BAB 8

1282 Words
Bab 8 Dimas duduk di meja kerjanya di kantor dengan pikirannya yang masih terpengaruh oleh perdebatan panjang yang terjadi di rumahnya beberapa hari yang lalu. Dia merenung tentang hubungannya dengan Dita dan keluarganya, mencoba mencari solusi yang baik untuk semua pihak. Ketika dia sedang dalam lamunan, pintu ruangannya perlahan terbuka, dan Lisa, sekretarisnya yang juga sahabat Dita, masuk dengan senyum manis di wajahnya. Dia adalah wanita yang ceria dan selalu memberikan semangat kepada siapa pun yang dia temui. "Dimas, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Lisa sambil mendekati meja Dimas. Dimas tersadar dari lamunannya dan mencoba tersenyum. "Oh, tidak ada, Lisa. Hanya sedang memikirkan beberapa hal tentang pekerjaan." Lisa duduk di kursi di depan meja Dimas dan menatapnya dengan perhatian. "Kamu tahu, jika ada yang bisa membantu atau kamu ingin berbicara tentang sesuatu, kamu selalu bisa mengandalkan aku, kan?" Dimas merasa terharu oleh kebaikan Lisa. "Terima kasih, Lisa. Kamu selalu sangat baik." Lisa tersenyum lebih lebar, dan sedikit mengubah posisinya, mengungkapkan minat lebih lanjut. "Dimas, bagaimana dengan hubunganmu dan Dita? Aku yakin kamu bisa mengatasi semua masalah itu. Kamu dua orang yang begitu cocok satu sama lain." Dimas merasa sedikit terkejut oleh pertanyaan itu. Dia tahu bahwa Lisa adalah sahabat Dita, dan mendiskusikan masalah pribadi dengan seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan pasangannya bisa menjadi hal yang rumit. Namun, dia memutuskan untuk berbicara dengan jujur. "Terima kasih atas dukungannya, Lisa. Kami berdua sedang melewati waktu sulit, terutama setelah perdebatan panjang dengan keluargaku. Tapi kami mencintai satu sama lain dan akan bekerja melalui semuanya." Lisa tampak terhibur dengan jawaban Dimas. "Aku tahu kamu pasti akan melaluinya dengan baik. Dan kamu selalu bisa mengandalkan Dita. Dia adalah wanita yang luar biasa." Saat Lisa berbicara tentang Dita, ada sesuatu dalam cara dia melihat Dimas yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Dia merasa ada perasaan yang lebih dari sekedar persahabatan dalam pandangan Lisa. Namun, Dimas memutuskan untuk tidak mengejar isyarat tersebut. "Terima kasih lagi, Lisa. Kami akan mencoba yang terbaik untuk hubungan kami." Lisa tersenyum dengan lembut dan berdiri. "Baiklah, jika ada yang bisa aku bantu, jangan ragu untuk memberi tahu. Aku selalu ada di sini." Lisa, setelah berbicara sejenak dengan Dimas tentang hubungannya dengan Dita, merasa ada kesempatan yang baik untuk mengungkapkan perasaannya, meskipun dia belum pernah secara terbuka mengakui bahwa dia memiliki perasaan khusus terhadap Dimas. Dia berjalan ke dekat meja Dimas, masih tersenyum manis, dan memainkan rambutnya dengan jari-jarinya. "Dimas, kamu tahu, aku selalu mengagumi bagaimana kamu menghadapi segala masalah dengan kepala dingin dan bijaksana." Dimas mengangkat alisnya, sedikit bingung oleh komentarnya. "Terima kasih, Lisa. Tapi sebenarnya, aku tidak selalu sehebat itu." Lisa mendekatkan dirinya sedikit lebih dekat ke meja Dimas, mencoba menciptakan suasana yang lebih intim. "Aku suka melihat sisi kuatmu, Dimas. Kamu begitu... menarik." Dimas merasa ada yang berbeda dalam tingkah Lisa hari ini, tetapi dia masih tidak menyadari bahwa Lisa sedang mencoba menggoda atau bahkan menyimpan perasaan khusus padanya. "Terima kasih atas kata-katamu, Lisa. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik." Lisa terus maju, melihat ke mata Dimas dengan penuh kasih sayang. "Dan kamu juga sangat perhatian pada Dita. Kalian berdua adalah pasangan yang sempurna." Dimas tersenyum, merasa senang bahwa Lisa menghargai hubungannya dengan Dita. "Kami berusaha menjaga hubungan kami tetap kuat, meskipun ada rintangan." Lisa mendekatkan diri ke arah Dimas dan berbisik dengan lembut, "Dimas, apakah kamu tahu, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu..." Dimas merasa hatinya berdebar kencang saat mendengar kata-kata Lisa yang penuh misteri. Tatapannya terfokus pada Lisa, dan dia mulai merasakan bahwa obrolan ini memiliki nuansa yang lebih dalam daripada yang dia perkirakan sebelumnya. "Dengarkan, Dimas," bisik Lisa dengan lembut, matanya terkunci pada mata Dimas, "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada di sini untukmu. Aku sangat menghargai apa yang kamu lakukan dan siapa kamu." Saat kata-kata itu meluncur dari bibir Lisa, Dimas mulai menyadari bahwa mungkin ada perasaan lebih dalam yang dirasakannya, tetapi dia masih merasa bingung. "Terima kasih, Lisa. Aku juga menghargaimu sebagai sahabat dan sekretaris yang hebat." Lisa tersenyum penuh arti, lalu Dimas hanya perlahan-lahan mengalihkan perhatiannya kembali ke pekerjaan. "Aku hanya ingin kamu tahu itu, Dimas. Sekarang, mari kita fokus pada pekerjaan kita." Lisa memutuskan untuk melanjutkan upayanya menggoda secara halus saat dia menatap Dimas dengan senyum yang menarik dan berbinar. "Dimas, bagaimana jika kita makan siang bersama? Waktu makan siang masih 2 jam lagi, dan aku ingin mendengar lebih banyak cerita dari kamu." Dimas merasa terhormat oleh tawaran Lisa dan juga senang dengan ide untuk menghabiskan waktu bersamanya. "Tentu, Lisa. Itu akan bagus. Aku akan menunggu kamu di lobi saat jam makan siang." Lisa tersenyum lebih lebar, seolah mendapat apa yang diinginkannya. "Bagus, aku akan berbicara denganmu lebih banyak nanti." Dia bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan dengan langkah ringan. Dimas, sambil merasa sedikit bingung oleh interaksi dengan Lisa, juga merasa senang dengan kemungkinan mendekatinya secara lebih pribadi. Namun, dalam hatinya, dia tahu bahwa prioritasnya adalah memperbaiki hubungannya dengan Dita dan keluarganya yang tengah rumit saat ini. Waktu makan siang yang akan datang menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh Lisa, dan dia berencana untuk terus mendekati Dimas dengan hati-hati tanpa menyakiti perasaan Dita. Saat tiba jam makan siang, Dimas dan Lisa bertemu di kantin kantor. Mereka duduk di meja yang sama, dan suasana terasa santai. Mereka berbicara tentang pekerjaan, hobi, dan minat bersama, menciptakan ikatan yang semakin kuat di antara mereka. Namun, ketika Lisa sibuk memindahkan gelas minumannya, tiba-tiba terjadi insiden yang tidak disengaja. Gelas minuman Lisa terjatuh dan isinya tumpah ke kemeja Dimas. "Oh tidak, Dimas! Aku sangat minta maaf," kata Lisa dengan ekspresi kaget yang terlihat sangat meyakinkan. Dia segera meraih tisu dan mulai membereskan tumpahan minuman tersebut. Dimas terkejut dan agak panik, mencoba membantu membersihkan minuman yang tumpah. "Tidak apa-apa, Lisa. Itu hanya kecelakaan." Lisa melanjutkan perannya dengan baik, berpura-pura sangat cemas. "Maafkan aku, Dimas. Aku sungguh tidak bermaksud." Mereka berdua sibuk membersihkan tumpahan minuman, dan selama proses itu, Lisa sengaja menyentuh tangan Dimas dengan lembut, menciptakan momen keintiman yang semakin dalam. Meskipun Dimas masih terlalu terkejut dengan insiden tersebut, dia mulai merasa bahwa Lisa mungkin memiliki perasaan lebih dari sekadar persahabatan. Setelah tumpahan minuman dibersihkan, mereka melanjutkan makan siang mereka, tetapi situasi telah berubah. Dimas mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dalam hubungan mereka daripada yang dia bayangkan sebelumnya, dan dia merasa bingung tentang bagaimana menangani perasaan ini sambil tetap setia pada Dita. Lisa melanjutkan obrolan mereka dengan topik pekerjaan. Mereka membahas penjualan produk ice cream bernama Fortuna, dengan Dimas sebagai manajer di divisi tersebut. Lisa dengan pandai menggoda Dimas secara profesional dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan penuh semangat. "Dimas, saya tahu Anda adalah manajer terbaik di divisi Fortuna ini," kata Lisa dengan nada bersemangat. "Bagaimana Anda berhasil mencapai semua target penjualan selama ini?" Dimas tersenyum, menikmati pembicaraan tentang pekerjaan mereka. "Terima kasih, Lisa. Kami telah bekerja keras sebagai tim, dan dukungan dari semua anggota tim sangat berarti. Kami juga selalu berusaha untuk mendengarkan pelanggan kami dan memberikan produk yang mereka inginkan." Lisa mengangguk, matanya berkilau dengan antusiasme. "Saya kagum dengan dedikasi Anda terhadap pekerjaan ini. Bagaimana Anda menghadapi semua tantangan di industri ini?" Dimas menjelaskan dengan penuh semangat, "Tantangan adalah bagian dari pekerjaan ini. Kami selalu mencari cara untuk berinovasi dalam produk dan layanan kami. Dan tentu saja, kejujuran dan integritas dalam bisnis sangat penting bagi kami." Selama pembicaraan tentang pekerjaan mereka, Lisa terus menciptakan momen kebersamaan dengan Dimas. Dia menggunakan bahasa tubuhnya, mata yang berkilau, dan senyum yang menggoda untuk menggoda secara profesional. Dimas merasa terhormat oleh perhatian dan apresiasi Lisa terhadap pekerjaannya, meskipun dia mulai merasa ada perasaan yang lebih dalam dalam interaksi mereka. Mereka melanjutkan makan siang mereka dengan suasana yang semakin akrab, meskipun Dimas masih merasa bingung tentang perasaannya terhadap Lisa dan bagaimana cara menangani situasi ini dengan bijaksana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD