SUMPAH ISTRI

1062 Words
"Di mana ini ...? Aku ada di mana?" Tiba-tiba aku merasa ada disebuah tempat yang asing bagiku, ramai sekali orang, tempat ini seperti sebuah pasar, namun tak satu orang pun yang aku kenal, mataku melihat kesemua arah melihat-lihat sekeliling, pandanganku berhenti pada sosok yang sedang menatapku sambil tersenyum, aku menajamkan penglihatan, ternyata dia suamiku, aku berusaha menyibak kerumunan orang-orang, mencari celah, berjalan ke arahnya, aku memanggil dan menggapai gapai suamiku agar membawaku pulang dengannya. Namun suamiku berlalu, melaju dengan kendaraannya sambil tetap tersenyum memandangku. Aku berteriak, "Tunggu aku Bang! Abang!Tunggu ... Abaannnnnggg!!" teriakku sekencang kencangnya. Namun dia tak mau mendengar, dia tetap saja berlalu pergi semakin menjauh. Aku menangis tergugu, diri ini takut sendirian di tempat ini, aku tetap berusaha memanggilnya, mengharap dia kembali menjemputku dari tempat asing ini. "Abangggggg ..." aku berteriak lagi sekencang kencangnya. ---------------- Kringg ... Kring ... Kriiiiiiiing "Hah ...! hah! Aku terkejut dan terbangun mendengar suara Alarm dari ponselku. "Ya Allah," ternyata aku bermimpi, kenapa aku memimpikannya ya Allah. Ada rasa sakiiiit di hatiku walau ini hanya mimpi. Ada kerinduan, sakit kati dan kekecewaan luar biasa menjadi satu menyesakkan relung hatiku, dan aku menangis lagi, sesedih inikah perpisahan Ya Allah. "Astaghfirullah," aku tenangkan hati dengan beristighfar berulang-ulang. Jam menunjukkan pukul 04.00 dini hari, aku bergegas mengambil wudhu, dan menjalankan kewajiban sholat 5 waktu, selepas Sholat dan berdoa, aku melantunkan Ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mendoakan kebaikan untuk Putra Putriku. Selesai Sholat aku mengerjakan rutinitas pagi menyiapkan sarapan, lalu merapikan dan membersihkan rumah. Sambil bekerja aku berfikir, hari ini apa yang akan dikerjakan, bila ke pengadilan aku belum punya uang untuk biayanya, berhutang tak berani, ingin menjual barang, tak punya barang berharga yang bisa dijual, tabungan tak ada, aku resah dan binggung memikirkannya. Lalu aku teringat uang Renita yang 5 juta, tapi tak ingin memakainya, aku sendiri bingung mau di apakan uang itu, dikembalikan atau tetap disimpan? Tak lama putra dan putriku keluar dari kamarnya masing-masing, kami sarapan bersama seadanya. "Ibu, nanti malam temen-temen Ardi belajar di rumah sini ya, boleh 'kan?" tanyanya. "Boleh, mau belajar apa Kak?" tanyaku. "Bahasa Asing Bu," jawabnya. "Iya sayang, belajar aja, pokok jangan ramai bercanda ya." Putraku Ardi memang pinter di mata pelajaran bahasa asing, nilainya selalu bagus, dia mudah menghapal banyak bahasa asing juga tulisannya, aku kadang binggung saat masuk kamarnya banyak tulisan tangannya dengan bahasa asing yang tak aku mengerti. Selesai sarapan Ardi dan Aisyah pamit ke sekolah lalu mencium punggung tangan dan pipiku, setiap berangkat Ardi lebih dulu mengantar Aisyah, pulang sekolah akan ada jasa angkot yang dibayar mingguan, khusus mengantar jemput anak- anak pulang sekolah, karena jam pulang mereka berbeda. Tiba-tiba masuk sebuah sepeda motor di halaman rumah, saat kami akan keluar, aku dan anak-anak berdiri di pintu, dan kami semua tertegun. Ayah anak-anakku turun dari sepedanya dengan dandanan yang keren sambil tersenyum lebar ke arah putra putrinya yang memandangnya tanpa ekspresi. Ayahnya merentangkan tangan ingin memeluk anak-anaknya namun Ardi dan Aisyah tetap diam di tempatnya. Aku tak tega melihat suamiku seperti itu. Aku sendiri heran, ada apa dengan anak-anakku ini terutama Ardi, matanya memancarkan ketidaksukaan ke ayahnya, begitu juga Aisyah, apakah mereka merahasiakan sesuatu padaku? Lalu kupegang pundak anak-anak sambil tersenyum dan menyuruh mereka salim ke ayahnya. Ardi dan Aisyah menuruti ucapanku menyalimi tangan ayahnya lalu menaiki motornya. Aku dan suami melambaikan tangan mengiringi putra putri kami berangkat ke sekolah. Setelah mereka tak terlihat lagi suamiku membalikkan badan masuk ke dalam, aku ingin bertanya ada perlu apa tapi tak berani, hanya memperhatikan saja, mau apa suami datang ke rumah. Kulihat dia mengambil selang air dan beberapa barangnya di gudang, tak sedetik pun dia mau menoleh, atau menyapaku. Aku berusaha mengajaknya bicara lebih dulu agar hubungan kami tetap baik walaupun nanti sudah berpisah. "Sudah sarapan Bang? Mau dibuatkan kopi?" "Nggak usah," jawabnya tak acuh. Aku menghela napas gusar, aku sendiri bingung, mau cuek nggak enak hati, mau berbuat baik tak ada arti, yang ada dia menginjak injak harga diri ini. "Abang, tak bisakah kita selesaikan ini baik-baik, tidak saling menyakiti, jangan saling menjelekkan satu sama lain, agar tetap bisa silahturahmi dengan baik, demi anak-anak juga," pintaku. Namu, suamiku tak perduli, dia tetap dengan aktifitasnya memasukkan barang barang yang dia mau bawa. "Abang ... !" teriakku yang kini diliputi emosi karena rasa sakit diabaikan. "Sebenci inikah Abang sama aku, bahkan menoleh dan berkata baik sepatah dua patah katapun Abang tak sudi, kau masuk rumahku tampa permisi dan salam, tapi kau perlakukan aku seperti ini? sombong sekali kamu Bang." ujarku dengan nada meninggi sambil terisak. "Aku merawat dan membesarkan Anak-anakmu, teganya kau tak menghargai, malah selalu menyakitiku," keluhku. Dia menghentakkan tas yang dibawanya, menatapku penuh kebencian, lalu tersenyum sinis. "Lalu kau mau apa?! Kau sendiri yang minta pisah, ya sudah, kita sekarang bukan siapa-siapa," bentaknya, tanpa berkata lagi, dia keluar membawa bawaannya. Saat Suamiku mengambil motornya, aku yang sudah dilanda emosi dan sakit hati pun memanggilnya dan berkata dengan nada keras dan tegas. "Danu Saputra ... !! aku bersum-pah, setampan apapun kamu, sega-gah apapun kamu, kau tak akan bisa menikah lagi dan bahagia sebelum kau bersim-puh meminta maaf padaku," ujarku geram. "Dan bila terjadi hal buruk pada Anak-anak kita karena karma perbuatan zina-mu, Aku bersumpah, hidupmu akan lebih hancur." "Pergi kau manusia sombong! bersenang-senanglah dengan harta harammu, dan ingat jangan pernah ke rumahku lagi, aku tak sudi melihatmu." Suamiku berdiri terpaku ditempatnya. Brakkkk! Pintu kututup dengan keras, suara tangis ini tak mampu lagi disembunyikan, aku berlari ke kamar dan menangis sejadi jadinya, meratapi nasib kehancuran rumah tanggaku, dan diperlakukan rendah oleh orang yang teramat kucintai. Maafkan aku Ya Allah, maafkan aku Bang Danu, sesungguhnya, saat aku menyakitimu, hatiku juga sakit Bang, "maafkan Dewi," lirihku. Akhirnya diri ini lelah menangis juga, namun aku tetap meringkuk dikamar, ditempat tidur, hati ini sedang tak baik-baik saja, tubuhku menggigil dan merasa panas dingin, tapi tak ingin melakukan apapun. Tiba-tiba ponselku berbunyi, terlihat nama Shella terpampang, Shella menelepon. Aku geser tombol hijau menerima panggilannya. "Assalamualaikum wr wb, ya Shel, ada apa?" tanyaku dengan suara menggigil dan serak. "Loh ... ?! lu kenapa Dewi? sakit?" tanyanya agak panik. "Ngga Shel, gimana, ada apa?" tanyaku lirih. "Dewi? Lu abis nangis? Sepagi ini lu nangis ada apa wi?" Shela malah memberiku pertanyaan. Pertanyaan Shela yang bertubi tubi membuat tangisku pecah lagi, aku memanggilnya dan tak sanggup berkata. "Shella ... hu ... hu ... hu." "Ya Ampun Dewi ... gue otw ke rumah lu," Lalu hening, shella mematikan panggilannya. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD