"Pa, aku boleh ikut volunteer gitu nggak sih Pa ?"
"Jangan ah, Papa nggak setuju itu pasti pergi ke daerah pedalaman gitu kan ?"
"Iya Pa.."
"No, Papa nggak setuju kalau Lea jauh dari mata Papa."
"Ya ampun Pa, masih di Indonesia lho."
"Kalau di pelosok-pelosok gitu Papa nggak izin, gimana dapatnya di daerah konflik seperti Papua disana, Ya ampun Papa ngebayangin aja udah ngeri, kalau di tempat bencana masih bisa Papa izinkan seperti di daerah Sumatera kemarin silahkan aja."
Lea menghela napasnya dia pengen sekali bisa pergi ke pelosok gitu tapi mau gimana lagi, dia tidak dapat izin.
Seperti biasa Lea kalau sudah ngobrol sama Papanya, ada aja topik pembicaraan yang mereka bahas. Kadang bunda hanya menjadi pendengar setia, kini Bunda sudah punya dua bestie yang selalu manja kepada Bundanya. Papa dan Lea hanya bisa menyaksikan kemesraan antara anak dan Ibu itu.
Semenjak Lea menjadi Dokter membuat mereka tidak sering kumpul seperti ini, kecuali Lea sedang libur seperti hari ini, kadang dia libur pun terpaksa harus kembali kerumah sakit karena urgent, dia sangat dibutuhkan rekan kerjanya untuk membantu pasien yang gawat darurat. Makanya dia sering dijuluki Dokter peri baik hati. Terkecuali di luar pekerjaannya Lea akan kembali ke stelan dia dengan wajah judes dan pedas saat dia berbeda pendapat dengan orang tersebut seperti Kevin dia sering sekali melontarkan kata-kata balasan dari ucapan Kevin. Sayangnya Kevin tidak mempan dengan ucapannya, malah semakin brutal mengejarnya.
Obrolan malam ini lagi-lagi tanpa kehadiran Ansell di rumah ini, dia memilih berada di Semarang meneruskan perusahaan kakeknya dari pihak Bunda karena Om Kahfi harus kembali ke desa bersama mbok, makanya Ansell membantu Bundanya untuk mengelola perusahaan kakeknya di Semarang.
Jiwa bisnisnya benar sama seperti Papa, dia sudah mempersiapkanlah lebih awal untuk terjun di dunia bisnis ini. Dia tidak ingin mengikuti jejak Kakak nya menjadi seorang dokter karena tidak tertarik dengan pekerjaan itu.
"Ini Abang sudah tersambung Pa." Ucap Alexander meletakkan ponsel pada tripodnya.
"Abang, kamu lagi ngapain ?" Tanya Fahlefi kepada Ansell yang sedang memegang tabletnya.
"Biasa Pa lagi ngecek em*il untuk proyek kerja sama gitu pa, apa boleh Abang kerja sama dengan pihak hotel Pa.. ?"
"Dimana bang ?"
"Di Bintan Pa."
"Wah kebetulan sekali Bang, Papa juga sekalian mau mengecek lokasi untuk buat perusahaan kita disana. Masih lihat dulu sih belum deal. Tapi menurut Papa ambil saja, bagus itu memperluas jaringan bisnisnya."
"Iya Pa."
"Di lihat dari google emang cocok deh bisnis di sana."
"Iya Pa para pengunjung bisanya ada yang ke Bintan dengan menggunakan kapal feri internasional, pengunjungnya banyak dari luar Pa, aku dapat tawaran kerjasama ini dari teman kuliah aku Pa, apa salahnya mencoba memperluas jaringan kan Pa ? "
"Iya ambil aja. Kalau nanti tempatnya emang strategis kita bisa bikin anak perusahaan kita disana makanya habis dari Bali Papa rencana langsung ke Bintan."
"Oke Pa, kemarin Abang juga udah konsultasi dengan Tante Melinda, Tante juga setuju gimana dengan Papa dan Bunda..?"
"Bunda lagi di dapur, cocok tuh Papa juga mendukung tapi untuk lebih jelasnya tanya bunda ya."
"Iya Pa, tapi kalau bunda bilang oke Abang akan mempersiapkan lebih awal dulu tapi sebelum Abang ke Bintan. Abang akan ke Jakarta aja habis Bunda sama Papa pulang dari Perjalanan bisnisnya. Abang Kangen, pengen pulang."
"Kami juga kangen." Ucap Lea.
"Kak Miss you "
"Miss you too Abang."
"Kangen Abang juga." Sambung Alex lagi.
"Abang juga.."
"Pa, Adek kemarin ada yang menyapa adek gitu, seumuran dengan Papa saat adek di mall kemarin." Ucap Alexander yang baru ingat soal kemarin.
"Siapa Dek ?"
"Katanya rekan bisnisnya Papa Bang. 'Wah, Alex yang akan jadi penerus Papa di perusahaan di Jakarta ya, soalnya Abangnya di Semarang kan ?' Alex jawab aja nggak tahu Om. Kenapa dia sok pengen tahu gitu sama aku Pa."
Fahlefi tertawa. "Belum berada di perusahaan Papa udah ada aja saingannya ya Dek. Seharusnya bilang iya dong Dek, biar mereka siap-siap mental gitu saingannya dengan Gen Z."
"Ah nggak mau pamer lah, kebetulan aku bareng sama teman kemarin Pa."
"Pamer apa Dek ?" Ucap Naomi bergabung membawa cemilan.
"Bunda.."
"Eh ada anak Bunda, ayo dong ke sini Bang sehari aja Bunda kangen nih."
"Abang juga kangen Bun. Sepertinya Abang akan pulang beberapa hari setelah Bunda sama Papa pulang dari perjalanan bisnisnya."
Lea dan Fahlefi saling pandang. Udah biasa dua orang ini mesra-mesranya di antara kami sejak dari dulu jadi aku dan Papa sudah biasa mendengarkan mereka berdua ini sayang-sayangan kecuali Alex yang selalu protes. Kadang wajah aja yang udah dewasa tapi kalau sudah bareng keluarga seperti ini kami kembali manja kepada Papa dan Bunda. Kalau mereka melihat kami cool, jutek di luar mereka akan tertipu melihat itu, karena kami anak-anaknya Papa dan Bunda yang paling manja saat bersama.
Lea memeluk lengan Papanya dan nggak mau kalah sama Adeknya yang di Semarang yang sedang manja-manja sama Bunda. Papa mengecup puncak kepala Lea.
"Tadi pamer apa Dek ?"
"Ada yang seumuran dengan Papa menanyakan soal Adek yang menerus perusahaan Papa, Bun."
"Oh, tidak semudah itu lho dek kamu tuh kalau mau meneruskan perusahaan Papa , eh bukan kalau lagi tapi wajib lho karena kamu dan Abang yang bisa meneruskannya, Kak Lea sudah menolak lho."
Lea tersenyum kepada Bundanya.
"Tapi Dek, sekarang ini cuma kamu yang tersisa Abang udah di Semarang jadi kamu harapan satu-satunya Papa lho, jadi kuliahnya yang benar lah maksud Bunda ya benar-benar ditekuni lho Dek. "
"Ya ampun Bunda ini Alex udah kuliah yang bener, Bunda mau gimana lagi coba."
"Pagi-pagi aja sering telat bangun gimana mau ngantor malah direkturnya yang memberikan contoh yang tidak baik."
Alex tertawa.." habisnya bablasan Bun habis subuh langsung tidur lagi."
"Tuh Bang kelakuan adek Mu."
Semuanya tertawa.
"Bun, Abang di ajak kerja sama di Bintan boleh nggak Bun ?"
"Eh bukannya Papa juga mau kesana Pa."
"Iya Sayang kita akan kesana juga mau ngecek lokasi. "
Naomi menganggu.
"Emang di ajak kerja sama dengan siapa Bang ?"
"Sama temen Bun tapi kali ini bagian Hotel, Bun ?"
"Hmm, sebelum deal cek dulu, tempatnya, yang ingin berkerjasama dengan kita, walaupun teman lho, kita harus memastikannya kalau di dunia bisnis itu nggak ada ya nama teman atau keluarga, kita benar bersaing dan harus berkerja profesional."
"Siap Bun, nanti Abang cek dulu."
"Bunda dan Papa ketemu kamu lho dek..?" Naomi beralih lagi ke si bungsunya.
"Hah ? ketemu dimana.?"
"Kamu sama cewek lho dek, Bunda bukannya melarang kalian pacaran tapi harus jujur sama Bunda lho masa iya kalian harus main backstreet sama Bunda dan Papa. Bunda sedih lho kok bagian ini kalian nggak minta pendapat Bunda ini itu. Kalau punya beban juga kalian berbagi, bukan di simpan sendiri."
"Maaf.." mereka kompak mengakui salah.
"Iya Bunda maafkan."
Fahlefi kali ini angkat tangan, dia biarkan istrinya menghandle bagian ini.
"Jadi itu pacar Adek ?"
"Bukan Bun."
"Bukan gimana, kok bareng sama adek?Jadi dia siapanya adek ?"
"Teman dekat aja Bun belum status pacaran, Adek sepertinya belum mau pacaran fokus dengan kuliah dulu."
"Oh, jangan gantungin perasaan anak orang."
Alex tertawa." Iya Bun, sepertinya Adek harus buat Bunda dan Papa bangga dulu sama Adek. Kalau udah mapan seperti Papa, cewek bakalan klepek-klepek sama Adek."
"Eetss.. jangan samain sama Bunda ya, walaupun Papa sudah mapan untuk mendapatkan Bunda mu Papa perlu perjuangan lho berbagai penolakan dan harus mendapatkan yes dari kakak mu juga lho."
Naomi dan Lea saling pandang dan mereka berdua tersenyum.
"Iya Pa, adek paham kok."
"Kalau Abang gimana ? "
Ansell tersenyum ternyata dia dapat bagian juga di interogasi sama Bundanya.
"Sama profesi sama Kakak Bun, ya gitu masih pacaran belum mau melangkah ke arah pernikahan."
"Wah Pa, calon mantu kita Dokter Pa bisa kolaborasi nih sama kak Lea."
"Belum bisa dibilang calon mantu Bun, Abang belum yakin aja sih sama dia jam kerjanya membuat aku berpikir lagi."
Lea tertawa.. "Wah berani kamu nyindir kakak mu."
Ansell ikut tertawa. "Ampun kak, habisnya jadwal ku dengan dia selalu bertabrakan sepertinya aku nggak kuat deh Kak, kadang kita ribut masalah jadwal kerja kita yang padat, pantasan saja Kakak menolak beberapa cowok karena kakak pengen orang tersebut bisa mengerti kakak kan ?"
"Hmm... Nah itu salah satu point nya, tapi kriteria kakak harus sama seperti Papa atau mirip dikit deh seperti Papa. Udah gitu aja sih. Kalau cowok model menye-menye mending nggak usah maju untuk mendekati Kakak. Udah ditolak langsung tanpa ada kata-kata indah yang harus dirangkai untuk menjaga perasaannya."
Fahlefi memeluk Lea, "duh anak Papa udah gede nih. Itu dengar itu Ansell dan Alex, kriteria kalian itu harus sama seperti Bunda juga atau mirip seperti sifat Bunda karena Papa tidak suka kekasih kalian mendikte Bunda ini itu, apalagi sampai bikin Bunda sedih dengan ucapannya yang menyakiti bunda, udah pasti Papa tidak akan merestui hubungan kalian itu sampai kalian mengemis minta restu pun Papa tidak akan merestui kalau sudah bikin perasaan Bunda terluka."
"Iya Pa." Ucap mereka kompak.
"Lea.. !"
"Iya Pa, kenapa ?"
"Kamu lagi dekat dengan Dokter ya ?"
"Hah ? nggak Pa, dia cuma rekan kerja Lea aja Pa. Nggak ada perasaan sama sekali"
"Kalau dengan polisi itu ?"
"Hah ? bentar Pa.. ! Papa menyuruh orang memantau pergerakan Lea ya ?"
"Untuk jaga-jaga sayang cuma memantau kalian saja . Apalagi Lea anak perempuan satu-satunya Papa dan dua jagoan Papa juga, l cukup dulu Papa kecolongan Bunda di culik jadi Papa tidak akan biarkan terjadi kepada kalian. Jadi pantauannya masih jauh kok"
Lea bisa apa kalau Papanya udah bertindak. "Dia cuma teman Pa, itu juga di jebak sama Sheila untuk kenalan. Jadi kami hanya berteman saja Pa."
"Jadi belum ada yang mau kasih mantu atau cucu untuk Bunda dan Papa nih."
"Belum.. "Mereka kembali kompak menjawab.
Mereka semua tertawa, mereka juga membicarakan rencana liburan bersama nanti. Obrolan malam ini benar komplit tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.
***