15. Shock

1079 Words
Meskipun dikendalikan oleh seorang Gamer. Akan tetapi, di dalam badan robot terdapat sebuah kendali. Maxime berjalan ke arah kendali. Di sebuah layar memperlihatkan Allura dan Mahavir di luar sana. Mereka masih menghadapi lengan robot dan tampaknya ingin masuk menyusul Maxime. “Kau menemukan sesuatu?” Nori Merekon seperti seorang pengawas bertanya pada Maxime. “Mungkin kita bisa mematikan mesinnya.” Maxime mencoba menekan satu tombol yang tidak ada nama. Namun, terjadi guncangan kuat yang mengakibatkan mereka kehilangan keseimbangan. Berpegangan pada apa pun yang dapat mereka raih. Layar di depannya naik-turun. Tampaknya terjadi masalah pada robot ubur-ubur. Kemungkinan diakibatkan oleh serangan dia Gamer itu. “Apa yang terjadi?” Maxime menggelengkan kepala. “Berpegangan yang erat.” Pintanya. Maxime tak membuang-buang waktu. Menancapkan pedang ke lantai, lalu tangan kanannya di letakkan di atas kendali. Maxime tak tombol mana yang harus ia tekan agar mesin robot itu mati. Tidak ada tulisan yang dirancang pada tombol-tombol tersebut. Apakah menggunakan kombinasi atau hanya satu tombol saja. Keringat dingin muncul pada dahinya. Sementara guncangan semakin kencang. Nori Merekon tak dapat bertahan lagi, sehingga badannya terbentur dinding. Begitu seterusnya karena tak mampu menyeimbangkan diri dengan keadaan. “Nori!” “Ah! Bantu aku!” teriaknya. “Bertahanlah. Aku akan matikan mesin robot ini.” Nori Merekon tak dapat menyahut. Sibuk dengan keadaan tersebut. Tangannya berusaha dengan keras mencapai sesuatu agar dapat berpegangan dan tak terombang-ambing lagi. Benar-benar mengesalkan bagi Nori. Ingin sekali ia memaki orang yang ada di belakang semua ini. Sementara itu, Maxime menekan tombol mana pun yang dapat ia raih. Tak terjadi apa pun, sedangkan robot itu membuat guncangan semakin kuat. Tangan Maxime yang berpegangan pada gagang pedang pun tak dapat bertahan melawan guncangan. Terlihat di layar kalau robot itu tengah naik ke atas. Tak dapat berbuat apa pun, Maxime akhirnya mengikuti jejak Nori yang terombang-ambing barusan. “Sial!” maki Maxime. “Rupanya kau bisa memaki juga, Max?” Dalam keadaan begitu Nori masih bisa bercanda. Tampaknya makian Maxime terdengar lucu bagi gadis itu. “Apa? Max?” badan Maxime terbentur tiang selesai bertanya. “Ow!” Beberapa saat Nori tak menjawab lantaran sedang berusaha meraih sebuah tiang. Tak dapat jemarinya meraih tiang, padahal sedikit lagi ia dapat meraihnya. Sayang sekali karena punggung Nori membentur mesin kendali. Dalam sudut matanya terdapat percikan air, yang tak lain adalah air mata. Maxime melihat hal tersebut dan tak mengatakan apa pun. Diam melihat Nori Merekon. Meskipun licik, tetapi Nori Merekon juga seorang manusia yang memiliki obsesi untuk menang. Apa lagi di saat sekarang ini, mempertaruhkan hidup dan sesungguhnya. Mana ada dari mereka yang ingin mati otak. Akan tetapi, Maxime juga tidak dapat membiarkan Nori melakukan kelicikannya pada Gamer lain lagi. “Kau baik-baik saja?” Maxime bertanya iba setelah dapat berpegangan pada sebuah tiang penyangga. Netra Nori melirik Maxime. Namun, tak menjawab pertanyaan pria itu. Robot ubur-ubur berhenti mengeluarkan guncangan setelah memorak-porandakan ruangan tersebut. Tak tahu apa yang kedua Gamer itu lakukan, sehingga guncangan demi guncangan seperti membuat tubuh mereka dihantam sebuah palu. “Sudah berhenti?” Maxime mengerutkan kening. Cepat-cepat berlari ke arah mesin pengendali. Pertama-tama ia membantu Nori; berdiri. “Kau terluka?” Nori menampik tangan Maxime. “Jangan sok peduli,” ketusnya. “Tampaknya robot ini sudah selesai membuat masalah.” “Kita harus cepat-cepat mematikannya.” Sebelum tangan Maxime menyentuh sebuah tombol, di layar terlihat Allura yang menodongkan senjatanya. “Cepat keluarkan Maxime dan Nori,” kata Allura. Sebuah tembakan dilayangkan oleh Allura, sedangkan Mahavir juga ikut menyerang. Di dalam badan robot, Maxime dan Nori saling pandang. Tampaknya mengerti apa yang akan terjadi setelah ini. “Ah!” Kembali terjadi guncangan. Namun kali ini mereka tak membiarkan guncangan tersebut mengambil alih. Tetap berpegang pada pedang masing-masing. Guncangan tersebut diakibatkan oleh robot yang saling menyerang dengan kedua Gamer di luar. “Apa kita bisa melakukan sesuatu agar mereka berhenti menyerang?” Nori bertanya tak sabar. Kesal terhadap dua Gamer itu. Memang maksud kedua orang itu baik, dan karena ketidaktahuan mereka akan yang terjadi di dalam badan robot. Mereka terus menyerang. Namun apa yang terjadi? Robot ubur-ubur belum dapat mereka kalahkan. “Akan aku coba.” Maxime meraih sebuah microphone lalu mengetesnya. “Allura, Mahavir apa kalian bisa mendengarku?” Sedikit demi sedikit guncangan berhenti. Di luar sana Allura seperti mendengar suara Maxime. “Mahavir, apa kau tadi mendengar suara Maxime datang dari robot itu?” “Mahavir, ini aku, Maxime. Kalian berhenti menyerang dan menjauh dari robot. Kalau bisa jangan sampai dia menemukan kalian.” Mahavir dan Allura mengerutkan dahi. Belum mengerti maksud Maxime. “Kalian mendengarku, tidak?” “Iya. Kami mendengarmu,” jawab Allura. “Jadi apa maksudmu tadi?” “Allura dengarkan aku. Sekarang aku dan Nori berada di dalam badan robot. Kalian berhenti menyerang. Dengan begitu aku bisa memikirkan cara guna mematikan robot ini,” terang Maxime. “Kau yakin?” Mahavir masih merasa waswas. “Aku yakin. Kalian bersembunyi agar tak dilihat.” “Baiklah, kami mengerti, Maxime. Lakukan dengan baik. Aku dan Allura akan pergi sekarang.” Mahavir membawa Allura menjauh dari robot. Namun tak seperti yang mereka bayangkan. Robot ubur-ubur mengejar Allura dan Mahavir, sehingga di dalam perut robot terjadi guncangan lagi. Salah satu lengan robot berhasil menyandera Allura. Mahavir berhenti berlari. Tak ada pilihan, ia pun bertarung dengan robot ubur-ubur demi menyelamatkan Allura. “Maafkan aku, Maxime. Kalian di dalam sana ... bertahanlah sampai aku ... menyelamatkan Allura.” Pertempuran lagi-lagi terjadi. Mau tak mau Nori dan Maxime harus menahan guncangan tersebut. “Mahavir berhenti menyerang. Kau pergilah agar Maxime bisa—” Allura tak dapat melakukan perkataannya lantaran tiba-tiba lengan robot menjatuhkan gadis itu. Matanya terbelalak sempurna; melayang di udara, “Aku akan mati jika mendarat nanti.” Tak terjadi apa pun pada Allura karena Mahavir dengan gesit menangkap gadis itu. “Kau baik-baik saja? Kalau, iya, ayo kita pergi sekarang.” Belum dapat mengembalikan kesadarannya, tetapi Mahavir sudah membawanya pergi. Semoga kali ini, mereka dapat menghindar dari robot itu agar Maxime berhasil mematikan mesinnya. Robot itu masih tetap mengejar mereka. Tak ada pilihan selain melakukan serangan dadakan berkali-kali. Mahavir menambah kecepatannya, tetapi tidak mudah karena menghabiskan banyak tenaga. Di depan mereka adalah lahan kosong. Ke mana harus pergi agar dapat bersembunyi? Mahavir hanya berlari lurus ke depan tanpa tahu apa yang menghadang mereka di depan sana. Ternyata mereka tak dapat menemukan tempat bersembunyi. Jurang menanti mereka di depan sana. “Mengapa tiba-tiba ada jurang?” Allura sangat kaget ketika melihat jurang di depan, belum lagi di belakang mereka ada robot yang mengejar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD