"Ibu mana yang merestui anaknya bercerai? Ibu nggak setuju," ujarnya
"Tapi Danu bilang sudah tak tahan lagi. Danu bilang, kamu sangat tidak menghormati dan menghargai dia lagi sebagai suami, bicaramu selalu berteriak, selalu menuduhnya yang tak baik, menuntut belanja ini dan itu."
"Akhirnya Danu ndak kuat Nduk."
"Kamu juga mengajari anak-anak ndak baik, membuat mereka selalu membenci dan membangkang Ayahnya."
Kalimat demi kalimat yang mengiris hati, terucap dari bibir Mertuaku.
Air mata ini malah lolos dengan sendirinya, tanpa permisi walau sudah aku tahan, sekuat hati.
Suami yang teramat aku cintai,
dipikirannya ternyata dipenuhi keburukan tentang aku, Ibu dari anak-anaknya yang sudah mendampinginya selama 15 tahun.
Kebenaran tentang rumah tangga kami, hanya kami yang tahu, hanya aku dan suamiku, yang sudah berkali-kali meminta maaf akan perselingkuhannya, namun selalu mengulangi lagi dan lagi.
Tahu apa keluarga suamiku tentang masalah rumah tangga kami, yang katanya mereka sudah berkumpul sejak kecil, tapi hanya bertemu seminggu sekali, itupun hanya beberapa saat saja.
Sementara aku, Istrinya menemaninya setiap detik, menit, jam dan sehari-hari kami berkumpul.
Aku tahu suamiku luar dalam, sifat baiknya, sifat buruknya dalam hal wanita dan tanggung jawabnya sebagai suami.
Dan keluarganya bilang mereka lebih tau segalanya tentang Bang Danu? mempercayai semua fitnahnya ?
Duh Gusti, kuatkan hatiku!
Lalu aku melanjutkan bicara.
"Kalian semua percaya? Luar biasa, cuma itu sajakah Bu? Keburukanku di mata Bang Danu yang disampaikan ke Ibu?" tanyaku lembut dengan nada pasrah.
"Sedikit sekali, masih banyak lagi loh, silahkan keluarkan keburukan aku yang lain juga, biar hati kalian lega, In sya Allah aku siap mendengarnya."
Aku mengucapkan dengan tenang dan tersenyum pada Ibu Mertuaku.
Walau hati ini sebenarnya berbeda, sudah makin tak baik-baik saja.
Mereka menatapku heran dan masih terdiam, aku pun lanjut bicara.
"Betul yang Bang Danu bilang, karena begitu banyaknya keburukan sifat Dewi, yang nggak pantas untuk seorang Danu Saputra, pria yang sangat sempurna, Dewi ikhlas dibuang kok Bu, Dewi Ikhlas dilepaskan, daripada terus bersama tapi tidak saling mencintai, hanya hubungan yang tak bermanfaat yang didapat dalam rumah tangga, makin menambah dosa."
Suaraku mulai bergetar, badanku mulai menggigil, menahan rasa luar biasa yang mengaduk-aduk isi hatiku.
"Terima kasih Ibu, sudah menjadikan Dewi menantu selama lima belas tahun tahun, selama jadi menantu, Ibu sangat baik."
"Sampaikan juga buat Bang Danu, terimakasih sudah sudi menikahiku, si anak yatim-piatu, walau tanpa rasa cinta, dan memberiku dua anugerah terindah."
"Mohon Maaf, tampa mengurangi rasa hormat, aku lelah sekali, kalau sudah tidak ada lagi yang disampaikan, aku persilahkan kalian pulang, istirahat juga,"
Aku mengusir halus mereka sambil menangkupkan dua telapak tanganku di d**a.
Ibu Mertuaku dan Abang iparku melongo mendengar ucapanku.
"Bukan begitu Nduk! Ibu maunya kalian baik-baik saja, nggak usah selalu bertengkar, kasian anak-anak."
"Bu, Dewi sangat menghormati Ibu, nggak ingin aku berdebat sama Ibu, Dewi ngalah apa maunya Bang Danu, maaf Bu, Dewi nggak kuat di dua 'kan, Ibu juga perempuan pasti bisa merasa apa yang Dewi rasa," ucapku dengan lembut ke Ibu, lalu kupandang Bang Rizal yang diam mendengarkan aku dan ibu bicara.
"Abang Rizal, ada yang mau dibicarakan lagi," tanyaku sopan.
"Gini loh Dewi, dulu kalian jadian baik-baik, kalau bisa berakhir juga dibicarakan baik-baik, kalau memang mau bercerai ya dibicarakan juga baik-baik soal harta dan anak-anak," ujarnya.
Aku mengerutkan keningku memahami ucapannya, kenapa aku jadi pusing kepala dengar bicaranya.
"Maksudnya apa?" tanyaku heran.
"Ya Anak-anak, biar salah satu ikut Ayahnya, juga sepeda motor yang dibeli Danu dulu, itu juga pakai uang Danu, jadi Danu ada hak," katanya menjelaskan kemauan Adiknya.
Oh Tuhan, benar-benar di uji kesabaranku menghadapi keluarga perhitungan seperti ini,
suamiku yang tak bertanggung jawab, yang menafkahiku lima ratus ribu sebulan untuk makan anak-anaknya, belum biaya sekolah, listrik, air, kebersihan, kini menanyakan hartanya yang hanya sepeda motor bekas, yang dipakai anaknya sekolah tiap hari.
Dengan Ibu mertua aku masih bisa bersabar, karena lebih tua, aku menghormatinya, tapi untuk kakak Ipar ini, ingin rasanya ada jin yang menempel di tubuhku, lalu mengangkat Ipar tengil ini tinggi -tinggi dan melemparnya ke atas genteng.
"Bang Rizal, tentang sepeda bekas itu, silahkan bicarakan sendiri dengan Ardi ya, anak kandung Danu sendiri loh yang pakai, itu untuk ke sekolah bareng Aisyah tiap hari, kalau aku pribadi, silahkan ambil saja, kalau tega," sindirku.
"Maaf kalau bicaraku agak lancang, harusnya Adikmu bersyukur menikahi aku. Begitu menikah aku punya rumah beserta isinya peninggalan orang tua, walau hanya rumah sederhana, beban hidup seperti apa yang dia rasa selama bersamaku? Kalau tak punya rumah, berapa uang yang harus dikeluarkan Bang Danu buat mengontrak dan membeli perabotan? Menikahiku tidak keluar untuk itu 'kan?" jelasku menatap tajam ke Abang Ipar.
Aku memberi penjelasan ini dengan niat supaya mereka menyampaikan ke Bang Danu, betapa dia tak dirugikan hartanya karena menikahi aku.
"Lima ratus ribu sebulan! Nafkahku dari suami, pakai logika kamu Bang, jajan anak kami dua, sehari 10.000 seorang, sebulan 600 ribu, cukupkah? Bagaimana makan kami? Biaya sekolah? Listrik? Air? Apa suamiku perduli? Aku banting tulang Bang ...! Buat nafkah anak-anak, juga keperluan rumah tangga, aku jadi tulang punggung! Tapi aku ikhlas melakukannya demi cintaku ke suami, lalu, masih burukkah aku di mata kalian?" teriakku.
"Itu urusan kalian! Rumah tangga kalian, bukankah suami istri memang harus saling membantu, dari awalkan sudah ada pembicaraan pastinya, jadi jangan ngeluh," hardik Bang Rizal
"Oohw ...!" Aku mengangguk anggukkan kepala
"Baik Bang, Ibu. Sepertinya aku sudah buang-buang energi bicara panjang lebar dari tadi, toh tetap aku yang salah di mata kalian, ada lagi yang ingin dibicarakan? kalau tak ada lebih baik kita sudahi, aku mau istirahat," ujarku, kedua kalinya aku mengusir halus mereka.
Ibu mertua hanya diam saja dari tadi.
"Ya sudah. Aku rasa cukup, suruh anak-anak besok ke rumah Neneknya," kata Bang Rizal.
"Untuk apa?" tanyaku heran.
"Ya untuk ketemu Ayahnya, jangan kamu racuni anak-anak supaya benci Ayahnya, caramu nggak bagus juga, mereka belum tahu yang sebenarnya, bagaimana Ibunya," ujarnya dengan nada meninggi.
"Ooh, begitu?! Jadi tahu apa Abang?!" Bicaraku dengan nada mulai meninggi pula, entah punya keberanian dari mana, aku tantang matanya, menatap Ipar tengil ini dengan tajam.
"Apa Abang tahu juga?! Saat kalian pergi wisata memakai mobil mewah p*****r yang kalian banggakan itu, anakku ...!! Anak aku! ( suaraku mulai keras dan bergetar disertai isak tangis) dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ayahnya dan seorang wanita sedang berzina, di kamar tidur kami." Suaraku melengking tinggi.
"Apa kalian tahu juga ...?! Aisyah di kurung di kamar belakang karena membuang pemberian Renita," ujarku sambil berurai air mata, emosi sudah menguasai.
"Apalagi yang kalian tahu?! Di rumah kalianlah mental anakku tak baik baik saja, karena melihat ayahnya tidur dan bermesraan bersama perempuan yang bukan Ibunya?" teriakku mulai histeris menghadapi orang-orang egois ini.
"Tutup mulutmu ...! Benar kata Danu, kau pandai bicara, menuduh Danu seenaknya tanpa bukti," sengitnya sambil telunjuknya menunjuk ke wajahku.
Gegas aku ambil ponsel, lalu menunjukkan pada mereka, foto yang di kirim Shella dan Screenshot chat mesra Bang Danu dan Renita yang kudapat dari ponsel Bang Danu.
"Aku menuduh seenaknya katamu?! Kau masih tak mau jujur kalau sudah bersenang senang dengan mobil mewahnya? Tak mau jujur jugakah, kalau wanita pezina itu sering ke rumah kalian dan kalian menerimanya?"
"Ini foto asli bukan rekayasa, suamiku dan wanita ini ada hubungan, ternyata keluarga kalian mengetahui dan mendukungnya, benar benar keluarga hebat.