Angin malam berhembus menerpa wajahnya, ia menggenggam telepon genggamnya sambil berdiri di balkon menghadap ke arah taman di depan Villa ini. Ia memberikan instruksi dengan nada rendah, nyaris seperti bisikan iblis.
"Lakukan dengan rapi," pesannya, suaranya mengandung perintah yang tak terbantahkan. "Buat seolah-olah ini kecelakaan murni. Jangan sampai kalian ceroboh. Aku tidak ingin mereka mati secepat itu, aku ingin menyiksa keluarga itu dengan caraku sendiri, ini kesempatan yang tepat saat mereka pulang dari perjalanan bisnisnya aku sudah pasang umpan untuk mereka, kalian sabotase secepat mungkin jangan sampai ketahuan. Aku mengorbankan banyak uang untuk semua ini."
Di seberang sambungan, suara anak buahnya terdengar agak ragu, "Tapi Bos, bagaimana jika saat mendarat mereka mengalami cidera serius?"
Pria itu menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai iblis. "Aku akan segera terbang ke sana. Jika mereka terluka, aku sendiri yang akan mengobatinya. Jangan sesekali membawa mereka ke rumah sakit. Ingat, lokasi persembunyian kita adalah harga mati untuk ku, ini sudah aku persiapkan dari awal kini waktunya aku bertindak."
"Iya Bos kami akan memastikan keselamatan mereka, Bos tenang saja aku akan menyiapkan anak buah untuk berada di hutan tempat terjadinya insiden itu. Kita akan menghilangkan jejak mereka di hutan tersebut membawa mereka jauh dari lokasi kejadian."
"Bagus, aku sudah memberikan waktu untuk mereka menikmati kebahagiaan mereka selama ini, kini waktunya aku bertindak melihat penderitaan mereka. Jangan sampai ada jejak yang terendus. Apakah kalian mengerti ucapan ku ?"
"Mengerti Bos."
Ia tahu bahwa mangsanya bukanlah orang sembarangan. "Satu hal lagi," tambahnya dengan nada tajam, "Tinggalkan semua barang bawaan mereka di lokasi kejadian dan bakar semuanya. Jangan bawa apa pun ke markas. Mereka punya cara untuk melacak benda-benda itu, dan aku tidak ingin tamu tak diundang datang terlalu cepat sebelum aku menyiksa mereka."
"Siap, Bos. Kami akan laksanakan perintah," sahut suara di sana sebelum sambungan terputus.
Dia menatap ke depan hanya terdengar suara angin, namun suasana di dalamnya terasa semakin pekat oleh kebencian. Pria itu menatap ke langit membayangkan wajah-wajah yang sebentar lagi akan berada dalam genggamannya.
"Kalian akan merasakan apa artinya penderitaan yang sesungguhnya," gumamnya pelan. "Ini adalah bunga dari dendam lama yang kalian tanam saat kalian menjebloskan ayahku ke penjara. Aku tidak akan membalas dengan keadilan, aku akan membalas dengan kekejaman."
Nama yang selama ini menjadi pusat dari seluruh rencana gelapnya. Ia membayangkan ekspresi ketakutan yang akan menghiasi wajah wanita itu saat menyadari siapa dalang di balik semua petaka ini.
"Kamu akan sangat terkejut, Lea," ucapnya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan hampa. "Aku ingin melihatmu hancur perlahan, sampai tidak ada lagi yang tersisa dari harga dirimu."
Tawa itu perlahan meledak menjadi tawa puas yang menggema. Rencana yang telah ia susun bertahun-tahun kini mulai bergulir, dan ia tidak akan membiarkan apa pun menghentikannya.
Tiba-tiba sepasang lengan lembut melingkar posesif di pinggangnya dari belakang. "Kenapa kamu bahagia sekali sayang kamu habis telpon sama siapa ?"
"Hanya anak buahku," jawabnya singkat.
"Apakah kamu sudah mandi." Usapan lembut pada tangan sang kekasih
"Sudah sayang, baru saja selesai mandi. Tapi aku belum pakai baju. Aku mencari mu ternyata kamu di balkon."
Pria itu membalikkan tubuh, menatap lekat manik mata kekasihnya sebelum akhirnya memangkas jarak. Tanpa kata, tanpa jeda, ia menenggelamkan diri dalam ciuman yang menuntut.
Jemari pria itu bergerak cekatan, melonggarkan ikatan bathrobe yang menjadi satu-satunya penghalang. Ia berpindah, mendaratkan kecupan-kecupan hangat di ceruk leher, menghisap kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda merah yang kontras dengan kulit putih sang wanita. Ia membisikkan janji yang menggetarkan udara malam, "Aku ingin mendengar suara lenguhanmu malam ini."
"Tapi aku takut, sayang... aku belum pernah melakukannya."
"Tenang saja, aku sengaja mengajak kamu kesini malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersama mu, aku janji tidak akan bikin kamu hamil. Malam ini kita senang-senang ya."
"Hah ? senang-senang Tapi-,"
"Percayalah padaku," bisik pria itu tepat di telinga sang wanita, napas hangatnya membuat bulu kuduk kekasihnya meremang.
Dia terpaksa mengangguk walaupun dengan keraguan.
Kini, tubuh wanita ini sudah berakhir di atas ranjang namun kontras dengan hawa panas yang memancar dari raga pria yang mengungkungnya, mengunci pergerakannya, menatapnya dengan binar yang menuntut penyerahan total.
Ketika tangan pria itu mulai menjelajah lebih jauh, sang wanita meremas ujung bantal, membiarkan sebuah lenguhan tipis lolos dari bibirnya yang bergetar.
Ia merasa tak berdaya, bukan hanya karena tenaga sang pria, melainkan karena setiap sentuhan intim di area-area rahasianya telah melumpuhkan syaraf penolaknya. Malam ini ia hanya bisa pasrah saat kesucian yang selama ini ia jaga akan direnggut oleh sang kekasih.
***
Pagi-pagi Naomi sudah mengumpulkan keluarganya di meja makan. Bahkan Ansell di Semarang yang hanya hadir lewat layar ponsel dari kejauhan, tak ingin melewatkan momen ini.
"Makan apa kamu Bang ?"
"Nasi goreng ala-ala Abang nih nek, buatan sendiri." Ucap Ansell
"Kenapa nggak bareng Tante Melinda aja sih bang?"
"
"Nggak ah pengen sendiri aja nek, kan Abang juga bisa ke rumah Tante kapan pun Abang mau. Karena Tante butuh privasi Nek, Abang pun juga butuh itu. Tenang aja Abang oke kok tinggal di sini. Tukang bersih-bersih tinggal di telpon dong Nek dan Abang juga bisa masak ala-ala Abang kok. Kalau mau makanan yang lain tinggal di pesan."
Rini menghela napasnya. " Udah saatnya cari istri lagi Bang."
"Haha.." Ansell tertawa mendengarkan ucapan Neneknya.
"Belum mau dia Ma udah disidang semua tadi malam jawaban semua nya belum ada yang mau maju." Ucap Naomi.
"Lho jadi belum ada yang mau kasih cicit untuk nenek nih ?" Ucap Rini kepada cucu-cucunya.
"Belum Nek." Ucap Alex mewakili kakaknya.
Rini menghela napasnya kembali.
"Udah Ma, jangan di paksakan biarkan mereka menentukan pilihannya masing-masing toh jodoh pasti akan bertemu." Ujar William membela cucu-cucunya. Sebelum Cucunya di sodorkan calon menantu ini itu.
"Setuju pendapat Kakek."
"Ayo Ma cicipi masakan baru Naomi." Naomi menengahi percakapan ini bisa-bisa mereka tidak jadi pergi memperdebatkan masalah ini. Naomi, dengan naluri seorang ibu, segera mengalihkan pembicaraan dengan memamerkan masakan barunya. Ia tahu benar cara mencairkan kembali suasana dengan perdebatan.
"Kamu masak Na, "
"Di bantu sama mbok sih Ma."
"Enak.. "
"Makasih Ma, Nanti bawa ke sebelah ya Ma Nana bikin banyak tuh."
"Oke Na."
Yang lain sibuk dengan sendok mereka untuk siap-siap beraktivitas tapi Lea tampak tenang namun penuh perhatian. Meski tugas di rumah sakit sudah menanti, langkahnya tertahan oleh rasa sayang. Ia ingin memastikan keberangkatan orang tuanya dilepas dengan pelukan paling hangat. Lea sudah bilang sama temannya sedikit telat ke rumah sakit hari ini dia tidak bisa pergi begitu saja sebelum melihat Papa dan Bundanya berangkat.
"Alex, itu skripsinya gimana ?"
"Aman Kek tinggal sidang aja sih Alex lagi memperbaiki yang di coret-coret sama pembimbing kemarin."
"Ayo secepatnya. Biar bisa wisuda tahun ini."
"Iya Kek siap laksanakan."
Setelah sarapan pagi ini, Momen perpisahan itu akhirnya tiba.
"Abang Bunda dan Papa pergi dulu "
"Iya Bun, hati-hati ya love you.."
"Love you too Abang."
Pelukan Naomi terasa lebih lama dari biasanya, ada doa yang terselip di setiap kecupan kening untuk anak-anaknya.
"Minggu ini Bunda pulang kok."
"Iya Bun" ucap Alex.
"Lea, titip adik mu bangunin dia kalau pagi."
"Iiih Bunda, Adek akan bangun cepat kok.'
"Baguslah biar kakak mu nggak repot-repot.'
"Bun hati-hati ya sampai salam sama Om Donny, Tante Ara dan Melly juga ya Bun."
"Iya sayang." Naomi mengecup kening Lea.
Kini giliran Fahlefi ia pun tak mau kalah dia memeluk anak-anaknya serta juga memberikan wejangannya. "Jangan nyusahin kakak mu."
"Iya Pa,"
"Pokoknya Papa pulang udah ada kabar baik dari adek."
"Siap Pa."
Ini perjalanan bisnis yang lama karena Dia akan meninjau lokasi yang sudah di bahas kemarin.
Fahlefi memeluk Lea. "Kalau ada papa kabarin Papa segera ya sayang. Titip adek ya. ?"
"Iya Pa, kalau udah nyampe di Bali kabarin ya Pa." Ucap Lea.
"Iya Sayang.. "Fahlefi mengecup kening anaknya.
Waktunya mereka berdua melakukan perjalanan bisnis ke Bali proyek yang mereka bangun dulu kini akan di kembangkan lagi di Bali jadi mereka akan meninjau pembangunan di Bali ini.
Saat mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman mereka menuju bandara, lambaian tangan Fahlefi dan Naomi menjadi penutup babak pagi itu. Mereka terbang membawa ambisi bisnis, namun hati mereka tetap tertinggal di rumah, pada anak-anak yang kini mulai belajar mandiri di bawah atap Jakarta yang teduh.
***