CHAPTER 4

1141 Words
Happy Reading 🔞🔞 Jam menunjukkan pukul dua malam. Sudah saatnya seluruh orang beristirahat, namun itu tidak berlaku untuk Rey. Ya, dia saat ini sedang berada disebuah tempat hiburan yang terkenal di Jakarta bersama dengan kedua sahabat kembarnya. Setelah beradu mulut dengan Jaya yang membuat emosi nya terkuras, Rey lebih memilih untuk pergi mencari hiburan yang biasa dilakukannya. Bahkan, hal ini sudah menjadi kebiasaan Rey seperti makanan sehari-hari baginya. "Rey, kenapa berhenti?" tanya wanita itu pada Rey yang tiba-tiba saja menghentikan pergerakannya. "Nggak enak," jawabnya lalu dengan cepat ia mengambil baju yang ada di bawah lantai kamar itu. "Lo apaan sih, Rey?! Tadi lo ngajakin gue, udah gue temenin lo malah kaya gini." wanita itu tampak kesal pada Rey. Ia sangat menikmati permainan Rey. Rey sangat pintar mencari titik terlemahnya dengan cara mencium wanita tersebut di beberapa bagian yang sangat sensitif. Namun dengan seenak hatinya cowok di depannya ini menghentikan semua nya secara tiba-tiba. Rey membuka dompet tebalnya, lalu mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah, dan langsung memberikannya kepada gadis itu. "Nih, buat lo jajan. Lain kali, kalo mau tidur sama gue mandi dulu." ucap Rey. "Gue nggak suka cewek bau." bisik Rey tepat di telinga wanita itu lalu pergi begitu saja. "Perasaan gue nggak bau," ucap wanita itu sambil mengendus-endus badannya sendiri. Lalu ia menatap punggung Rey yang semakin menjauh dan menghilang. "Rey b******k," ucapnya setelah menyadari bahwa Rey hanya ingin bermain-main dengannya. --- "Lah, udah selesai Rey? Cepet banget." tanya Ethan yang melihat Rey baru keluar dari kamar yang sempat ia pesankan tadi. "Males," jawabnya singkat. "Tumben, biasanya lo paling nggak bisa ngelewatin hal kaya gini," Tuk! "Sakit woi! Apaan sih lo masih mukul-mukul kepala gue?!" Ethan melihat Nathan dengan tatapan tidak suka. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja kembaran nya itu memukul kepalanya dengan sangat keras. Untungnya saat ini hanya menggunakan tangan kosong, biasanya jika emosi seperti ini Nathan tidak segan-segan melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya kepada Ethan. "Nggak waras! Harusnya lo seneng kalo Rey udah berubah, bego!" Diantara ketiganya, hanya Nathan lah yang waras. Jujur saja, Nathan tidak suka berada disini. Namun karna kembaran nya terus saja memaksa dan memandang Rey adalah sahabatnya, terpaksa dia harus mengikutinya. Waktu Nathan yang berharga hanya terbuang sia-sia untuk kedua cowok ini. Harusnya jam segini ia bisa tidur dengan pulas tanpa memperdulikan keduanya. "Terus ngapain lo ikut?" tanya Ethan tak suka dengan wajah menantang. "Lo yang maksa gue setan!" Nathan sejak tadi menahan emosinya yang hampir meledak akibat kembarannya ini. "Yaudah lo pulang aja sono!" usir Ethan sambil mengibaskan tangannya menyuruh kembarannya seperti batu dan dingin seperti kulkas tujuh pintu tersebut. "Lo-" ucapan geram Nathan terpotong saat mendengar hembusan nafas dari Rey, pria itu seperti mempunyai masalah yang di pendam nya. "Kenapa?" tanya Nathan yang selalu mengerti sama keadaan sekitarnya. Ia dapat melihat raut wajah Rey seperti orang kebingungan. Rey meminta minuman wine tersebut kepada barista yang ada di hadapannya saat ini. "Tiga botol," "Stres! Mau mati?!" Nathan memberikan kode kepada barista tersebut untuk menyuruhnya memberikan satu botol wine. "Gue bingung.." kedua kembaran itu menatap satu sama lain, tidak seperti biasanya Rey begini. Ethan mengangkat bahunya tanda tidak tahu saat melihat Nathan yang menatap dengan tatapan bertanya. "Bokap jodohin gue sama anak sahabatnya." jawab Rey tenang dengan sorot mata yang kosong kedepan sambil meneguk wine tersebut. "Terus, lo terima?" "Ya gue harus terima, kalo nggak bokap gue akan mencabut semua fasilitas yang gue punya." "Emang lo tau sama siapa lo dijodohin?" Saat ini Nathan yang membuka suaranya. Rey menggeleng, "gue nggak tau," "Menurut gue, coba lo terima dulu. Kan kalian nggak mungkin langsung nikah. Pasti bakalan ketemu dulu, ya udah lo bisa menilai tuh cewek gimana." Rey maupun Nathan menatap Ethan dengan tatapan bingung. Pasalnya, cowok satu ini tidak pernah bisa diajak untuk berbicara serius. Tapi kali ini berbeda, ia tampak sedikit lebih dewasa dari biasanya. "Nggak bisa gue. Kalo udah nikah, hidup gue pasti terkekang banget. Gimana nasib cewek-cewek gue?" Ethan mengangkat kedua bahunya, " kalo lo jawabnya gitu, gue nggak bisa lagi ngasih saran. Tapi yang terbaik sama lo, ada di tangan dan keputusan lo juga. Pikirin baik-baik dulu." Ethan menepuk-nepuk bahu Rey. "Gue cabut," Rey mengambil kunci mobilnya lalu pergi begitu saja. "Lah, gila tu bocah main pergi-pergi gitu aja," ucap Ethan dengan nada kesal. --- Ceklek Pintu kamar Daania terbuka, terlihat wanita yang sangat cantik persis seperti dirinya tengah tersenyum dan berjalan mendekatinya. Ya, itu adalah Desi. "Kenapa belum tidur?" tanyanya dengan nada lembut kepada anaknya. "Belum ngantuk, Ma. Daania juga baru siap sholat tahajud." Daania menatap wajah mama nya yang sudah mulai memperlihatkan kerutan-kerutan di wajahnya. Desi duduk di tepi ranjang sambil mengusap puncak kepala Daania. Mendapat perlakuan dari Desi seperti itu membuat Daania dengan cepat memeluk tubuh mamanya dengan erat. Daania menangis sejadi-jadinya, tubuhnya bergetar. Gadis itu menyalurkan rasa sedihnya. "Ma, Nia belum mau nikah. Nia belum siap buat semuanya. Nia belum punya bekal apa-apa buat jadi istri orang." "Daania masih mau sekolah, Daania masih mau kuliah, Ma." Ucapan Daania terlihat sangat rapuh sekali membuat Desi tak tahan dan ikut menumpahkan air matanya. "Daania.." Desi mengurai pelukannya, menangkup wajah Daania dengan kedua tangannya. "Dengerin Mama, Nak." Ia menatap kedua mata Daania dengan lekat. "Mama tau gimana perasaan kamu sekarang. Dulu, papa sama Mama juga di jodohin. Awalnya kami sama sekali nggak punya perasaan satu sama lain. Tapi seiring berjalan nya waktu, rasa itu mulai tumbuh dan datang dengan sendirinya." Cerita Desi membuat Daania merasa sedikit tenang dari tadi. "Jadi intinya, kita nggak tahu apa yang terjadi kedepannya sama kita. Kita cukup jalanin yang harusnya kita jalani." "Apa calon suami Daania nanti orang yang baik?" tanyanya ragu. Dalam hati Desi, ia sangat senang Daania bertanya seperti itu. "Papa sama Mama nggak akan menjatuhkan anaknya sendiri kedalam lubang yang dalam dan orang yang salah, Nak." Desi mengelus punggung Daania yang tertutupi mukena dengan lembut. "Apa dia bisa bertanggung jawab setelah menikahi ku, Ma?" "Tentu, dia akan bertanggung jawab setelah menikah sama kamu." "Setelah menikah dengannya, Daania nggak boleh kesini lagi, Ma?" Dirinya menatap seisi kamarnya, berat sekali rasanya harus meninggalkan rumah ini. Meninggalkan Papa, Mama, dan Abang nya lalu tinggal dengan orang asing yang baru hadir di hidupnya nanti. "Tentu boleh, dan kamar ini akan tetap menjadi milik kamu. Tapi, sudah kewajiban kamu kalau menikah nanti mengikuti kemana pun suami mu pergi." "Ma..." Daania menggantungkan ucapannya. "Ada apa?" "Seperti apa calon suami Daania, Ma?" Desi hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya itu. "Besok malam kita akan bertemu dengannya." Tentu saja ucapan Desi membuat Daania membulatkan matanya. "Nikahnya besok?" Daania membulatkan matanya. Desi terkekeh, ternyata puteri nya ini sangat polos sekali. "Tidak, hanya pertemuan dan berkenalan dulu." Daania mengangguk pelan. Tidak ada salahnya Daania sedikit memberikan kesempatan untuk berkenalan dengan calon suaminya. Sedangkan sejak tadi di balik pintu kamar Daania, Hari sejak tadi mendengar obrolan istrinya dan anaknya itu. "Maaf kan papa, Daania. Papa tau ini yang terbaik buat kamu," ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD