9. Pesawat Hilang Kontak

1463 Words
Pagi ini Lea terlihat sibuk, dia akan ke rumah sakit pagi ini ada jadwal operasi yang harus dia lakukan seperti biasa, semalam saja dia terlihat sibuk melihat rekaman medis pasiennya dia selalu melakukan yang terbaik agar dia tidak mengecewakan pasiennya dan mengecewakan diri sendiri setidaknya dia sudah melakukan yang terbaik soal berhasil atau tidak dia selalu menyerahkan hasilnya sama Tuhan. Dia melangkah keluar dari kamar adiknya untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Hari ini dia ada jadwal konsultasi sama Dosen pembimbingnya. Semalam dia menyelesaikan semua perbaikan skripsinya jadi hari ini final menyodorkan skripsi ke pembimbingnya agar Alex bisa mendaftarkan wisudanya. Setelah dia dari kamar Alex dia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Pagi ini di meja makan tidak seperti pagi sebelumnya, Lea dan Alex sedang sarapan di meja makan mereka berdua kembali merasa kesepian biasanya Bunda dan Papa nya yang selalu menemani mereka berbincang-bincang hangat sebelum beraktivitas, mendapatkan semangat juga dari orang tuanya. "Kak, Bunda hari ini ke Kepri ya ?" "Iya kemarin Telponan sama Bunda katanya mau Kepulauan Riau hari ini ?" Alex mengangguk. "Kenapa ?" "Kangen sama Bunda dan Papa." Lea mengusap lembut punggung tangan adiknya. "Kakak juga, dua hari lagi pasti Bunda akan pulang." "Ini perjalanan bisnis terlama yang Papa lakukan." "Iya, Sudah waktunya Alex yang membantu Papa agar Papa dan Bunda bisa menikmati masa tuanya melihat dan memantau kita lagi." "Iya Kak, Alex akan segera mewujudkannya." "Gimana udah selesai semua perbaikannya ?" Ucap Lea mengalihkan pembicaraannya. "Udah Kak, aku nggak mau main-main lagi udah waktunya Alex bikin Bunda dan Papa bangga sama pencapaian Alex." "Good, Kakak doakan semoga berjalan lancar ya. Nanti kalau udah selesai sempatkan telpon Bunda ya, kakak pagi ini sampai siang nggak lihat ponsel lagi berjuang juga di ruang operasi." "Oke Kakak. Semoga berjalan lancar operasinya." "Amiin. Ayo kita lanjutkan isi tenaga dulu, agar kita berdua siap menghadapi tantangan di depan mata kita." Alex mengangguk dan tersenyum mendapatkan semangat dari Kakaknya pagi ini. *** Lea kembali ke rutinitasnya seperti biasa Lampu ruang operasi akhirnya meredup, menandakan sudah berakhirnya pertarungan menegangkan selama enam jam di atas meja bedah. Lea melepas masker bedahnya dengan napas panjang yang terasa berat namun lega. Sebagai salah satu ahli bedah terbaik di rumah sakit ini. Hari ini, dia baru saja memberikan hari esok kembali bagi pasiennya untuk bisa bernapas kembali dan ia berjuang di meja operasi mewujudkan si pasien bisa berkumpul bersama keluarga pasien ini kembali. Dia tahu sekali makna penting sebuah keluarga apalagi yang di tolongnya ini adalah seorang ayah yang menjadi tulang punggung untuk keluarganya. Siapapun yang Lea tolong dia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik dan ini semua tidak terlepas dari atas izin Tuhan. Dia kembali mengecek satu kali lagi hasilnya dan semuanya benar sudah beres. "Tolong Selesaikan ini dengan baik jangan melakukan kesalahan apapun." Ucap Lea kepada surgical assistant nya. "Iya Dok, jangan khawatir, saya akan melakukannya dengan baik seperti biasa dan tidak mengecewakan Dokter." Ucap Ikhwal dia akan menutup luka bedah dengan menjahitan kulit/lapisan jaringan pada pasien. "Terima kasih Ikhwal aku percayakan semua ini kepada mu, setelah pasien dibawa ke ruang pemulihan tolong sampaikan dengan baik kepada keluarga pasien." "Siap Dok." Lea meninggalkan ruangan operasi, dan dia menyempatkan berbicara kepada keluarga pasien menyampaikan kabar bahagia ini. "Perkenalkan saya Dokter Azalea buk yang sudah melakukan operasi suami ibu hari ini, sekarang operasinya sudah selesai dan proses sekarang sedang menutupi luka pasien oleh asisten saya di dalam." "Terima kasih dokter." Dia menggenggam tangan Lea mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya menyelamatkan suaminya. "Sama-sama Buk. Jangan khawatir semuanya baik-baik saja dan tetap berdoa ya buk." "Iya Dok, sekali lagi terima kasih." "Sama-sama buk, Saya permisi dulu." Lea meninggalkan keluarga pasien dan menuju keruang ganti scrub. Sejak operasi berlangsung tadi jantungnya tidak biasanya berdetak tidak karuan, ada perasaan yang sulit dia jelaskan. Namun, dia mengabaikan perasaan aneh tersebut dan melanjutkan operasinya karena dia sedang berjuang menyelamatkan pasienya. Dia berhenti sejenak mengambil napas dalam-dalam setelah merasa tenang dia melangkah ke ruang ganti dan sesampainya dia di ruangan ganti dia meraih ponselnya. Dia selalu mengecek ponselnya setelah melakukan operasi. Selama ini dia tidak membawa ponselnya ke ruangan operasi itu menganggu konsentrasinya. Lampu notifikasi merah pada ponselnya berkedip-kedip itu tanda ada yang menghubunginya dari tadi. Dia sangat kaget dengan layar ponselnya saat membuka kunci pada layar ponselnya. Ada dua puluh panggilan tak terjawab. dari Alex, adiknya, Om Donny di Bali, Tante Melinda. Ada juga pesan dari Kevin yang berhasil mengusiknya kemarin, mereka berdua mulai dekat kadang-kadang Lea kesal dengan Kevin ini. Orang ini benar tidak menyerah untuk mendekatinya. Lea menghela napasnya dia kesampingkan urusan Kevin dulu dan lebih fokus sama Adiknya dulu. Alex tahu betul jadwal kakaknya, dia tidak akan pernah menelepon berkali-kali di jam operasi kecuali jika dunia sedang runtuh. Lea mengerutkan kening. "Bukannya dia tahu aku ada operasi hari ini dan aku juga sudah memberi tahunya saat sarapan di meja makan tadi aku membutuhkan waktu lama di ruang operasi. Apa yang terjadi..?" Gumam Lea pelan. Rasa lelah di bahunya mendadak digantikan oleh desiran dingin yang merayap di punggungnya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin operasi, dia menekan tombol panggil kembali. Hanya satu nada sambung, dan suara Alex langsung pecah di ujung sana. "Kak... Kak Lea..." suara Alex parau, tersendat oleh isak tangis yang berusaha ditahan namun gagal total. "Alex? Ada apa? Pelan-pelan, ngomongnya Dek." ucap Lea, mencoba menggunakan nada bicaranya yang paling tenang, nada yang biasa dia gunakan untuk menenangkan keluarga pasien. Tapi kali ini, hatinya sendiri tidak tenang. "Pesawat Bunda dan Papa, Kak... pihak bandara baru saja memberi kabar, Pesawatnya hilang satu jam lalu. Hilang dari radar." Deggh ...! Dunia di sekitar Lea seolah berhenti berputar. Bau antiseptik yang tajam mendadak terasa menyesakkan. Dia baru saja menyelamatkan satu nyawa dengan tangannya sendiri, namun di saat yang sama, dua nyawa yang menjadi pusat dunianya Bunda dan Papanya yang sedang dalam perjalanan bisnis itu kini entah berada di mana. "Ya Tuhan.. Bunda, Papa... !" Batin Lea menjerit. Lantai rumah sakit yang dingin terasa goyah di bawah kakinya sendiri tiba-tiba dia merasa hancur berkeping-keping. Lea, sang bedah yang sukses dan selalu punya kendali, kini harus menghadapi kenyataan bahwa kali ini, dia tidak punya kendali apa pun atas keselamatan orang-orang yang paling dicintainya dalam hidupnya ini. "Kak.. Kakak masih disana ?" "Alex.." Isak tangisan itu lepas juga. "Kakak.. " "Pesawat Bunda dan Papa gimana ya Alex kenapa bisa hilang kontak. Tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pilot yang membawa Bunda dan Papa tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali selama ini." "Kakak pulang aja sekarang, aku tidak bisa menjemput kakak. Nenek histeris tadi dan sempat pingsan juga kak." "Abang sedang komunikasi dengan Om Donny di Bali mungkin Abang akan ke Bali." "Iya kakak akan pulang sekarang." Ucap Lea dia memutuskan panggilan itu. Kini dia dalam kondisi sangat hancur. Bagaimana tidak dia baru saja mendapatkan berita yang tidak ia ingin bayangkan dalam hidupnya. Pagi tadi saat mereka sarapan membahas tentang Bunda dan Papanya melanjutkan perjalanan bisnis berikutnya dan beberapa hari akan pulang ke Jakarta kenapa jadi seperti ini. Jas putih yang biasanya menjadi simbol kekuatan dan kebanggaan Lea, kini terasa seperti beban ribuan ton yang mencekik pundaknya. Dia melintasi lobi rumah sakit dengan langkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat dari para perawat dan sejawatnya. Di matanya, lorong rumah sakit yang terang benderang itu mendadak tampak buram. Keheningan yang Menghancurkan hatinya kali ini dia pulang kerumah dengan suasana hati yang kacau, suasana yang biasanya hangat dan asri kini terasa asing dan dingin. Tiba-tiba tangan Lea ditarik saat dia menggapai pintu mobilnya. "Lea, kamu kenapa tergesa-gesa begini dan kamu memakai scrubs bedah mu ?" Suara Rafael memecah keheningan Lea. "Aku melihatmu dari jauh tadi dan aku sampai berlari mengejarmu. Tidak biasanya kamu seperti ini. Apakah ada masalah ?" Denting kunci mobil di tangannya tiba-tiba jatuh, Tangan Lea bergetar hebat. Getaran itu merayap dari ujung jari hingga ke dadanya Lea. Pertanyaan dari Rafael barusan membuat dia kembali mengingat tentang Bunda dan Papanya. "Hei, Lea... kamu kenapa?" Suara Rafael kini melunak, penuh kecemasan yang mendalam. Ia ingin berteriak. Ia ingin mengatakan bahwa dunianya baru saja runtuh, karena kabar tentang pesawat Bunda dan Papanya hilang kontak. Namun, lidahnya mendadak lumpuh. Mengucapkan kalimat itu berarti mengakui bahwa hal buruk itu benar-benar terjadi. Ia belum siap untuk sebuah kenyataan ini. Dengan gerakan cepat dan sisa tenaga yang ada Ia tidak boleh terlihat rapuh, tidak di sini, dan tidak di depan Rafael yang selalu memandangnya sebagai sosok yang kuat. "Aku tidak apa-apa, Kak. Permisi, aku duluan," ucapnya singkat, suaranya parau dan tipis. Tanpa menunggu balasan, Lea memungut kunci mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobil, dan menghidupkan mesin dengan terburu-buru. Ia meninggalkan Rafael yang berdiri mematung di parkiran. Rafael hanya bisa menatap bayangan mobil Lea yang menjauh, membawa sejuta rahasia dan luka yang tidak diizinkan untuk ia bagi. Sekali lagi, Rafael harus menelan pahitnya pengabaian, sementara Lea melaju dengan hati yang hancur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD