"Anak Bunda lagi apa nih kok udah pulang aja bukannya hari ini sampai sore ? Naomi sedang melakukan video call dengan Lea.
Sedangkan Lea sedang sibuk memakai sunscreen di wajahnya sambil menatap ke layar ponselnya. "Ini lagi siap-siap Bun, Sheila tunangan hari ini beberapa hari yang lalu dia nyamperin Lea di rumah sakit kasih berita bahagia ini Bun. Lea sengaja pulang cepat tadi Lea minta rekan Lea jaga-jaga sebentar Bun, jadi Lea nggak bisa lama-lama juga di rumah Sheila nanti Bun, shift Lea sampai sore paling kembali ke rumah nanti agak malam di sambung lagi ada jadwal operasi besok lagi.
Naomi menghela napasnya, mendengarkan ucapan Lea barusan. Mau protes pun tidak bisa ini sudah menjadi rutinitas Lea setiap harinya kecuali dia lagi libur.
"Bun kenapa diam, Lea tidak papa kok." Lea menatap Wajah bundanya yang tiba-tiba berubah Lea sudah bisa menangkap kalau Bunda nya memikirkan ucapannya tadi. "Bun.. Lea oke kok, Bunda nggak usah khawatir selagi doa yang Bunda panjatkan untuk Lea dan adek-adek, kami aman Bun. Kami masih punya doa dari Bunda jadi Tuhan akan melindungi kami."
Naomi mengangguk dia sangat mengerti, tapi pekerjaan Lea yang membuat dia khawatir melihat Lea kadang harus pulang malam. Dia sampai meminta Mas Fahlefi agar anak buahnya memantau pergerakan Lea, aku takut sekali, ada orang jahat yang tiba-tiba menyerang Lea. Tidak semua orang bisa menerima kenyataan bahwa saat melakukan operasi tiba-tiba Pasiennya meninggal, tapi sejauh ini Lea selalu melakukan yang terbaik.
"Bunda jangan khawatir Lea baik-baik saja Bun."
"Iya sayang, Sheila tunangan dengan siapa ?" Naomi beralih topik pembicaraan yang tadi.
"Dengan pacarnya Bun, si Polisi itu."
"Oh yang pernah diceritakan Lea dulu itu ya ?"
"Eh, Dulu Lea pernah cerita ya Bun, Lea udah lupa." Dia terkekeh. "Dia tunangan dengan polisi yang dipacarinya beberapa tahun ini bun hampir 3 tahun pacarannya."
"Wah langgeng ya hubungan mereka pasti mereka saling menyayangi satu sama lain, tapi ada juga sih polisi ya gitu deh tebar pesona sana sini."
"Iya Bun. Tapi Dika sejak dari dulu setia dan sayang sama Sheila."
"Syukurlah.."
"Itu beneran mau pakai kebaya ke rumah sakit habis dari tempat Sheila ? "
"Hehe iya Bun, Tenang aja aku bawa baju ganti Bun, nggak sempat ganti ke rumah lagi."
"Oke Bunda mengerti."
Lea beralih mengoleskan Cushin matte nya, biar makeupnya bisa tahan lama.
"Hmm, tinggal Lea dan Laluna lagi nih, belum ada hilalnya." Lea tiba-tiba terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri.
"Ya ampun Bun, harus banget pakai kata hilal kayak nunggu hilal Ramadhan aja."
Naomi tertawa.
"Habisnya nggak ada yang apelin anak Bunda ke rumah."
"Auh, nggak mau bahas ini lagi nanti Lea langsung bawa calon suaminya Lea ke rumah nanti Bun."
"Wah ini yang Bunda suka. Sangat di nantikan pasti Papa senang mendengarnya."
"Ya ampun Bun, belum sekarang suatu hari nanti." Lea terkekeh.
"Makanya bunda bilang tadi belum ada hilalnya."
"Iya Bunda sayang btw, Bunda lagi apa kok sendiri aja Papa mana ? "dia tidak melihat Papanya yang selalu nempel sama Bundanya.
"Lagi nunggu Papa meeting jadi Bunda ke tempat Tante Ara aja sepertinya lama. Udah bilang sama Papa kok tadi mau ke rumah Om Donny."
"Jangan keluyuran di daerah orang Bun. Hilang nanti Lea bakalan panik lho nyari Bunda. Tahu sendirikan Bunda di culik dulu, Lea seperti mayat hidup."
"Iya sayang nggak jauh-jauh kok nanti Papa akan jemput Bunda kesini di tempat Tante Ara, Tante sedang di dapur ambilin Minum dan nyiapin cemilan untuk kita cerita-cerita. Habis dari sini nanti Bunda dan Papa mau pergi, sekalian kita mau nostalgia saat Bunda dan Papa Ke Bali dulu."
"Uuhh, yang pacaran terus jiwa jomblo ku meronta-ronta nih Bun."
"Habisnya anak Bunda nggak mau pacaran ya udah Bunda pacaran aja sama Papa selamat menikmati dan melihat kemesraan Papa dan Bunda terus."
"Hmm, sampai kami iri kan Bun, lanjut terus." Ucap Lea.
Naomi kembali terkekeh. Di rumah sudah menjadi kebiasaan dia yang kadang bucin akut sama Mas Fahlefi kadang Mas Fahlefi yang bucin akut sama aku jadi suasana harmonis dan romantis itu selalu kami bagikan di rumah agar anak-anak bisa belajar nanti seperti ini lho pasangan suami istri sebenarnya saling cinta, saling sayang, saling pengertian satu sama lain.
"Lea besok Bunda akan melakukan perjalanan lagi di daerah kepulauan Riau."
"Oke Bunda pokoknya hati-hati ya, Lea nggak bisa telponan sama Bunda besok Pagi-pagi Lea ada operasi Bun."
"Iya Nggak Papa, Bunda mengerti."
"Kabari aja kalau bunda sudah sampai dan harus Ingat ini, jangan sampai Alex punya adek, bisa ngambek tuh anak."
Naomi tertawa, digodain sama anaknya. Dia kalau sudah bermesraan sama suaminya suka lupa diri. Malah Mas Fahlefi minta nambah lagi dan lagi jatahnya.
Lea benar di temani Bundanya saat dandan sampai-sampai Tante Ara pun ikut bergabung melihat Lea sedang makeup.
***
Lea berdiri menatap pantulan sahabatnya di cermin. Hari ini bukan sekadar hari biasa, hari ini adalah hari yang penting dalam hidup Sheila, dan Lea memastikan dirinya menjadi orang yang hadir menyaksikan kebahagiaan Sheila. Ia sengaja datang lebih awal, mengabaikan tumpukan tugas dirumah sakit sejenak demi mengawal Sheila menuju babak baru kehidupannya.
"Sekali lagi selamat ya, Sheila," bisik Lea tulus, Lea melingkarkan pelukan hangat di bahu sahabatnya itu.
Ada keharuan yang menyusup di antara mereka. Pikiran Lea terbang kembali ke lorong-lorong kampus bertahun-tahun lalu. Mereka adalah dua kutub yang berbeda Lea yang berkutat dengan anatomi tubuh manusia dan rumus kimia kedokterannya, sementara Sheila sibuk dengan pasal-pasal hukum yang dia geluti. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam hiruk-pikuk aktivitas organisasi mahasiswa.
Siapa sangka, diskusi panjang di kantin dan perjuangan menyelesaikan skripsi kala itu telah membuat persahabatan yang begitu kuat. Perbedaan profesi justru menjadi warna yang saling melengkapi. Kini, tangan Lea yang biasanya terampil memegang stetoskop, dengan lembut merapikan helai rambut Sheila, bersiap mengantarnya menuju pintu ballroom tempat janji suci pertunangan akan segera diikrarkan.
"Apakah kamu sudah siap Sheila."
"Sudah Le, "
"Bismillah ya semoga berjalan dengan lancar acara mu hari ini."
"Amiin."
"Lho kenapa tangan kamu dingin begini ? jangan sampai pingsan. " Ucap Lea membuat Sheila menjadi rileks kembali.
"Ya jangan sampai pingsan lah Lea, aku cuma grogi aja Le."
"Nggak papa, rileks aja dulu tarik nafas perlahan-lahan dan hembuskan pelan-pelan lagi biar jadi rileks. Situasi kek gini wajar aku juga kadang pernah mengalaminya, nanti pegang aja tangan ku agar bisa mentransfer aura-aura kekuatan kepada mu."
"Ya ampun kek punya ilmu batin aja. "
Mereka berdua tertawa. Perlahan-lahan Sheila mulai rileks. Mereka berdua di minta menuju ke tempat acara.
Pintu ballroom terbuka perlahan, mengalirkan simfoni musik klasik yang lembut ke lorong hotel yang tenang. Lea berjalan dengan anggun di samping Sheila, sambil sesekali melirik sahabatnya untuk memastikan gaun panjang itu tidak terinjak.
Seseorang yang sejak dari kemarin tidak ada kabarnya sekarang berada di kursi barisan paling depan menatap ke arah Lea. Kali ini Lea benar sial entah sengaja di atur Lea benar tidak tahu. Dia terpaksa duduk di sebelah Kevin karena panitia meminta dia duduk disana. Lea bisa apa, walaupun dalam hatinya dia ogah duduk di sebelah Kevin.
"Dokter juga butuh hidrasi di tengah pesta, ya?"
Suara bariton itu membuat Lea menoleh. Dengan senyum yang sulit diartikan campuran antara kagum dan gugup yang disembunyikan dengan rapi. Hari ini Lea sangat cantik sekali.
Lea tertawa kecil, sebuah nada yang selalu berhasil membuat Kevin kehilangan fokus sesaat. "Ternyata pengamatanmu tajam, Kevin. Mengawal calon pengantin ini ternyata lebih menguras energi daripada jaga malam di rumah sakit aku benar harus tersenyum sejak dari tadi."
"Tapi kamu melakukannya dengan sangat baik," sahut Kevin cepat, matanya menatap Lea dengan intensitas yang lebih dalam dari biasanya. "Maksudku, bukan hanya soal menjaga Sheila, tapi bagaimana kamu membawa dirimu malam ini. Kamu tampak sangat bersinar."
"Eh itu pujian atau ledekkan."
" Itu pujian untuk mu Lea."
Bisik-bisik mulai terdengar melihat Lea dan Kevin mengobrol dengan akrab.
Lea sedikit tersipu. "Terima kasih. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk hari besar sahabatku."
"Aku selalu kagum bagaimana kamu memberikan yang terbaik untuk semua orang, Lea," suara Kevin merendah. "Terutama pasienmu, Keluarga pasienmu, bahkan keluarga mu, dan sahabat mu Sheila aku mendengarkan semua dari Dika saat Sheila membicarakan mu kepada Dika. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah ada ruang tersisa untuk dirimu sendiri? atau mungkin, untuk orang lain yang ingin masuk ke dalam duniamu?"
Lea mengerutkan keningnya. Lagi dan lagi pembicaraan itu mengarah ke suatu hubungan.
Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih tipis. Mereka fokus berbicara sebelum acara inti dimulai. Lea tertegun, menangkap makna tersirat di balik pertanyaan Kevin. Sebelum ia sempat menjawab, Kevin kembali tersenyum tipis, seolah ingin mencairkan suasana yang mulai serius.
"Jangan dijawab sekarang Lea, aku tidak mau kamu emosi seperti di cafe waktu dulu itu dan aku juga tahu kamu sedang dalam 'mode serius dan siaga' untuk Sheila. Tapi aku akan mengajak mu minum kopi lagi, bukan dari mesin rumah sakit yang membuat menarik perhatian orang lain kepada mu, aku tahu kamu tidak suka hal seperti itu orang lain mengusik mu. Lea, aku harap kamu bisa melepas stetoskop mu sejenak berbicara dari hati ke hati kepada ku."
Lea masih mencerna ucapan Kevin barusan. Ini seperti Kevin akan menyatakan perasaannya kepada dirinya ini. Duh, Aku harus bagaimana ? Batin Lea.
Ia terbiasa mendengarkan suara jantung orang lain melalui stetoskop, namun kali ini, ada degup di dadanya sendiri yang terdengar begitu nyaring tanpa alat bantu apa pun. Kevin benar, ia lelah diusik oleh pandangan orang, namun perhatian Kevin terasa berbeda, itu bukan usikan, melainkan sebuah undangan tentang perasaan.
"Aku akan pikirkan itu," bisiknya pelan.
Kevin mengangguk dan tersenyum kepada Lea.
Kalimat pendek itu bukan sekadar basa-basi untuk menghindar. Bagi Lea, itu adalah sebuah pintu yang sedikit terbuka. Di sela-sela kebahagiaan Sheila dan Widika hari ini, Lea menyadari satu hal, mungkin sudah saatnya ia melepas stetoskopnya sejenak, bukan untuk berhenti menjadi seorang dokter melainkan untuk mulai merawat hatinya sendiri yang sudah terlalu lama ia abaikan.
Mereka kembali fokus ke acara Inti Sheila dan Widika. Hari ini hari bahagia untuk sahabatnya itu.
Selamat untuk Sheila dan Widika selangkah lagi menuju akad.
***