Bab 7
Perdebatan panjang dan memanas pun terus berlanjut antara Dita, Dimas, Bu Lasmi, dan Pak Radit. Suasana hati semakin tegang, dan kata-kata yang tajam terus terucap.
Bu Lasmi tetap keras kepala dalam kritiknya terhadap Dita. "Dita, kamu adalah seorang istri yang tidak baik. Kamu bahkan tidak bisa memberikan cucu pada kami."
Dita merasa terluka dan frustasi oleh komentar pedas itu. "Bu, kami ingin memiliki anak, tetapi kami juga ingin melakukannya pada waktu yang tepat. Itu adalah keputusan kami bersama."
Pak Radit mencoba untuk mempertahankan posisinya. "Dimas, kamu tahu bahwa garis keturunan adalah hal yang sangat penting bagi kami. Kami tidak bisa menunggu terlalu lama."
Dimas merasa terjebak di antara harapan ayahnya dan keinginan Dita. "Ayah, kami berdua ingin memiliki anak, tetapi kami juga ingin mempersiapkan diri dengan baik."
Perdebatan semakin memanas. Bu Lasmi dan Pak Radit terus mengkritik Dita, sementara Dita dan Dimas berusaha menjelaskan pandangan mereka. Mereka merasa tertekan dan frustasi oleh tekanan yang semakin besar.
Dita mencoba menjaga ketenangan. "Kami mencintai keluarga kami, Bu. Kami hanya ingin melakukannya dengan cara yang terbaik untuk semua orang."
Dimas juga mencoba meredakan ketegangan. "Ayah, kami menghormati nilai-nilai keluarga, tetapi kami juga ingin menjalani pernikahan kami dengan cara yang kami pilih."
Namun, Bu Lasmi dan Pak Radit tetap keras kepala dalam keyakinan mereka. Mereka merasa bahwa garis keturunan adalah prioritas utama, sementara Dita dan Dimas ingin memprioritaskan persiapan dan perjalanan mereka sebagai pasangan.
Perdebatan semakin memanas, dan emosi pun mencapai puncaknya. Suasana hati di ruangan itu terasa tegang, dan kata-kata yang keluar semakin tajam.
Bu Lasmi, dengan mata berkaca-kaca karena emosi, berkata dengan penuh amarah, "Kalian berdua hanya egois! Kalian tidak memikirkan perasaan keluarga ini."
Dita mencoba menjelaskan dengan tulus, "Bu, kami tidak bermaksud egois. Kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk masa depan kami bersama."
Pak Radit, yang terlihat sangat marah, melanjutkan, "Kamu pikir semua ini hanya tentang kalian berdua? Kami juga memiliki impian dan harapan untuk keluarga ini."
Dimas mencoba untuk menjelaskan dengan penuh kasih, "Ayah, kami menghormati impian dan harapan keluarga. Kami hanya meminta waktu untuk mempersiapkan diri dengan baik."
Bu Lasmi mengangkat suaranya dengan penuh emosi. "Tidak ada persiapan yang lebih baik daripada melanjutkan garis keturunan kita!"
Dita menangis, merasa terluka oleh komentar pedas itu. "Bu, kami mencintai kalian semua. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak kami nanti."
Pak Radit mencoba meredakan emosi. "Kami mengerti perasaan kalian, tapi kami juga ingin melihat keluarga ini berkembang."
Dimas, dengan nada yang tulus, berkata, "Ayah, kami akan bekerja menuju itu, tetapi kami perlu waktu."
Perdebatan terus berlanjut, setiap kata yang terucap semakin mendalam luka di hati mereka masing-masing. Emosi mereka menciptakan ketegangan yang tidak ada habisnya, tetapi di balik semua itu, masih ada cinta yang dalam di antara mereka.
Bu Lasmi, dengan nafsu marah yang masih membara, melanjutkan serangannya terhadap Dita, "Dan apa yang kamu tahu tentang menjadi ibu, Dita? Kamu bahkan mandul!"
Dita merasa seakan-akan sebuah pisau telah menusuk hatinya. Kata-kata itu begitu tajam dan menusuk langsung ke dalam lubuk hatinya. Dia mencoba untuk menjaga diri dari kehancuran emosional, tetapi tetesan air mata tak terbendung mengalir di pipinya.
Dimas, yang selama ini mencoba menjaga ketenangan, tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Bu, itu adalah hal yang sangat tidak pantas dan kasar untuk dikatakan. Dita adalah istriku, dan dia adalah wanita yang hebat. Kami berdua berjuang dalam perjalanan ini bersama-sama."
Pak Radit mencoba meredakan situasi. "Cukup, Bu. Kita semua telah berbicara banyak dan kamu sedikit keterlaluan. Biarkan saja mereka berdua menjalani pernikahan mereka sebagaimana yang mereka anggap tepat."
Tetapi Bu Lasmi tidak merasa puas. Dia terus-menerus mengeluarkan kata-kata pedas. "Mereka berdua hanya menunda-nunda pak, dan kamu terlalu lembek, Radit!"
Dita merasa hancur oleh hinaan ini, tetapi dia mencoba untuk menjaga dirinya tetap tenang. "Bu, kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Kami hanya meminta waktu dan pengertian."
Perdebatan ini mencapai titik puncaknya, dan suasana hati semakin tegang. Kata-kata yang tajam dan hinaan yang dilemparkan satu sama lain menciptakan luka-luka yang dalam di hati mereka masing-masing.
Akhirnya, setelah berjam-jam berdebat, mereka semua terlalu lelah untuk melanjutkan. Perdebatan ini tidak menghasilkan keputusan apapun, tetapi menyisakan luka-luka emosional yang perlu sembuh.
Bu Lasmi dan pak Radit langsung meninggalkan ruangan itu dengan hati yang penuh amarah, merasa terluka dan terhina oleh putra mereka yang terus membela Dita. Setelah perdebatan sengit tentang keinginan untuk memiliki cucu, suasana di rumah Dita dan Dimas tetap tegang. Keelan, adik laki-laki Dimas yang berusia 16 tahun, yang sebelumnya berdiam diri selama perdebatan, akhirnya memutuskan untuk berbicara.
Dia duduk di ujung meja makan, menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku dengar semuanya dari kamarku."
Dita dan Dimas menatap Keelan, mereka merasa terharu oleh keberanian adik laki-laki Dimas untuk berbicara di tengah-tengah konflik keluarga.
Dimas tersenyum lembut pada adiknya. "Tidak apa-apa, Keelan. Kami mendengarkan."
Keelan menatap kedua kakaknya, matanya penuh dengan ekspresi ketidaknyamanan. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mendengar perdebatan tadi, dan aku juga ingin kamu tahu bahwa aku mengerti perasaan kalian berdua."
Dita tersenyum pada Keelan. "Terima kasih, Keelan. Itu artinya banyak bagi kami."
Namun, Keelan melanjutkan dengan serius, "Tapi aku juga ingin mengingatkan, kak, bahwa bukan hanya masalah ini yang menekan keluarga kita. Ada juga masalah lain."
Dita dan Dimas saling pandang, mereka tahu bahwa ada masalah dalam keluarga mereka yang telah lama terpendam, dan Keelan tampaknya ingin membicarakannya.
Dimas memberikan isyarat kepada adiknya untuk melanjutkan. "Apa yang kamu maksud, Keelan? Kami mendengarkan."
Keelan menghela nafas, seolah bersiap untuk membuka luka lama. "Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan semuanya, tapi aku merasa perlu mengatakan bahwa aku juga merasa terpinggirkan dalam keluarga kita, seperti Dita."
Dita dan Dimas mendengarkan dengan perasaan bersalah. Mereka tahu bahwa sebagai anak yang lebih muda, Keelan mungkin merasa kurang mendapat perhatian dari mereka.
Dita mengangguk mengerti. "Terima kasih telah berbicara, Keelan. Kami akan mencoba lebih baik lagi untuk memahami perasaanmu dan memperbaiki hubungan kita."
Dimas menambahkan, "Kamu adalah bagian yang berharga dari keluarga kita, Keelan. Dan kami akan berusaha untuk membuatmu merasa dihargai."
Keelan tersenyum, seolah merasa lega setelah mengungkapkan perasaannya. "Terima kasih, kak. Aku hanya ingin kita semua bisa lebih dekat dan bahagia bersama."
Dita dan Dimas merasa lebih dekat dengan adik mereka setelah percakapan itu. Mereka tahu bahwa mereka harus bekerja bersama-sama untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga mereka, dan perasaan Keelan adalah langkah awal yang penting untuk mencapai hal itu.
Setelah percakapan itu, suasana hati di rumah mereka perlahan-lahan mulai membaik. Mereka semua menyadari bahwa keluarga adalah hal yang paling berharga, dan meskipun ada konflik dan perbedaan pendapat, mereka akan selalu ada untuk satu sama lain. Dengan dukungan satu sama lain, mereka siap menghadapi masa depan dengan lebih optimis dan harmonis.