16. Nausea

1077 Words
“Ow!” Maxime merasa mual setelah robot itu berhenti. Akhirnya ia muntah setelah membelakangi Nori Merekon. Nori yang melihat hal itu, hanya bisa mengerutkan kening seraya merasa agak jijik. Akan tetapi, tidak lama kemudian, ia pun ikut muntah. Bahkan ia muntah di depan Maxime. Tidak ada pandangan jijik dalam mata Maxime. Ia melihat hal itu sebagai kewajaran saja. Guncangan dalam perut robot lebih buruk daripada gempa bumi ataupun naik Roller coaster. “Jangan lihat aku! Balikkan badanmu.” Nori Merekon merasa malu. Harusnya ia menertawakan Maxime saat ini, tetapi malah dia sendiri yang ikut mempermalukan diri. Karma memang datang di waktu yang tepat. “Tampaknya mereka sudah menemukan tempat aman,” ujar Maxime. Lantas melihat ke layar yang ternyata membuat matanya terbuka sempurna. Bahkan lupa kalau ia masih mual. “Ada apa? Air mukamu berubah tiba-tiba.” Nori Merekon bertanya seraya melirik Maxime. “Mereka dalam bahaya.” Cepat-cepat Nori Merekon juga mengintip layar. Gadis itu tak sekaget Maxime. Malah memutar bola mata. “Mereka tidak bisa diandalkan,” kesalnya. Maxime melihat Nori dengan ketidaksenangan. “Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kita semua satu tim. Dan ... aku belum memaafkan perbuatanmu pada Arzan.” Benar. Maxime masih belum dapat memaafkan gadis itu. Namun, agar tidak ada lagi Gamer yang mengalami game over. Maka dari itu, Maxime memilih untuk melindungi Nori Merekon. Nori mengepalkan tangan. Merasa marah karena Maxime mengungkit hal itu. Ia hanya ingin bertahan dalam game. Menghalalkan beberapa cara tak masalah baginya. Mengapa pria di depannya ini harus marah? “Bisa tidak, kau tidak mengungkit itu lagi? Lebih baik kau pikirkan cara untuk menyelamatkan mereka,” ketus Nori. Maxime memutar bola mata, kesal. Mengapa ia harus terjebak dengan gadis ketus ini? Jika ia biarkan saja gadis itu jatuh, maka tidak akan melihat muka masam dan nada ketus itu. “Tentu aku akan menyelamatkan mereka. Tidak seperti seseorang yang egois,” sindir Maxime langsung di depan muka Nori Merekon. Maxime menghiraukan Nori, lalu buru-buru menekan tombol-tombol di depannya. Lagi pula dia tidak punya cara untuk mematikan mesin robot, lebih baik tekan semua dan bila perlu rusak saja. “Kau tidak punya cara, kan?” tebak Nori. Tangan Maxime berhenti bergerak. Tebakan Nori benar. Maxime tak berani melihat ke arah gadis itu. Hanya menatap Allura dan Mahavir di layar. Mereka pasti sedang mengharapkan dirinya supaya segera menyelamatkan mereka. “Pasti ada cara.” “Sepertinya tombol-tombol itu tidak berguna. Mungkin hanya sebuah pajangan saja. Kau tahu bukan si pengendali? Mana mungkin sebodoh itu membiarkan kita mengalahkannya?” Nori Merekon menghela napas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, “mungkin hanya kita yang akan maju sampai akhir.” “Kau terlalu percaya diri.” *** “Dia tak bergerak? Mengapa?” Allura bertanya-tanya karena sedari tadi robot itu—yang mengejar mereka tak bergerak setelah membawa mereka ke tepi jurang. Mahavir juga memiliki pertanyaan yang sama. Apakah mungkin karena Maxime? Akan tetapi, sedari tadi Maxime tak berkata apa-apa lagi. “Kita tetap harus waspada, Allura.” Allura mengangguk. Gadis itu mundur satu langkah, dan yang terjadi setelahnya; robot ubur-ubur maju. Akan tetapi, berhenti lagi. Kedua orang itu tak bisa membuat, tapi mengerutkan kening. “Dia tidak menyerang, tapi bergerak jika kita juga bergerak,” gumam Mahavir. “Dan menyerang jika kita menyerang,” Allura menimpali. Lantas keduanya saling tatap. Jika memang benar begitu, mereka lebih baik duduk saja. Mendarat dengan lembut di atas tanah, Allura dan Mahavir duduk dengan percaya diri seraya tetap menjaga kewaspadaan mereka. Sang robot juga ikut mendaratkan badannya. Mengapa bisa seperti itu? Robot itu mengikuti gerakan kedua Gamer setelah pertarungan dengan empat Gamer. Sementara itu, di dalam perut robot. Lagi-lagi mereka mendapatkan guncangan dan kali ini Maxime langsung muntah di hadapan Nori Merekon. “Maxime Alisher!” Maxime mengabaikan Nori, lalu berbicara pada Mahavir dan Allura, “Mengapa robot ini tiba-tiba berhenti? Kalian baik-baik saja, kan?” “Maxime, kami baik-baik saja. Akan tetapi, ada yang aneh dengan robot ini. Dia mengikuti gerakan kami,” kata Mahavir. “Peniru gerakan? Bagus, kita bisa mengulur waktu dan mematikan mesin. Kalian duduk saja dengan tenang.” “Kenapa tak membawa mereka masuk?” tanya Nori. “Mana mungkin mereka bisa masuk? Kau tidak dengar kalau robot ini meniru gerakan mereka?” *** Di tempat lain yakni, di dunia nyata. Si pengendali robot menghantam meja beberapa kali. Resah dan kesal akibat robotnya tak dapat di kendalikan lagi. “Apa yang salah?! Apa yang salah?!” Dua kata itu yang diucapnya sejak tadi. Matanya sudah memerah, mungkin saja menahan kemarahannya. Ia beralih ke komputer satunya. Tetap menarikan tangannya di atas papan ketik. Gerombolan kode-kode yang hanya dapat ia mengerti berbaris rapi pada layar hitam. Jemarinya begitu cekatan, sehingga tak perlu melihat atas papan ketik. Detik kemudian terdengar suara plak! Suara tersebut muncul karena pria itu lagi-lagi menghantam meja. “Tidak bisa begini!” Dilihatnya pada komputer di sebelah, game over muncul pada layar tersebut. Menandakan kalau ia telah kalah. Artinya Maxime dapat mematikan mesin robot itu. Bukan hanya tulisan itu saja yang muncul, tetapi ada beberapa kata lagi yang muncul. “Karyamu cukup mengagumkan. Akan tetapi, aku akan menghancurkannya dengan tanganku. Aku tunggu kau di gerbang keenam.” Rentetan kata itu seperti sebuah ancaman. Dengan percaya diri Maxime mengetik kalimat itu. “Hahaha! Hahahahahaha!” Pria itu tergelak begitu kencang. Bukannya dia harus marah? “Apakah ini yang dinamakan menarik? Baik. Kutunggu kau di babak terakhir. Itu pun jika kau berhasil sampai di sana, Maxime Alisher.” *** “Hmph! Setelah membuat kami menunggu begitu lama, akhirnya kau menyelesaikan misi juga.” Nori Merekon langsung turun dari perut robot ubur-ubur setelah berkata demikian kepada Maxime Alisher. “Dasar gadis aneh,” gumam Maxime. Ia juga turun dari sana. Menyunggingkan seringai tipis ke arah layar sebelum benar-benar turun. “Kau hebat, Maxime. Ceritakan padaku bagaimana kau melakukannya?” Allura tersenyum senang melihat Maxime keluar. Tak kuasa ia langsung bertanya. “Aku menemukan keyboard dan memprogram ulang robot itu,” jawab Maxime. “Kuakui kau memang lumayan, Max.” “Max?! Siapa yang mengizinkanmu memanggilku begitu? Kita tidak seakrab itu, Nori,” balas Maxime. Semua orang terdiam karena ucapan Maxime seperti sebuah penolakan. Nori juga menjadi sedikit canggung. Padahal ia tidak bermaksud seperti itu, mengapa terdengar seperti Nori tengah menyatakan cinta pada Maxime? “Kau ... kau ini!” “Apa aku salah bicara?” Mahavir menepuk bahu Mahavir, membawanya pergi dari dua gadis itu. “Entah. Aku juga tidak mengerti di mana kesalahan ucapanmu. Tapi terdengar sedikit ganjil saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD