Jeanny mengangguk, wajahnya pucat pasi. Saat berada di rumah kakek Mardi, dia mendengar percakapan antara nenek dan kakeknya di kamar. Sayup-sayup Jeanny mendengar amarah kakek Mardi yang akan menghabisi papanya. “Iya, kakek dan nenek bertengkar dan kakek Mardi langsung pergi dari rumah. Aku dengar … kakek mau menghajar papa.” Nirmala meraih bahu Jeanny dan mendekapnya erat-erat. Baginya ini adalah kejadian luar biasa, Mardi tidak pernah marah dan sikapnya selalu tenang. “Aku nggak pernah liat kakek Mardi marah-marah. Tapi dia tetap berpesan kepadaku untuk nggak niru sifat papa.” Nirmala mengusap-usap kepala Jeanny, gadis itu tidak seharusnya menghadapi masalah berat ini. “Ma … apa kakek akan membunuh—“ “Sssh, nggak, Jeanny. Kakek hanya menggertak, supaya papa kapok dan nggak macam

