“Hahaha! Apa kalian suka hadiahnya?” tanya sang sistem yang telah kembali.
Semua orang memutar bola mata malas. Hadiah? Itukah yang dia sebut dengan hadiah? Dengan menghabiskan energi yang mereka persiapkan untuk gerbang ke-empat?
“Bisakah kau tidak berbasa-basi lagi?” Maxime bertanya ketus. Menatap kesal pada sistem berbentuk layar itu.
“...” sang sistem terdiam untuk sesaat sebelum kembali melanjutkan, “Terserah padaku. Mau memperlambat atau mempercepat game ini. Masuklah dan level empat akan segera dimulai.”
“Jangan hiraukan dia. Kita masuk saja. Dan akhiri dengan cepat,” ujar Maxime dengan percaya diri. Meskipun belum tahu apa yang menanti mereka di gerbang ke-empat itu.
Pintu terbuka memperlihatkan hari yang cerah. Langit tanpa awan membiarkan langit biru tanpa penghalang. Meskipun demikian, terik matahari terasa menyengat kulit.
“Aku bisa merasakan panasnya.” Allura menoleh ke atas langit, tetapi cepat-cepat menunduk karena silau oleh sinar matahari.
“Host, kami sudah kembali,” ujar Any.
“Any, senang kau kembali dengan selamat.”
“Bos sistem ini menonaktifkan sistem kami. Jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Tidak mengapa asal kalian kembali.”
“Baik, aku akan menjelaskan pada kalian. Kalian lihat di depan sana ada empat mobil balap yang sudah dipersiapkan untuk kalian.”
“Balapan?” tanya Maxime menduga-duga.
“Terdengar mudah, bukan? Kalian pasti sudah sering bermain balap. Jadi tidak akan terlalu susah untuk kalian. Kurasa level empat memang dipersiapkan untuk mempermudah kalian,” terang Any.
“Kita tidak bisa percaya pada sistem. Dalam game ini mestinya ada beberapa jebakan yang menunggu.”
***
“Para host apakah kalian sudah siap? Kalian hanya perlu berkendara dan melewati garis finis.” Ana kali ini menjelaskan pada mereka.
Mahavir yang sangat ragu-ragu sejak tadi, tak mendekati mobil balapnya. Ia yakin sistem tak akan mempersiapkan game yang sudah itu bagi mereka. Hanya melewati garis finis tanpa halangan? Tidak mungkin! Omong kosong! Mustahil!
“Mahavir, apa yang kau pikirkan?” Maxime menghampiri pria itu. Terlihat di wajahnya keraguan begitu jelas.
Mahavir tak menjawab pertanyaan Maxime, netranya mengamati Ana, lalu ia bertanya pada sistem itu, “Apa syaratnya?”
Semua orang menoleh pada Mahavir. Syarat apa yang mungkin pria itu maksudkan?
“Sayangnya memang ada syarat,” jawab Ana dengan menyisakan misteri dalam ucapannya.
“Syarat? Kupikir kita hanya akan melewati garis finis dan setelah itu menuju gerbang lima.” Nori Merekon mengerutkan kening.
“Ya. Level ini tidak seperti level sebelumnya. Kali ini akan ada satu orang yang tereliminasi. Salah satu dari kalian tidak bisa melanjutkan lagi. Gamer terakhir akan langsung tereliminasi,” tegas Ana.
Ekspresi keempat orang itu berubah seketika. Tidak akan ada kerja sama seperti sebelumnya. Mereka harus bersaing supaya mendapatkan tiket menuju gerbang lima.
Siapa pun yang tereliminasi dari mereka, pasti akan menimbulkan kerugian. Maju ke babak selanjutnya hanya beranggotakan tiga orang dan masih tersisa dua level. Apa lagi di level terakhir mereka harus menghadapi ratu dari sistem. Seseorang pasti sudah menyiapkannya dengan mantap.
“Ada lagi yang ingin kau katakan pada kami, sistem? Katakanlah sekarang.” Nori Merekon menuntut sembari melirik tiga Gamer lainnya. Dia sudah melakukan perbuatan buruk sebelumnya. Berpikir kalau mereka bertiga pasti akan bersatu dan menyingkirkannya.
“Tidak ada lagi. Kalian bisa mulai ketika hitungan mundur diaktifkan.”
Wajah mereka berubah khawatir melihat jam besar. Waktu mereka tidak banyak untuk dapat menyelesaikan misi. Sesingkat mungkin mereka harus sampai di garis finis.
***
Kemudian wajah mereka berubah tegang setelah naik ke mobil balap. Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menaiki mobil tersebut dan bersaing.
Nori Merekon adalah orang yang paling gugup di antara mereka. Ia melirik yang lainnya, “Kalian bertiga mau menyingkirkan aku?” tanyanya dengan gamblang.
Ketiga orang itu serentak menoleh pada Nori. Tatapan mata mereka heran. Allura menggeleng tidak percaya. Tidak ada dalam benaknya ingin menyingkirkan siapa pun.
“Kita bermain sportif, Nori. Kau terlalu banyak memikirkan hal buruk. Siapa pun yang kalah harus dapat menerima.”
“Kuharap kalian berkata yang sebenarnya.” Lantas Nori Merekon memandang ke depan.
Kemudi dicengkeramnya erat. Bagaimana pun juga, ia harus bisa melewati mereka bertiga jika tidak ingin dieliminasi. Namun, setiap orang memiliki kelemahan. Semahir apa pun Nori Merekon dalam bermain game. Akan tetapi, ia pasti memiliki kelemahan.
Maxime memusatkan pikirannya. Tak mau diganggu oleh rengekan apa pun. Biasanya Nori Merekon yang paling banyak bicara di antara mereka berempat.
Mereka semua sudah ada di garis start. Garis start telah menyala lalu menghilang, tanda kalau gerbang keempat sudah dapat dimulai.
Nori Merekon memimpin di depan. Merasa lega karena telah dapat mendahului ketiga Gamer. Sekarang ia dapat menurunkan penjagaannya. Meskipun begitu, harus mengatur kecepatannya agar tak dilampaui oleh yang lain.
Siapa pun yang mencoba untuk menyalipnya, Nori akan menghalangi mereka. Sudah biasa dalam game tersebut untuk saling menghalangi lawan. Mereka bersaing bukan bekerja sama.
Allura berada di posisi terakhir setelah Maxime. Sementara Mahavir, berada sangat dekat dengan mobil Nori. Ya, mereka sedang berani kejar-kejaran. Namun tak bisa melewati Nori Merekon. Gadis itu memiliki banyak akal untuk menghalangi Mahavir.
Hanya dalam 30 detik mereka sudah berkendara belasan kilometer. Tidak ada tanda-tanda garis finis terlihat. Haruskah mereka melewati puluhan atau ratusan kilometer sebelum menemukan garis finis?
Setelah puluhan kilometer, Maxime dapat menyalip Mahavir. Nori merasakan bahaya mengincar dirinya setelah Maxime berhasil melewati Mahavir.
“Aku tidak akan membiarkanmu melewatiku, Max.”
Maxime terkekeh. “Kita lihat saja.”
Melajukan mobil dengan lebih cepat, juga membuat Nori Merekon melajukan mobilnya dengan lebih cepat. Gadis ini paling takut dikalahkan oleh yang lainnya. Dia memiliki ambisi dan obsesi yang kuat. Daya bertahan hidupnya memang patut ditiru. Namun, sayangnya dia menghalalkan cara yang tak baik.
Maxime melihat adanya sela di sebelah kiri, lalu membawa mobilnya ke kiri. Tentu Nori Merekon tak membiarkan hal itu begitu saja. Dia memutar setir ke kiri dan menghalangi Maxime Alisher.
Maxime tertawa dan bukannya sedih tak dapat melewati Nori. “Kau lucu sekali, Nori.”
“Aku bisa mendengarmu, tahu?”
“Ya. Aku tahu. Haha!”
“Mengapa kau tertawa?”
“Kau sangat takut kalah. Bagiku itu lucu,” jawab Maxime.
“Hmph! Memangnya kau mau kalah dan mati otak?”
“Tidak mau. Lalu apa kau yakin dapat mengalahkan ratu sistem?”
Nori Merekon tak menjawab pertanyaan Maxime. Bukan berarti kepercayaan dirinya hilang. Akan tetapi, membuang waktu saja berbicara dengan Maxime.
“Jangan lupa bahwa kami juga mendengar percakapan kalian,” ujar Mahavir di belakang.
“...” Maxime tak mengerti maksud Mahavir. Apakah ada yang aneh dengan percakapan mereka?
“Diam. Kau hanya membuang-buang waktu,” gerutu Nori.