Pagi di rumah sakit selalu memiliki ritmenya sendiri, detak jam yang beradu dengan langkah kaki yang terburu. Bagi Lea, visit pasien bukan sekadar rutinitasnya saja melainkan momen transfer ilmu juga. Hari ini, ia membiarkan Ikhwal mengambil alih pencatatan medis. Ada kepuasan tersendiri melihat juniornya itu berkembang, sebuah siklus yang ia hargai sebagaimana ia menghargai Dokter lainnya.
Tiba-tiba Rafael menghampiri Lea di meja administrasi Lea berbincang dengan Dokter Rafael tentang pasien yang harus di operasi.
Ini yang dia suka dari Dokter Rafael dia mau berbagi ilmu yang dia punya begitu juga dengan Lea, intinya mereka sama-sama menciptakan simbiosis intelektual yang sehat di antara mereka. Namun, perhatian Rafael yang terkadang melampaui urusan medis kepadanya.
"Aku kembali ke ruangan ku dulu Kak." Ucap Lea merasa sudah mulai risih dengan pandangan kepadanya ada yang terlihat berbisik-bisik walaupun jauh tapi Lea bisa menangkap bahwa dia sedang dibicarakan lagi.
"Iya nanti sempatkan makan siang di bawah bersama ya. Mana kemarin kita nggak jadi makan siang."
"Insyaallah Kak aku nggak janji." Lea merasa tak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitar meja administrasi saat ajakan makan siang di lontarkan.
"Oke Le, aku siap-siap dulu ya."
Lea mengangguk.
Rafael meninggalkan Lea di meja administrasi dia harus bersiap-siap melakukan operasi lagi.
Lea pun mengintruksikan kepada Ikhwal untuk menyelesaika mencatat riwayat hasil visit kepada pasien tadi, dia pamit kepada rekan kerjanya dan kembali melangkahkan ke ruangannya sambil meletakkan stetoskop di lehernya. Kini ada sahabat kesayangan sudah muncul di layar ponselnya.
"Buk Dokter apa kabar hari ini ?"
"Alhamdulillah aku baik saja buk guru. Kalau Buk guru gimana kabarnya?"
"Aku juga baik hari ini Le."
"Ayo pulang ke Jakarta kangen level maksimal nih."
"Haha.. padahal kita saling kontak-kontakan lho Le."
"Tetap aja belum bisa mengobati rindunya sama kamu Lun, terakhir kita ketemu dua tahun kemarin lho."
"Uuh sahabat cayanggg ku.. Insyaallah libur sekolah ini aku akan pulang Le, udah kangen juga sama keluarga di Jakarta."
"Habisnya Buk guru sibuk banget, terbang sana sini jadi volunteer, patut di anjungin jempol nih.
"Haha .. keliling Le, berbagi ilmu yang aku punya, Alhamdulillah jadwal ku selanjutnya mau ke pulau-pulau kecil gitu deh, yang berada di pelosok-pelosok sana siapa tahu aku bisa memberikan ilmu untuk mereka."
"Hati-hati lho jangan mainnya jauh banget aku kesulitan menjemput mu nanti kalau kamu kenapa-kenapa."
"Haha.. Siap buk Dokter, teman mu ini bisa jaga diri baik-baik kok dan masih banyak rekan-rekan yang lain juga."
"Aku iri, aku mau jadi volunteer tapi papa nggak ngizinin padahal seru lho bisa Coleb kita Lun sayangnya Papa udah bilang nggak boleh. Tapi, aku juga nggak bisa free seperti mu."
"Udah ikutin kata orang tua aja Le, nggak baik membantah Papa mu, lagian Papa mu pasti sudah memikirkan resiko-resikonya. Lea, kamu harus tahu dan sadar bahwa kamu itu bukan orang sembarang."
"Iya Lun, Papa takut terjadi sesuatu kepada ku, tapi untuk kali ini lagi aku boleh nitip sesuatu untuk mereka lagi kan."
"Boleh.."
"Nanti aku transfer, sayangnya aku nggak bisa ke tempat mereka mungkin suatu hari nanti kali ya aku bisa jadi volunteernya."
"Kamu udah melakukan yang terbaik Le, caranya aja berbeda dengan ku."
"Iya nih, aku mencoba berpikir seperti itu juga untuk menghibur diri sendiri tapi aku benar-benar ingin bisa terjun langsung ke masyarakat yang membutuhkan bantuan ku tapi ide Papa kemarin bagus juga ya, aku kepikiran pengen coba jadi relawan di Sumatera aja, aku akan coba lihat jadwal ku dulu agar aku bisa jadi relawan di Sumatera di tempat bencana alam kemarin Lun."
"Wah bagus itu, kalau emang bisa ayo kita kesana bareng." Ucap Luna antusias.
"Oke, tungguin info dari aku ya kamu lihat sendiri aku nggak sebebas itu, dapat izinnya harus melewati Bunda dan Papa dulu."
"Hihi.. betul-betul."
Begitu Lea mendekat kearah ruangannya seseorang sudah menunggu dia di depan ruangannya.
"Lun nanti kita telpon lagi ya aku kedatangan tamu nih."
"Oke"
Sambung itu berakhir.
Sheila, Sosok yang beberapa hari ini menghilang seperti ditelan bumi setelah drama yang ia ciptakan kepada Lea dan Kevin. Dia sampai nangis kepada kekasihnya atas ide yang dia buat untuk Lea hingga Lea nyuekinnya. Hari ini dia memberanikan dirinya untuk Ngomong sama Lea.
Sheila berdiri di sana dengan raut wajah yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah dan ketakutan.
"Ngapain kamu berdiri di depan ruangan ku, mau aku bedah juga?" Kalimat itu meluncur begitu saja. Tajam, namun memiliki nada sindiran. Lea tahu Sheila ingin bicara, tapi Lea juga tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
"Lea, aku mau ngomong sama kamu Le."
"Ngapain ? mau ngomong apa coba ? atau sudah merenungkan atas perbuatan yang kamu lakukan kepada ku beberapa waktu yang lalu hingga aku di kejar sama polisi resek itu."
"Lea..!"
"Hmm, Masuk." Perintah Lea kepada Sheila dia tidak mau ada orang yang melihat dia mengomelin Sheila.
Sheila menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia meremas jemarinya sendiri dia baru ngomong dikit aja tapi Lea sudah menceramahinya habis-habisan. Tapi hari ini dia bertekad agar mampu membuat Lea tertegun dengan ucapannya nanti.
"Aku datang bukan cuma mau minta maaf aja, Le. Aku... aku mau kasih tahu kalau aku akan bertunangan bersama Dika beberapa hari lagi."
Kata "tunangan" itu menggantung di udara, menciptakan jeda yang panjang. Lea, yang tadinya siap melontarkan sindiran tajam lainnya, mendadak kehilangan kata-kata.
"Bertunangan?" ulang Lea lirih. Ada rasa campur aduk di hatinya. Di satu sisi, ia merasa dikhianati oleh tindakan Sheila sebelumnya, namun di sisi lain, dia sangat bahagia.
"Iya, Le.. dan aku nggak mau momen ini terlewati tanpa kamu di sampingku sebagai sahabat. Aku tahu aku keterlaluan, tapi tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya sebelum hari bahagiaku tiba."
Lea meletakkan stetoskop di meja, lalu beralih ke wajah Sheila yang penuh harap. Kemarahan itu masih ada, namun kabar tunangan ini seperti air yang berusaha memadamkan api. Di rumah sakit ini, Lea belajar bahwa luka fisik bisa dijahit dan disembuhkan, namun luka di hati membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan "operasi" yang jauh lebih rumit.
"Wah kamu bawa berita bahagia ternyata hmm, aku ikut bahagia mendengarnya." Ucap Lea dengan nada senatural mungkin padahal di dalam hatinya dia sangat senang sahabatnya mau tunangan.
"Tapi aku masih belum bahagia kalau belum mendapatkan maaf dari mu. Aku tahu kamu masih marah kepada ku, kamu mengabaikan pesan bahkan telpon ku."
Lea menghela napasnya, "Sudahlah jangan dipikirkan lagi aku sudah tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Aku tahu niat mu bagus sayangnya aku benar tidak memikirkan untuk pacaran dulu."
"Lea, aku bukannya mau memuji Kevin setinggi langit," ujar Sheila memecah hening. "Tapi Dika, sahabat baiknya sendiri, yang bilang kalau Kevin itu memang anak baik-baik. Dia tulus, Le."
Lea menarik napas kali ini terdengar lebih panjang, menatap ke arah kejauhan seolah ingin membuang semua bayangan tentang lelaki itu. "Aku benar tidak tertarik, udah ah aku nggak mau bahas itu lagi anggap aja kemarin bumbu-bumbu kehidupan untuk ku." Jawabnya tegas, namun tetap berusaha tenang.
Lea tidak mau terjebak dalam topik yang sama, Lea segera mengalihkan pembicaraan. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Selamat ya, Sheila. Akhirnya kamu mau juga dinikahi sama Pak Polisi itu."
Mata Sheila berbinar. Ada rona bahagia yang tak bisa disembunyikan. "Iya, Le. Setelah bertahun-tahun cuma menyandang status pacaran, akhirnya kami naik tingkat juga. Doakan kami langgeng dan bahagia selalu, ya."
"Amiin," sahut Lea tulus. Namun, keraguan sedikit membayang di wajahnya. "Tapi aku tidak tahu bisa datang tepat waktu atau tidak nanti. Kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaanku, kan?"
"Tidak apa-apa, Le. Aku mengerti. Tapi aku sangat berharap kamu mengusahakan untuk datang," balas Sheila lembut. Keheningan sejenak menyelimuti mereka sebelum Sheila memberanikan diri bertanya dengan suara kecil, "Jadi... aku dimaafkan tidak nih?"
Lea tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah isyarat yang cukup untuk meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Seketika, Sheila menghambur memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Terima kasih ya, Lea... dan Terima saranku tentang Kevin," bisik Sheila di akhiri dengan terkekeh.
Lea melepaskan pelukan itu perlahan, menatap Sheila dengan tatapan tajam.
"Sheil. Aku tahu niatmu baik, tapi aku punya pilihanku sendiri. Biarkan hatiku yang memilih siapa yang pantas untuk menetap dan siapa yang harus pergi."
Sheila tersenyum haru, menyadari keteguhan hati sahabatnya.
"Iya, Le. Aku janji tidak akan ikut campur lagi urusan asmaramu. Aku hanya berdoa supaya kamu segera menemukan labuhan terakhirmu, seseorang yang benar-benar bisa mengerti kamu."
"Amiin," jawab Lea singkat.
"Tapi Le..." Sheila menggantung kalimatnya dengan nada usil. "Kalau seandainya labuhan itu ternyata Kevin, bagaimana?"
Lea mendengus, meski ada sedikit senyum kecut di sudut bibirnya. Kevin tidak menghubungi dia hari ini orang itu kemana atau dia sudah menyerah ? Batin Lea.
"Ya kalau memang berjodoh, aku bisa apa? Itu semua kehendak Yang di Atas. Tapi jujur, aku harap bukan dia. Dia bukan kriteriaku."
"Semoga berjodoh ya!" goda Sheila sambil tertawa.
"Sheila !" Lea membelalak, mencoba memberikan teguran keras.
"Hehe, bercanda. Kok sensitif amat sih kalau bahas Kevin? Jangan-jangan benar jodoh lho," Sheila terus menggoda, melarikan diri dari tatapan tajam Lea.
"Aku harap tidak," ucap Lea sekali lagi, mengelak dengan tegas, meski dalam hati ia tahu bahwa takdir seringkali bekerja dengan cara yang paling tidak terduga.
***