Setelah kehebohan ″troll yang luar biasa″ mereda, Alice langsung dibawa ke ruang kesehatan. Di sana Alice diperlakukan secara khusus—berganti pakaian kering yang sudah bisa dijamin kebersihannya, cek kesehatan mata, hidung, dan luka-luka fatal, yang paling terakhir adalah cek pasca trauma (yang menurut Cleo tidak perlu dilakukan mengingat banyak hal yang pernah dilakukan Alice sebelumnya yang tidak jauh-jauh dari kata ″pengerusakan″). Jeanne terus saja menangis di samping ranjang Alice. Beberapa kali Alice mendengar bunyi croot ketika Jeanne menekan hidung ke dalam sapu tangan.
Merasa kenyaman pasiennya terusik, Emily sang perawat pun meminta Jeanne untuk kembali ke kelas. Tentu saja, Jeanne menolak dan harus diseret pergi oleh Emily. ″Alice, dia membutuhkanku! Tidak sadarkah Anda seberapa pentingnya keberadaanku di dekat Alice?″ Jeanne terus saja mengoarkan tentang fungsi dirinya tetap berada di dekat Alice. Perawat Emily sama sekali tidak memedulikan teriakan Jeanne, dia bersikeras menyeret Jeanne ke kelas. Alice hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.
Tak lama kemudian Alice mendapat kunjungan dari Amanda Rose. Wanita itu tidak banyak bicara, dia hanya memastikan bahwa Alice tidak mengalami luka serius.
″Sepertinya kau besok sudah bisa mengikuti pelajaran.″
Alice mengangguk. ″Jadi, apakah aku mendapat nilai terbaik?″
″Mungkin,″ jawabnya. ″Tahukah kau, betapa pedih perasaan tukang kebun membereskan gumpalan lumpur yang ada di kolam sana? Tidak ada satu ikan pun yang selamat, seluruh bunga teratai hancur tak berbekas, lalu lubang-lubang yang diakibatkan oleh gada si troll. Sepertinya untuk beberapa minggu ke depan pengeluaran di akademi ini semakin membengkak.″
Amanda Rose mulai memijit pelan batang hidungnya, seolah dengan melakukan itu beban pengeluaran bulanan akan sedikit berkurang. Melihat perasaan tertekan Amanda Rose, Alice hanya bisa memberikan cengiran tak berdosa kepada Amanda Rose. ″Hei, ayolah. Aku harus bagaimana?″
″Seharusnya kau tidak melakukan tindakan impulsif dan menunggu komando dari Tuan J.″
Tentu saja jika Alice bersikap pasif maka kejadian selanjutnya adalah tubuh Tuan J yang tidak berbentuk.
″Dan Alice,″ tambah Amanda Rose, ″aku tahu bahwa kau berbakat, akan ada banyak hal besar yang mungkin nantinya menunggu—″
″Tapi aku tidak bisa menggunakan aura seperti Rosalina dan Jeanne. Mereka berdua bisa merubah dan memunculkan sesuatu, sedangkan aku? Ayolah, Kepala Akademi, Anda terlalu berharap besar.″
Amanda Rose menangkap nada letih yang muridnya ucapkan, meski begitu, wanita itu hanya tersenyum tipis sebelum berkata, ″Memangnya kenapa jika kau tidak bisa menggunakan aura? Kau masih memiliki kemampuan lain; ramuan, rapalan mantra sederhana, dan mungkin imagi sihir. Semua ahli sihir memiliki ciri khas yang menunjukkan identitas sihir mereka. Alice, hanya seorang wizard, magi, dan warlock yang memiliki kemampuan dalam memanfaatkan aura. Kau tidak harus menjadi salah seorang dari mereka.″
Kilasan singkat mengenai sosok troll kembali membayangi Alice. Di saat itu, dia hanya memikirkan cara untuk menyelamatkan teman-temannya. Sungguh, dia tak pernah menyangka bahwa rapalan mantra yang diajarkan oleh sang nenek akan sangat berguna. Memang benar, Alice tidak memiliki kemampuan dalam penggunaan aura—dia bahkan tidak bisa membaca aura—namun dia sangat mahir dalam ramuan dan rapalan mantra tertentu. Beberapa kalimat sihir akan langsung menempel di benaknya, seolah itu merupakan bagian dari dirinya, dan menggunakannya tidaklah sulit. (Sang nenek meminta Alice untuk merahasiakan kemampuannya yang satu itu—bahwa Alice bisa menggunakan huruf-huruf sihir kuno—kepada siapa pun).
″Benar, bukan?″
Alice mengangguk, mengiakan ucapan Amanda Rose.
″Alice, bagaimana caramu mendapatkan—″
″Itu pemberian nenekku,″ potong Alice. Dia paham bahwa yang dimaksud oleh Amanda Rose ialah batu unsur yang digunakannya untuk menenggelamkan troll. Dan tampaknya Amanda Rose tidak ingin memberikan pertanyaan tambahan. Setelah yakin Alice dalam keadaan sehat, Amanda Rose meninggalkan Alice seorang diri.
Sepeninggal Kepala Akademi, Alice berusaha untuk tidur-tiduran layaknya seorang pasien. Beberapa kali dia mencoba menghitung domba khayalan, dengan harapan kedua mata akan segera terpejam dan membawanya ke alam mimpi. Rasa kantuk tak kunjung datang, Alice masih terjaga. Merasa bosan dan sadar bahwa Alice tidak bisa menikmati tidur siangnya, dia pun memilih untuk meninggalkan ruang kesehatan. Lagi pula, suasana di ruang kesehatan terlalu membosankan; semuanya didominasi dengan warna cokelat muda, hanya ada beberapa ranjang sempit, vas bunga di atas nakas yang dipenuhi dengan geranium, beberapa toples berisi salep, lalu sebuah meja dan kursi yang biasa digunakan Emily. Alice tersadar bahwa si perawat masih belum kembali. Alice tebak, Emily tengah berdebad sengit dengan Jeanne.
Puas mengamati, Alice mulai melangkahkan kaki melewati pintu.
″Kali ini troll,″ ucap sebuah suara.
Alice mematung, kedua matanya melotot bagai ikan yang keluar dari air. Udara dingin menekan bahu hingga rasanya Alice akan langsung tersungkur saat itu juga. Dengan susah payah Alice memaksakan bibirnya untuk berucap, ″Robin?″
Pemuda itu berdiri dengan posisi menyandarkan punggung dan sebelah kakinya di dinding. Kedua tangannya bersidekap sebagai penegas suasana hati. ″Aku melihat semuanya.″
Pemuda itu masih sama dengan setahun yang lalu. Kaku, dingin, dan yang paling Alice benci: ketus. Jelas-jelas Robin tahu Alice pada saat itu benar-benar dalam keadaan genting, dan Robin tidak melakukan apa pun selain berdiri mematung di atas balkon. Amanda Rose saja setidaknya terlihat panik melihat muridnya dikejar-kejar troll.
″Wow,″ ucap Alice dengan ekspresi kaget yang kentara dibuat-buat. ″Kau melihatnya dan hanya berdiam diri?″
Tidak memedulikan sindiran Alice, Robin memilih untuk membahas topik yang sudah lama sekali dia ingin ucapkan. ″Pulanglah ke desa.″
Pulanglah ke desa?
Kalimat itu diucapkan dengan intonasi memerintah, sehingga membuat cuping hidung Alice berkedut. ″Tidak.″ Lalu sebelum Robin mendepak argumennya Alice buru-buru menambahkan kata ″Akan.″
Susah payah Alice akhirnya bisa memasuki akademi yang begitu didamba, dan kini seenaknya saja Robin meminta untuk kembali ke desa. Tentu saja, Alice tak akan mengamini perintah Robin. Alice akan berjuang mempertahankan keinginannya. ″Aku tidak mau pulang.″ Tak bosan-bosannya Alice menunjukan niatan.
″Aku tidak mengizinkanmu masuk akademi.″
″Robin,″ tegas Alice, ″aku tidak mengharapkan izin darimu.″
Kedua mata mereka beradu.
Robin mulai memindai sosok Alice: rambut pirang mudanya yang kini sepanjang bahu, kilau hazel matanya yang tampak seperti berkedip-kedip, bibir mungil yang terlihat merah, kulit yang sewarna s**u. Ah, ternyata Alice yang dikenal Robin semasa kecil sudah banyak berubah.
Dahulu, ketika Alice masih berumur sembilan tahun, dia selalu menangis setiap kali Robin menatapnya. Ujung-ujungnya Alice akan merengek pada Simon agar Robin berhenti memelototinya. Selalu lengket pada Simon, hampir-hampir yang ditanyakan Alice kecil hanyalah Simon, ″Ke mana Simon?″, ″Kapan Simon pulang?″, ″Aku ingin tidur bersama Simon.″. Sedangkan kalimat yang sering Alice lontarkan kepada Robin hanyalah: ″Robin galak!″, ″Aku tidak mau bersama Robin!″, dan yang terburuk menurut Robin adalah ketika Alice berkata bahwa Robin itu tidak semanis Simon.
Robin tersenyum samar mengingat betapa buruknya jalinan antara dirinya dan Alice. ″Jika aku terus memandangmu seperti ini, apakah kau akan menangis dan meminta Simon untuk menolongmu?″
Reaksi Alice adalah diam seribu bahasa.
Sosok pemuda yang berdiri di hadapan Alice bukanlah sosok Robin yang dahulu sering mendiamkan dirinya. Ada begitu banyak perubahan yang terjadi pada Robin. Robin kini jauh lebih tinggi dari kali terakhir Alice bertemu. Senyum sesamar hantu itu kini muncul kembali di wajah dingin Robin. Senyum yang tak pernah bisa diartikan Alice.
″Aku tidak bisa ditindas,″ ucap Alice berusaha menutupi kekalutannya. ″Apa pun yang terjadi, aku akan tetap di sini. Dengar? Di sini.″ Alice sengaja memberikan penekanan pada kata terakhir.
″Troll, hampir membakar separuh ruangan, menaburkan bubuk gatal pada teman sekelas.″ Robin mulai melangkah mendekati Alice hingga menyisakan jarak beberapa senti. ″Manakah dari semua itu yang bisa disebut dengan tindak dewasa?″
Dada Alice serasa tertohok. Begitu dalamnya hingga Alice tidak tahu harus berucap apa untuk membela diri.
″Tidak bisa menjawab?″ Robin mulai mendekatkan wajahnya pada Alice. ″Sudah kubilang, di sini tidak cocok untukmu. Pulanglah ke desa, temani Nenek dan Simon. Jadilah seorang peramu.″
Sontak Alice langsung berjingkat mundur. ″Enak saja, Simon dan Nenek sendirilah yang memintaku ke sini. Pulang?″ Alice menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. ″Tidak. Itu tidak bisa. Sekedar info saja ya, troll yang tadi itu bukan karena aku yang tidak becus. Tuan J sendiri yang bilang bahwa untuk suatu alasan bola monster asli tiba-tiba saja ada di dalam kotak keputusan yang notabene hanya berisi bola-bola ilusi—bola yang jika dilempar akan merepresentasikan monster yang sudah diizinkan oleh pengajar. Monster palsu, kau paham dengan arti ′palsu′, bukan? Tuan J juga sudah meminta maaf kepada semua pihak. Jika dipikir-pikir.″ Alice menekankan telapak tangan kanannya ke d**a sambil nyengir lebar. ″Aku adalah seorang pahlawan.″
″Pahlawan?″ Robin sangsi akan pernyataan Alice.
Alice mengangguk. ″Pahlawan. Dan insiden lainnya itu bukan murni kesalahanku. Tahu tidak? Banyak siswi yang membenci Rosalina, bukan hanya aku. Enak saja menuduhku, aku tidak tahu apa-apa.″
″Jadi, gadis malang itu bernama Rosalina? Sepertinya aku harus meminta maaf padanya.″
Buru-buru Alice memajukan tangan untuk menahan kepergian Robin. ″Jangan! Mau ke mana?″
″Pulang. Kau pikir ke mana?″
Jeduwer, Alice ingin mengubur dirinya sendiri.
″Pulang, ya?″ ucap Alice gugup sembari melepaskan cengkeramannya dari lengan Robin. ″Begitu, ya? Ya sudah, pulanglah. Dan jangan kembali ke sini, ya? Urusi saja dewan dan sebagainya.″
Setelah berkata demikian Alice berbalik sambil berjingkik lincah menjauhi Robin. Tak lupa Alice melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan Robin.
Robin masih berdiri di sana hingga sosok Alice benar-benar lenyap dari pandangan. Untuk sesaat Robin mendesah dan berkata, ″Beruntung, kita berdua bukan saudara kandung.″