10. Antara Logika dan Hati

1414 Words
"Astaghfirullah.. !" Lea langsung memegangi dadanya, tangan Lea gemetaran dia hampir saja menabrak pengendara motor tadi, tapi untung saja dia cepat banting setir ke pinggir. Lea menghela napas panjang. "Ya ampun Lea bisa-bisanya kamu ceroboh Bunda tidak akan suka seperti ini." Gumam Lea dengan pelan. Lagi-lagi air mata Lea mengalir. "Bunda.. Papa... ! aku harap kalian baik-baik saja, segera ada kabar baiknya. Lea yakin Papa dan Bunda baik-baik saja." Dia kembali mengingat orang tuanya yang tidak tahu keberadaannya. Walaupun pikiran negatif menghantuinya tapi dengan segera dia menepisnya. Dia sangat yakin Bunda dan Papa tidak akan meninggalkan anak-anaknya. Tok.. Tok... "Buka kaca mobil mu." Kebetulan hari ini Lea menggunakan mobil Papanya, mobilnya sedang di servis. Lea menutup matanya dia seperti dia mengenali suara itu. Sayangnya Dia benar tidak bisa mengingat apapun, rasanya kepalanya mau pecah. Dia menekan tombol saklar power window. Dia sudah siap dimarahin karena sudah melakukan kesalahan, dia akan meminta maaf sudah bikin gaduh di jalan ini, dia benar tidak bermaksud ngebut-ngebut tadi karena dia benar panik isi pikirannya hanya memiliki Bunda dan Papanya. "Bisa-bisanya kamu mengemudi sem-baa-rangan." Ucap petugas polisi ini langsung terbata-bata melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut. "LEA.. !" Lea membuka matanya. "Ke-Kevin ?" Dia segera mengusap sisa air mata di pipinya dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan pria ini. Polisi ini benar sudah mengalihkan dunianya, hampir tiap hari Lea dan Kevin berkomunikasi walaupun lewat pesan sesekali mereka telponan, dan kadang-kadang mengirim makanan untuknya ke rumah sakit. Hari-harinya kini sudah terusik atas kehadiran Kevin di hidupnya.Tapi kali ini dia tidak punya tenaga untuk marah-marah atau berantem pikirannya saat ini hanya tertuju kepada bunda dan Papanya. "Bapak kenal Pak.. ?" "Hmm, aku akan mengatasinya kalian kembali ketempat tadi biar aku yang urus ini. Bilang sama Dika ya, aku ada urusan penting. Kalian lanjut aja patrolinya aku akan kembali ke kantor nanti." "Siap Pak." Ucap rekan Kevin yang berjalan sambil tersenyum dia melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut dia sudah melihat di acara Dika kemarin. "Kamu kenapa ngebut-ngebut ? udah bosan hidup ?" Ucap Kevin sarkas dia kini fokus kepada Lea yang terlihat kacau. Tidak pernah dia melihat Lea seperti ini masih memakai baju scrubs bedahnya. Lea please kesampingkan rasa amarah mu. Batin Lea. Lea menghela napasnya rasanya sangat sesak sekali dadanya. "Pak Kevin yang terhormat aku sedang buru-buru tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Soal pesan mu tadi aku benar tidak sempat membalasnya, aku sedang di ruang operasi dan sekarang aku buru-buru." Sejak dari tadi dia memang sedang memikirkan Lea dan hatinya mulai kesal saat pesan WA di read tapi tidak dapat balasan dari Lea dan sekarang dia bertemu dengan Lea dalam keadaan kacau di jalan seperti ini. Kevin menghela napasnya dia mau tahu alasan sebenarnya Lea. "Turun sekarang ?" "Pak..!" "Jangan panggil aku pak." "Anda sedang bertugas dan memakai seragam kan jadi kita harus profesional." "Turun sekarang, aku benar sedang tidak sedang bercanda Lea." "Please aku nggak mau marah-marah atau ribut dengan mu sekarang. Kalau kamu kesal kepada ku aku minta maaf karena itu resikonya yang harus bisa kamu mengerti dan terima tentang ku. Kemarin aku terpaksa meninggalkan mu di tempat pesta Sheila karena ada kode darurat dan ajakan mu kemarin belum aku penuhi aku benar minta maaf soal itu, aku salah dan sekarang aku memang buru-buru mau pulang kerumah tolong biarkan aku pergi." "Oke aku mengerti soal itu, sekarang kasih alasan yang jelas kenapa kamu ngebut tadi, apakah kamu tahu kamu hampir saja menabrak pengendara motor tadi.?" "Bunda dan Papa ku pesawatnya hilang kontak, aku harus pulang memastikan berita ini." perkataan ini terlontar juga di mulut Lea yang sejak dari tadi dia tahan untuk tidak memberi tahukan kepada orang. "Hah ?" "Maaf, aku harus pergi segera aku tidak masalah harus kena tilang tapi kali ini biarkan aku pergi, aku tidak punya waktu Vin." Air mata Lea kembali menetes di pipinya. "Tolong pindah ke kursi sana aku akan mengemudi untuk mu" "Tapi—," "Kamu mau cepat kan, tolong ikuti perintah ku, aku tidak akan membiarkan kamu mengemudi dalam kondisi seperti ini dan aku tidak mau kamu kenapa-kenapa kali ini turuti perintah ku Lea." Lea mengangguk dan ia segera bergeser ke kursi sebelah dan dia kembali menangis kembali teringat tentang Bunda dan Papanya. Kevin menutup jendela kaca dengan tidak sopannya langsung memeluk tubuh Lea ini pertama kalinya dia melakukan hal nekat kepada Lea, soal dia akan di tampar nanti dia sudah siap dengan konsekuensinya. Cuma ini yang bisa lakukan untuk menenangkannya Lea dalam kondisi seperti ini dia tidak tahu harus berbuat apa dia ingat dulu Grisella hampir melompat di atas jembatan dalam kondisi hancur dulu. "Maaf aku ya, aku tidak bermaksud meninggikan suara ku tadi, aku takut kamu kenapa-kenapa, aku harap kamu akan mendengarkan kabar baik dari kedua orangmu." Kevin mengusap lembut punggung Lea. "Aku akan mengantarmu pulang ya." Lea mengurai pelukannya. Lea terpaksa mengikuti ucapan Kevin dia benar tidak fokus untuk mengemudi. Dia hampir saja mau menabrak orang tadi tapi Tuhan masih menyelamatkannya "Sudah jangan menangis lagi." Kevin menghapus jejak air mata di pipinya Lea. "Tenangkan dirimu, aku tahu kamu dalam kondisi tidak baik-baik saja. Aku tidak mau mengusik mu hari ini aku akan mengantarmu mu pulang. Dan mari kita melangitkan doa untuk keselamatan orang tua mu." Lea mengangguk "Terima kasih ya Vin sudah mengerti aku untuk sekarang ini." "Iya.." Kevin kini sibuk mengemudi Lea mengirimkan lokasi rumahnya kepada Kevin agar kevin bisa fokus ke google map nya tidak menanyakan kepada Lea harus lewat mana lagi. Lea merapatkan doa dan dia kembali sibuk dengan ponselnya mencari informasi tentang keberadaan orang tuanya. "Tante.. Bunda, Papa gimana ya Tante." "Yang sabar ya, Bunda sama Papa mungkin lagi mendarat di tempat yang aman. Semuanya sudah di kerahkan untuk mencari Bunda dan Papa. Tante sama Om akan ke jakarta hari ini juga. Sekarang masih memantau hilangnya pesawat Bunda. Lea tenang ya.. Abang juga sudah terbang ke Bali tadi menemui Om Donny untuk berkomunikasi pihak bandara di Bali dan meminta bantuan juga sama Tim SAR agar bisa bergerak cepat." " Tante, Aku tidak bisa tenang kalau belum dapat kabar dari Bunda, aku tidak mau Bunda dan Papa kenapa-kenapa." Ucap Lea terisak-isak. Kevin hanya diam mendengarkan percakapan antara Tantenya. dia tidak bisa menghibur Lea sekarang dia benar memberikan waktu untuk Lea untuk melupakan semua yang ada di hatinya. Aku akan membantu ku untuk mencari batin Kevin. Tidak ada percakapan di antara Kevin dan Lea di mobil ini, setelah dia telponan sama Tantenya dia menatap ke luar jendela untuk sekedar menatap ku sebentar saja dia tidak mau. Moodnya benar berantakan sekali. "Terima kasih ya, Vin, sudah mengantarku pulang," suara Lea lirih saat Mobil Lea sudah berada di garasi. Ia meremas ujung bajunya seolah mencari pegangan. "Maaf, aku butuh privasi bersama keluargaku saat ini. Aku harap kamu mengerti, maaf sudah merepotkanmu sejauh ini." Kevin menatap sepasang mata yang tampak lelah itu. Ada keinginan kuat untuk tetap tinggal, untuk memastikan Lea tidak hancur saat melewati pintu rumahnya. Namun, ia tahu kapan harus melangkah maju dan kapan harus memberi ruang. "Tidak masalah, Lea," jawab Kevin dengan nada setenang mungkin, mencoba menyalurkan kekuatan melalui suaranya. "Aku akan coba membantumu sebisa mungkin. Ingat, kamu tidak sendirian menghadapi ini." Lea hanya mampu mengangguk. Gerakan kecil itu seolah menjadi satu-satunya cara ia berkomunikasi tanpa harus pecah dalam tangis lagi entah kenapa dia sangat cengeng sekali hari ini. "Ya sudah, kamu masuk saja ke rumah," lanjut Kevin sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Aku akan kembali ke tempat kerja dengan taksi. Jangan pikirkan soal aku." "Sekali lagi, terima kasih, Kevin." "Sama-sama. Tetap kuat dan tetaplah berpikir positif, ya?" pesan Kevin sebelum akhirnya berbalik. Lea kembali mengangguk untuk terakhir kalinya sebelum memutar ganggang pintu. Di bawah langit yang yang cerah hari ini keduanya pun berpisah. Lea melangkah menuju badai di dalam rumahnya, sementara Kevin membawa separuh kekhawatiran yang ia tinggalkan di di kediaman rumah Lea ia membiarkan taksi membawanya pergi menjauh. Pintu besar rumahnya berhasil Lea buka, seolah-olah rumah itu sendiri sedang kehilangan nyawanya. Begitu melangkah masuk, Lea menemukan Alex duduk di lantai ruang tengah. Sedang memeluk lututnya sendiri Alex mendongak mendengarkan suara langkah yang menghampirinya. Matanya merah dan sembab. Begitu melihat Lea masuk pertahanan alex langsung runtuh sepenuhnya. Dia berlari dan menghambur ke pelukan Lea, terisak hebat di pundak kakaknya yang masih mengenakan seragam scrubs bedah. "Kak... mereka belum menemukannya. Tim SAR bilang cuacanya buruk," bisik Alex di sela tangisnya. Sungguh sebuah ironi yang menyesakkan, dia baru saja menang di ruang operasi, tapi harus menghadapi ketidakpastian sebesar ini di kehidupan pribadinya. Bunda, Papa ayo pulang.. Batin Lea lirih. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD