CHAPTER 3

1454 Words
Wajib follow sebelum baca 😡🔪 Follow Ig _rindiiani wp.rindiaaaani Rey.naldiagra Daaniafrzn . . . Happy Reading Malam pun tiba, saat ini Daania sedang makan bersama keluarganya. Daania menatap makanan yang ada di depannya dengan berbinar. Bagaimana tidak, saat ini mama nya memasak makanan kesukaannya. Ayam goreng balado, dan tumis bayam yang di taburi dengan bawang goreng. Perut Daania semakin memberontak ingin diisi oleh makanan tersebut. "Bang, kamu kapan sih selesai skripsi nya?" tanya Daania yang duduk di sebelah Abangnya tersebut sambil menatap wajah pria yang mirip dengannya. "Santai aja sih, ngapain buru-buru banget," jawabnya seraya menoyor pelan kepala adik nya. "Ya biar abang cepat nikah, bisa kasih aku ponakan yang lucu-lucu," ucap gadis itu dengan semangat. Ia membayangkan bagaimana nanti abangnya menikah lalu mempunyai anak dan dirinya dipanggil dengan sebutan aunty. "Sudah-sudah, buruan makan." ucap Desi—mama Daania. Mereka pun mengambil makanan pada piring masing-masing. Semuanya berbincang-bincang dan saling nercerita agar tidak terasa kosong di jam makan malam ini. Namun suara berat memanggil nama gadis itu. "Daania," Lelaki paruh baya tersebut berdehem dan menatap anak perempuan satu-satunya. Gadis yang di panggil itu pun menatap papanya dengan tatapan bertanya. Tumben sekali Hari memanggil namanya. Biasanya, kalau ingin menyampaikan sesuatu pasti langsung berbicara inti nya tanpa harus memanggil seperti ini terlebih dahulu. "Berapa usiamu, Nak?" pertanyaan Hari semakin membuat Daania bingung dan bertanya-tanya. "Tujuh belas tahun, Pa." jawab Daania. Entah lah, berbagai pertanyaan saat ini sudah muncul di otaknya. Perasaan tidak enak mulai menyelimuti hatinya. "Begini..." tampak pria itu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya dan menatap Desi untuk memintai persetujuan. Daania menoleh ke arah mama nya, terlihat Desi mengangguk pelan kepada Hari. Mata Daania dan Hari bertemu, "Papa ingin kamu dengan anak sahabat papa," Kening gadis itu berkerut, tanda tak mengerti dengan omongan yang di sampaikan oleh Hari. "Maksud papa?" "Papa ingin kamu menikah dengan anak sahabat papa, secepatnya." Duar! Bagai di sambar petir, Daania merasakan jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Tubuhnya terasa lemas, kedua bahunya luruh mendengarkan perkataan yang baru saja di sampaikan oleh papanya. Rasa lapar yang ada di perut nya tiba-tiba saja hilang entah kemana. "Kenapa?” tanyanya dengan nada lirih dan mata berkaca-kaca menatap mama, papa serta abangnya bergantian. “Ini sudah jalan yang terbaik untuk kamu kedepannya.” "Jalan terbaik gimana? Daania belum lulus sekolah! Nia juga masih pengen kuliah, Pa. Darimana baiknya coba?" tanya Daania sambil terkekeh mendengar lelucon malam ini. “Kenapa harus Daania, Pa? Masa depan Daania masih panjang, Daania masih mau merasakan hidup seperti remaja lainnya. Kenapa nggak Abang aja? Kenapa harus Daania?!" tanya gadis itu dengan suara keras yang bergetar, ia sedang menahan tangis mati-matian saat ini. "Anak sahabat papa itu cowok Daania, nggak mungkin papa jodohkan dia dengan Abang kamu. Papa sama mama kamu semakin lama semakin tua, kami takut kalau nanti kami pergi, siapa yang akan urusin kamu." "Abang bisa ngurusin aku. Iyakan, bang?" Daania bertanya pada Abangnya untuk mencari alasan agar tidak di jodohkan. Sedangkan Raka bingung tidak tahu ingin menjawab apa. Jujur saja, ia merasa kasihan kepada adik bungsunya tersebut. "Abang kamu juga punya urusan sendiri Daania, sekali ini saja. Tolong turuti kemauan papa!" ucap lelaki paruh baya itu dengan tegas. "Daania nggak bisa putuskan sekarang, kasih Daania waktu buat memik-" "Besok! Papa tunggu jawaban kamu besok, Daania! Dan papa nggak terima penolakan." potong Hari yang tak ingin kemauannya terbantahkan. "Jangan kecewain kami." ucapan terakhir Daania membuat gadis itu merasa sakit hati. Ia semakin yakin kalau selama ini ia hanya menyusahkan papa dan mamanya. Sedangkan Desi—mama Daania, sejak tadi hanya bungkam. Ia tau persis perasaan puteri nya saat ini seperti apa. Desi ingin membela Daania, tapi Desi sadar keputusan yang di ambil oleh suaminya memang sudah yang terbaik untuk Daania. Daania segera menyelesaikan makannya lalu dengan cepat pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Ia merasa ruangan itu sangat mencekam. Makanan yang sejak tadi ditelannya terasa seperti menelan batu. Pundaknya terasa sangat berat. Saat ini ia hanya ingin menyendiri dan menangis malam ini. --- Daania berjalan ke arah balkon kamar nya, ia berdiri dan menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Matanya terpejam saat merasakan dengan tenang angin malam yang menerpa wajah mulusnya serta kerudung yang dipakainya pun ikut tertiup oleh angin. Rasanya sangat cepat sekali jika di usianya harus menikah. Apakah nanti setelah menikah ia akan berhenti sekolah? Bagaimana dengan nasib dia setelah menikah dengan lelaki itu? Daania sampai saat ini belum mengetahui bahkan tidak tau seperti apa lelaki yang akan di jodohkan papanya untuk dirinya. Ada banyak hal yang belum di lewatinya. Namun sekeras apa pun alasan Daania, semua itu tak menjadi penghalang untuk Daania menolak perjodohan yang sudah di berikan oleh orang tuanya. Daania terkekeh serta air matanya ikut berjatuhan. Selama ini dia belum bisa memberikan apa pun untuk papa dan mamanya. Kepintaran standar yang ia miliki juga belum bisa membuat orang tua nya senang. Mungkin dengan menerima perjodohan yang menurut nya sangat konyol itu, membuat keduanya menjadi senang dan beban hidup mereka sedikit berkurang. Setelah merenung hampir setengah jam, Daania pun masuk ke dalam kamar karena hawa dingin yang terasa semakin menusuk ke dalam kulit putih mulusnya. Tak lupa ia langsung berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat yang belum ia kerjakan. --- Sedangkan tempat berbeda, seorang lelaki baru saja memasuki rumah besar dengan langkah santai tanpa memperdulikan pria paruh baya yang menatap tajam sejak tadi. Ia terus saja menghisap rokok yang ada di tangannya. "Rey." Lelaki yang di panggil tersebut tak menjawab, hanya menghentikan langkah kakinya. "Papa mau bicara serius dengan kamu,” sambung pria itu. "Nggak ada yang perlu di omongin," jawabnya dengan nada dingin. "Buang rokok itu, Rey! Sudah berapa kali papa bilang, berhentilah menggunakan barang yang bisa membuat kesehatanmu buruk, kenapa kamu ini susah sekali diatur?!" Pria paruh baya tersebut sudah tersulut emosi. "Dari kecil gue memang nggak pernah di ajarin hal apa pun.” Ia menghisap rokoknya lebih dalam lagi. "Kurang ajar sekali kamu jadi anak!" Jaya—papa Rey mengeraskan suaranya. "Jangan salahkan gue kalau gue kurang ajar, karna dari awal memang gue nggak pernah dapat didikan yang layak dari orang tua gue.” Rey menjeda ucapan nya. “Oh bukan, tapi bokap gue. Karena semenjak nyokap gue pergi, dia sama sekali nggak pernah perhatiin gue lagi. Dia cuma sibuk kerja, kerja, kerja. Mungkin bagi dia, pekerjaan lebih penting daripada darah dagingnya sendiri." jawab Rey panjang lebar sambil menatap lurus ke depan. Jaya terdiam mendengar anaknya yang berbicara seperti orang berputus asa. Memang semenjak kematian Mamanya, Rey menjadi cowok berandalan, hidupnya tak tentu arah, bahkan putera semata wayangnya itu suka sekali keluyuran malam bersama perempuan. "Papa ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat papa. Papa yakin, dia orang yang bisa merubah jalan hidup kamu yang buruk ini." Sontak perkataan Jaya membuat Rey sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. "Papa harap kamu bisa mendidiknya besok jika dia menjadi istrimu. Berubah lah, papa akan memberikanmu pekerjaan di perusahaan Papa. Dengan begitu kamu bisa menafkahi istri kamu nanti. Papa tau mungkin kamu terkejut sama keputusan ini. Tapi papa yakin, dia bisa membuat kamu berubah. Dia gadis yang baik, papa nggak mau kamu menyia-nyiakannya.” Rey hanya diam. Lidah nya terasa kelu ingin membantah ucapan Jaya. "Gue nggak mau nikah!" jawabnya dengan tiba-tiba dan menatap papa nya dengan tajam. "Zaman sekarang masih ada perjodohan? Nggak! Gue punya pilihan sendiri!" sambungnya lagi. "Siapa pilihan kamu? Cewek-cewek murahan yang setiap hari kamu bawa kesini tanpa sepengetahuan papa? Cewek nggak jelas kaya gitu?!" Jaya kembali emosi. "Kamu harus mau, Rey! Papa sudah membuat perjanjian itu sejak dulu dengan sahabat papa!" ucapnya lagi tanpa ingin mendengar jawaban dari Rey. "Perjanjian konyol!" sinis Rey pada papa nya. "Kamu harus terima! Kalau tidak, jangan salahkan jika papa akan mencabut semua fasilitas yang selama ini papa kasih ke kamu.” Rey menatap pria itu dengan lekat. Rahangnya terlihat keras, matanya memerah, ia mengepalkan tangan sangat kuat hingga memperlihatkan urat-urat yang terlihat jelas dari lengannya. "Terserah lo!" ucapnya lalu pergi menuju kamarnya dan membanting pintu secara keras hingga menimbulkan suara yang sangat menggema di rumah besar itu. Sedangkan Jaya, hanya menghembuskan nafas lelah dan mengusap kasar wajahnya melihat anaknya seperti itu. Lalu ia mengambil sebuah foto yang berada di sebelahnya. "Maafkan aku, aku masih belum bisa mendidik anak kita dengan baik. Semenjak kamu pergi, Rey menjadi anak yang sangat tidak tau aturan." Tak terasa air matanya jatuh di ujung mata yang sudah mulai keriput itu. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Jaya, menjadi pria yang sangat suka dengan pekerjaan bahkan ia menghabiskan waktunya di kantor. Bukan karena dia tak ingin mengurus Rey, ia masih belum terima dengan kematian istrinya yang terbilang mendadak. Sampai ia tidak tahu, jika hal yang di lakukan nya sangat berdampak buruk oleh anaknya seperti saat ini. --- Thankyouuu😍😍
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD