Happy Reading
---
Bermula saat pertemuan yang tidak disengaja Daania saat melihat Rey tengah berciuman dengan gadis yang menurutnya lebih tua dari pria itu.
Pagi ini seorang gadis dengan jilbab putih ylang melekat di kepalanya tampak sedang menunggu bus yang akan dinaikinya untuk pergi ke sekolah. Tidak hanya dirinya, tetapi ada beberapa orang yang tampak ikut menunggu bus tersebut datang.
Kendaraan pagi ini cukup ramai. Hari pembukaan pertama dilakukan semua orang dengan berbagai kegiatan dan aktivitas.
Saat menunggu, dari arah kejauhan Daania melihat sosok cowok dengan seragam sekolah yang sedang berhenti di tepi jalan, Daania memicingkan matanya dan melihat cowok itu bermesraan sambil sesekali mengecup pipi gadis seksi yang berada di sampingnya.
“Astagfirullah,” ia mengucap sambil membuang muka karena melihat pemandangan yang sangat menjijikkan baginya. Daania terus mengulang ucapannya dalam hati.
Tanpa disadari, cowok itu melihat pergerakan Daania yang tiba-tiba saja memalingkan wajahnya seperti tidak suka dengan perbuatannya disini.
Masih ada aja yang sok suci. Batin cowok tersebut sambil menatap sinis Daania yang berada di seberang jalan.
Tin tin
Suara klakson bus itu terdengar nyaring dan berhenti tepat di depannya. Dengan cepat Daania menaiki bus tersebut dan duduk di bagian kursi penumpang yang masih kosong. Ia harus menunggu beberapa menit hingga bus terisi penuh dengan penumpang.
“Heh! Punya mata nggak lo?!” teriak gadis dengan pakaian seksi tersebut saat melihat baju nya yang sudah basah.
“Jelas-jelas disini lo yang salah main tabrak gue aja! Pake nyalahin gue lagi!”
“Dasar cewek cupu! Gue nggak mau tahu ganti baju mahal gue ini karna udah lo tumpahin sama minuman itu!” teriak gadis itu.
Saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di dalam bus itu. Tidak ada satu pun dari mereka mengalah. Terlihat kedua gadis tersebut tidak ada satu pun yang mengalah.
“Maksud lo, baju kurang bahan gini? Idih, ogah banget gue!”
“Lo iri? Atau lo nggak mampu beli baju sebagus dan semahal ini?” Tanya gadis itu dengan dan nada bicara yang sangat sombong.
Daania yang sejak tadi membuka buku pelajarannya menjadi tidak fokus saat mendengar keributan dari belakang bus tersebut. Ia menoleh melihat keributan yang tengah terjadi di kursi penumpang belakang.
Daania melihat kedua gadis yang saat ini tengah beradu mulut tanpa henti. Ia dapat melihat jelas gadis dengan pakaian yang serba kurang itu.
Kaya pernah lihat cewek itu.
Ia memicingkan matanya dan berpikir sejenak lalu teringat pada gadis yang tengah berciuman di tepi jalan saat ia menunggu bus di halte tadi.
“Gue nggak mau tau! Pokoknya lo harus ganti baju gue delapan ratus ribu!” Gadis bertubuh seksi itu terus berteriak tidak tahu malu walaupun sudah menjadi pusat perhatian didalam bus saat ini.
“Hah?! Kenapa harus gue yang ganti baju lo?! Salah lo yang jalan seenaknya aja. Jangan mentang-mentang penampilan lo seperti orang kaya jad-"
“Permisi, maaf kak. Jangan buat keributan disini.” Daania memotong ucapan mereka.
“Siapa lo ngatur-ngatur, gue?!” Gadis bertubuh seksi tersebut menatap sinis ke arah Daania. Ia melayangkan tatapan tidak suka dan merendahkan kepada Daania.
“Aku memang bukan siapa-siapa, tapi tolong hargai penumpang yang lain kak. Kakak bukannya cewek yang tadi lagi jalan sama pacar nya, ya?” Gadis itu tampak memandangi Daania suka dari atas hingga bawah.
Kemudian dia berteriak kepada sopir bus tersebut untuk berhenti. Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun gadis itu pergi meninggalkan Daania dan gadis yang satunya.
"Thanks. Udah bantuin gue dari nenek sihir itu. Lo murid SMA Kartika?” Gadis tersebut menebak karena saat ini baju seragam yang Daania pakai sama persis seperti dirinya.
Daania mengangguk singkat, “Aku nggak bantuin kamu, nggak perlu bilang makasih. Lagian nggak bagus buat keributan di tempat umum seperti ini.” Jawab Dania sambil tersenyum.
“iya, gue cuma kesel banget sama tante-tante tadi. Gue Sonya.” Gadis itu menjabat tangan nya pada Daania, dengan senang hati Daania menerima nya.
“Daania.”
“Duduk di situ, yuk?” ujar Sonya sambil menunjuk bangku yang kosong bagian belakang. Daania mengangguk lalu ikut menyandarkan tubuh nya pada bangku tersebut dan kembali membuka buku pelajarannya. Kebetulan pagi ini Daania ada ulangan yang sudah di beritahukan oleh gurunya.
“Lo kan murid satu sekolah sama gue, tapi gue kok nggak pernah liat lo di sekolah?” Sonya tampak heran pada gadis di sebelah nya, beberapa siswi di Kartika jarang sekali yang berhijab seperti Daania.
Daania memang tak banyak di kenal oleh murid sekolahnya, karena Daania adalah gadis yang sangat tertutup. Dia juga tidak mempunyai teman akrab ataupun sahabat di sekolah. Seluruh teman sekelasnya juga sangat jarang berbicara dengannya karena melihat sifat Daania yang sangat pendiam dan tertutup itu.
“Aku jarang keluar kelas,” ucap Daania singkat membuat Sonya mengangguk mengerti.
“Lo kelas berapa? Kalau gue XII IPA 3.”
“Aku IPA 2.”
“Wah, deketan dong. Nanti istirahat ke kantin bareng gue ya?”
Daania menoleh, sedikit terkejut dengan ajakan Sonya, "Tap-"
“Gue nggak terima penolakan,” potong Sonya dengan cepat. Daania pun lebih memilih menganggukkan kepala nya. Tak ada salahnya jika dirinya sedikit terbuka dengan orang-orang yang ingin berteman dengan nya.
---
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit lama nya menggunakan bus, Daania dan Sonya sampai di halte bus yang tidak jauh dari sekolahnya. Mereka harus berjalan lagi sekitar lima menit untuk sampai ke sekolah.
Keduanya tampak berbincang-bincang dan disini Sonya lah yang lebih banyak bicara, sedangkan Daania hanya mendengarkan ocehan dari gadis yang di sebelah nya ini.
Tak sadar mereka melewati sebuah warung kecil yang terletak di pinggir jalan. Disana terlihat banyak siswa-siswa berseragam SMA yang tengah berkumpul di warung tersebut.
Bermacam aktivitas mereka lakukan. Ada yang merokok, ada yang sedang berbincang dengan sesekali tertawa, ada yang diam saja menatap teman-temannya berbicara, dan satu objek yang sangat mencolok bagi Daania adalah dia kembali melihat cowok yang ditemui oleh nya di halte tadi.
Cowok itu terlihat sedang duduk dan sesekali tersenyum manis di sebelah dengan gadis yang bergelayut manja di sampingnya. Dan yang membuat Daania terkejut, gadis yang di sebelahnya berbeda dengan gadis yang dilihatnya di halte tadi.
Daania sontak menarik tangan Sonya yang tengah sibuk bercerita. Entah apa yang di ceritakan Sonya, yang pasti Daania tak mendengarkannya karena sejak tadi ia hanya fokus melihat pria itu.
“Loh, kenapa Daan?” tanya Sonya bingung saat melihat Daania berjalan begitu cepat sambil menariknya.
“Disini nggak aman.” jawabnya dengan cepat lalu terus menarik tangan Sonya agar sampai di sekolah.
“Oh, karena lo ngeliat murid-murid yang ada warung itu ya?” Daania menghentikan langkah nya, melepas cekalan tangannya dan menatap Sonya penuh selidik.
“Kamu tahu mereka siapa?”
Sonya mengangguk sambil melipat kedua tangannya, “Ya tau lah, siapa sih yang nggak kenal sama mereka semua. Mereka itu most wanted nya SMA kita.”
"Emang semalem-semalem lo nggak lewat sini pergi sekolah?"
Daania mengangguk, "lewat sini, tapi aku baru sekali ini naik bus karena motor aku lagi diperbaiki di bengkel."
"Lo serius nggak kenal sama anak-anak di warung itu?" Sonya memastikan lagi. Ia tidak percaya masih ada yang tidak mengenali Rey dan teman-temannya.
“Aku nggak kenal,” jawabnya cepat.
“Heran gue, hampir tiga tahun lo sekolah di Kartika tapi sama sekali nggak kenal sama mereka,” Daania hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan kembali berjalan.
“Mereka itu udah di kenal sama sekolah kita. Lagian cowok-cowok nya ganteng semua.” Sonya melirik Daania yang sejak tadi menendang-nendang kerikil kecil dengan kakinya.
“Nih ya, gue kenali satu-satu siapa aja yang ada disana, tapi kayanya nggak perlu, satu aja yang inti dari mereka. Lo liat nggak cowok yang di sebelahnya cewek tadi?” Tanya Sonya, Daania tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.
“Dia Rey, ketua dari mereka semuanya. Bukan ketua sih, cuma sifatnya lebih dominan dan mencolok jadi anak sekolah kita nganggap kalo dia itu ketua. Rey itu orang nya playboy banget. Dia suka gonta-ganti cewek setiap hari. Malah nih ya, cewek yang di dekati sama dia itu bukan cewek sekolahan aja. Banyak mahasiswa yang dekati dia. Malah ada yang mau di jadiin cewek simpanan nya,” ujar Sonya panjang lebar dengan sangat semangat.
Mata Daania memang sejak tadi hanya terfokus sama cowok itu. Dari gaya penampilan dan cara dia memperlakukan wanita yang sama sekali tidak terpuji itu membuat Daania merasa sedikit takut jika suatu saat nanti Daania mengenal, berdekatan, bahkan menjalin hubungan dengannya.
Jujur saja, Daania memang terpesona dengan paras cowok itu. Siapa yang tidak suka melihatnya. Rahang tegas, hidung mancung, mata tajam, alis tebal, dan lesung pipi yang sangat manis, nyaris sempurna. Mungkin bisa dikatakan sempurna.
Dengan cepat Daania menggelengkan kepalanya.
Ah, kenapa dia harus berpikiran jauh seperti ini?
Bahkan Daania sama sekali tidak mengenal lelaki itu.
“Udah, nggak boleh ghibahin orang. Istighfar.” ucap Daania, padahal dalam pikirannya saat ini di penuhi dengan cowok itu.
“Lah, bukannya lo tadi yang nanyain mereka, makanya gue jawab.” ujar gadis itu sambil mengerucutkan mulutnya. Daania hanya terkekeh melihat Sonya seperti itu. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan nya hingga menuju sekolah.
---
Lima menit lamanya mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di depan gerbang SMA Kartika. Keduanya berjalan di koridor dengan murid-murid yang tengah duduk di sepanjang koridor kelas masing-masing.
“Jangan lupa jam istirahat ke kantin bareng gue.” saat ini Daania sudah lebih dulu sampai di depan kelasnya.
Daania menganggukkan kepalanya. “Iya.” jawab Daania dengan senyum tipis.
“Oke, bye.” Sonya meninggalkan Daania dan melambaikan tangannya, Daania hanya tersenyum melihatnya.
Saat hendak memasuki kelas, tiba-tiba saja ada suara berat memanggil namanya yang membuat tubuhnya menegang.
“Daania,”
---