Seorang anak yang hatinya begitu baik, namun kini harus diuji dengan kehilangan yang begitu hebat.
•••
Berita pesawat jatuh sejak siang, menjadi trending topik dibicarakan sejak dari tadi. Kevin menghela napasnya saat melihat berita portal di ponselnya, dia jadi kepikiran dengan Lea pasti dia sangat hancur bagaimana tidak yang ada di pesawat itu kedua orang tuanya sendiri. Dia sudah mengirim pesan kepada Lea tapi belum ada balasan dari tadi. Ingin rasanya dia menemui Lea kerumahnya tapi dia merasa waktunya tidak tepat.
"Kevin ?" Sapa Dika menyampirin Kevin yang duduk sendiri di luar. "Kamu lagi ngapain di luar sendiri ?"
Kevin menghela napas panjang."Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk Lea, Dika," bisik Kevin, suaranya parau. Ini bukan kecelakaan biasa, orang tua Lea sedang bertarung dengan takdir hidupnya. 72 jam pertama adalah waktu emas. Jika mereka di hutan, mereka butuh air. Jika mereka di laut, mereka hanya butuh Tuhan."
Dika mengangguk. "Benar Vin, tapi kamu tahu sendiri kalau kecelakaan pesawat tidak ada yang selamat selama ini amit-amit ya kita ngomong ini tapi kenyataannya seperti itu, nggak ada yang selamat selama ini kita lihat pesawat jatuh di negeri kita ini bahkan di hutan maupun di laut. Kita doakan semoga orang tuanya Lea bisa selamat walaupun kenyataannya pahit, kita tetap berharap pilot jet pribadi itu cukup tangguh untuk menemukan lahan darurat di tengah rimbunnya hutan jika mereka benar mendarat dihutan."
"Iya aku udah menghubungi markas di Bali untuk menanyakan kondisi disana. Tapi pencairan di hentikan sore ini, karena kondisi laut lagi tidak bisa di ajak kompromi. Mereka akan melakukan besok lagi dan melakukan penyisiran hutan."
"Aku tidak bisa bayangin hancurnya Lea, Sheila sendiri sampai nangis tidak percaya orang tuanya Lea akan menjadi korban dalam peristiwa kecelakaan pesawat ini."
"Kita doakan saja orang tuanya Lea baik-baik saja Dik." Kevin menghela napasnya dia sangat rindu dengan Lea tiba-tiba dia merasa ada yang hilang dalam hidupnya biasanya dia selalu komunikasi walaupun sekedar menjahili Lea.
"Tapi kasian sekali Lea dalam sekejap mata kebahagiaannya langsung dihempaskan. Dia anak yang baik tapi kenapa dia harus melewati ujian seperti ini.?"
"Iya Dik, ujian hidupnya luar biasa sekali aku tidak menyangka dia memiliki hati yang baik dan aku pun baru tahu kemarin dia sekaya itu, aku sampai speechless lihat rumahnya sangat besar sekali lebih kalah rumah Mamaku di Surabaya. Dia ternyata Dokter Ice Queen ku ternyata orangnya kaya raya Dik."
"Eh benarkah ? Sheila cuma cerita Lea memiliki Papa tiri yang baik dan memiliki perusahaan besar juga," ucap Dika tanpa sengaja.
Kevin menoleh cepat, rasa ingin tahu kini berbaur dengan rasa iba yang makin dalam.
"Maksud mu, Papa tiri, Jadi —,?"
"Eh, aku belum cerita ya?" Dika menggaruk tengkuknya, menyadari ada informasi yang terlewat.
Kevin menggeleng. Ia teringat saat mengantar Lea pulang kemarin, deretan rumah mewah yang saling berdekatan itu kini memiliki makna yang berbeda. Jika sosok yang hilang itu adalah ayah tirinya, di mana ayah kandungnya?
"Yang hilang itu Papa tirinya, kalau ayah kandungnya ada di Semarang aku tidak tahu pasti ceritanya cuma Sheila pernah bilang waktu mau comblangin sama kamu dulu dia cerita gambaran tentang Lea makanya aku berani mencomblangi kamu sama Lea kalian itu setara. Untuk gimananya cerita tentang ayah kandung dan tiri ini, aku tidak banyak tahu yang jelas Lea ini orang kaya, ayahnya di Semarang memiliki perusahaan obat-obatan terbesar disana dan disini ayah tirinya memiliki perusahaan terbesar disini juga. Dulu mereka pengen Lea menjadi penerus di perusahaan mereka, nah Lea malah berbeda pendapat sama mereka dia tidak mau salah satu dari antara ayah ini merebutkan Lea ini untuk meneruskan perusahaan makanya Lea memilih untuk menjadi seorang dokter."
"Wow, begitukah ceritanya aku jadi tertarik untuk tahu tentang Lea lebih jauh."
"Giliran kamu lagi yang cari tahu Vin, tapi sekarang ini kamu harus bisa mengerti Lea. Jangan-jangan kamu malahan ingin mundur untuk mendekati Lea lagi ?"
"Yang bener saja aku harus mundur, ya majulah pantang menyerah, aku akan dapatin hati Lea kembali, aku akan bantu Lea dengan cara ku sendiri catat itu."
"Wah aku suka nih, Bagus komandan teruslah maju. Biar kamu juga bisa menikah sama Lea nanti, anak kita juga bisa bestiean seperti bapak dan ibu nya."
"Anak kamu bilang nikah aja belum."
Dika tertawa ngakak. " Kan ada kata 'nanti' ya ampun. Aminin kek."
Kevin tersenyum."Iya.. iya.. amiin."
Obrolan mereka pun berlanjut kevin masih berharap Lea membalas pesannya. Yang masih centang satu.
***
Pagi pun menyapa tadi malam dia tidak tidur sama sekali. Dipikirkannya dia masih memikirkan Bunda dan Papanya dia tidak bisa bayangkan jika pesawat itu jatuh di Laut dan kalau jatuh di hutan bagaimana. Gambaran yang di paparkan oleh Alex membuat Lea putus asa. Dia sudah bertekad untuk turun dalam misi penyelamatan Bunda dan Papanya menyelusuri hutan. Koper kecil sudah dia persiapkan dia tidak akan mundur untuk misi penyelamatan untuk kedua orang tuanya ini.
Sebelum ke rumah sakit sebentar lagi, Lea mengecek kondisi neneknya di kamar, tangisan itu kembali pecah saat neneknya memeluk Lea.
"Papa dan Bunda mu gimana Lea ?"
"Nenek, Lea juga tidak tahu Lea tidak ingin berbohong kepada nenek hanya untuk menenangkan hati nenek tapi kita harus siap menerima kemungkinan-kemungkinan yang akan disampaikan kepada kita Nek. Sampai sekarang Bunda dan Papa belum diketahui keberadaannya kita sedang berkejaran dengan waktu Lea juga tidak bisa diam di sini Nek."
Lea menguraikan pelukannya dan Lea menghela napasnya dia tidak pernah berkata ucapan mengerikan kepada keluarganya selama ini tapi sekarang dia benar tidak punya pilihan.
"Nenek, tolong kuatlah kita akan mendengarkan kabar gembira dan bisa juga kabar buruk nanti Nek. Maaf Lea tidak bisa selalu di samping Nenek begitu juga Alex nanti, kami sedang sama-sama berjuang untuk Bunda dan Papa. Lea besok akan bergabung bersama Tim Basarnas untuk evakuasi dan Lea akan ikut di bagian di Hutan." Air mata Lea mengalir di pipinya dia tidak bisa mencegah air mata ini yang sejak tadi malam mengalir deras.
"Kenapa cobaan ini datang lagi kepada kita dan kenapa Lea harus ikut Le ? "
"Lea meraih tangan neneknya. Nek dengarin Lea, Cuma ini yang Lea bisa lakukan untuk Bunda dan Papa jika aku bertemu dengan mereka aku dengan siap memberikan pertolongan kepada mereka segera Nek. Abang besok akan memantau di bagian laut.
di Bali. Jangan khawatir tentang kami nek, kami akan baik-baik saja, nenek dan kakek harus janji harus jaga kesehatan, tetap kuat."
Rini mengangguk. Dia mengerti situasi saat ini.
"Nek, Kek, kalian harapan kami satu-satunya jadi kami butuh doa dari nenek dan kakek. kita harus siap menerima Kemungkinan-kemungkinan terburuk nanti tentang Bunda dan Papa walaupun kita sekeluarga tidak bisa menerimanya sama sekali, tapi Lea harus mengatakan ini lebih awal. Ini tidak sesederhana yang kita kira. Nenek tahu sendiri bagaimana Lea pernah kehilangan Bunda dulu. Lea persis seperti mayat hidup karena Bunda dan Lea sejak dari kecil selalu sama Bunda, tapi sekarang Tuhan memberikan Papa. Malah cobaannya lebih berat lagi Nek, mereka berdua yang hilang Lea benar seperti berpijak di atas duri tajam sekarang nek."
Kembali tangisan itu pecah.
"Tolong jangan putus berdoanya ya Nek, semoga Bunda dan Papa pulang dalam keadaan selamat ya, 72 jam waktu yang sangat krusial sekali aku tidak bisa membayangkannya Nek. Makanya selesai urusan rumah sakit Lea benar langsung terbang ke Bali."
Rini mengangguk dan mengusap lembut punggung cucunya betapa putus asanya keluarganya sekarang.
"Lea tidak akan mundur Nek, Lea akan ikut menjadi relawan untuk menyelamatkan Bunda dan Papa. Maafkan Lea tidak bisa bersama Nenek dan kakek, Lea harap nenek mengerti ya tolong jangan larang Lea untuk pergi Lea akan berusaha untuk menyelamatkan Bunda dan Papa dengan cara Lea sendiri."
"Iya sayang, Kali ini Nenek terpaksa izinkan Lea pergi tapi ingat Lea jaga diri ya karena Nenek dan kakek tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjemput ke hutan sana melihat keadaan Lea kalau Lea kenapa-kenapa."
"Nenek tenang saja Lea akan baik-baik saja."
Wiliam hanya menyaksikan pemandangan di depannya ini cucunya benar sudah tumbuh dewasa. Orang yang dulu sempat dia ragukan kini menjadi mutiara yang bersinar di dalam keluarganya. Fahlefi, Nana kalian bertahanlah. Lea sedang berusaha dengan seluruh tenaga dan tekad yang dia punya. Kalian benar telah berhasil mendidik anak-anak kalian, mereka bertiga berjuang dengan cara mereka masing-masing, lihat lah mereka berjuang keras untuk kalian berdua. Ayo pulang. Batin Wiliam.
***