Setelah sampai di apartemen Tari, Risa melangkah pelan menatap setiap sudut ruangan. Setiap benda seakan membisikkan nama Reno. Hatinya diremas rasa bersalah. “Maafin aku, Ren…” ucapnya lirih berulang kali, seolah ingin suaranya terdengar sampai ke hati lelaki itu. Ia masuk ke kamar, menatap kasur yang dulu jadi saksi kebersamaan mereka. Bayangan Reno muncul begitu jelas, hingga d**a Risa terasa sesak. Air matanya pun jatuh tanpa bisa dibendung. “Maafin aku, Renoo… maafin aku…” tangisnya pecah, tubuhnya bergetar. Dengan tangan gemetar, Risa mulai membereskan barang-barangnya. Setiap kali menyentuh baju, tas, atau parfum—semua pemberian Reno—hatinya teriris. Ia tak sanggup. Akhirnya, barang-barang itu ia bungkus rapi dengan plastik, seolah ingin menyembunyikan luka yang tak akan pe

