Happy Reading
---
"Tidak ada salahnya jika sekali-sekali kita mengorbankan diri sendiri demi kebahagian orang lain."
Daania Farzana.
.
.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Daania tidak kembali tidur. Gadis itu sibuk belajar dan sesekali membuka sosial medianya. Daania tidak memfollow akun-akun yang berhubungan dengan gosip-gosip di tanah air, gadis itu hanya memfollow akun yang berisikan tentang kajian-kajian Islam dan beberapa akun sosmed keluarga serta saudara-saudara nya.
Daania melirik jam yang ada di dinding kamarnya, saat ini jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, gadis itu bangkit dari meja belajar nya lalu mengambil handuk dan melakukan ritual mandinya.
Kurang lebih lima belas menit lamanya ia mandi, Daania keluar dengan badan dan wajah yang sudah segar. Ia menatap penampilan nya di depan kaca sambil memakai hijab segiempat di kepalanya.
"Susah banget sih ngaturnya!" gadis itu berulang kali berdecak, sejak tadi jilbab yang ia kenakan susah sekali di atur.
"Ganti aja deh," buru-buru ia mengambil jilbab nya yang terletak di dalam lemari. Setelah membuka lemari tersebut, tampak jelas banyak sekali jilbab di dalam nya. Ia memilih salah satu jilbab yang akan dia kenakan dan segera memakainya.
"Nah, gini kan bagus." ujarnya tersenyum setelah puas dengan tampilannya, gadis itu pun keluar dan segera menemui keluarganya untuk sarapan bersama.
"Pagi semua!" ujarnya riang pada Papa, Mama, dan Raka. Mereka semua tersenyum menanggapi ucapan Daania.
"Kenapa lama sekali?" tanya Desi sambil meletakkan nasi goreng ke piring sarapan Daania.
"Ada kendala sedikit, Ma." Gadis itu tersenyum sambil menunjukkan sederetan gigi rapinya dan duduk di sebelah Abang nya, Raka.
"Ya udah dimakan. Motor kamu sudah bisa gunakan. Tadi pagi-pagi sekali orang bengkel dateng kesini ngantarnya. Jadi, hari ini nggak perlu lagi naik bus."
Memang sudah beberapa hari ini Daania naik bus ke sekolah lantaran motor matic kesayangan nya sedang rusak.
"Oke, Ma." jawab gadis itu sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Namun tiba-tiba saja dia teringat dengan Sonya. Bagaimana jika nanti Sonya menunggunya di halte?
Daania semalam juga lupa meminta nomor ponsel gadis itu. Ia berencana akan menjemput gadis itu di halte terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.
"Dania," Hari membuka suara, membuat jantung Daania berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Ia tahu, Papa nya pasti berbicara tentang soal perjodohan semalam.
"Nanti sepulang sekolah, kita akan bertemu dengan calon suami kamu. Mereka akan datang untuk makan malam disini. Setelah pulang, jangan kemana-mana lagi."
Daania menghembuskan nafas lelah, ia masih belum yakin menerima lelaki itu. Daania hanya mengangguk singkat, lalu meminum air yang berada disebelahnya dengan cepat.
"Aku berangkat dulu," Ia bangkit dan menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.
"Dek, lo nggak papa, kan?" tanya Raka menatap adiknya khawatir. Ia sangat tahu betul dengan perasaan Daania sekarang.
"Nggak papa, Bang. aku berangkat dulu."
Daania pun menyalakan motor kesayangannya, lalu memakai helm bogo di kepalanya. Ia mengecek motornya yang sudah terlihat lebih baik dan bersih.
"Bismillah," Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan tak lupa menjemput Sonya terlebih dahulu.
---
Tin
Daania mengklakson motor nya saat melihat Sonya yang terlihat seperti tengah menunggu bus di tepi halte itu.
"Daania?"
"Lo bawa motor? Emang bisa?" tanya Sonya seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Daania memutar bola matanya jengah, "Kalo nggak bisa, aku nggak bakalan nyampe sini, Nya."
"Iya sih,"Sonya menyengir sambil menggaruk tengkuknya lantaran malu pada dirinya sendiri sudah bertanya hal bodoh seperti itu.
"Ini motor lo?" Tanya nya lagi.
"Iya. Yuk, naik." tawar Daania.
"Eh, serius nih?"
Daania kembali memutarkan bola matanya, "kaya sama siapa aja sih!"
"Buruan, ntar telat."
Tanpa ingin menunggu lama, Sonya segera naik di belakang Daania.
Di tengah perjalanan, Daania teringat kembali dengan ucapan papanya tadi sampai gadis itu tidak menyadari bahwa di depan nya ada pedagang yang menyebrangi jalan.
"DAAN!" teriakan Sonya menyadarkan lamunan Daania, dan mengerem motor nya dengan tiba-tiba.
"Astaghfirullah," Daania mengelus dadanya berulang kali.
"Lo ada masalah? Sampe nggak fokus bawa motornya." Sonya sangat khawatir pada Daania, seperti nya gadis itu menyembunyikan sesuatu.
"Nggak, aku cuma ngelamun dikit aja tadi."
"Dikit apanya?! Lo tadi hampir nabrak gerobak bapak itu. Untung lo cepet sadar. Udah biar gue aja yang bawa," dengan cepat Sonya merubah tempat duduk nya.
"Maaf, Nya."
"It's okay, cepat naik." Daania pun menurut, lalu kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanan nya.
---
"Lo punya hutang sama gue!" Daania mengerutkan keningnya, tak mengerti ucapan Sonya. Saat ini mereka sudah berada di halaman parkir sekolah.
"Hutang apa? Perasaan aku nggak minjam uang kamu," Sonya menghembuskan nafas jengah sambil memutar bola matanya. Bagaimana gadis di depan nya yang baru di kenal semalam bisa sepolos ini.
"Hutang cerita ke gue, ngapa lo sampe melamun kaya tadi."
"Tap-"
"Gue masuk kelas dulu, bye."
b
elum sempat menjawab Sonya berlari meninggalkan gadis itu, dan melemparkan kunci motor Daania begitu saja, dengan cepat Daania menangkapnya.
Daania hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia pun berjalan menuju kelasnya.
---
"HAH?! LO SERIUS?!"
Daania menoleh dan melihat satu persatu penjuru kantin, saat ini semua mata menatap kedua gadis itu.
Lagi. Tanpa sengaja mata Daania bertemu dengan mata elang yang berada di sudut kantin. Mata tajam itu menatap Daania dengan tatapan mematikan seolah kehadiran Daania dan Sonya sangat mengganggu nya.
Dengan cepat Daania memutuskan kontak matanya dengan Rey. Siapa lagi yang mempunyai tatapan tajam menghunus seperti itu selain Rey.
"Nya," cicit Daania pada gadis itu.
"Apa?! Lo serius sama omongan lo kan, Daan?"
"Tolong pelanin suara kamu, bisa nggak? Kamu nggak liat sekarang kita jadi pusat perhatian anak-anak kantin?" Daania melirik seluruh penjuru kantin dengan sedikit takut. Sonya lantas menoleh dan melihat semua pasang mata yang menatap dia dengan berbagai tatapan.
Sonya hanya menyengir, "kenapa lo nggak bilang dari tadi, sih?!"
"Kamu yang nggak paham sama keadaan, lagian kenapa harus teriak-teriak?"
"Masalahnya gue nggak habis pikir sama keluarga lo. Kenapa dia dengan gampangnya jodohin lo sama cowok itu? Sedangkan lo sama sekali nggak tau cowok yang bakalan jadi suami lo itu kaya gimana." Sonya menyeruput mie yang ada di depannya saat ini sambil terus berpikir.
"Itu yang buat aku bingung, nanti Papa sama Mama akan ngundang mereka makan malam dirumah."
"Bagus itu! Jadi lo bisa tau gimana suami yang akan nikahin lo nanti. Siapa tau, suami lo itu kaya raya, CEO di salah satu perusahaan yang kaya ada di w*****d-w*****d gitu."
Hah? Gimana? Daania merasa heran pada gadis ini.
Jelas-jelas Sonya tadi sangat menentang dengan perjodohan ini. Namun sekarang? Dengan cepat gadis itu berkata seolah-seolah sangat menyetujui nya keputusan orang tuanya.
Sangat labil.
"Aku nggak tau harus jawab apa nanti sama mereka. Hati aku masih belum bisa nerima perjodohan ini. Tapi, dengan cara ini aku bisa bahagiain Papa sama Mama." ujar Daania dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil mengaduk-aduk makanannya. Mungkin dengan sekali kedip saja, air mata yang tergenang di bola mata gadis itu akan jatuh.
"Udah, gue percaya lo pasti kuat jalani ini semua. Gue pasti doain yang terbaik untuk lo,"
"Makasih, Nya."
"Ck. Nggak ada ucapan terimakasih, maaf dalam persahabatan. Lo masih belum bisa terima gue sahabat lo karna kita baru semalem kenal?! Lo masih nggak percaya sama gue kalau gue emang beneran tu-"
"Nya, aku pusing. Please, jangan mikir kaya gitu. Aku udah anggap kamu juga sebagai sahabat aku."
"Bagus!"
"Oh iya, lo udah punya baju belum untuk acara nanti?" Sontak Daania melotot saat mendengar pertanyaan Sonya.
"Duh, gimana dong? Lagian acaranya mendadak banget. Aku belum beli baju lagi."
"Nggak usah beli baju, ntar gue kerumah lo aja gimana? Gue cariin baju yang cocok buat lo nanti." Sonya menaik turunkan alisnya.
"Boleh? Tapi kamu harus izin dulu sama mama kamu. Nanti di cariin."
"Siap! Masuk kelas, yuk? Bentar lagi juga bel." Sonya berdiri dan disusul oleh Daania di belakangnya.
Tanpa disadari, sejak Rey memperhatikan Daania dalam diam di sudut kantin. Ia menatap pergerakan Daania.
Kring
Bertepatan saat itu juga, bel masuk pun berbunyi. "Rey, udah bel. Lo masih mau diam disini terus?" pertanyaan Ethan menyadarkan lamunan lelaki itu. Rey bangkit lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya.
"Duh, di tinggal terus gue." ucap Ethan dengan dramatis.
"Alay b*****t!" Nathan menendang tulang kering kembarannya dan melirik sekilas Ethan yang kesakitan sambil berjalan meninggalkan Ethan yang masih kesakitan sambil mengelus kakinya.
"Woi! Tunggu gue, dasar kembaran laknat!"
Nathan tetap melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan sumpah serapah yang di ucapkan kembarannya.
---