Keesokan harinya, sinar matahari menembus tirai kamar yang lebar. Risa terbangun lebih dulu, lalu menoleh pada Evan yang masih terlelap di sampingnya. Ia tersenyum kecil, lalu membisikkan, “Mas Evan, udah jam tujuh ini…” Evan membuka mata perlahan, menatap wajah istrinya, lalu tersenyum hangat sambil memeluk erat tubuh Risa. “Yee, bukannya bangun, malah meluk,” goda Risa sambil terkekeh. Evan mengeratkan pelukan, suaranya berat namun manja. “Ikut kerja yuk. Aku bakal kangen kalau kamu di rumah.” “Boleh. Aku kan sekretaris Bapak,” jawab Risa sambil tersenyum menggoda. Senyum Evan melebar. Ia mengusap kepala Risa dengan lembut. “Sebelum ada yang baru, nggak apa-apa. Kalau pegal, jangan duduk di kursi sekretaris. Duduk aja di sofa ruangan aku.” Ia mengecup kening Risa pelan. “Why not

