Koper-koper telah berdiri tegak di sudut ruangan. Namun, bagi Fahlefi waktu satu jam sebelum jemputan tiba bukanlah jeda untuk sekadar menunggu. Baginya, itu adalah celah sempit untuk mencuri kembali kehangatan yang sempat tertunda oleh lelahnya mempersiapkan berkas-berkas untuk dibawa ke Bintan besok.
Di atas ranjang yang masih menyimpan sisa kehangatan pagi, Fahlefi menebar pesonanya sedikit memaksa, namun penuh dengan binar kerinduan yang sulit ditolak.
"Nggak ada yang tertinggalkan sayang ?" Ucap Fahlefi yang baru bangun, setelah subuh dia melanjutkan tidur di depannya sekarang dia melihat istrinya sudah siap-siap, sedangkan dia baru mau mandi.
"Nggak Mas semua udah ada di koper. masih satu jam lagi kan, tinggal menunggu jemputan dari sopir Kak Donny nih."
"Sini dong sayang pengen peluk ucapan selamat paginya belum nih." Ucap Fahlefi dengan senyum devil nya.
"Jangan aneh Mas, kita udah mau on the way nih."
"Belum di jemput sayang masih ada waktu satu jam lagi lumayan bisa manja sama istri ku terlebih dahulu."
Dengan gerakan menepuk kasur di sebelahnya. Menandai syarat dia akan di tawan satu jam lagi.
"Ya ampun Mas nanti bablasan lho. Lagian aku udah rapi nih tinggal makeup tipis aja."
"Nggak kok cuma sebentar mau cas energi dulu kan tadi malam aku nggak dapat jatah karena mas lagi sibuk, tapi sekarang nggak bisa toleransi mau gerpe-gerpe sebentar sayang please."
"Hah ? Gerpe-gerpe."
"Ya dong, biar semangat perjalanan kita ke Kepri hari ini."
Naomi memutar bola matanya. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan suaminya dia terpaksa mendekat menuju ke arah suaminya di atas kasur. Kini ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik ke dalam dekapan . Fahlefi tidak sedang bermain-main. Bibirnya menjajah dengan liarnya, menyesap manisnya ranum bibir istrinya hingga membuat napas Naomi itu terputus-putus saat lidahnya bermain sangat liar disana seolah sedang dikejar waktu. Naomi sampai kewalahan dibuatnya karena Fahlefi bergerak cukup brutal.
"Euunghh.. " Naomi melenguh saat sapuan lidah basah Fahlefi menjamah lehernya.
"Mas stop..!" Dia mendorong d**a Fahlefi pelan.
"Kenapa sayang ?"
"A-aku.. "Naomi mengatur napasnya kembali.
"Kenapa ?"
"Jangan buat tanda di leher ku Mas. aku nggak mau ada kissmark banyak di leher ku Mas."
"Oke sayang ku cinta ku, Mas akan fokus ke spot favorit ku ya, bisa jadi aku akan ke menu utamanya nanti, masih sekitar lima puluh menit lagi bisa dong beberapa ronde."
"Hah ? Jangan gila Mas. "
"Aku hanya tergila-gila sama kamu sejak dari dulu sayang ku."
"Please deh Mas, jangan buat aku mandi lagi nih.?"
"Nggak janji istri ku tercinta karena godaan sulit sekali untuk dilewati begitu saja."
Naomi kembali memutar bola matanya, gombal seperti ini sudah terbiasa dia mendengarkannya. "Mas aku nggak mau keramas lagi nggak cukup waktu lagi Mas. Apalagi ini pertama kali kita ke daerah sana ?" Naomi mencoba bernego lagi.
"Nggak ada hubungannya sayang."
"Tapi—,"
Bibir Naomi sudah di bungkam oleh Fahlefi, kegiatan gerpe-gerpe berlangsung cukup lama.
Fahlefi beralih ke 'spot favoritnya'. Tangannya yang hangat mulai menelusup, menyentuh titik-titik sensitif yang membuat Naomi melengkungkan punggungnya, mencari tumpuan pada bahu kokoh sang suami. Rasa perih yang bercampur nikmat itu menjadi melodi yang memenuhi kamar, saat Fahlefi bergerak dengan ritme yang brutal namun penuh pemujaan, seolah ingin memastikan bahwa hanya dialah pemilik tunggal dari setiap inci keindahan istrinya ini.
"Anak-anak udah dikasih tahu nggak sayang ?" ucap Fahlefi menganti pakainnya tadi setelah selesai mandi. Begitu juga dengan Naomi juga sudah mandi terpaksa harus buka koper lagi untuk menganti pakaian yang baru yang sudah sama-sama basah. Fahlefi telah mendapatkan 'jatahnya', meski dengan sedikit gerutu tentang keramas oleh Naomi.
"Udah di grup keluarga tadi Mas." Ucap Naomi kembali mengaitkan branya, Fahlefi masih sempat membelai pinggangnya, seolah enggan melepas. Dia memberikan kecupan-kecupan di punggung polos Naomi seolah-olah belum puas.
"Mas, nanti sopir Kak Donny keburu sampai, udah dong nanti aku mandi keramas lagi untuk dua kali. Jatahnya sampai di rumah lagi ya." bisik Naomi.
"Iya sayang. Hanya menyapa mereka kembali mau melanjutkan di Kepri ah terlalu lama sampai di rumah."
"Ya ampun Mas". Ucap Naomi geleng-geleng kepala melihat suaminya tidak berubah dari dulu.
Fahlefi terkekeh, dia nggak mau rugi. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, jemarinya meraih kepala ritsleting di bagian bawah punggung Naomi. Ia menariknya ke atas dengan perlahan, menutup inci demi inci kulit yang baru saja ia jelajahi, seolah sedang mengunci sebuah rahasia yang hanya boleh mereka berdua ketahui. Entah bagaimana kondisi d**a Naomi yang penuh dengan cap stempel bibirnya.
Saat kain itu sempurna menutupi tubuh Naomi, Fahlefi memutar tubuh istrinya untuk menghadapnya. Ia merapikan anak rambut Naomi yang sudah dia keringkan dengan hairdryer.
"Mas jejaknya keliatan nggak Mas. Ucap Naomi."
"Nggak sayang."
Naomi melirik ke cermin, memastikan kembali kerah bajunya cukup tinggi untuk menyembunyikan sisa-sisa 'gerpe-gerpe' Fahlefi yang brutal namun nikmat tadi.
"Ada telpon nggak tadi sayang sama, anak-anak, Mas jadi bablasan tidurnya."
"Tadi Nana, sempat telpon sama Ansell dan Alex juga. Adek lagi di kampus sedang menunggu dosen pembimbingnya datang, sedangkan Abang di kantornya tadi. cuma titip pesan aja untuk kita agar berhati-hati, semoga urusan berjalan lancar dan cepat pulang, udah rindu kata mereka. Kata Alex juga tadi Kakak Lea ada jadwal operasi pagi ini sampai siang. "
Fahlefi menghela napasnya.
"Kenapa Mas ? Kepikiran Lea ya ?" Naomi menoleh kearah suaminya.
Fahlefi mengangguk.
"Nana udah pernah protes lho, tapi kata Lea, 'Bunda, Lea baik-baik saja sudah rutinitas Lea seperti ini, jangan khawatir Bun lagian anak Bunda dan Papa sudah jadi Dokter hebat lho. Kalau Bunda sedih Lea jadi sedih. Lea suka dengan perkerjaan Lea Bun, Lea bisa membantu mengobati orang lain. Tapi yang Lea butuhkan adalah support dari Bunda dan Papa itu aja.' Jadi mas tidak usah protes sama Dia , sudah di wakili sama Nana ya. Lagian itu cita-citanya dari kecil Mas, yang tidak bisa di ganggu gugat. Untuk berada di perusahaan Papa dan ayahnya pun dia enggan kan."
Fahlefi mengangguk." Tapi Mas yang lihatnya capek sayang."
"Hmm Nana juga, mau gimana lagi Mas makanya Nana selalu ingatin dia untuk makan, takut dia kelupaan dan Nana juga selalu buatkan makanan yang sehat untuk keluarga Nana agar kesayangannya Nana sehat selalu kecuali Abang disana. Makanya aku sering minta Melinda kirim makanan ke rumah, tahu sendiri lah anak cowok gimana dari kecil manja banget sama aku"
"Iya, semoga dia secepatnya menikah biar ada yang mengurus juga."
"Lah, Mas dengar sendiri mereka bilang apa dulu ini."
"Duh pengen segera momong cucu lagi sayang, kalau mereka nggak juga nikah-nikah kita yang bikin adek untuk mereka Yang."
Naomi tertawa. "Dia sudah di peringatkan Lea beberapa waktu yang lalu."
"Kenapa tertawa sayang ?"
"Udah di ingatin sama anak jangan bablasan nanti jadi adik Alex nanti."
Fahlefi tertawa terbahak-bahak. "Udah ada warning ternyata ya sayang."
"Iya Mas."
Setelah Mereka siap-siap sambil mengobrol mereka melangkah keluar kamar hotel saat sopir Mas Donny menghubungi Mas Fahlefi. Fahlefi berjalan dengan langkah tegap dan senyum kemenangan, sementara Naomi mengekor di belakang dengan perasaan hangat yang menjalar hingga ke ujung jemari. Tio PA Fahlefi juga sudah berada di mobil. Perjalanan ke Kepri kali ini tidak lagi terasa seperti sekedar liburan, melainkan sebuah perpanjangan dari gairah yang baru saja mereka kunci rapat di dalam kamar hotel.
***
"Nana, ajak-ajak anak mu main ke Bali Na."
"Jadi susah ajak main mereka sekarang Kak, harus di buat rencana dulu kadang udah dibuat rencana pun gagal. Salah satunya nggak bisa ikut mana mau mereka pergi tanpa ada salah satunya. Terutama kakak nya super sibuk."
"Iya nih Lea sekarang sibuk banget ya Na. Kalau aku Wh*tsApp dia lama kali balasnya."
"Banget kak, apalagi kalau jadwal operasi pagi sampai siang jangan harap tuh dapat balasan cepat. Dia kalau lagi operasi pasiennya dia nggak bawa ponselnya ke ruangan, takut menganggu konsentrasinya jadi harus bersabar. Tapi mau gimana lagi aku tetap support dia kak."
"Iya sih Na, itukan cita-citanya sejak dari kecil."
"Hmm nggak bisa di ganggu, Papanya aja pengen dia di perusahaan dia mana mau."
"Iya Don susah sekali kalau dia sudah bertekad. Menjadi dokter baginya bukan cuma soal pekerjaan mencari uang. Kalau cuma soal materi, dia sudah lebih dari cukup apa yang aku berikan anak-anak semua dapat transfer tiap bulan kok. Tapi baginya, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar angka yaitu nyawa orang lain."
"Ada kalanya aku merasa lelah melihatnya. Baru saja ingin menikmati waktu libur dan beristirahat di rumah, tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit. Tanpa banyak bicara, dia langsung berangkat. Sulit sekali menahannya kalau dia sudah merasa ada pasien yang membutuhkannya.
Jujur saja, kadang aku ingin egois. Aku ingin dia di sini saja, beristirahat dan tidak perlu memikirkan urusan rumah sakit sejenak. Tapi aku sadar, hatinya memang selembut itu. Dia tidak bisa tenang jika tahu ada orang yang sedang bertaruh nyawa." Ucap Fahlefi ada sedikit jeda waktu agar Donny memahami ucapannya.
"Melihat pengabdiannya memang melelahkan bagi kita yang menyaksikan, tapi bagi pasiennya, kehadirannya adalah harapan. Itulah Lea sosok yang begitu tulus sampai kadang lupa pada lelahnya sendiri. Dan meski aku sering merasa capek, aku tidak bisa berhenti merasa bangga punya seseorang anak gadis ku dengan hati seluas itu."
"Iya sebelas dua belas sama Bundanya."
Naomi tersenyum, setelah mereka sarapan dan ngobrol sebentar, Naomi dan Fahlefi pamit mereka berdua di antar Donny menuju bandara.
"Terima kasih sudah menjamu kami selama di Bali kak."
"Sama-sama Na, salam sama anak-anak kalau sudah nyampe Jakarta."
"Iya Kak. Kami akan sampaikan."
Naomi, Fahlefi menuju ke dalam pesawat pribadinya untuk siap take off.
Dia memotret langit indah dari jendela pesawat dengan ponselnya dan mengirim kepada adik iparnya.
"Langitnya cantik sekali Mel ayo atur rencana liburan keluarga kita ke Bali."
Dia tersenyum menatap foto yang berhasil dia kirim ke adik iparnya. Naomi mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
***