Keesokan paginya, Risa malas membuka mata. Seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal dan lemas, seakan semua tenaganya terkuras semalam. Ia hanya berguling ke kiri dan ke kanan di bawah selimut tebal. “Sayang, sudah jam delapan. Pesawat kita berangkat pukul sebelas,” ucap Evan lembut sambil duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya yang masih terlelap. “Mmm… nggak mau bangun. Badan aku pegel-pegel. Kamu jahat banget semalam,” rengek Risa manja, masih bersembunyi di balik selimut. Evan terkekeh kecil. “Maafin, ya.” “Ngga mau… kesel. Malas bangun. Kamu jam dua bangunin aku, ih. Aku masih ngantuk,” protes Risa sambil tiduran, enggan beranjak. Evan menghela napas pendek lalu mengusap pelan rambut Risa. “Ya sudah, aku ke restoran dulu pesan makanan.” Ia pun berdiri dan berjalan keluar. Ris

