Keesokan harinya, Evan terbangun lebih dulu. Ia menatap Risa yang masih tertidur pulas dengan wajah damai. Ada senyum samar di bibirnya, seolah ia enggan membangunkannya. Dengan hati-hati, Evan bangkit dari ranjang, mandi, lalu bergegas menyiapkan sarapan pagi itu. Sambil menyantap makanannya sendiri, Evan membuka ponselnya. Senyumnya muncul begitu melihat obrolan di grup lama mereka yang sedang heboh membicarakan pernikahannya. Semua orang menyalahkan dirinya, menganggap kejadian ini ulah Evan—karena sejak dulu, ia memang dikenal b******n. “Gue ngga tau, bro. Demi Tuhan,” ketiknya santai. David, salah satu teman dekat, langsung menanggapi. “Kok bisa gitu sih? Ceweknya yang salah kali.” Mata Evan langsung menyipit. Ia mengetik cepat dengan emosi meluap. “Lo nyalahin istri gue? Gue

