kabel-kabel ini,” jawab Nori. Dengan demikian, Maxime ikut membantai kabel-kabel tersebut. Robot akan menjadi rusak kalau sistem yang terpasang dihancurkan. Setelah semua kabel berhasil mereka putuskan, Maxime menemukan sebuah pintu di perut robot itu. Dibukanya pintu tersebut yang memperlihatkan sebuah ruangan. Lantas ia masuk ke dalam sana. Namun, di bawah sana tiba-tiba angin semakin kencang, sehingga Nori Merekon hampir terbawa arus angin. Nori Merekon berpegangan pada sebuah kabel dengan satu tangan. Iris matanya jatuh pada wajah Maxime. Bibirnya berkedut ingin berkata, tetapi tidak bisa karena angin begitu kencang. Maxime mengulurkan tangan sembari berpegang pada badan robot, “Cepat raih tanganku.” Satu tangan Nori memegang pedang dan yang satunya lagi berpegangan pada kabel. Sempat ragu, tetapi Nori memberikan pedangnya lebih dulu. Diraih oleh Maxime lalu dilemparkan ke dalam. “Cepat raih tanganku,” kata Maxime lagi. Tangan Nori sudah lelah, sehingga tenaganya melemah. Mencoba meraih tangan Maxime berkali-kali. “Tanganku sakit.” “Kau harus bertahan. Sebentar lagi kita bisa kalahkan robot ini. Apa kau tidak mau balas dendam?” Mendengar kata balas dendam membuat darah Nori Merekon mendidih. Kobaran api dapat terlihat di matanya. Dengan susah payah meraih tangan Maxime, hingga kedua tangan itu saling berpegangan. “Bagus.” Maxime tersenyum. Lantas mengangkat Nori Merekon dalam tekanan angin kencang. Entah bagaimana keadaan dua Gamer lainnya. Dengan sekuat tenaga menarik badan Nori sampai masuk ke dalam badan robot. Maxime menutup pintu tersebut. Namun hal itu membuat Nori mengerutkan kening. “Kenapa kau menutup pintunya?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. Maxime terkekeh. “Kau mau angin itu masuk dan mengacau?” Setelah dipikir-pikir Maxime benar juga. Nori Merekon masih tetap menatap jengkel pada Maxime. Meskipun sudah diselamatkan oleh pria itu. “Kita pasti bisa menemukan sesuatu di sini.” Mata Maxime menyorot ke ruangan yang mana mereka berada saat ini. Tidak ada siapa-siapa yang mengendalikan robot. Tentu karena sang pengendali ada di balik layar. Kaki Maxime melangkah sembari melihat-lihat badan robot. “Siapa yang merancang benda ini?” gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD