David menelan ludahnya kelu membayangkan wajah sedih Alana saat dia pergi meninggalkan kamarnya. Alana memang puas dan tersenyum, tapi David tahu gadis itu memendam kesedihan. “Ya,” jawab David disertai helaan napas berat. Asep tidak lagi bertanya atau menyinggung Alana setelahnya, karena David yang tampaknya sedang tidak ingin diajak bicara. Namun, saat tiba di depan lobi hotel, David tidak segera ke luar dari mobil, berkata dengan pelan dan raut wajah sedih, “Kamu … nggak lama lagi pergi jauh.” “Iya, Om.” Barulah Asep menyadari sebuah keadaan yang tidak terpikirkan olehnya. Dia tidak bisa bersama-lama di Jakarta dan harus pergi jauh bekerja di luar negeri, dan Alana yang pasti akan merasa kesepian tanpa dirinya. Alana memang membutuhkan kasih sayang seseorang, David misalnya. Terlebih

