MERAJUT ASA MEMBUANG LUKA

774 Words
Aku menatap wajah ibu Mertua, mengharap dan memohon agar ada rasa Iba dihatinya untuk aku yang telah disakiti putranya. "Ibu tahu 'kan, berbohong itu dosa, kita sama- sama perempuan, coba ibu bayangkan bagaimana rasanya dikhianati pasangan sah kita, Renita itu istri orang loh Bu? Suaminya kerja di luar negeri, tak malukah bila diketahui banyak orang, apalagi kalau suami Renita tahu," ujarku melunak saat bicara dengan ibu. "Itu semua fitnah! Silahkan kalau kau percaya!" bentak Bang Rizal. "Anak kandungku sendiri yang bicara, dia bukan balita lagi, kau pikir ada anak kandung mengadu domba orang tua kandungnya? Mengatakan hal buruk dan cerita bohong?" teriakku balik sambil menunjuk ke wajahnya, hancur sudah hubungan kekeluargan ini, menguap sudah rasa simpatiku. Aku menatap wajah Ibu, ada kabut menggumpal di matanya, ibu tetap terdiam tak bicara. "Kok bisa kalian mengelak, jelas- jelas sudah ada bukti foto dan saksi matanya, dari orang lain dan anakku sendiri, nggak malu gitu, kebohongannya ketahuan, Bang Danu yang sudah jelas jelas selingkuh, kenapa aku yang kalian salahkan?" sindirku ke mereka. "Ayo pulang Bu, pusing ngadepin orang pinter omong, memutar balikkan fakta, dasar lebay sukanya mendramatisir keadaan," ketusnya, sambil berlalu keluar. "Biar waktu yang menjawab, siapa yang bohong dan dzolim, bila doa baik tak bisa mrnyentuh hatinya, doa buruk yang aku ucapkan bila kalian terus dzalim padaku," ketusku Aku membiarkan mereka pergi, tak terucap sepatah katapun, segera menutup pintu rumah, berlari ke arah kamar, lalu menutup pintu, di kamar aku bersimpuh di lantai, menekan d**a ini yang masih berdetak kencang dan terasa nyeri, mengeluarkan rasa sesak yang begitu meremas hati, aku membungkuk dan menangis tergugu, emosi diri benar-benar terkuras beberapa hari ini. Aku lelah Ya Allah, kuatkan hatiku demi anak- anakku. Hingga beberapa menit aku masih tetap menikmati rasa sedihku, hingga aku tersadar saat mendengar salam putri kecilku dari luar. "Assalamualaikum wr wb, Ibu! Aisyah pulang, yuhuu .... Ibu," teriaknya dengan riang. Ya Allah, sementara aku masih tergugu di kamar, lekas aku berdiri, merapikan pakaian dan rambut ini, mengusap wajah dan bekas air mata dengan tissue, lalu tersenyum untuk menghilangkan jejak bekas menangis, supaya Aisyah tak heran melihat mata ibunya. Aku segera pura pura merapikan tempat tidur sambil menjawab salam Aisyah. "Ya Sayang, Ibu di kamar, sini Nak". Kriettt... Aisyah membuka pintu, wajahnya yang ayu muncul di balik pintu dengan tersenyum. "Tarra ... Ibu aku dapat hadiah jajan, tadi ada yang ulang tahun di kelas," ujarnya riang khas anak-anak. Aku terharu, melihat putriku yang selalu riang. Namun membayangkan dia tak lagi bersama ayahnya nanti, tak lagi didampingi ayahnya, lalu ketakutanku akan anak-anak yang bersedih saat merasa tak punya ayah lagi, atau membayangkan mereka ikut ayahnya, membuat hatiku terasa diremas lagi. Air mata ini ternyata belum kering, masih lolos saja tampa permisi, aku segera memeluk Putriku dan menciuminya. "Ya ampun ...! Baik sekali yang sudah berbagi Rezeky, Alhamdulillah ya, Ibu jadi terharu kalau ada orang baik," ucapku sambil tersedu sedu karena bayangan ketakutan dari fikiranku tadi. Aisyah memandangku heran, "Kok Ibu nangis?" tanyanya. "Kan terharu," kataku sambil memonyongkan mulutku, agar Aisyah merasa aku sedang bercanda, aku memangkunya dan menciumi pipinya, aku takut kehilangan Putra Putriku, Ya Allah aku tak mau berpisah dengan anak-anakku. "Kok nangisnya aneh sih Bu? Biasanya juga nggak nangis, dapatnya cuma mini tart aja sama s**u kotak," sahutnya. Aku bingung mencari alasan, namun masih tetap memeluknya tak ingin kulepas, aku ingin menikmati rasa nyaman ini, memeluk buat hati tersayangku. "Mungkin efek laper, Ibu laper tapi nggak ada makanan di dapur, Ibu nggak sempet masak tadi," ucapku yang teringat belum masak lauk lagi karena kehadiran Ibu dan Iparku. "Aaaaa ... buka mulutnya Ibu, Aisyah suapin rotinya biar nggak laper," anakku mengarahkan sendok plastik ke arah mulutku. Aku langsung mencaplok suapannya yang membuat Aisyah terkekeh melihat gayaku makan. "Abis ini kita ke warteg yuk, beli lauk buat makan, sebentar lagi kakak kan pulang sekolah, kalau liat meja makan ga ada makanan, nanti dia teriak-teriak kaya biasanya dek." "Hallo, Every body home? Anak pungut dah pulang nich, kok nggak dikasih makan," ucapku dengan nada melucu. Aisyah langsung tergelak mendengar ucapanku tentang kebiasaan kakaknya. Aku tersenyum dan merasa tentram sekali memandang tawa dan keceriaan anakku. Wahai suamiku, tak berpikirkah kamu dengan perbuatan haram yang kamu lakukan, tak takutkah kamu atas karma yang berlaku, akan ada hukum tabur tuai, karena zina itu adalah hutang, akan ada keluargamu yang menanggung perbuatanmu kelak, aku tak mau putra putriku tersakiti karena ulah ayahnya. "Ya Allah tolong jaga anak-anakku, semoga mereka bahagia selalu dimanapun berada, aku tak ingin berbuat aneh-aneh, dan tetap melantunkan doa dalam hati untuk mereka, agar Engkau selalu menjaga Putra Putriku," doaku dalam hati, Aamiin Yra. Sambut esok hari dengan bahagia, telah tiba waktu merajut asa, mengukir senyum membuang luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD