CHAPTER 2

1272 Words
️ Happy Reading --- “Daania” Gadis yang di panggil namanya tersebut pun perlahan menoleh ke belakang, menatap wajah seseorang itu dengan tatapan datar. “Ada apa?” tanya Daania tanpa ingin berbasa-basi. Terlihat lawannya seperti gugup lantaran tatapan Daania seperti tidak suka padanya, “Aku mau ngajak kamu nanti istirahat makan di kantin, mau nggak?” tanya seseorang itu pada Daania. “Maaf, aku nggak bisa." "Sekali ini, tolong kasih kesempatan aku buat perbaiki semuanya." "Aku udah ada janji sama teman aku buat makan bareng dia nanti.” jawab Daania dengan cepat. Ia tak ingin berlama-lama menatap sosok ini. “Kamu masih belum percaya sama aku? Aku bisa jelasin kenapa dulu ak-" "Kamu masih bisa ya? Sok nggak ngerti situasi dan pura-pura nggak ingat kalau kita udah lama punya masalah." "Masih bisa bersikap kalau kita nggak ada apa-apa?" Cowok tersebut bergeming saat mendengar ucapan yang cukup membuat hatinya sakit. “Nggak ada yang perlu di jelasin lagi, Rio. Semuanya juga udah jelas. Lagian selama ini aku salah, ternyata aku udah sangat berdosa menjalin hubungan dengan kamu yang udah jelas hal itu sangat di benci.” terdengar suara Daania seperti bergetar menahan tangis. Ya, dia adalah Rio. Kekasih Daania saat ia menginjakkan kakinya di kelas sepuluh. Awalnya Daania sangat menyayangi Rio, begitu pun sebaliknya. Namun semakin lama hubungan mereka semakin tidak karuan. Rio lebih banyak menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Daania mempunyai sahabat sebelum akhirnya dia hanya menjadi murid tertutup dan tidak mempunyai circle pertemanan. Daania memergoki Rio dan Lisa tengah berduaan dan bermesraan tanpa sepengetahuan Daania. Mulai hari itu, hidup Daania berubah. Dikhianati oleh orang kepercayaan dalam hidupnya terasa sangat menyakitkan. Dan inilah Daania, gadis bertubuh mungil dengan hidung kecil yang mancung dan kulit putih yang sekarang sudah merubah penampilannya menjadi lebih tertutup. Daania melakukan hal ini bukan karena setelah dirinya dikhianati oleh Rio dan Lisa. Dia sadar, mungkin memang sudah saat nya ia menutup auratnya untuk tidak menimbulkan hal-hal yang menarik perhatian lelaki mana pun. Daania dulu adalah sosok gadis yang ceria, termasuk di dalam keluarganya gadis itu adalah gadis yang sering kali membuat orang di sekitarnya tertawa. Berbeda hal saat dirinya di sekolah, ia akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pendiam tanpa teman satu pun. Walaupun bagi banyak orang hal ini termasuk hal yang berlebihan, namun tidak dengan Daania. Ia sangat trauma dan susah untuk membuka diri lagi untuk orang mana pun. Kring Beruntunglah bel masuk berbunyi, dia bisa mempunyai alasan untuk tidak berlama-lama berdiri di dekat Rio saat ini. Perasaan dulu yang sangat besar untuk Rio, saat ini sudah tidak ada. Bahkan saat melihat Rio rasanya sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada jantung yang berdetak dengan cepat, tidak ada lagi darah yang berdesir saat menatap wajah Rio. Rasanya saat ini sudah biasa saja, bahkan menatap wajahnya saja Daania merasa sangat malas. “Maaf, aku harus masuk.” tanpa mendengar jawaban Rio, Daania pun berlalu dan masuk ke dalam kelas. Sedangkan Rio masih berdiri mematung menatap wanita yang dulu dicintainya perlahan menghilang dengan langkah kaki Daania yang semakin menjauh. Rio menghembuskan nafas lelah. Mungkin ini terakhir kali nya ia menemui Daania. Gadis itu sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya. Dengan langkah gontai, ia pun pergi dan melangkahkan kakinya meninggalkan kelas Daania. Tak selang berapa lama seorang guru pun masuk untuk menyampaikan materi pelajaran yang akan di pelajari oleh Daania dan teman-teman sekelasnya. --- Bel istirahat pun berbunyi, Daania segera membereskan buku-buku pelajarannya dan segera menemui Sonya. “Daan!” seru gadis itu dari pintu kelasnya, Daania tersenyum simpul melihat Sonya yang berjalan sambil sedikit berlompatan ketika memanggil dirinya. Dengan cepat ia pun menyusul Sonya. “Buruan yuk, nanti nggak dapet meja lagi,” ujar Sonya yang mendapat anggukan dari Daania. Selama di perjalanan menuju kantin, banyak sekali pasang mata yang menatap Daania. Tak heran jika mereka seperti itu, karena dari mereka jarang sekali bertemu dengan gadis ini. Ya, balik lagi Daania adalah gadis yang sangat tertutup. Posisi kantin saat ini tengah ramai, Daania mencari meja kosong untuk mereka saat mengisi perut. “Daan, gue pesen makan dulu, ya? Lo mau apa?” “Aku bakso aja deh.” “Minumnya? Jus?” Daania menggeleng, “Aku air mineral aja.” Sonya mengangguk lalu meninggalkan Daania dan segera memesan makanan. Daania mengeluarkan ponsel yang ada di saku rok nya untuk menghilangkan rasa jenuh sambil menunggu Sonya. Daania melihat seisi kantin padat sekali dan pasti dia akan menunggu Sonya sedikit lama. Namun tak selang beberapa lama, Daania pun merasa terganggu karena menangkap suara-suara yang sangat berisik sekali. Gadis itu menghela nafasnya panjang, mendongak dan menatap isi kantin yang berteriak heboh. Ia melihat dua murid yang sedang beradu jotos satu sama lain di pojokan kantin tersebut. Daania memperhatikan dalam diam, tak lama Daania membulatkan matanya saat mengetahui siapa pria yang sedang berkelahi itu. Dia, Rey. Siswa yang sangat di dambakan dan dipuja bak dewa oleh seluruh siswi SMA Kartika. Banyak yang memuja bahkan menginginkan Rey menjadi pacar mereka. “b*****t! Lo tau dia cewek gue, tapi ngapain lo deket sama dia?!” ucap pria itu pada Rey, terlihat di sana cowok dengan name tag Ragil itu sedang menahan amarah yang sangat besar. Urat-urat di leher nya sangat jelas sekali dengan muka yang sudah memerah. Sedangkan lawannya hanya menatap santai, melipat kedua tangannya di dadanya. “Terus? Bukan gue yang ngerebut cewek lo, tapi memang dasarnya cewek lo murahan. Dia yang deketin gue, dia yang kegatelan sama gue.” “Oh iya, dia bilang, dia bakalan putusin lo kalo gue mau terima dia jadi cowoknya,” ujar Rey dengan wajah yang sangat santai, satu tangan nya di masukkan ke dalam saku celana. Menatap lawan bicaranya dengan nada sombong. “Anj-" saat cowok itu hendak memukul Rey, Daania datang menghampiri keduanya dengan cepat lalu berdiri di tengah-tengah kedua pria tersebut. Kerutan di dahi Ragil muncul saat Daania yang muncul secara tiba-tiba dan menghalanginya untuk menghabisi Rey. “Minggir lo! Gue nggak ada urusan sama lo! Nggak usah sok peduli! Gue nggak kenal sama cewek kaya lo!” Desis Rey pada Daania. Daania tidak bergerak sama sekali, masih tetap di posisi sama. “minggir! Biarin dia habisi muka gue!” “Kalau mau berantem nanti aja pulang sekolah, jangan membuat keributan disini,” jawab Daania dan melengos pergi dari keributan tersebut. Namun belum satu langkah, tiba-tiba Rey mencekal kuat tangan Daania dan membawa gadis itu pergi ke belakang sekolah. Seluruh pandangan mata seisi kantin menatap tidak suka Daania yang di anggap caper pada Rey. Setelah sampai di belakang sekolah yang cukup sepi, Rey mengunci pergerakan Daania di tembok kelas yang terletak di taman sekolah. “Kenapa sok jadi jagoan, hm?” tanya Rey pada gadis yang saat ini di hadapan nya. “Ak-aku nggak suka ad-“ “Ssttt, nggak usah banyak bacot!” potong Rey semakin mendekatkan wajahnya pada Daania. “K-kamu mau apain aku?” Daania sangat ketakutan saat ini, posisi keduanya sekarang bisa di bilang sangat dekat sekali. “Istighfar, jangan nodai aku dengan tangan kotor kamu itu. Aku janji aku nggak akan lagi campuri urusan kamu.” Rey tersenyum miring, “kalo sempat gue liat lo ngurusin hidup gue lagi, siap-siap untuk gue unboxing, lo tau gue siapa kan?” Daania mengangguk kaku, gadis tersebut sama sekali tidak ingin menatap wajah Rey yang terlihat menyeramkan. Ia mengenal Rey. Dia tau semua kelakuan Rey dari cerita yang Sonya sampaikan padanya. Berulang kali Daania melafazkan doa agar segera di jauhkan dengan manusia yang sangat berbahaya ini. “Bagus!” ujar Rey lalu dirinya pergi begitu saja meninggalkan Daania yang mematung di tempatnya. Satu tangan gadis itu terlihat memegang d**a yang terasa berdetak lebih cepat tidak seperti biasanya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD